Suasana didalam mobil Edward terasa mencekam. Sesekali, Edward akan melirik Leo dan Virgo yang saling membuang muka melalui kaca spion tengah mobilnya. Kemudian, Edward akan melirik ke samping, tepatnya ke arah kursi penumpang. Disana, anak gadisnya juga terlihat aneh. Wajahnya datar dan kedua tangannya memilin rok sekolahnya. Seolah-olah, ada sesuatu yang membuat Fitri ketakutan. Kedua mata anak semata wayangnya itu juga terlihat berkaca dan sedikit sendu. Dia memalingkan wajah ke arah jendela, menatap jalanan yang mereka lalui.
Ada apa ini?
Apa ini ada kaitannya dengan gadis bernama Lilian tadi? Yang tidak mau diantar pulang olehnya dan lebih memilih untuk naik taksi? Gadis yang menangis tersedu dan Edward terpaksa mengiyakan kemauan gadis itu untuk pulang mengguunakan jasa taksi setelah sebelumnya Edward memaksa untuk membayar ongkos taksi tersebut.
“Sebenarnya kalian kenapa, sih?” tanya Edward tegas. Jujur, dia bukannya ingin tahu mengenai masalah anaknya, keponakannya juga anak dari sahabatnya itu. Hanya saja, jika mereka bertiga—ralat. Berempat, karena Edward sangat yakin jika gadis yang bernama Lilian tadi juga terlibat dalam masalah ini—bertengkar hingga sampai tidak mau bertegur sapa karena masalah cinta, Edward merasa hal itu sangat konyol sekali.
Oh, ayolah... merusak persahabatan dan persaudaraan hanya karena cinta? Benar-benar tidak bisa ditolerir! Cinta itu ada untuk mempersatukan, bukannya justru malah membuat perpecahan hingga mungkin saling membenci satu sama lain.
“Nggak ada apa-apa, Pap.” Fitri yang menjawab pertanyaan Edward, membuat pria tersebut menoleh. Edward mengerutkan kening ketika menyadari bahwa anak gadisnya itu sama sekali tidak menatap ke arahnya saat dia berbicara tadi. Padahal, Edward selalu mengajarkan kepada Fitri untuk selalu menatap lawan bicaranya ketika sedang mengobrol atau semacamnya.
“Yakin?” kejar Edward lagi. Dia kembali menatap dua laki-laki yang duduk di jok belakang mobilnya tersebut. Liz, adiknya Leo, tidak ikut mobil mereka karena sudah pulang terlebih dahulu dengan menebeng teman-temannya. “Kenapa Pap merasa Leo dan Virgo sedang bertengkar, ya? Wajah mereka juga berdarah. Kalian sedang ada masalah? Juga dengan teman kalian yang bernama Lilian tadi? Iya?”
Fitri menarik napas panjang dan memijat pelipisnya. Gadis itu ingin sekali menangis. Sangat ingin menangis. Dadanya sesak bukan main ketika dia mengetahui bahwa Lilian menaruh hati pada Virgo sejak lama. Kemudian, tahu-tahu saja, Leo mengaku kalau dia mencintai gadis itu. Fitri harus bagaimana sekarang? Dia... dia sebenarnya masih mencintai Veloz, tapi... hatinya juga sakit kala mengetahui kebenaran perasaan Lilian untuk Virgo.
Astaga! Apakah ini bahkan boleh? Dia masih memikirkan Veloz tetapi berani cemburu pada Lilian?
“Saya suka sama anak Oom.”
DEG!
Satu kalimat itu sukses membuat Edward menginjak pedal rem kuat-kuat hingga membuat mobilnya berhenti dengan bunyi berdecit yang keras. Sebelah tangannya langsung terulur ke arah Fitri guna menahan tubuh anak gadisnya itu agar tidak membentur dashboard mobil. Satu sifat yang paling tidak disukai Edward pada anaknya karena bisa saja membahayakan nyawa gadis itu. Fitri tidak pernah memakai seatbelt.
