“Sssst... diam!” perintah orang tersebut, yang kini membekap mulut Fitri. Fitri mengangguk tegas dan mulai bersikap kooperatif. Dia menarik napas panjang dan tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Perlahan, tangan besar yang membekap mulutnya mulai terlepas. Hampir saja isakan tangis yang sejak tadi ditahan oleh Fitri lolos dari mulutnya. Namun, gadis itu untungnya bisa menahan. Kedua matanya yang masih basah oleh airmata menatap sosok di depannya dengan kelegaan dan ketakutan yang berbaur menjadi satu. Lega karena merasa tertolong sekaligus takut akan pembunuh yang berkeliaran di hutan tadi, yang membawa pisau super besar dengan darah berlumuran pada permukaan benda tersebut.
Sama halnya dengan Leo. Laki-laki itu menghembuskan napas lega dan berdecak. Dihapusnya airmata Fitri yang masih membekas pada kedua pipinya itu dengan lembut dan diciumnya kening sang sepupu dengan pelan. Leo yang tadi sedang mempersiapkan tenda langsung berfirasat tidak enak ketika melihat Fitri dengan seenak dengkulnya itu masuk kedalm hutan. Tanpa banyak pikir panjang, Leo segera menyusul Fitri setelah sebelumnya berpesan pada Liz—nyaris memaksa dan membentak—agar tetap diam bersama para guru dan teman-temannya. Dan apapun yang terjadi, sebelum dia kembali ke tenda, Liz tidak boleh pergi kemanapun! Tadinya, dia berniat untuk menyuruh Virgo agar pergi bersamanya, tapi, sahabatnya yang sedang bermuram durja itu entah pergi kemana.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Leo berbisik. Dia memeluk tubuh Fitri yang masih gemetar dan dingin tersebut dengan erat. Berbagi kekuatan, berbagi kehangatan. Tadi, dia memang sempat melihat pria tersebut. Pria besar dengan pisaunya yang tak kalah besar dan berlumuran darah. Lalu, dia melihat bayangan Fitri yang lari ke gubuk ini dan langsung menyusulnya tanpa kentara. Lalu, sebelum persembunyian mereka terbongkar, Leo langsung membekap mulut Fitri agar teriakan itu tidak lolos dari mulutnya.
“Nggak,” jawab gadis itu terbata. Sisa-sisa ketakutan itu masih ada disana, melekat kuat pada tubuhnya. Dia bahkan seperti tidak bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Tubuhnya seakan hilang kendali beberapa saat yang lalu dan sekarang dia mulai bisa bersikap rileks. “Yo... diluar sana... ada... ada....”
“Ssst... gue tau,” potong Leo cepat dan menguraikan pelukannya. Laki-laki itu memegang kedua pundak Fitri dengan tegas dan erat. Kedua matanya menatap langsung ke manik mata Fitri. “Lo tenang aja. Gue akan keluarin lo dari tempat ini dengan selamat.”
Fitri mengangguk. Dia menarik napas panjang dan tersenyum tipis. Meskipun gadis itu masih terlihat takut, tapi Leo senang karena sepupunya itu sudah bisa tersenyum. Sekarang, yang harus Leo pikirkan adalah bagaimana caranya dia dan Fitri bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup.
“Gue bakalan ngintip keluar. Lo tunggu disini, oke?”
Sekali lagi, Fitri mengangguk. Gadis itu meremas kedua tangannya yang saling bertaut. Setelah mengucapkan kata hati-hati untuk Leo tanpa suara, Leo mulai bergerak. Dia mendekati pintu gubuk tersebut, membukanya perlahan hingga menimbulkan bunyi berdecit yang sangat mencekam.
Lalu, Fitri berteriak keras.
###
DEG!
Jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak. Rasanya ada yang salah. Ada yang tidak benar. Perasaan was-was dan khawatir itu mengerubunginya tanpa ampun, seolah mengejeknya karena tidak berhasil menjaga... gadis itu.
