Kupu-kupu cantik yang terbang di depannya itu membuat Fitri kecil tersenyum dan tertawa lepas. Dia mengejar kupu-kupu berwarna hijau-hitam itu dengan riang sambil melompat-lompat agar bisa menangkapnya. Saat ini, Fitri sedang berada di halaman rumah Leo. Seperti biasa, orangtuanya dan juga para orangtua yang lain sedang melakukan ritual mereka. Berkumpul di akhir pekan sambil bersenda-gurau dan menghabiskan makanan yang dibuat oleh para isteri. Hari ini, rumah Leo lah yang menjadi tempat pertemuan mereka semua.
Sementara Fitri kecil asyik mengejar kupu-kupu, Ravina terlihat sedang serius menonton entah apa dari ponsel Ayahnya sedangkan Leo menjaga Liz yang tengah bermain bersama boneka beruang besarnya. Virgo sendiri sedang membaca buku cerita anak-anak di bangku panjang yang berada tak jauh dari Fitri saat gadis kecil itu terjatuh dan menjerit keras. Langsung saja, Virgo menutup buku yang dibacanya kemudion menghampiri Fitri. Gadis kecil itu sedang meniup lututnya yang terasa perih dan memerah.
“Ipit jatuh?” tanya Virgo polos. Polos namun tatapan matanya terlihat datar dan tanpa minat. Selalu seperti ini kalau Virgo dan Fitri bertemu. Tidak pernah akur. Selalu berantem. Saling melotot ketika menatap lawan bicara.
“Nggak! Ipit nggak jatuh, cuma kecebur got!” seru gadis kecil itu kesal. “Udah jelas-jelas Ipit jatuh, pake nanya lagi!”
Virgo hanya tersenyum dan ikut menundukkan kepalanya. Dia meniup lutut Fitri yang memerah karena jatuh tadi, membuat Fitri mengerutkan kening dan berhenti melakukan kegiatannya karena sudah diambil alih oleh Virgo.
“Kamu kenapa jadi baik sama Ipit? Bukannya kamu selalu jahat sama Ipit?” tanya Fitri dengan nada bingung. Virgo mengangkat kepalanya dan menghela napas keras. Hal yang diikutinya dari Dad kala dia melihat beliau pusing saat Mom nya ngambek.
“Emang nggak boleh kalau aku baik sama kamu?” Virgo balas bertanya. “Aku itu orangnya baik kata ibu guru. Cuma, Ipitnya aja yang selalu bikin aku jadi jahat. Kan Ipit yang selalu ngajakin aku berantem. Itu artinya, Ipit yang jahat, bukan aku.”
Fitri mengerjap dan mendorong Virgo begitu saja. Membuat tubuh kecil Virgo terduduk di atas rumput sementara Fitri berdiri sambil berkacak pinggang. Keduanya saling tatap dengan Virgo yang sedang mengusap pantatnya.
“Ipit nggak jahat, tau! Igo yang jahat sama Ipit!” seru gadis kecil itu sambil menjulurkan lidahnya. Virgo sendiri hanya bisa mencibir kemudian bangkit berdiri. Dia berjalan kembali ke tempatnya semula untuk melanjutkan acara membacanya yang tertunda.
###
“Ingat?”
Fitri tertawa dan mengangguk. Dia baru saja mendengarkan cerita Virgo mengenai masa kecil mereka dulu. Sebenarnya, Fitri juga tidak tahu apa penyebab dia dan Virgo selalu bertengkar sejak kecil. Tiba-tiba saja hal itu terjadi. Tapi, seiring berjalannya waktu, setelah mereka berdua memasuki fase dewasa, Fitri dan Virgo tidak pernah lagi bertengkar layaknya masa kecil mereka dulu yang selalu berteriak keras satu sama lain dan saling dorong-mendorong. Kalau hal itu masih terjadi sampai sekarang, sudah bisa dipastikan, dong, kalau Fitri akan kalah tenaga dengan Virgo.