Sementara itu, Leo langsung menoleh dan menatap Virgo yang tidak menatap ke arahnya. Virgo hanya menatap kedua ujung sepatunya. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Bukannya Leo tidak menyadari keanehan dari sikap Virgo terhadap sepupunya. Sejujurnya, Leo sudah lama menduga jika sahabatnya itu jatuh cinta pada Fitri. Hanya saja, lebih mementingkan egonya, Virgo menolak mengaku dan memilih untuk menyimpannya rapat-rapat didalam hati.
Berbeda dengan Leo yang menanggapi dengan tenang, Fitri justru terlihat... kacau. Tidak menyangka dan tidak pernah menduga sama sekali jika Virgo... jika laki-laki itu menyukainya. Ya Tuhan! Ini benar-benar mustahil! Selama ini, dia dan Virgo selalu bersikap layaknya anjing dan kucing. Dia memang sering mendengar pepatah mengatakan bahwa jangan terlalu membenci seseorang jika tidak ingin berakhir menjadi cinta. Hanya saja... ini... dia... Virgo...
Ya Tuhan!
“Kamu suka sama Fitri, Go?” tanya Edward menyelidik. Menatap kesungguhan dari kalimat yang baru saja diucapkan Virgo tadi. Hanya saja, Virgo tetap menunduk, tidak mau mengangkat kepalanya. Tapi, entah mengapa, Edward merasa Virgo memang bersungguh-sungguh ketika mengatakan hal tersebut.
Ketika Virgo mengangguk tegas, laki-laki itu baru mengangkat kepalanya. Dia menatap Edward dengan tatapan penuh keyakinan dan kesungguhan. Membuat Edward menelan ludah dan tersenyum tipis. Sikap Virgo saat ini mengingatkannya akan sikap Rizky—orangtua Leo dan Liz—saat dia mengucap janji pada Oom Reynald, orangtua Krystal, dulu. Ketika Krystal disekap dan diculik oleh Nelson, Ayah dari Virgo. (baca: Fight For Love dan Only One)
“Tapi....”
Tapi?
Virgo tersenyum tipis dan menghela napas panjang. Laki-laki itu kemudian menatap belakang kepala Fitri. Gadis itu rupanya tetap bertahan pada sikap tubuhnya: masih menatap jalanan di sampingnya.
“Tapi... Fitri masih menyukai Veloz, saudara sepupu jauh saya yang baru saya kenal, anak dari sahabat Oom yang juga guru les piano Fitri dulu. Lalu, saya juga baru mengetahui dari Leo bahwa Lilian, teman kami yang tadi, menyukai saya. Padahal, Leo menyukai Lilian. Jadilah akhirnya kami berdua saling adu jotos tadi....”
Ya ampun! Edward mengerang dalam hati. Lingkaran setan rupanya!
“Karena Fitri masih menyukai saudara sepupu saya, maka saya akan mundur. Saya tidak mungkin bersaing merebutkan Fitri dengan saudara saya sendiri. Kemudian, saya akan menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Lilian bahwa sampai kapanpun, saya akan tetap menyukai Fitri dan Leo mencintainya dengan tulus. Tapi, satu hal yang harus Oom tau....”
Demi Tuhan... Fitri memejamkan kedua matanya erat-erat. Dia tidak sanggup mendengarnya lagi. Dia benar-benar tidak sanggup!
Virgo menarik napas panjang dan tersenyum lelah. Benar-benar lelah. Sebelah tangannya terulur dan mengacak rambut Fitri, membuat gadis itu tersentak pelan dan menahan napas. Namun, gadis itu tetap memejamkan kedua matanya. Leo sendiri hanya diam, menatap Virgo dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Saya mencintai anak Oom dengan tulus. Saya terima kalau dia tidak mencintai saya. Kalau saya berjodoh dengannya, kami pasti akan dipersatukan.”
Selesai berkata demikian, Virgo membuka pintu mobil dan turun dari sana. Dia menghentikan taksi pertama yang lewat dan menghilang dari pandangan Edward juga Leo. Ketika Edward menoleh untuk menatap anak gadisnya lagi, pria itu tertegun.
Belum pernah seumur hidupnya membesarkan Fitri, dia melihat anak gadisnya, putri kecilnya itu, menangis sesegukkan hingga menekan dadanya dengan kuat.
Sakit.
###
Pertemuan itu diadakan mendadak. Semuanya berkumpul di rumah Azka dan Celsi. Veloz kebetulan sedang tidak berada di rumah karena harus menginap di kampus akibat kedudukannya sebagai panitia dalam acara yang akan diadakan tidak lama lagi. Di ruang tamu, Azka dan Celsi menatap heran ke arah Edward yang sedang melamun. Inggit, Elang, Septi, Nelson, Cesya, Rizky dan Krystal pun menatap Edward dengan kening berkerut. Sampai kemudian, Edward tersentak ketika merasa lengannya ditepuk pelan. Dia menoleh ke samping dan melihat Inggit yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.
“Jadi? Kenapa kamu ngumpulin kita semua di rumah Azka, Mas?” tanya Krystal memecah keheningan. Edward menatap adik sepupunya itu dan menarik napas panjang. Meskipun Ravina, anak dari Elang dan Septi tidak masuk dalam masalah yang ditimbulkan oleh Fitri dan yang lain, tapi, Edward merasa mereka berdua tetap harus diberitahu. Siapa tahu saja, Elang dan Septi memiliki jalan keluar untuk masalah yang dianggap rumit oleh Edward tersebut.
“Tadi... gue baru aja jemput Fitri, Virgo dan Leo di sekolah.”
Pembukaan dari Edward membuat kesembilan orang yang duduk mengitarinya saling tatap dalam diam. Pasalnya, suara Edward benar-benar terdengar... bingung.
“Terus?” tanya Nelson. Merasa tidak menemukan letak masalahnya.
Lagi, Edward menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Virgo sama Leo abis tonjok-tonjokkan.”
“HAH?!”
Oke. Kali ini, Edward berhasil menarik perhatian mereka semua.
“Masalah yang mereka alami bertemakan... lingkaran setan.”
Lagi, kesembilan orang di dekatnya hanya bisa saling tatap ketika mendengar istilah yang disebutkan oleh Edward tersebut.
Lingkaran setan?
“Fitri suka sama Veloz.”
“HAH?!” seru Azka dan Celsi bersamaan. Kini, semua mata menatap ke arah dua orang tersebut.
“Veloz nggak tau hal itu. Dan dari keterangan Fitri, gue dapat berita kalau Liz naksir Veloz dan Veloz sepertinya juga ada hati sama Liz.”
“HAH?!” kali ini, seruan berasal dari Rizky dan Krystal.
“Ada seorang gadis, teman Fitri bernama Lilian. Lilian suka sama Virgo, tapi tadi Virgo baru aja mengaku kalau dia cinta sama Fitri di depan Fitri, gue sama Leo.”
“HAH?!” here it comes again the ‘hah’ from Nelson and Cesya.
“Ternyata, Leo jatuh cinta sama Lilian.”
“HAH?!” and everybody’s screaming now.
Edward menghembuskan napas panjang dan menggenggam tangan Inggit dengan erat. Dia merasa mendapat kekuatan dan kehangatan dari genggaman tangan isterinya itu. Edward benar-benar tidak bisa dan tidak tahan melihat anak semata wayangnya menangis karena sesuatu yang dinamakan... cinta.
“Kok bisa... gitu?” tanya Cesya takjub. Tidak menyangka anak laki-lakinya akan mengalami masalah serumit ini. “Mas Azka! Gimana, nih?”
“Jangan tanya sama aku. Aku juga kaget setengah mati!” Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap Edward. “Apa rencana lo, Ward?”
“Jujur... gue blank. Gue nggak tau mesti ngapain. Tadinya, gue nggak mau ikut campur, tapi... gue nggak bisa ngeliat anak gue kayak gitu.”
Suasana mendadak hening. Semua sibuk memikirkan jalan keluar dari masalah yang cukup rumit ini. Kemudian, tiba-tiba saja suara Elang memecah keheningan.
“Kita biarin aja mereka yang menyelesaikan. Mereka udah dewasa. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah yang lagi mereka hadapi.”
###
Ravina melamun di teras rumahnya. Gadis itu mendesah berat dan menatap langit hitam di atas sana. Dia baru saja mendengar cerita mengenai lingkaran setan diantara Fitri dan yang lainnya melalui Elang dan Septi. Mama dan Papanya itu terlihat bingung dan bersyukur karena Ravina tidak masuk dalam daftar lingkaran setan tersebut.
Yeah, right! Kalau saja Elang dan Septi tahu bahwa anak gadis mereka yang doyan tawuran ini juga memiliki masalah percintaan tersendiri. Mereka berdua pasti akan merasa kasihan pada dirinya. Pasti!
“Si Elkansa-Elkansa itu kenapa dingin banget, ya, sikapnya?” gumam Ravina pada dirinya sendiri. Masih kesal dan keki dengan sikap Kakak kandung Rado itu. tak lama, Ravina berdecak dan menjitak kepalanya sendiri. Untuk apa, coba, dia memikirkan Elkansa?
Ravina menopangkan dagunya dengan sebelah tangan dan kembali mendesah berat. Kemudian, gadis itu tersentak ketika pagar rumahnya diketuk. Ravina menyipitkan mata dan terbelalak.
“Fitri?” panggil gadis itu meyakinkan. Ketika melihat anggukkan kepala saudara sepupunya itu, Ravina lantas bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Fitri.
“Hai, Rav...,” sapa Fitri pelan. Gadis itu tersenyum tipis dan langsung memeluk tubuh Ravina tanpa memberi saudara sepupunya itu untuk membalas sapaannya barusan. Di tempatnya, Ravina hanya bisa membeku dan perlahan, dia membalas pelukan Fitri.
“Gue... harus... gimana, Rav?” tanya Fitri terbata sambil terisak. Seraya mengelus punggung Fitri, Ravina membuang napas keras.
Ikut bersedih.
###
Semua cerita yang keluar dari mulut Fitri didengarkan oleh Ravina tanpa ada niat untuk menyela. Keduanya saat ini berada di sebuah resto Jepang yang berada tak jauh dari sekolah Fitri. Gadis itu habis menangis. Dia bercerita sambil menangis dan memegang dadanya. Ravina sendiri hanya bisa menggenggam erat tangan Fitri untuk memberikan kekuatan pada saudara sepupunya itu.
“Gue nggak kuat, Rav,” ucap Fitri sambil menghapus air matanya dan menggelengkan kepala. “Rasanya sakit... sesak....”
“Lo harus tau siapa yang menempati ruang hati lo, Pit.” Ravina mengikuti Leo dalam hal memanggil Fitri. “Jangan begini. Lo bilang masih sayang sama Veloz, tapi lo mengaku cemburu waktu tau Lilian suka sama Virgo. Dan lo juga merasakan sesak luar biasa ketika Virgo bilang dia cinta sama lo dan berniat mundur karena nggak mau bersaing sama saudaranya sendiri.”
Fitri memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Rasa sesak itu semakin menghimpit rongga dadanya. Mematikan paru-parunya. Menusuk jantungnya. Sakit bukan main. Kepalanya terasa berat. Air matanya semakin keluar.
“Pit?” panggil Ravina cemas. Pasalnya, Fitri memang memiliki riwayat penyakit... asma.
“Gue... oke....” Fitri menjawab tertatih sambil perlahan membuka kedua matanya. Sayangnya, Ravina merasa Fitri sama sekali tidak ‘oke’ seperti yang diucapkan gadis itu beberapa saat yang lalu.
