NINE

2043 Words
Wajah Rado sangat dekat dengannya karena dia bisa merasakan hela napas laki-laki itu pada wajahnya. Ravina menelan ludah susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Matanya menatap mata Rado dengan tatapan takut. Dia yakin Rado tidak akan mungkin melakukan hal yang macam-macam padanya, tapi...             Tiba-tiba, pintu terbuka dengan satu dorongan kencang. Ravina dan Rado tersentak kemudian menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Ravina bisa mendengar suara decakan yang keluar dari bibir Rado, sementara laki-laki itu sendiri menatap sosok yang kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan jengkel.             “Nggak bisa ketuk pintu dulu?” tanya Rado dingin. Dia menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Ravina hingga gadis itu langsung meringsut ke arah sandaran tempat tidur sambil menutup tubuhnya sendiri dengan selimut. Gadis itu kemudian menatap Rado dan sosok yang kini menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil bersedekap itu dengan tatapan takjub.             Ada dua Rado!             Ravina tidak pernah mendengar atau mengetahui bahwa Rado mempunyai saudara kembar, bahkan disaat mereka dulu pernah menjalin kasih. Tapi kenyataannya saat ini, ada sosok lain yang begitu mirip dengan Rado tengah menatapnya dengan tatapan mengejek dan tatapan yang begitu dingin menusuk tulang.             Ada apa dengan laki-laki itu?             “Sori. Gue nggak tau kalau lagi ada kegiatan m***m didalam kamar lo.” Laki-laki itu menatap Rado dengan tatapan dingin yang sama, seperti yang dia arahkan pada Ravina beberapa saat yang lalu. “Cuma mau ngasih tau, nyokap manggil elo.”             “Ngapain nyokap manggil gue?”             Laki-laki itu mengangkat bahu tak acuh. Kemudian, tatapannya kembali terarah pada Ravina diikuti senyuman sinisnya. “Mungkin nyokap mau tanya ke lo soal cewek SMA yang lo angkut tadi kedalam kamar lo dalam keadaan pingsan.”             Sial! Ada masalah apa sebenarnya laki-laki ini dengannya? Ravina membatin kesal.             “Gue kesana sebentar lagi.”             “Sekarang.” Laki-laki itu berkata dengan nada tegas dan final. Tatapan menusuk itu masih diberikan untuk Ravina, membuat gadis itu sedikit mendesis jengkel dan terpaksa membalas tatapan itu dengan sama dinginnya. Memangnya dia pikir dia itu siapa? Ravina sama sekali tidak takut pada siapapun! Puluhan orang yang dia temui dalam kancah tawuran saja bisa dia lawan semua, apalagi hanya laki-laki arogan bermata dingin yang saat ini mengejeknya tanpa kentara itu?             “Ck!” Rado berdecak dan melirik Ravina sekilas. “Urusan kita belum selesai, Rav. Sekarang, kamu ikut aku turun ke bawah buat ketemu sama Mama aku.”             Ravina mengangguk ragu. Gadis itu mengerutkan kening ketika menyadari laki-laki menyebalkan itu sudah menghilang dari dalam kamar Rado.             “Siapa dia?”             Pertanyaan Ravina itu membuat Rado berhenti merapihkan rambutnya. Laki-laki itu menatap Ravina dari balik cermin dan menghembuskan napas panjang.             “Elkansa. Kakak kandung aku.”             Kakak?             “Lo punya Kakak?”             Rado mengangguk.             “Tapi lo dulu nggak pernah cerita kalau lo punya Kakak.”             Rado kembali menghembuskan napas panjang dan memutar tubuh. Senyumnya begitu tipis hingga Ravina harus meyakinkan diri bahwa Rado memang baru saja menampilkan senyumannya barusan. Kedua tangan Rado dimasukkan kedalam saku celana jeans-nya. Sikap tenang Rado yang selalu disukai Ravina sejak dulu.             “Orangtua aku cerai waktu aku umur tujuh tahun. Waktu itu, Elkansa udah umur sembilan tahun. Dia ikut Mama ke London. Aku tinggal sama Papa disini. Dua bulan yang lalu, Elkansa sama Mama pulang kesini dan tinggal sama aku.”             “Bokap lo?”             “Meninggal.”             Hening mendominasi.             “Kamu pikir kenapa mereka mau balik lagi kesini? Tentu aja untuk nemenin aku yang sebatang kara. Papa meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Begitu beliau meninggal, Elkansa sama Mama langsung pulang.”             “Lo keliatan nggak akrab sama Kakak lo sendiri.” Ravina turun dari tempat tidur dan memakai kembali tas sekolahnya. “Kenapa?”             “I don’t know.” Rado merapihkan rambut Ravina yang sedikit berantakan, membuat gadis itu menahan napas tanpa sadar. Untuk sementara, sikap permusuhan yang selalu ditunjukkan Ravina pada Rado menghilang. Dia terlalu penasaran dengan kemunculan Elkansa yang begitu tiba-tiba. “Sejak kecil, hubungan aku sama Elkansa emang nggak terlalu baik. Dia selalu sensi sama aku. Aku nggak pernah tau apa alasannya.”             Baru saja Ravina akan membuka mulut untuk kembali bertanya, pintu kembali terbuka dan Elkansa muncul disana. Masih dengan raut wajah dinginnya, pun dengan tatapan tajamnya.             “Kalau lo mau cari tau soal gue, silahkan tanyakan langsung ke gue. Nggak usah kepoin gue ke orang lain, terutama sama Rado!”             Ravina menelan ludah. ### Rombongan peserta kamping pulang hari ini. Fitri duduk sambil menopang dagu di tangga sekolah. Masih terekam dengan baik dalam ingatannya saat Virgo memeluknya di hutan waktu itu. Semua ucapan Virgo juga masih bisa dia ingat setiap detailnya. Pun dengan pelukan hangatnya malam itu di dekat jembatan.             Perlahan, hatinya berdesir kala semua adegan itu melintas dalam benaknya.             “Pulang sama siapa?”             Pertanyaan simpel itu membuat Fitri tersentak dan mendongak. Gadis itu mengerjap dan menatap Virgo yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di depannya itu dengan tatapan bingung.             “Apa?”             “Pulang sama siapa?” ulang Virgo lagi. Entah hanya perasaan Fitri saja atau memang suara Virgo terdengar sangat lembut dari biasanya.             “Mmm... dijemput bokap gue mungkin.” Fitri berdecak jengkel dalam hati. Gadis itu mengutuki jantungnya yang kini berdetak dengan liar dan menendang-nendang dadanya.             Ada apa dengan dirinya saat ini?             Benarkah dia sudah mencintai Virgo?             “Kalau gitu....” Virgo menaruh ranselnya di lantai dan duduk tepat di samping Fitri. “Gue nemenin lo disini sampai Oom Edward datang.”             Loh? Loh?             “Eh... nggak usah.” Fitri segera menolak dan menggoyangkan tangannya, membuat Virgo menaikkan satu alisnya. “Gue nunggu sendiri aja. Lagian, masih ada anak-anak yang lain, kan?”             “Kalau gitu, anggap aja gue yang mau nemenin lo.”             Apa-apaan sih laki-laki ini?             “Nggak usah, Go... gue....”             “Berisik.” Virgo memotong ucapan Fitri dengan tegas. Setegas tatapan matanya saat ini. Dia menatap wajah Fitri hingga membuat gadis itu menahan napas tanpa sadar. Jarak keduanya cukup dekat karena Virgo duduk tepat di sebelahnya. “Hak gue buat duduk disini dan nemenin lo. Lo nggak berhak ngelarang gue.”             Kok jadi Virgo yang lebih galak, sih?             Akhirnya, Fitri memilih diam. Daripada dia ribut dengan Virgo, lebih baik dia mengalah. Bukannya dia sengaja mengalah, hanya saja seluruh energinya sudah terkuras habis karena kegiatan kemping mereka beberapa hari ini. Dia tidak cukup bertenaga untuk berdebat dengan Virgo seperti biasanya.             Suasana yang hening membuat Fitri canggung. Gadis itu gelisah. Beberapa kali, Fitri berdeham dengan maksud mengurangi kegugupan yang entah datang dari mana. Sampai kemudian, sesuatu yang berat menghantam pundaknya. Fitri terperanjat. Gadis itu menoleh dan mendapati kepala Virgo sudah bertengger manis pada pundak kanannya.             “Virgo?”             Tidak ada respon. Hanya terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa Virgo tengah tertidur. Mungkin laki-laki itu kelelahan. Tanpa sadar, bibir Fitri menyunggingkan senyum. Tangannya terangkat perlahan dan mengelus rambut lebat milik laki-laki itu.             “Jangan begini, Go...,” ucap Fitri pelan. Suaranya nyaris pecah, pertanda bahwa dia sedang menahan tangis. “Jangan bikin gue jatuh cinta sama lo... kita nggak akan cocok. Gue... gue masih sayang sama Veloz. Masih sangat sayang sama Veloz....”             Tangan Fitri yang tadinya mengelus rambut Virgo kini melingkar pada leher laku-laki itu. Kemudian, kepala Fitri disandarkan pada pundak Virgo secara perlahan. Gadis itu memeluk Virgo, menumpahkan tangisnya disana tanpa suara. Hanya gerakan pada bahunya yang menandakan bahwa gadis itu sedang menangis.             Dan... Fitri tidak tahu bahwa sebelah tangan Virgo terkepal kuat. Juga dengan kedua matanya yang kini terbuka dan menatap datar pada lapangan luas di depannya.   Semakin... ku menyayangimu... Semakin ku harus... melepasmu dari hidupku... Tak ingin lukai hatimu... lebih dari ini... Kita tak mungkin terus bersama... (Drive-Melepasmu) ### “Ngintipin orang pacaran itu nggak bagus, loh.”             Lilian terkejut dan langsung memutar tubuh. Di depannya kini berdiri sosok Leo yang sedang bersedekap. Matanya menatap Lilian dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Kemudian, setelah berdeham keras, Lilian pergi dari tempat tersebut. Tapi, gadis itu terpaksa menghentikan langkah saat lengannya dicekal oleh Leo.             “Lepas!” seru Lilian. Gadis itu berusaha melepaskan diri namun gagal. Yang ada, Leo justru menarik gadis itu cukup jauh hingga kini hanya ada mereka berdua disana. Tepatnya di samping lab Biologi.             “Mau lo apa, sih?!” bentak Lilian. Gadis itu masih berusaha melepaskan cekalan tangan Leo pada lengannya.             “Gue cuma mau lo buka mata lo lebar-lebar dan berhenti nyakitin diri lo sendiri!” suara Leo tanpa sadar ikut meninggi, membuat rontaan Lilian berhenti dan gadis itu menatap Leo dengan mata terbelalak.             “Nggak usah ikut campur urusan gue!”             “Lo pikir gue sudi disuruh diam aja saat lo sedih dan sakit hati nggak karuan begini, HAH?!” Leo menarik lengan Lilian hingga tubuh gadis itu menabrak tubuhnya. Kemudian, sebelah tangan Leo yang bebas langsung melingkari pinggan Lilian, menghentikan segala usaha gadis itu untuk menarik diri. “Gue udah bilang, kan, kalau gue suka sama lo? Dan gue ogah disuruh diam aja disaat lo menderita kayak gini!”             “Jadi mau lo apa?!” sadar bahwa dia tidak akan bisa keluar dari cengkraman Leo, Lilian memutuskan untuk menantang. “Apa yang bakal lo lakuin supaya gue nggak menderita lagi? Hah? APA?!”             Untuk sesaat, keduanya terdiam. Sampai kemudian, lagi-lagi, Leo menyeret Lilian entah kemana. Barulah Lilian sadar setelah mereka telah cukup dekat dengan Virgo dan Fitri. Dengan satu gerakan cepat tak terduga, Lilian bisa melihat Leo melepaskan cekalannya, menerjang maju ke arah Virgo, menarik kerah seragam laki-laki itu dan langsung menghajarnya hingga Virgo terjerembap ke samping!             Fitri yang kaget hanya bisa menjerit, pun dengan Lilian. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika Leo kembali menarik Virgo yang kebingungan dan melayangkan kepalan tangannya lagi pada wajah laki-laki itu.             “Leo! Berhenti!” teriak Fitri sambil bangkit berdiri. Dia tidak peduli apabila saat ini Leo, Lilian dan Virgo bisa melihat air matanya. Yang jelas, Fitri langsung berlari ke arah Leo dan Virgo, kemudian memasang tubuh mungilnya diantara tubuh tegap kedua laki-laki itu.             “Minggir, Pit! Gue harus kasih pelajaran sama Virgo!” desis Leo penuh amarah. Belum pernah Fitri melihat sepupunya kalap seperti itu. Apa yang sedang terjadi saat ini?             “IPIT! GUE BILANG MINGGIR!” bentak Leo kasar. Fitri yang tersentak kaget hanya bisa terperangah. Kemudian, seseorang menarik lengannya dan mendorong tubuhnya ke samping. Baru dia sadari bahwa yang menarik lengannya adalah Virgo karena selanjutnya, laki-laki itu menghajar Leo.             “Jangan bentak-bentak dia kayak gitu!” seru Virgo emosi.             “Mau jadi pahlawan buat sepupu gue, heh?” Virgo terkekeh geli. Dia menyeka sudut bibirnya yang berdarah kemudian bangkit berdiri sambil membuang ludah ke samping. Tatapannya begitu tajam saat menatap Virgo.             “Lo tau, Go? Lilian suka sama lo!”             DEG!             Fitri langsung menatap Lilian, sementara Virgo terpaku di tempatnya.             “Apa?” bisiknya tak percaya.             “Lilian suka sama lo tapi dengan gobloknya lo nggak sadar akan hal itu! Gue marah, Go! Gue enek liat lo nyakitin Lilian kayak gitu! Karena apa? KARENA GUE JATUH CINTA SAMA DIA!”             Kini, tatapan Fitri beralih pada Leo.             Ada apa ini sebenarnya?!             “GUE CINTA SAMA ORANG YANG CINTA MATI SAMA SAHABAT GUE SENDIRI!” teriak Leo lagi. “APA LO BAHKAN PAHAM GIMANA RASANYA, GO?!”             Semuanya terdiam. Virgo dan Leo saling tatap tajam. Fitri terpaku di tempatnya sementara Lilian menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Semua perasaan sayangnya pada Virgo kini diketahui oleh laki-laki itu. Virgo kini akan menjauhinya seperti wabah penyakit mematikan.             Lalu... seseorang datang menginterupsi.             “Loh? Virgo? Leo? Kenapa kalian berdarah kayak gitu?” tanya Edward yang datang tepat pada waktunya. ### Ravina meremas ujung roknya dengan gelisah. Dia lebih baik ditinggalkan berdua saja dengan singa atau harimau sekalian ketimbang harus ditinggal berduaan dengan laki-laki menyebalkan ini. Elkansa Altair namanya. Usianya dua puluh dua tahun. Bekerja di salah satu perusahaan swasta di bilangan Kemang. Semua informasi itu didapat Ravina saat proses perkenalan beberapa saat yang lalu, ketika dia bertemu dengan Mama Rado.             “Kenapa? Takut berduaan aja sama gue?”             Suara serak bernada dingin itu menembus dunia Ravina, membuat gadis itu terkejut. Dia menoleh dan bertemu pandang dengan Elkansa yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan yang membuat Ravina terintimidasi.             Sialan!             “Biasa aja.” Ravina menjawab santai. “Gue hobi tawuran. Gue sering ketemu sama orang-orang yang bawa senjata tajam. Pisau, celurit, sabit, sebutlah semua senjata tajam yang sering dibawa orang-orang saat tawuran. Kalau sama mereka aja gue nggak takut, ngapain gue harus takut sama lo?”             Tanpa disangka, Elkansa justru tertawa. Tawa yang mengejek, membuat Ravina mendidih!             “Ada yang lucu?” tanya Ravina dingin.             “Nggak.” Elkansa berdeham. “Cuma nggak nyangka aja kalau adik gue suka sama cewek yang doyan tawuran kayak lo. Udah gitu masih ingusan pula.”             Cukup!             “Siapa yang lo bilang bocah ingusan?!” bentak Ravina sambil bangkit berdiri. Dia menunjuk wajah Elkansa lurus-lurus. “Asal lo tau, ya... lo itu adalah tipe orang yang paling gue benci di dunia ini! Go to the hell!”             Setelah mengatakan hal tersebut, Ravina meraih tas-nya dan bersiap untuk pulang. Entah kemana Rado dan Mamanya, dia juga tidak tahu. Ketika sudah mencapai ambang pintu, langkahnya terhenti saat suara Elkansa kembali terdengar. Membuat Ravina menoleh dan menatap sengit Elkansa yang menatapnya sambil tersenyum dingin.             “Been there, done that!” Elkansa mengedipkan sebelah matanya. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD