SEVEN

3399 Words
Keadaan rumah Leo sedang sepi. Hari ini, kedua orangtua Leo dan Liz akan menghadiri sebuah pesta di daerah Semarang dan sudah pergi pagi-pagi sekali. Dari lantai dua rumahnya, sosok Leo muncul sambil menguap lebar. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berdeham. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumahnya dan menemukan Bik Mirna sedang menata meja makan. Sementara itu, Liz sudah terlihat segar dengan pakaian kebangsaannya: kaus oblong dan celana jeans pendek, sambil menonton acara di televisi. Leo menatap jam dinding rumahnya dan sedikit terkejut ketika tahu bahwa jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan.             “Pagi, adik aku yang paling manja,” sapa Leo lembut sambil menarik kepala Liz untuk mendekat ke arahnya dan mencium rambutnya dengan penuh kasih sayang. Liz yang merasa terganggu sekaligus senang karena kebiasaan Leo itu tidak pernah berubah sejak dulu, langsung mendorong d**a Leo hingga laki-laki itu jatuh terduduk di sampingnya. “Buset, dah, Liz! Ngapain kamu dorong-dorong Kakak segala? Tega banget sama Kakak kamu yang paling ganteng ini.”             “Kak Leo bau, tau! Belum mandi, sih....” Liz tertawa renyah ketika dia melihat tampang cemberut Kakaknya itu. “Sarapan, sana... barusan Liz udah sarapan sendiri.”             Leo masih cemberut dan merebut remote yang sedang dipegang oleh adiknya itu. Dia mengganti saluran televisi dan mencari-cari acara yang menurutnya bagus. Biasanya, di hari Minggu seperti ini, Leo sering menonton kartun. Tapi, entah kenapa, dia sedang tidak ingin untuk menonton acara apapun. Pikirannya terus mengarah pada Lilian. Juga kejadian tempo hari, saat dia menolong gadis itu dari gangguan para laki-laki berandalan.                   Dan sejak saat itu, Leo merasa Lilian seolah mengunci otak dan hatinya. Gadis itu seolah tidak mau melepaskannya begitu saja.             Motor Leo berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana namun terlihat sangat asri dan damai. Laki-laki itu melepas helm yang dikenakannya dan menoleh ke belakang. Lilian yang sejak tadi hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun, langsung turun dari atas jok motor Ninja Leo dan berdiri di samping laki-laki itu. Gadis itu menatap Leo dengan tatapan tidak bersahabat dan bersedekap.             “Makasih.” Hanya itu yang diucapkan oleh Lilian. Gadis itu memutar tubuh dan berniat untuk masuk kedalam rumah, ketika kemudian langkahnya terhenti dan tubuhnya membeku.             “Apa salah gue sama lo, sampai lo benci setengah mati sama gue, Li?”             Pertanyaan Leo kembali terdengar, membuat Lilian memejamkan kedua matanya dan mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Detik berikutnya, Lilian memutar kembali tubuhnya dan tersenyum sinis ke arah Leo. Leo sedikit terperanjat dengan hal tersebut. Bukan, bukan karena senyuman sinis atau tatapan tajam yang dilayangkan Lilian padanya. Leo sudah kebal dengan semua itu.             Yang mengganggunya dan membuatnya terperanjat adalah, ketika dia menyadari bahwa sepasang mata milik Lilian sudah berkaca.             “Lo benar mau tau alasan gue benci sama lo?” tanya Lilian. Nada suaranya terdengar getir sekaligus menantang. Di tempatnya, Leo tidak menjawab. Dia hanya diam dan tetap mengawasi gerak-gerik Lilian.             “Pertama....” Lilian membasahi bibirnya yang terasa kering dan menelan ludah susah payah. “Semua tindakan lo... tindakan lo dalam hal mendekati para gadis dan didekati para gadis, semua itu ngingetin gue sama Kak Lucky....” `           “Kak Lucky?”             “Almarhum Kakak gue.” Lilian mulai merasa sulit bernapas. Rasa sakit itu langsung menghujamnya tepat di jantung. “Yang kedua... karena lo bersahabat sama Virgo!”             “Apa?” Leo merasa pendengarannya sudah mengalami penurunan fungsi karena dia baru saja mendengar Lilian menyebutkan nama Virgo.             Apa yang salah kalau dirinya bersahabat dengan Virgo?             “Karena lo bersahabat sama Virgo,” ulang Lilian. Gadis itu kemudian tertawa keras. Tawa yang hambar dan datar, juga terkesan dibuat-buat. Kemudian, Leo terperangah ketika melihat buliran airmata itu jatuh membasahi wajah Lilian. “Virgo nggak pantas sahabatan sama orang macam lo, Yo.”             “Apa, sih, maksud lo ngomong kayak gitu? Lo nggak berhak ngatur hidup gue!” seru Leo.             “Virgo itu orang yang baik... sedangkan lo?” Lilian kembali tertawa dan menghapus airmatanya dengan kasar. “Lo orang yang jahat, Yo! Lo selalu deketin gadis-gadis itu cuma buat kesenangan lo semata. Lo juga selalu jadiin gue objek ledekan lo. Gue nggak mau Virgo jadi sama kayak lo. Gue nggak rela Virgo jadi kayak lo. SAMA SEKALI NGGAK RELA!”             “Heh! Lo nggak punya hak buat ngelarang Virgo sahabatan sama gue! Dan, apa maksud lo kalau lo nggak rela Virgo jadi kayak gue?”             “Gue suka sama dia....”             “Hah?”             Lilian menundukkan kepalanya. Bahu gadis itu berguncang hebat. Isak tangisnya kini terdengar jelas, membuat Leo mati kutu. Dia juga diguncang oleh kebingungan. Hatinya tiba-tiba berdenyut sakit, lalu perlahan membuatnya merasa sulit bernapas.             “Gue suka sama Virgo... dari kelas satu....” Lilian mengangkat kepalanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia membiarkan Leo melihat tangisannya juga mendengarkan pengakuannya. Dia tidak peduli dengan wajah terkejut Leo dan tidak menyadari bahwa kedua mata laki-laki itu terlihat... sakit. “Tapi dia selalu melihat Fitri. Selalu Fitri... nggak pernah melihat gue....”             Lalu, Lilian lari begitu saja.             “Kak Leooooooo... yuhuuuuuuuu....”             Suara keras Liz, serta lambaian tangan gadis itu di depan wajahnya membuat Leo tersentak hebat dan tersadar dari lamunannya. Leo menoleh cepat dan mendapati Liz sedang mengerutkan keningnya. “Apa, Liz?”             “Kok malah Kak Leo yang nanya? Harusnya, Liz yang nanya... Kak Leo kenapa? Kok malah bengong, sih?”             Leo menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Dia menghadapkan tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Liz dan menatap tepat ke manik mata adiknya itu. “Liz....”             “Iya?” Liz malah berubah tegang, ketika melihat raut wajah sang Kakak. Soalnya, tidak biasanya dia melihat raut wajah tegang Leo. Biasanya, kalau Leo memasang wajah seperti ini jika dia mendapatkan nilai ujian yang jeblok dan takut diomelin sama Rizky. Atau, kalau dia menemukan sayuran yang paling dibencinya—bayam—sudah tertata rapih di meja makan. “Kenapa, Kak?”             “Kakak kayaknya suka sama cewek, deh.”             Asli, aneh!             Muka cengo Liz membuat Leo sadar bahwa dia sudah salah mengucapkan kalimat. Laki-laki itu berdeham keras dan cepat-cepat merubah air mukanya.             “Terus, kalau Kak Leo suka sama cewek, masalahnya apa? Emangnya, selama ini Kak Leo nggak suka sama cewek?” tanya Liz polos. “Ya ampun, Kak! Liz nggak nyangka kalau Kakak selama ini—“             “Liz... Liz... jangan salah persepsi dulu.” Leo buru-buru menggoyangkan tangannya di depan wajah Liz dan berdecak jengkel. “Maksud Kak Leo, Kakak kayaknya suka sama cewek yang lain dari biasanya.”             “Hah?”             “Gini....” Leo kembali berdeham. “Kamu tau Lilian, kan?”             Liz mengangguk.             “Kakak kayaknya... um... suka sama Lilian,” ucap Leo pelan. Dia menarik napas panjang dan kedua matanya menerawang jauh. “Cuma, Lilian suka sama Virgo.”             “Hah?”             “Tapi, kamu pasti nyadar, dong, kalau sepertinya, Virgo suka sama Fitri. Semua orang bisa ngeliat hal itu, tapi kemungkinan besar, cuma mereka berdua yang nggak sadar akan hal itu.” Leo melirik Liz dan kembali menarik napas panjang. “Sekarang, kamu ngerti, kan, dilema Kakak? Ini kayak lingkaran setan, Liz. Sumpah mati, Kak Leo sama sekali nggak percaya kalau Kakak bisa suka sama orang kayak Lilian.”             “Lah? Emangnya, apa yang salah sama Kak Lilian, Kak?” tanya Liz heran. “Kak Lilian itu, kan, cantik... baik... manis... jago baca puisi, lagi. Kak Leo nggak salah, lah, kalau suka sama Kak Lilian.”             “Tapi, Lilian itu benci setengah mati sama Kakak, Liz.”             “Yah, Kakak berusaha dong.”             “Maksud kamu?”             Liz tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. Dia bangkit berdiri, menepuk pundak Leo beberapa kali, lalu berjalan menuju lantai dua seraya berteriak, “Kakak usaha buat bikin Kak Lilian ngeliat Kakak dan bikin dia suka sama Kakak. Bukannya itu keahlian Kak Leo sama Ayah?” ### “Mamih kebangetan, deh! Ngapain, coba, gue disuruh nganterin kue ke rumahnya si Virgo?”             Sepanjang perjalanan menuju rumah Virgo, Fitri terus mendumel. Dia sudah membayangkan aktivitas seru yang akan dia lakukan hari ini: tiduran sambi membaca novel yang baru dia beli. Tapi, tiba-tiba saja, Mamihnya menyuruhnya untuk pergi ke rumah Virgo untuk mengantar kue bolu kepada Mommy-nya Virgo. Dia sudah berusaha untuk menolak, tapi Mamihnya benar-benar keras kepala. Dia bahkan sampai merengek kepada Edward, tapi Papihnya itu malah tertawa dan mengelus rambutnya seraya menyuruhnya untuk menuruti perintah Mamihnya.             Kening Fitri mengerut ketika dia melihat motor Leo berada di pekarangan rumah Virgo. Dengan tergesa, Fitri melangkah masuk setelah menyapa satpam yang menjaga rumah Virgo itu. Begitu pintu depan rumah Virgo terbuka setelah Fitri menekan bel rumah, gadis itu menaikkan satu alisnya.             “Ipit?”             “Leo? Elo udah ganti profesi jadi pembantu rumah tangga Virgo, sampai-sampai bukain pintu depan segala?” tanya Fitri dengan nada geli. Gadis itu tertawa renyah dan melangkah masuk, mengabaikan wajah masam sepupunya itu. Begitu Fitri memasuki ruang keluarga, Oom Nelson dan Tante Cesya sedang mengobrol bersama Liz juga Virgo. Saat tatapannya bertumbukan dengan tatapan Virgo, Fitri menyunggingkan seulas senyum simpul, yang dibalas oleh laki-laki itu. Sepertinya, kejadian di mall waktu itu, membuat hubungan kedua orang tersebut sedikit membaik.             “Eh, ada Fitri,” sapa Cesya ramah. Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Fitri. Dipeluknya sekilas tubuh gadis itu dan dikecupnya kedua pipi Fitri secara bergantian. Setelah itu, Nelson mengikuti jejak sang Isteri. Keduanya kemudian membawa Fitri untuk bergabung dengan yang lain. “Kamu tumben main kesini.”             “Ini, Tante... Mamih nyuruh aku buat nganterin kue ini untuk Tante sama Oom.” Fitri menyerahkan bungkusan kue yang dipegangnya kepada Cesya.             “Buat gue nggak ada?”             Pertanyaan Virgo itu dijawab dengan lirikan sinis dari Fitri dan gadis itu memeletkan lidahnya. Membuat Leo, Liz dan kedua orangtua Virgo tertawa. Leo dan Liz yang sebenarnya merasa bosan di rumah, akhirnya memutuskan untuk main ke rumah Virgo. Kelima orang tersebut mengobrol dan tertawa bersama, sampai kemudian, suara bel rumah Virgo membuat obrolan mereka terhenti.             “Sebentar... biar Mom yang buka pintunya,” kata Cesya. Wanita itu berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Terdengar suara heboh, disusul tawa yang membuat Virgo juga Nelson mengerutkan kening. Mereka baru saja akan menyusul Cesya, ketika wanita itu masuk kembali ke ruang keluarga bersama tiga orang lainnya.             “Nelson... Virgo... liat, Mas Azka sama Mbak Celsi datang, nih. Udah lama, kan, kita nggak ketemu mereka?” tanya Cesya riang. Nelson dan Virgo bangkit berdiri, juga Fitri, Liz dan Leo. Tapi, wajah Virgo mendadak berubah tegang. Pun ketika Fitri membalikkan tubuhnya dan bertatapan langsung dengan dua manik mata milik seseorang yang sangat dikenalnya. Sosok yang sangat dirindukannya selama ini.             “Kak... Veloz?”             Bukan hanya Leo yang terkejut, tetapi juga Liz dan kedua orangtua Virgo. Veloz menyipitkan mata dan menunjuk wajah Fitri. Keningnya mengerut, berusaha untuk mengingat wajah Fitri. Dan ketika dia berhasil mengingat gadis itu, Veloz tertawa renyah.             “Fitri, right?” tanya Veloz memastikan. Kini, semua orang menatap heran ke arah Veloz, kecuali kedua orangtua laki-laki itu. Karena, baik Celsi maupun Azka sudah mengenal keluarga Fitri.             “Hai,” sapa Fitri getir. Kedua mata gadis itu berkaca. Rasa rindu yang semakin memuncak membuatnya sesak bukan main. Ingin rasanya dia berlari ke arah Veloz dan memeluk laki-laki itu dengan erat. Tapi, begitu dia mengingat lagi pertemuan Liz dengan Veloz yang tidak sengaja dia lihat waktu itu, membuat Fitri tersentak. Rasa sesak itu berubah menjadi rasa nyeri yang sangat membunuhnya.             Liz menatap Fitri dengan tatapan ingin tahu. Ketika dia melihat wajah Fitri yang tegang, apalagi kedua mata sepupunya yang berkaca. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba saja masuk kedalam dirinya, ketika dia mengetahui bahwa Fitri dan Veloz ternyata saling mengenal.             “Ya ampun, Fitri! Lo apa kabar? Udah lama, ya, kita nggak ketemu.” Veloz melangkah mendekati Fitri dan tanpa dikomando, dia langsung memeluk tubuh gadis itu. Hanya Tuhan dan Fitri sendiri yang tahu, bagaimana dia harus menahan diri untuk tidak menangis keras.             Mendadak, Fitri merasa lengannya dipegang dengan cengkraman kuat, menarik tubuhnya ke belakang dengan sangat keras. Fitri menjerit tertahan dan mendongak. Lalu, kedua mata Virgo menguncinya dengan tegas. Fitri mengerutkan kening, terlebih ketika Virgo menatap Veloz dengan tatapan tajam.             “She’s mine!” tegas Virgo langsung. Membuat kedua orangtuanya, juga kedua orangtua Veloz tersentak. Pun dengan Liz. Leo sendiri tidak ambil pusing dan mengangkat bahunya tak acuh. Dia lebih memilih untuk pergi ke teras dan menenangkan diri disana. Dia punya masalah tersendiri untuk dia pikirkan. “Don’t you dare to touch her, understand?!”             Veloz menaikkan satu alisnya dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Dia menatap Fitri dan Virgo bergantian. Wajah Fitri terlihat sangat kaget, sementara wajah Virgo terlihat sangan dingin dan tidak bersahabat. Lengan Fitri masih dipegang oleh Virgo dengan begitu mencolok, mendekatkan tubuh gadis itu ke tubuh Virgo. Sementara kedua orangtua Virgo dan Veloz hanya mengulum senyum dan memutuskan untuk tidak ikut campur masalah anak-anak mereka.             “Sebenarnya, gue nggak masalah saingan sama sepupu gue sendiri,” kata Veloz santai. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan tersenyum tipis. “Sayangnya, gue punya cewek yang gue taksir sendiri.” Virgo menunjuk Liz dengan dagunya. “Ngomong-ngomong, senang ketemu sama lo, Virgo... kita selama ini belum pernah ketemu, kan? Gue senang karena akhirnya gue bisa ketemu sama sepupu gue.”             “SELAMAT MERASAKAN LINGKARAN SETAN, LIZ!” teriak Leo dari teras. Dia mencuri dengar omongan orang-orang didalam rumah dan terkejut bahwa adiknya ternyata juga mengalami lingkaran setan, sama seperti dirinya. ### “Kak Fitri....”             Suara Liz membuat lamunan Fitri buyar. Gadis itu segera menghapus airmatanya yang entah sejak kapan mengalir turun. Saat ini, Fitri sedang duduk di halaman belakang rumah Virgo. Virgo sendiri menghilang entah kemana. Sikap Virgo dan ucapan laki-laki itu tadi masih membuat Fitri terkejut. Namun sejujurnya, bukan itu yang membuat Fitri menangis. Fitri menangis karena harus bertemu secara langsung dengan Veloz dan harus mendengar pengakuan laki-laki itu bahwa dia menyukai Liz. Fitri menoleh dan tersenyum kecil. Dia hanya bisa berharap semoga Liz tidak menyadari bahwa dia baru saja menangis.             “Iya... ada apa, Liz?” tanya Fitri lembut. Ditariknya tangan Liz agar gadis itu duduk di sampingnya.             “Umm... Kak Fitri sama Kak Veloz... udah kenal lama?”             Fitri menghela napas panjang dan mengangguk pelan. Gadis itu tertawa pelan dan memiringkan kepalanya. “Lumayan lama. Dia dulunya guru les piano aku. Papahnya sahabatan sama Papih. Kenapa, Liz?”             “Kak Fitri suka sama... Kak Veloz?”             Pertanyaan Liz kali ini benar-benar menohok Fitri. Gadis itu terdiam cukup lama, lalu memalingkan wajahnya. Dia menatap pohon-pohon di depannya dengan tatapan menerawang. Ingatannya kembali ke masa-masa dimana dulu dia sangat dekat dengan Veloz. Bagaimana dulu Veloz membantunya untuk melupakan mantan pacarnya.             “Kak,” panggil Liz lagi. Dia benar-benar sangat resah sekarang. “Kak Fitri suka sama Kak Veloz, ya?”             “Iya.” Fitri menelan ludah susah payah. Gadis itu memejamkan kedua matanya, berusaha meredam rasa sesak dan nyeri yang mulai naik ke permukaan. Ketika kedua matanya kembali terbuka, dia bisa melihat ekpresi sedih pada wajah Liz. “Tapi, itu dulu... dulu banget, sebelum kamu kenal sama Veloz.”             Kedua gadis itu terdiam cukup lama, sampai kemudian, suara Liz kembali terdengar. “Sekarang? Apa Kak Fitri masih suka sama Kak Veloz? Kalau Kak Fitri masih suka sama Kak Veloz, aku—“             “Liz... aku emang suka sama Veloz,” potong Fitri langsung. “Tapi, itu dulu. Sekarang, aku udah nggak suka sama dia. Aku....” Fitri membasahi bibirnya yang kering dan menelan ludah susah payah. “Aku... aku sebenarnya suka sama Virgo, Liz.”             “Apa?!” seru Liz keras. Fitri cepat-cepat menutup mulut Liz yang menjerit itu dan mengawasi keadaan sekitar.             “Ssst, Liz! Jangan teriak-teriak.” Fitri mengingatkan. Dia membuka mulut Liz ketika dirasa situasinya sudah aman. “Nanti Virgo dengar.”             Liz menahan tawanya dan mengerling nakal. “Tau, nggak, Kak? Tadi pagi, Kak Leo juga bilang sebenarnya Kak Fitri sama Kak Virgo itu saling suka. Tapi, kalian gengsi. Hahaha....”             