Dia yakin, dia mendengar namanya dipanggil. Dia juga yakin, dia mendengar suara jeritan Fitri. Tapi... apakah itu mungkin? Mereka berada dalam tempat yang sama sekarang dan tidak mungkin Fitri menjerit keras seperti itu. Kalau Fitri memang mau memanggilnya, gadis itu harusnya bisa langsung menemuinya tanpa harus berteriak.
Kenapa... kenapa rasanya benar-benar tidak tenang?
Mengabaikan teriakan teman sekelasnya, Virgo langsung pergi mencari Fitri disekitar area perkemahan. Tapi, sosok gadis itu tidak dia temukan dimanapun. Dia melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya dan mendesis kala jarum jam itu sudah menunjuk angka lima lewat sedikit. Sudah hampir malam dan gadis itu tidak ada dimanapun?
Dengan langkah kaki yang mulai gusar, Virgo kembali menyisir area perkemahan. Satu persatu tenda yang sudah jadi dibukanya untuk mencari keberadaan Fitri, sampai kemudian, sepasang mata Virgo mendapati sosok Liz tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Terdengar sentakan napas dari para teman adik Leo itu ketika dia sampai tepat di depan mereka, namun Virgo tidak peduli.
“Liz... kamu liat Kak Fitri?” tanya Virgo langsung.
Entah Liz yang salah mendengar atau apa, tetapi gadis itu sangat yakin bahwa nada suara Virgo saat ini benar-benar terdengar cemas. Liz jadi iri. Dia tahu bahwa gadis itu menyukai Virgo tapi Virgo tidak mengetahui akan hal itu. Kalau saja saat ini Fitri melihat dan mendengar kecemasan yang dialami oleh Virgo, pasti Fitri akan merasa sangat senang dan berpikir bahwa cintanya tidak sepihak. Bahwa Virgo menyukainya seperti dia menyukai Virgo.
Andai saja Liz tahu semua itu bohong...
“Mmm... tadi, sih, ngeliat sekilas. Masuk kedalam hutan,” balas Liz sambil mengingat-ngingat. Dia tidak sadar bahwa jawabannya itu sudah membuat jantung Virgo mengalami serangan kuat saking terkejutnya. “Terus, Kak Leo nyusulin dia. Cuma, sampai sekarang mereka belum balik.”
Ya Tuhan!
“Apa guru-guru ada yang tau soal ini, Liz?” tanya Virgo lagi. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Rasa khawatir itu semakin membuncah dan memuncak, membuat Virgo dicekam ketakutan yang begitu hebatnya. Dia rela melakukan apa saja asalkan Fitri kembali ke perkemahan detik ini juga.
Tunggu dulu! Tadi, dia merasa namanya dipanggil dengan keras oleh Fitri. Dia juga merasa gadis itu berteriak meminta pertolongan. Wajah Virgo tanpa sadar mulai memucat. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Apa... apa jangan-jangan, Fitri memang menyerukan namanya? Fitri memang membutuhkan pertolongannya?
Apa... mereka mempunyai ikatan batin?
Astaga! Dia bisa gila!
“Kayaknya nggak ada yang—loh? Kak Virgo mau kemana?!”
Virgo tidak memperdulikan seruan Liz lagi. Yang harus dia lakukan saat ini adalah menemukan Fitri. Memastikan keselamatan gadis itu. Memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Fitri masih sehat, tidak kurang suatu apapun dan baik-baik saja.
Karena, kalau sampai terjadi sesuatu pada Fitri... kalau sampai dia tidak bisa menolong Fitri... kalau sampai Fitri mengalami suatu kejadian yang akan membuatnya menyesal seumur hidup karena terlambat untuk menolong gadis itu... Virgo merasa dunianya akan runtuh tepat di depan kedua matanya. Virgo merasa dia akan mati, jika mengetahui hal buruk menimpa gadis itu.
Alasannya sederhana saja.
Dia mulai mencintai gadis itu.
###
Leo menoleh dan mengerjapkan kedua matanya ketika mendengar teriakan Fitri. Gadis itu juga terdiam. Tidak habis pikir bahwa nama Virgo yang lolos dari mulutnya beberapa saat yang lalu. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi, bayangan Virgo melintas dalam benaknya. Virgo sedang tersenyum kepadanya, sangat lembut dan hangat juga mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kedua orang itu bahkan tidak menggubris kehadiran si pria besar permbawa pisau berlumuran darah yang saat ini sedang berdiri di depan pintu gubuk.
Kenapa gue manggil nama Virgo?
“Kalian tersesat?”
Pertanyaan bernada simpatik itu membuat Leo dan Fitri menoleh dan mengerutkan kening. Pria tersebut tersenyum sopan dan ramah lalu membungkukkan tubuhnya sedikit untuk menyapa Leo dan Fitri. Kedua orang tersebut saling pandang dengan heran dan kembali memusatkan perhatian mereka kepada pria tersebut lalu mengabaikan sikap aneh Fitri beberapa saat yang lalu.
“I—iya,” jawab Fitri terbata. Perasaan takut itu masih melingkupinya sedikit, namun tetap saja, gadis itu bersikap waspada. Pun dengan Leo yang menatap tajam pria tersebut sambil berjaga-jaga kalau-kalau saat dia lengah, pisau yang entah dipakai untuk membunuh siapa itu dihunuskan ke arahnya.
“Kalian sepertinya ketakutan,” kata pria itu lagi. “Ada apa?”
“Ya pasti takut lah, kalau ngeliat orang dengan muka seram lagi bawa-bawa pisau segede gaban yang penuh dengan darah!” seru Leo langsung. Pria tersebut menatap pisaunya dan terbahak keras.
Positif gila, kayaknya. Itulah telepati dadakan yang dilakukan oleh Leo dan Fitri ketika kedua mata mereka bertemu.
“Ini? Kalian takut pada pisau mungil ini?” tanya pria itu lagi.
Buset! Leo bergidik ngeri dan mundur beberapa langkah. Pisau gede kayak gitu aja masih dibilang mungil. Segitu mungil, gedenya segimana, ya?
“Kalian takut karena pisau ini ada darahnya?”
Tanpa sadar, Fitri mengangguk. Gadis itu berjingkat ke arah Leo dan bersembunyi di belakang punggung sepupunya itu. Tangannya mencengkram lengan Leo dengan sedikit keras, membuat Leo mengernyit dan mendengus.
Fitri memang tiada duanya! Batin Leo. Badannya emang kecil, tapi tenaganya ngelebihin tenaga gue!
“Bapak... bapak abis membunuh?”
Hening. Pertanyaan Fitri itu dibiarkan menggantung di udara. Detik-detik yang terlewat begitu mencekam, menyisakkan Leo, Fitri dan pria tersebut yang saling menatap. Sampai kemudian, kepala pria tersebut mengangguk, membuat Leo dan Fitri tersentak hebat.
Dia benar-benar pembunuh!
“Ya... saya memang habis membunuh,” kata pria itu pelan. Pelan yang benar-benar pelan, hingga terasa seperti berbisik. Bisikan yang penuh dengan hawa dingin juga aroma pembunuhan yang terasa kental. “Tapi... membunuh binatang buas.”
Sedetik... dua detik... tiga detik terlewat.
Pria itu terbahak keras melihat wajah melongo Leo dan Fitri.
“Saya tidak menyalahkan kalian... siapapun yang melihat dandanan seram ini juga pisau yang berlumuran darah pastinya akan langsung berpikir kalau—“
Belum selesai kalimat yang diucapkan oleh pria tersebut, pintu gubuk yang terbuka setengahnya itu terdorong keras. Sosok Virgo muncul disana. Terengah-engah. Matanya menatap tajam ke satu titik. Ke arah Fitri yang mengerutkan kening dan mulai takut akan sikap tidak biasa dari Virgo itu. Lalu, tanpa peringatan sama sekali, Virgo menerjang mau ke arah Leo, menarik lengan Fitri dengan kuat dan langsung memeluk tubuh itu dengan sangat erat.
Sangat... sangat erat, hingga membuat tubuh Fitri sedikit nyeri.
“Lo... elo....” Virgo tidak sanggup menemukan suaranya. Dia hanya mengikuti instingnya yang mengatakan bahwa Fitri ada di tempat ini. Dia hanya terus berjalan dan berjalan dan menemukan gubuk ini. Lalu... dia berhasil menemukan gadis itu!
Dan rasa lega yang teramat sangat besar membanjirinya.
“Demi Tuhan, Fit....” Virgo menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Dia mencium rambut Fitri, membuat Leo menaikkan satu alisnya dan bersedekap. “Jangan pernah buat gue cemas lagi! JANGAN PERNAH! Sekalipun jangan pernah... gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri kalau sesuatu yang buruk sampai terjadi sama lo.”
Ketika pelukan itu terurai, Fitri hanya bisa melongo dan mengangguk. Dia masih kaget saat kalimat itu keluar dari mulut Virgo. Sementara Leo mendengus keras, membuat Virgo dan Fitri menoleh ke arahnya.
“Hei, Go! Gue baik-baik aja, kok. Tenang aja, lo nggak perlu khawatirin gue,” kata laki-laki itu mangkel.
###
Malam menyambut. Semua siswa duduk mengelilingi api unggun yang dipasang oleh guru-guru laki-laki. Mereka tertawa bersama, bernyanyi dan bersenda-gurau. Leo bersama para temannya bermain gitar. Tanpa sengaja, matanya menatap ke arah Lilian. Gadis itu sedang tertawa bersama temannya lalu menoleh. Kedua mata mereka bertemu dan Lilian langsung mengalihkan pandangannya.
“Eh... eh... Virgo, kan, bisa main gitar, tuh,” celetuk Bobby. Dia menunjuk ke arah Virgo yang hanya menaikkan satu alisnya. “Suruh dia aja yang maun gitar. Nah, yang nyanyi... Fitri!”
“Gue?” tanya Fitri sangsi sambil menunjuk dirinya sendiri. Bobby mengangguk.
“Gue dengar elo bisa main piano dan bisa nyanyi. Ayo, dong... gue mau dengar suara lo yang katanya bagus itu. Gimana? Duet sama Virgo! Virgo yang main gitarnya!”
Sementara Liz bertepuk tangan heboh, Lilian mengalihkan tatapannya dan bangkit berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat kebersamaan Virgo dan Fitri. Rasanya seperti ada pisau yang menikam jantungnya dengan sangat kuat. Membuatnya berdarah dan berdenyut sakit. Karenanya, Lilian lebih memilih untuk pergi menjauh dari kerumunan dan berdiri di depan jembatan besi yang mengarah langsung ke pemandangan kota Bandung di bawah sana.
“Menghindar?”
Suara berat yang menginterupsi pikirannya itu membuat Lilian menoleh ke samping. Disana, sosok Leo terlihat. Dia menatap pemandangan dibawah sana tanpa menatap Lilian. Melihat gadis ini bersedih tanpa sadar membuatnya ikut merasakan sakit itu.
Kalau Lilian merasa sakit karena bertepuk sebelah tangan terhadap Virgo, maka Leo merasakan sakit karena bertepuk sebelah tangan pada gadis itu.
“Jangan sok tau,” balas Lilian ketus. Gadis itu kembali menatap pemandangan di bawah sana. Dia menarik napas panjang dan membuangnya pelan lalu mengernyit. Mengapa rasanya sesak sekali hanya untuk bernapas?
“Mau tau sesuatu?” tanya Leo tiba-tiba. Lilian hanya diam saja. Sama sekali tidak tertarik dengan topik yang akan dibahas oleh Leo saat ini. Dia sebenarnya menjauhkan diri dari kerumunan untuk mendapatkan ketenangan, agar bisa menyembuhkan rasa sakitnya sendiri. Dia ingin menangis, menumpahkan semua kesedihannya dengan ditemani oleh bulan dan bintang yang berkelap-kelip dengan centilnya di langit sana.
Bukannya ditemani dengan laki-laki menyebalkan macam Leo!
“Lo suka sama Virgo, tapi Virgo nggak suka sama lo,” ucap Leo pelan. Lilian mendengus dan mendesis. Menyesal karena sudah meneriakkan fakta itu di depan Leo tempo hari. “Tapi, lo nggak tau kalau ada orang yang suka sama lo karena lo terlalu terpaku sama Virgo.”
Kali ini, Leo berhasil menarik perhatian Lilian. Gadis itu menoleh dengan cepat dan mengerutkan keningnya. Leo juga menoleh dan balas menatap gadis itu. Keduanya saling tatap dalam diam. Hanya hembusan angin malam yang terdengar, memainkan rambut keduanya dan membuat tubuh keduanya menggigil.
“Maksud lo apa?”
“Lo tau, nggak, obat ampuh buat menghilangkan patah hati?” tanya Leo, mengabaikan pertanyaan Lilian sebelumnya. Ketika dilihatnya gadis itu hanya diam, Leo melanjutkan. “Obatnya sederhana aja. Lo buka mata lo dan mulai melupakan dia. Lo telaah sekitar lo dan lo akan menemukan seseorang yang selama ini menyukai lo secara diam-diam. Kenyataannya, Li, orang yang membuat lo sedih, terpuruk dan sakit hati itu bukan orang yang lo suka tapi nggak peka akan perasaan lo itu. Orang yang bikin lo sedih, terpuruk dan sakit hati itu adalah diri lo sendiri karena sudah terkurung dalam semua harapan semu yang lo bangun sendiri.”
Lilian terpaku. Omongan Leo menusuknya tanpa ampun. Harus dia akui, semua yang diucapkan oleh Leo memang benar. Dialah yang terlalu berharap. Dialah yang membangun harapan semu itu untuk dirinya sendiri. Dialah yang selama ini selalu menggantungkan dirinya pada harapan bahwa suatu saat nanti Virgo akan mulai melihatnya dan menyadari perasaannya.
Bukan Virgo yang menyakitinya, tapi dirinya sendiri.
“Gue suka sama lo.”
Untuk yang kedua kalinya, Lilian terpaku.
“Nggak tau juga, sih, sejak kapan pastinya. Waktu gue sadar gue suka sama lo, gue bahkan sampai kaget sendiri. Nggak nyangka dan nggak habis pikir. Tapi mau gimana lagi? Gue emang suka sama lo.” Leo mengangkat bahu dan terkekeh geli. Dia melepaskan jaketnya dan mengenakannya ke tubuh Lilian. “Jangan kelamaan disini. Angin malam nggak bagus buat cewek.”
Sepeninggal Leo, Lilian membeku. Gadis itu menatap punggung Leo yang menjauh dan memegang dadanya.
Kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak dengan liar?
Haruskah ku sudahi... perasaanku padamu...
Tapi aku belum yakin aku bisa... melupakanmu...
Aku... sedih tanpa dirimu... sedih tanpa pelukmu...
Sedih kehilanganmu...
Apa kau dengar aku? Mendengar tangisanku?
Aku disini... mengharapkan dirimu...
(D’Massive-Aku Kehilanganmu)
###
Giliran Fitri yang berdiri di jembatan besi tempat Lilian berada beberapa jam yang lalu. Saat ini, jam sudah menunjuk ke angka sepuluh malam namun Fitri masih terjaga. Disaat semua teman-temannya sudah terlelap, dia memilih untuk keluar dari tenda dan berdiri disini. Memandang ke arah jalanan besar kota Bandung di bawah sana. Lampu-lampu jalan dan gedung bertingkat saling bekerja sama membuat kota Bandung menjadi indah. Belum lagi sinar bulan dan bintang yang sangat terang, membuat perasaan Fitri menjadi damai.
Lalu, sesuatu yang hangat melingkupi tubuhnya.
Dan tiba-tiba saja, sesuatu melingkari pinggangnya.
Fitri terkejut. Dia berusaha melepaskan diri dan menoleh ke samping. Kepala Virgo disandarkan pada pundaknya, membuat Fitri menahan napas.
Kenapa Virgo melakukan hal ini?
“Go? Lo ngapain?” tanya Fitri langsung. Pelukan Virgo pada pinggangnya semakin mengerat, membuat Fitri diam. Dia takut, jika dia bergerak terlalu banyak, Virgo bisa mendengar degup jantungnya yang meliar.
“Ssst... diam dulu, sebentar aja.” Virgo berbisik. Dia memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Dia merasa nyaman seperti ini. Dia merasa semua rasa lelah yang dirasakannya menguap tanpa sisa hanya dengan memeluk Fitri.
Mendengar ucapan Virgo, Fitri hanya bisa menuruti perintah laki-laki itu. Dia tidak bisa menjelaskan rasa nyaman dan aman yang melingkupi tubuhnya saat ini. Belum pernah dia merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan dengan Veloz waktu itu pun, dia tidak pernah merasa senyaman dan seaman saat bersama Virgo.
Apa itu artinya... dia... tanpa sadar... sudah mencintai laki-laki itu?
###
Ravina melangkah dengan riang di sepanjang trotoar jalan. Semalam, Ayahnya baru saja berjanji untuk membelikannya mobil sementara Bundanya cemberut setengah mati. Bundanya berkata bahwa dia belum terlalu membutuhkan mobil tetapi sang Ayah tetap akan membelikannya. Dan saat ini, euforia itu masih dia rasakan.
Hingga dia tidak menyadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya!
Bunyi klakson mobil yang melengking itu hanya sepersekian detik terdengar sebelum Ravina menoleh dan membeku. Gadis itu memejamkan kedua matanya kuat-kuat, bersiap menemui malaikat pencabut nyawa ketika tiba-tiba seseorang menyerukan namanya dengan keras dan langsung menerjangnya tanpa ampun.
Mobil Avanza itu hanya sempat berhenti sebentar dan kembali melanjutkan perjalanannya setelah mengintip dari jendela mobil untuk memastikan bahwa Ravina baik-baik saja.
“Rav... Rav...,” panggil seseorang dengan nada cemas. Orang tersebut menepuk pipi Ravina yang masih memejamkan kedua matanya dengan pelan. Tapi, gadis itu masih tidak membuka kedua matanya. Lalu, tanpa buang waktu lagi, orang itu mengangkat tubuh Ravina, memanggil taksi dan meninggalkan motornya begitu saja di pinggir jalan.
###
Mimpi buruk yang mendatanginya membuat Ravina bangun dengan satu gerakan cepat. Sebelah tangannya terangkat ke d**a sementara tangannya yang lain mencengkram seprai kasur dengan sangat kuat. Gadis itu terengah-engah dan menelan ludah susah payah. Peluh membasahi wajahnya yang cantik dan manis. Sampai kemudian, sebuah tangan besar memegang tangannya yang sedang mencengkram seprai kasur.
“Kamu nggak apa-apa, Rav?”
Pertanyaan bernada cemas dan lembut itu membuat Ravina menoleh. Gadis itu terbelalak ketika melihat Rado sudah berada di sampingnya. Ravina mengerjap dan menatap sekeliling.
Ruangan ini tidak dikenalnya!
“Kamu ada di kamar aku. Tadi, aku sengaja nungguin kamu di jalan supaya bisa ngantar kamu sekolah. Tapi, kamu malah hampir ketabrak mobil,” jelas Rado seakan bisa membaca isi kepala Ravina. Laki-laki itu merapihkan rambut Ravina yang terlihat berantakan, namun gadis itu langsung menepis kasar tangan tersebut.
“Gue mau pulang!” tegas gadis itu. Dia turun dari tempat tidur dan detik berikutnya gadis itu memekik keras. Tangannya ditarik paksa oleh Rado dan tubuhnya dihempaskan begitu saja di atas tempat tidur.
Dengan Rado berada tepat di atas tubuh Ravina!
Ravina panik. Gadis itu berusaha melepaskan diri, namun kedua tangan Rado yang besar menahan tangan gadis itu. Rado mendekatkan kepalanya ke arah Ravina, membuat gadis itu menelan ludah dan napasnya tercekat di tenggorokkan.
“Lo... lo mau apa?” tanya Ravina takut, sementara Rado tersenyum miring.
“Kamu takut, Rav? Hmm?” tanya Rado pelan.
Kedua mata Ravina membulat maksimal. Dia menatap Rado dengan tatapan tajam juga panik. Dan Rado tidak peduli. Dia hanya ingin Ravinanya kembali. Hanya itu.
Karena dia masih sangat mencintai Ravina.
###