“Pit... gue takut asma lo kumat. Lebih baik, kita pulang aja sekarang. Gimana?” ajak Ravina khawatir. Dia benar-benar takut penyakit sepupunya itu akan kambuh sekarang.
Ketika Fitri berniat untuk menganggukkan kepalanya, menyetujui usul Ravina karena sejujurnya napasnya juga mulai terasa berat, mata gadis itu menangkap sesuatu. Sesuatu yang saat ini sedang duduk di sudut ruangan. Suara tawanya menggema hingga Fitri bisa mendengarnya dengan jelas. Suara tawa yang dulu sanggup membuatnya tenang dan nyaman. Suara tawa yang selama ini selalu dirindukannya.
Itu... Veloz dan Liz!
Lalu... tubuhnya meringan begitu saja. Dia sempat mendengar teriakan Ravina. Melihat wajah aneh sepupunya itu menatap ke satu titik. Satu titik yang kini sepertinya menahan berat tubuhnya. Dan ketika dia menoleh, dia mendapati sosok... Virgo.
###
Sungguh, Virgo tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dia hanya mengikuti instingnya yang membawanya ke resto Jepang di dekat sekolahannya tersebut. Dia memang berniat mencari makan karena perutnya sangat lapar. Mom dan Dad-nya masih berada di rumah Oom Azka dan Tante Celsi sehingga dia tidak mendapatkan jatah makan malamnya. Dari sekian banyak rumah makan atau resto yang bisa dia kunjungi, dia justru mengikuti kata hatinya untuk datang ke tempat ini.
Awalnya, dia tidak yakin jika orang yang sedang menangis dan terlihat bernapas satu-satu itu adalah Fitri. Gadis yang dicintainya tetapi mencintai saudara sepupu jauhnya itu. Ketika Virgo mengikuti arah pandang Fitri, laki-laki itu bisa merasakan amarah yang hebat mulai menyeruak keluar. Namun, sebelum dia bisa merealisasikan niatnya untuk menghajar Veloz karena ketololan dan ketidak-pekaan laki-laki itu akan perasaan Fitri, Virgo melihat tubuh gadis itu mulai limbung ke samping. Langsung saja, begitu dia mendengar teriakan Ravina, Virgo berlari ke arah Fitri dan dengan sigap menahan tubuh gadis itu. Kemudian, kedua mata Fitri terpejam setelah sempat menatapnya dengan tatapan lelah.
“Virgo?” panggil Ravina sambil melongo. “Lo... kenapa bisa ada disini?”
“Nanti gue jelasin,” jawab Virgo seraya menggendong tubuh Fitri yang sudah jatuh tak sadarkan diri itu. Dia tidak peduli dengan kasak-kusuk pengunjung dan tatapan ingin tahu yang dilemparkan oleh mereka semua. “Lo naik apa kesini?”
“Mobil,” sahut Ravina cepat. Virgo mengangguk.
“Gue yang bawa mobilnya. Lo duduk di jok belakang bareng Fitri, oke?”
Ravina mengangguk. Dia membiarkan Virgo berjalan terlebih dahulu di depan. Namun, tiba-tiba saja langkah kaki Virgo terhenti. Ravina menoleh dan mengerutkan kening ketika melihat lengan Virgo dicekal oleh seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Di samping laki-laki itu, berdiri Liz yang sedang menatap kaget ke arah Fitri.
“Kak Virgo! Kak Fitri kenapa?” tanya Liz khawatir. Virgo mengabaikan pertanyaan adik sahabatnya itu dan justru menatap Veloz dengan tatapan tajam.
“Virgo? Ada apa dengan Fitri?”
“Masih berani nanya?”
Loh?
Ada apa ini?
“Lo masih berani nanya?” ulang Virgo. Ravina yang bisa mencium adanya masalah, langsung menahan lengan Virgo yang satunya lagi dan menggelengkan kepala. Namun, Virgo mengacuhkan perintah Ravina tersebut.
“Tadinya... gue kepengin banget nonjok elo.” Virgo kembali bersuara dengan nada dingin. Sedingin tatapannya pada Veloz. Liz yang tidak menyangka akan mendengar suara dingin Virgo tersentak dan mengerutkan kening.
“Kenapa?” tanya Veloz tenang. Tidak ingin terbawa arus emosi Virgo.
Diluar dugaan, Virgo justru tertawa. Laki-laki itu menggelengkan kepala lantas mendengus dan membenarkan tubuh Fitri pada gendongannya.
“Karena lo t***l!”
Apa?
“Lo nggak tau kalau Fitri suka sama lo dari dulu, HAH?!” seru Virgo keras, membuat Ravina dan Liz terlonjak sementara Veloz membeku di tempat. “Lo pikir, gue berpura-pura saat gue bilang Fitri milik gue waktu lo pertama kali datang ke rumah gue pas lo pegang dia? HAH?! GUE SERIUS WAKTU ITU KARENA GUE CINTA SAMA DIA TAPI DIA CINTA SAMA LO DAN MENGALAH KARENA LIZ, SAUDARA SEPUPUNYA YANG DIA SAYANG JUGA SUKA SAMA LO SEPERTI LO YANG MULAI SUKA SAMA LIZ!”
Veloz mundur beberapa langkah sedangkan Liz menggelengkan kepalanya sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Air mata Liz mengalir turun kala mendengar penjelasan Virgo tersebut.
Jadi... Fitri waktu itu membohonginya?
Fitri bohong saat bilang kalau dia sudah tidak menyukai Veloz lagi? Hanya untuk membuatnya... senang?
“Gue benar-benar kepengin nonjok lo sampai lo mati, Veloz...,” ucap Virgo lagi dengan nada tersengal karena baru saja berteriak dengan volume suara yang gila-gilaan hingga membuat semua pengunjung kembali memusatkan perhatian mereka padanya. “Sayangnya... lo saudara gue... sayangnya, lo orang yang dicintai sama orang yang gue cintai. Gue nggak bikin lo meregang nyawa karena gue cinta sama Fitri dan nggak mau liat dia sedih!”
Setelah sempat menguliti Veloz dengan tatapan tajamnya, Virgo pergi dan menyuruh Ravina untuk mengikutinya. Meninggalkan Veloz yang masih terperangah di tempatnya juga Liz yang menangis hebat disana.
###
Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit berwarna putih. Kemudian, dia mencium aroma yang sering mampir ke indera penciumannya. Aroma maskulin yang tanpa dia sadari sudah berhasil merasuki alam bawah sadarnya. Ketika dia ingin bangkit dari posisinya, dua tangan besar menahan bahunya dan menyuruhnya untuk kembali tidur.
“Virgo?”
Di depannya, Virgo tersenyum tipis dan menghela napas panjang. Dia mengelus rambut panjang Fitri dan menggenggam erat tangan gadis itu.
“Pernah nonton film cinta pertama?”
Fitri mengerutkan kening dan mengangguk. Dia memutuskan untuk membiarkan Virgo menggenggam tangannya karena dia bisa merasakan kehangatan disana.
“Ada kalimat yang berbunyi seperti ini....” Virgo menarik napas panjang dan membuangnya pelan. “’Aku merasa hilang, tanpa tahu apa yang sudah aku temukan... aku merasa menemukan, tanpa tahu apa yang aku cari... dan... aku merasa masih mencari, tanpa tahu apa yang sudah hilang....’”
Fitri memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya. Mendengar kalimat tersebut, dia merasakan lagi sesak dan sakit itu. Karena perasaan tak terbalasnya untuk Veloz.
“Dalam kasus ini... gue... merasa masih terus mencari elo, meskipun lo sudah hilang... tapi....” Virgo mendekatkan wajahnya dan mencium kening Fitri, membuat gadis itu membeku dan membuka kedua matanya dengan cepat. “Gue akan terus mencari dan menemukan lo, Fit.”
###