Fitri tersenyum tipis dan menghela napas panjang. Dia pamit pada Liz setelah sebelumnya kembali menekankan pada sepupunya itu bahwa dia sudah tidak memiliki rasa lagi pada Veloz.             Tanpa sadar, Fitri melangkah menuju lantai dua. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Dia tidak tahu kalau saat ini, dia sudah masuk kedalam kamar Virgo. Dia mengerjapkan matanya dan mengerutkan kening ketika melihat Virgo menatapnya heran. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan bersedekap.             “Ngapain lo disini?” tanya Virgo.             Akumulasi dari rasa sakit dan sesak yang saat ini dia rasakan membuat Fitri tidak bisa berpikir jernih. Gadis itu langsung berlari dan memeluk tubuh Virgo dengan keras. Sangat keras, sampai-sampai laki-laki itu tersentak ke belakang. Virgo terbelalak dan lipatan kedua tangannya pada dadanya terlepas perlahan. Perlahan juga, ketika dia mendengar isak tangis Fitri yang sangat kencang, juga cengkraman kuat pada lehernya, kedua tangannya naik ke punggung Fitri dan mulai memeluk tubuh gadis itu.             “Sakit, Go... sakit... gue kayak mau mati rasanya, Go... sakit....”             Virgo memejamkan kedua matanya dan mulai mengeratkan pelukannya pada tubuh Fitri. Dia membiarkan gadis itu menumpahkan semua sedih dan beban yang dia rasakan pada bahunya.             “Tenang, Fit... ada gue disini.” ### Ravina melihat beberapa aksesoris yang modelnya sangat lucu sambil berdecak kagum. Dia bingung memilih aksesoris mana yang mau dia beli. Semuanya terlihat begitu menggoda. Dia memang suka sekali dengan tawuran, tetapi dia juga penggila aksesoris!             “Pilih aja semuanya, kalau emang kamu mau beli. Biar aku yang bayar.”             Suara berat dan serak itu membuat Ravina yang sedang membungkukkan tubuhnya tersentak hebat dan langsung menegakkan punggung. Gadis itu memutar tubuh dan terkejut ketika mendapati d**a bidang seorang laki-laki berada sangat dekat dengan jarak pandangnya. Ketika Ravina mendongak, dia bertatapan langsung dengan dua manik mata Rado.             Ya ampun! Apa dia tidak bisa hidup tenang?             “Elo,” cibir Ravina langsung. Gadis itu mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak diantara mereka. “Ngapain lo disini?”             “Jalan-jalan.” Rado mengangkat bahu tak acuh. “Nggak boleh?”             “Lo pasti ngikutin gue, kan?!” seru Ravina keras. Dia tidak peduli kalau saat ini, dia sedang berada di tempat umum. “Lo nggak ngerti bahasa Indonesia, ya? Hubungan kita itu udah selesai! Gue udah move on! Lo harus bisa terima itu!”             “Kalau aku nggak mau?” tanya Rado menantang. Sambil berkata demikian, Rado mencekal pergelangan tangan Ravina dan menarik tubuh gadis itu agar mendekat ke arahnya. Ravina berusaha melepaskan diri namun gagal. “Kalau aku nggak mau nerima kenyataan itu, gimana? Kalau aku mau kamu terus ada di samping aku, selamanya, gimana?”             “Jangan bercanda!”             “Aku nggak bercanda.” Rado mendekatkan wajahnya ke telinga Ravina dan berbisik, “Aku bisa aja ngehamilin kamu supaya kamu terus ada di sisi aku, Rav. Kamu nggak mungkin nggak minta tanggung jawab sama aku, kan, kalau aku ngehamilin kamu? Hmm?”             Dengan mata terbelalak dan dengan satu sentakan keras, Ravina menarik tangannya dengan paksa dan mendorong tubuh Rado. Wajah gadis itu memerah. Jari telunjuknya terangkat dan menunjuk wajah Rado lurus-lurus, sementara laki-laki itu hanya tersenyum miring dan bersedekap seraya memainkan satu alisnya.             