“Waktu itu, lo dorong gue padahal gue berbaik hati untuk niupin lutut lo yang lecet karena jatuh.” Virgo menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya, seolah sikap Fitri waktu kecil itu sudah merusak harga dirinya.
Sebenarnya, keadaan masih terasa canggung hingga beberapa menit yang lalu. Saat Virgo mencium kening Fitri lebih tepatnya. Laki-laki itu kemudian berdeham keras untuk menetralkan suasana dan mulai memancing Fitri untuk menggali memori gadis itu mengenai masa kecil mereka. Dan, usahanya berhasil. Dia berhasil mengusir kecanggungan yang tercipta dan berhasil membuat gadis itu tertawa.
Betapa dia sangat menyukai tawa Fitri.
“Lagian elo rese,” balas Fitri seraya menghapus air matanya akibat terlalu banyak tertawa. “Lo bilang kalau gue yang jahat sementara elo yang baik. Kan gue emosi jiwa! Hahaha....”
Virgo hanya tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengacak rambut gadis yang dicintainya itu. Tawa Fitri masih menggema, membuat perasaan Virgo nyaman. Benar-benar terasa nyaman dan hangat. Seolah inti dari kehidupannya berada dalam genggaman Fitri. Tanpa Fitri, mungkin Virgo akan merasa tidak sehidup seperti sekarang.
“Tapi... kenapa kita bisa terus berantem sejak kecil, ya?” tanya Fitri membuyarkan lamunan Virgo. Gadis itu tanpa sadar bisa melupakan rasa sakitnya saat melihat Veloz dan Liz di resto Jepang tadi dan terpusat pada Virgo. Hanya pada Virgo, bukan yang lain.
Dan perasaan nyaman itu datang menghampiri. Melindunginya. Membuatnya merasa aman dan damai. Dan Fitri tidak ingin perasaan itu menghilang dari dalam dirinya.
Apa itu artinya... Virgo harus selalu ada di dekatnya?
“Mana gue tau.” Virgo mengangkat bahu dan mencubit hidung Fitri, membuat gadis itu meringis dan mengaduh, sebelum kemudian menepis tangan Virgo yang terkekeh geli di depannya. “Ingat nggak waktu pertama kali kita ketemu?”
Fitri terlihat sedang berusaha mengingat, dan akhirnya mengangguk.
“Lo waktu itu ngeliatin gue dengan tatapan mengerikan andalan lo itu. Padahal, kita baru ketemu dan gue nggak tau apa salah gue sama lo. Ya udah, karena lo mengibarkan bendera perang, gue ladenin aja. Nggak taunya, bikin lo kesal, emosi dan marah itu sesuatu yang menyenangkan, Fit.”
Fitri mengerjap dan memukul d**a bidang Virgo dengan kesal hingga laki-laki itu tertawa keras. Keduanya sama sekali tidak sadar jika sekat kebencian yang sempat tercipta sudah mencair hingga habis. Sekat itu kini berganti dengan sesuatu yang dinamakan cinta. Walau Virgo tahu jika Fitri masih mencintai Veloz, tapi hanya Fitri lah yang sebenarnya tahu mengenai isi hatinya sendiri.
Bahwa gadis itu sudah mencintai Virgo.
Walau belum sepenuhnya dia sadar.
Dan Ravina memperhatikan semuanya dari balik pintu kamar. Tersenyum dengan tulus ketika Fitri dan Virgo terlihat sangat dekat dan akrab. Ikut senang saat melihat Fitri tertawa lepas karena Virgo.
Hingga akhirnya, ponselnya bergetar.
Isi dari pesan singkat itu membuat Ravina mengerutkan kening dan tanpa sadar, dia jadi menahan napas.
Untuk apa Elkansa, Kakak kandung Rado, mengajaknya bertemu? Dan darimana Elkansa tahu nomor ponselnya?
###
Elkansa menunggu Ravina di gang dekat sekolah gadis itu. Dia mencuri nomor ponsel Ravina dari ponsel Rado dan mencari tahu alamat sekolah gadis itu dengan hanya bermodalkan nama sekolah yang tertera di badget seragam Ravina yang dia lihat tempo hari. Dia harus berbicara dengan Ravina. Harus. Ini semua demi seseorang yang tidak boleh disakiti oleh Rado. Seseorang yang pastinya akan sangat sedih jika mengetahui perasaan Rado yang masih mencintai Ravina. Gadis itu harus mundur.
“Udah lama?”
Suara bernada datar itu membuat Elkansa menoleh dan bertemu mata dengan Ravina. Gadis itu nampak menahan dingin ketika berdiri tepat di depannya. Elkansa meneliti keseluruhan fisik Ravina. Gadis itu hanya memakai kaus dengan celana jeans sebatas lutut. Membuat Elkansa mendengus dan tidak mengerti dengan kebodohan gadis itu.
“Elo itu t***l, ya?”
What the f—?!
Apa-apaan si Elkansa ini?
“Apa maksud lo? Lo ngajakin gue ribut, El?!” tanya Ravina dengan nada berapi-api. Sudah mengajaknya bertemu malam-malam begini, dingin, dan sekarang Elkansa mengajaknya perang? FINE! Dipikirnya, Ravina takut, apa?!
“Gue peringatin sama lo, Rav... jangan lo berani dekatin Rado lagi.”
Apa?
Apa maksud Elkansa?
Kenapa dia dilarang untuk berdekatan dengan Rado?
“Karena Rado sudah memiliki tunangan kalau lo mau tau.”
DEG!
Benarkah?
Benarkah Rado sudah memiliki... tunangan?
Lalu... apa maksud perkataan Rado tempo hari?
“Bohong....”
“Buat apa gue membohongi lo, Ravina? Apa ada untungnya buat gue?” tanya Elkansa dengan nada dingin. Laki-laki itu kemudian mencengkram pergelangan tangan Ravina, membawa tubuh gadis itu mendekat ke arahnya dan menatap kedua mata bulat besar milik Ravina. Sesaat, Elkansa sempat terlena dengan mata bulat Ravina, namun laki-laki itu segera mengusir jauh-jauh pemikirannya.
“Rado sudah ditunangkan dengan seseorang. Walau dia menolak, dia tetap melaksanakan pertunangan itu demi nyokap. Dan lo tau apa?” Elkansa tersenyum sinis dan membelai sebelah pipi Ravina dengan tangannya yang lain. “Gadis yang ditunangkan dengan Rado adalah gadis yang gue sayangi! Karenanya, gue akan melakukan apapun demi menjauhkan elo dari Rado, meskipun Rado masih mencintai elo!”
DEG!
“Kenapa muka lo berubah pucat seperti itu, Ravina? Apa lo kaget dengan kenyataan barusan? Bahwa Rado masih mencintai lo, iya?” Elkansa tertawa dan mendengus. “Gue berantem sama dia tempo hari, ketika lo pulang dengan wajah ketakutan. Dia mengancam gue untuk tidak pernah mengganggu lo karena lo adalah gadis yang dia cintai!”
Selesai berkata demikian, Elkansa melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Ravina dan mundur beberapa langkah. Dia bisa melihat wajah Ravina yang masih menunjukkan kekagetan. Kepala gadis itu bahkan kini tertunduk dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.
Perlahan, Elkansa memutar tubuh dan pergi meninggalkan gadis itu. Namun, belum jauh Elkansa berjalan, dia kembali menoleh dan berjalan menuju Ravina lagi. Saat berhadapan dengan Ravina, Elkansa menatap kepala gadis itu yang masih saja menunduk. Kemudian, Elkansa melepaskan jaket jeans hitamnya dan menyampirkannya ke tubuh Ravina.
Membuat Ravina tersentak dan mendongak.
“Gue nggak mau kalau harus disuruh tanggung jawab udah bikin anak orang mati kedinginan.”
Setelah saling tatap beberapa detik, Elkansa memutar tubuh dan kembali pergi.
Meninggalkan Ravina dengan sejuta tanda tanya di benaknya akibat sikap Elkansa yang aneh itu.
###
Leo memarkir motor ninjanya di depan rumah Fitri. Tadi, Ravina menghubunginya dan meminta Leo untuk menjaga dan menemani Fitri di rumah gadis itu karena dia pingsan akibat asmanya kambuh. Ravina sempat dimarahi oleh Leo karena ingin pergi dan malah meninggalkan Fitri sendirian. Padahal, sebenarnya Leo juga cemas setengah mati pada Ravina karena gadis itu bilang dia harus keluar rumah sebentar guna menyelesaikan masalah.
“Pit? Pit, lo baik-baik aja, ka—“
Ucapan Leo terhenti di udara ketika dia melihat Fitri sedang tertidur sementara Virgo duduk tepat di samping ranjang gadis itu sambil menundukkan kepala dan menggenggam tangan saudara sepupunya dengan sangat erat. Seolah takut kehilangan Fitri. Seakan-akan jika Virgo melepaskan genggaman tangan Fitri, Virgo akan terpisah dari Fitri untuk selamanya.
Perlahan, Leo mendekat ke arah Virgo. Dia mengulurkan sebelah tangan dan memegang pundak sahabatnya itu dengan tegas. Walau mereka sempat bertengkar hingga adu jotos segala, namun Virgo tetaplah sahabat Leo. Dulu, sekarang dan selamanya.
“Go....”
Tidak ada respon. Namun, bahu tegap yang dipegangnya itu bergetar. Lambat laun, terdengar suara helaan napas yang begitu berat. Seolah Virgo sudah menanggung beban semua orang diseluruh penjuru dunia. Kemudian, Virgo terkekeh dan Leo berani bersumpah dia mendengar isak tangis disana.
Virgo menangis!
Laki-laki yang seharusnya pantang menangis, kini malah mengeluarkan air matanya. Tanda bahwa beban yang ditanggungnya lumayan berat.
“Go....” Lagi, Leo memanggil Virgo. Tak lama, Virgo memberi respon. Dia menoleh dan Leo tertegun di tempatnya.
Betapa hancur dan berantakan raut wajah Virgo saat ini. Penuh kesedihan, kesakitan dan keterpurukkan.
“Gue cinta sama Fitri, Yo,” ucap Virgo sambil memejamkan kedua matanya, membiarkan sahabatnya melihat kejatuhannya. Melihat air mata kesakitannya. Berlebihan? Tidak. Laki-laki juga manusia. Air mata itu diciptakan bukan hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk laki-laki. Untuk semua makhluk hidup di muka bumi yang merasakan kesakitan.
Hanya saja, mungkin terlalu jarang laki-laki yang bisa menampakkan kehancuran dan kesakitan mereka melalui air mata. Entah karena memang pepatah yang menyuruh laki-laki untuk tidak menangis karena mereka adalah makhluk yang kuat atau justru mereka sendiri gengsi untuk memperlihatkan air mata kesakitan tersebut di depan semua orang.
“Go, gue—“
“Gue cinta sama Fitri,” potong Virgo langsung. Dia membuka kedua matanya dan menyeka air mata dengan punggung tangannya. Matanya kini melirik Fitri yang terlihat tenang dan damai saat tertidur seperti sekarang ini. Seperti seorang bayi mungil dengan tampang polosnya.
“Gue nggak lengkap tanpa Fitri, Yo... gue nggak bisa....” Virgo tertawa datar dan kembali menundukkan kepala. “Tapi... Veloz saudara gue dan Fitri cinta sama dia. Apa yang harus gue lakuin, Yo? Apa?”
Leo tertegun. Tidak sanggup berkata apapun. Matanya menatap Virgo dengan tatapan nanar. Sedih, ikut merasakan kehancuran sang sahabat. Yang bisa dilakukan oleh Leo hanyalah menepuk pundak Virgo guna membagi energi positif yang dia miliki.
“Gue cinta sama lo, Pit....”
I tried... to go on like i never knew you...
I’m awake... but my world is half asleep...
I pray... for this heart to be unbroken...
But without you all i’m going to be is... incomplete...