Eskpresi Ravina yang seperti ini, yang membuatnya merasa tertantang!             “Bahkan dalam mimpi buruk gue sekalipun, jangan harap lo bisa ngelakuin hal itu! b******k!”             “Wow! Terima kasih buat pujiannya.” Rado membungkukkan tubuh dan mengedipkan sebelah matanya. Dia tidak mengejar Ravina, ketika gadis itu pergi dengan wajah kesal sambil mendumel tidak jelas. “You’re mine!” ### Selama tiga hari ke depan, sekolah Leo dan kawan-kawan akan mengadakan camping ke Bandung. Tempatnya sangat bagus tetapi juga cukup berbahaya karena adanya jurang yang lumayan tinggi. Acara ini diadakan untuk menciptakan keakraban diantara para murid.             Fitri sudah meminta maaf pada Virgo mengenai kebohongan yang sudah dia lakukan pada Liz. Dia hanya tidak ingin Liz merasa sedih karena tahu bahwa dirinya masih menyukai Veloz. Fitri tahu bahwa Liz menyukai Veloz, terlihat dari cara sepasang mata gadis itu saat menatap Veloz. Dan Fitri tidak ingin mengacaukan semuanya.             SMA Leo tiba di Bandung pukul empat sore. Semuanya langsung membuat tenda sambil bernyanyi dan tertawa bersama. Leo beberapa kali melirik ke arah Lilian dan mendesah kecewa, ketika gadis itu justru menatap ke arah lain. Ke arah Virgo. Rasa cemburu mulai muncul dalam hatinya, namun dia tidak akan pernah merusak persahabatannya dengan Virgo hanya karena seorang gadis. Dia sudah memutuskan akan melupakan perasaannya terhadap Lilian, meskipun rasanya sangat sulit. Entah kenapa, Lilian seolah memberinya mantera supaya tetap memikirkan gadis itu.             Bukannya Fitri tidak bisa membuat tenda, hanya saja, dia butuh udara segar. Melihat Liz membuatnya sesak. Karenanya, Fitri memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar hutan. Menikmati pemandangan alam yang ada disana. Suara burung yang berkicau membuat perasaan Fitri tenang. Sampai kemudian, langkah kakinya terhenti. Dia menelan ludah susah payah saat melihat sosok seorang pria dengan pisau besar berlumuran darah berada dalam genggaman tangannya!             Fitri tersentak ketika pria itu menatap ke arahnya. Gadis itu langsung memutar tubuh dan berlari sekencang yang dia bisa. Sayangnya, dia lupa arah pulang ke tenda.             Dia tersesat!             Susah payah Fitri menahan airmatanya agar tidak tumpah keluar, namun tangis itu akhirnya pecah juga. Sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, Fitri terus berlari. Kemana saja, asalkan dia bisa terbebas dari pria tersebut. Seorang pria yang kemungkinan besar baru saja membunuh seseorang!             Ketika Fitri melihat sebuah gubuk tak jauh di depannya, gadis itu mendesah lega. Sambil menghapus airmata, gadis itu berlari ke arah gubuk tersebut, masuk kedalamnya dan bersembunyi disana. Dia mengintip keluar dengan mata yang basah dan menajamkan pendengarannya. Jantungnya meliar dan tubuhnya gemetar.             Ya Tuhan... apa ini hukuman untuknya karena sudah berbohong kepada Liz? Tapi, kebohongan itu untuk kebaikan mereka semua! Untuk kebahagiaan Liz sendiri!             Suara langkah kaki yang mendekat terdengar dari arah belakangnya. Fitri menegakkan punggung dan mulai kehilangan kendali. Napasnya memburu hebat dan airmatanya mengalir lagi dengan deras. Dengan jantung yang semakin meliar, gadis itu menoleh ke belakang dengan pelan.             Lalu, kedua mata Fitri terbelalak hebat, ketika sebuah tangan besar langsung membekap mulutnya dengan cepat! ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD