Previously on Call Your Name...
Permintaan maaf Leo pada Lilian rupanya tidak berjalan mulus. Lilian lagi-lagi salah mengartikan sikap Leo, karena gadis itu menuduh Leo sudah mempermalukannya untuk yang kedua kali setelah kejadian disembunyikannya ponsel Lilian tempo hari. Padahal, Leo hanya ingin meminta maaf pada gadis itu dengan cara yang sedikit berbeda. Cara yang menurut pikirannya akan sedikit romantis dan diterima oleh gadis itu dengan hati yang tulus. Nyatanya, Lilian malah menangis, menuduhnya dan berkata kepada Leo dengan sangat tegas, jika laki-laki itu memang membencinya, katakan secara langsung, bukannya mempermalukannya secara terus-menerus di depan teman-teman mereka. Ketika gadis itu pergi meninggalkannya, Leo hanya bisa mematung dengan berbagai macam tanda tanya yang berseliweran di kepalanya. Bagaimana bisa Lilian menuduhnya seperti itu?
Karena ada kejadian baku hantam diantara dua kelompok remaja dari sekolah yang berbeda, Fitri dan Virgo akhirnya memutuskan untuk membolos. Virgo mengantar gadis itu pulang ke rumah dan beralasan kepada kedua orangtua Fitri, bahwa gadis itu sedang tidak enak badan dan hampir pingsan dipinggir jalan. Keterangan tersebut tentu saja membuat kedua orangtua Fitri khawatir, terlebih Inggit—Mamihnya. Ketika Virgo sudah meninggalkan rumahnya dan Fitri merenung di kamarnya, gadis itu sedikit kebingungan. Pasalnya, saat dalam perjalanan menuju rumahnya tadi, Virgo membicarakan hal-hal mengenai mantan pacarnya. Belum lagi pertanyaan Virgo mengenai boneka yang pernah laki-laki itu berikan sebagai hadiah ulang tahun Fitri yang ketujuh belas, tahun lalu. Virgo kelihatan senang—setidaknya raut wajah laki-laki itu menunjukkan demikian—saat Fitri berkata bahwa hadiah pemberiannya masih dia simpan.
Kedatangan Rado saat pulang sekolah membuat Ravina geram. Gadis itu tidak mengerti, kenapa Rado selalu muncul di hadapannya beberapa hari terakhir ini. Bukan hanya di dunia nyata saja, Rado selalu muncul untuk mengganggunya. Sepertinya, laki-laki itupun berniat untuk menerornya di alam mimpi karena semenjak pertemuan sialannya dengan Rado kembali setelah dua tahun lamanya tidak bertemu, dia selalu bermimpi mengenai Rado. Sialnya lagi, Rado berkata bahwa dia ingin Ravina kembali padanya. Dia ingin mereka kembali merajut kasih yang pernah mereka jalani dulu, namun harus kandas di tengah jalan karena seseorang bernama Shinta. Seseorang yang pernah menjadi sahabat Ravina dulu. Seseorang yang dianggap Ravina sebagai pengkhianat karena sudah menghancurkan hubungannya dengan Rado dan merebut laki-laki itu.
Saat sedang berbicara dengan Rado, Shinta muncul. Ravina tertawa hambar dan berkata bahwa Shinta adalah seorang pengecut. Pengecut karena selama dua tahun terakhir ini, gadis itu selalu menghindarinya padahal mereka satu sekolah. Dan sekarang, ketika untuk pertama kalinya dia kembali berhadapan dengan Shinta, Shinta justru menangis karena melihat Rado dan berbasa-basi menanyakan kabar laki-laki itu. Emosi yang menggelegak didalam dadanya membuat Ravina meledak dan akhirnya pergi meninggalkan kedua orang yang dulunya sempat menjadi orang-orang berarti didalam hidupnya.
Salah satu guru di sekolah Leo menyuruh anak-anak untuk melakukan aksi sosial di beberapa panti asuhan. Mereka semua dikelompokkan secara berpasangan. Leo dipasangkan dengan Lilian sementara Virgo dipasangkan dengan Fitri. Hal yang membuat Fitri mengerang keras didalam hati karena gadis itu sedang mencoba untuk ‘membunuh’ sesuatu yang sepertinya mulai hadir didalam hatinya. Meski begitu, Fitri rupanya masih belum bisa melupakan sosok seseorang. Sosok yang pernah membuatnya jatuh hati, bahkan sampai detik ini. Sosok yang pernah membantunya untuk move on dari mantan pacarnya dulu.
Sosok yang sayangnya, akan membuat Virgo terpukul setelah mengetahui adanya hubungan darah diantara keduanya...
Part 6-Mengingat Dia
“Fitri... kenalin, Sayang... ini namanya Veloz. Dia yang akan jadi guru les piano kamu. Papih sahabatan sama Papanya Veloz dari dulu.”
Fitri yang masih mengenakan seragam SMA-nya hanya menatap tanpa minat ke arah laki-laki yang baru saja dikenalkan oleh Papihnya sebagai guru les pianonya. Laki-laki dengan wajah tampan yang sedikit oriental dengan rambut yang dibiarkan memanjang hingga mencapai tengkuk dan kacamata berbingkai tipis yang bertengger manis di kedua matanya. Fitri menyipitkan kedua mata ketika laki-laki bernama Veloz itu mengulurkan tangan kanannya, meminta secara sopan kepada Fitri agar gadis itu mau berjabat tangan dengannya.
Dengan enggan dan sedikit ragu, Fitri menjabat uluran tangan laki-laki itu. Fitri sedikit terkejut ketika sadar bahwa jabatan tangan Veloz sangat tegas dan lantang. Gadis itu baru menyadari betapa kecilnya telapak tangannya yang berada didalam genggaman tangan Veloz.
“Veloz,” katanya ramah diiringi dengan senyuman miring di bibirnya. Senyuman yang memberikan kesan angkuh dan jahat, namun Fitri yakin bahwa laki-laki itu adalah orang yang baik, entah mengapa. Mungkin, dari keteduhan dan kehangatan yang terpancar pada kedua matanya. “Veloz Prazesta Calvaro.”
“Fitri Prameswari Callisto.” Fitri menarik kembali tangannya dengan cepat dan berdeham. Saat ini, dia sangat lelah. Sangat... sangat... lelah. Disaat dia sedang cinta-cintanya pada Kresna, laki-laki itu justru meminta sesuatu kepada Fitri. Sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh gadis itu. Kresna meminta agar hubungan mereka berakhir hari ini, setelah satu tahun mereka menjadi sepasang kekasih. Harusnya, hari ini adalah hari yang istimewa bagi Fitri. Hari ini adalah hari jadi ke satu tahunnya dengan Kresna, tapi laki-laki itu justru memutuskannya begitu saja. Padahal, Fitri yakin dia tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa membuat Kresna meminta putus darinya. Kresna sendiri tidak memberikan alasan apapun atas berakhirnya hubungan ini. Jadi, yang bisa dilakukan oleh Fitri hanyalah menerima semuanya dengan hati yang ikhlas dan rela, meskipun rasanya sakit luar biasa.
“Fit? Kok, bengong?” tanya Inggit lembut. Dibelainya rambut anak gadisnya itu dengan penuh kasih sayang. “Papanya Veloz ini dulu sempat suka, loh, sama Tante Krystal. Tapi, jadinya malah sama isterinya yang sekarang.” Inggit tertawa renyah, diikuti oleh Edward juga Veloz. Veloz memang pernah mendengar kisah percintaan Papanya yang terkesan rumit namun unik itu.
Karena tidak menanggapi dan hanya tersenyum ala kadarnya saja, Veloz mengerutkan keningnya ketika menatap gadis SMA di depannya itu. Wajah gadis itu nampak murung. Kedua matanya terlihat sangat lelah. Veloz jadi bertanya-tanya, apa yang sedang dialami oleh Fitri. Apa ada masalah yang sedang dihadapi oleh anak dari teman Papanya tersebut?
“Veloz ini juga besar di Inggris, Sayang... setelah Papa sama Mamanya nikah, dua bulan kemudian, mereka memutuskan untuk tinggal di Inggris. Veloz baru balik ke Indonesia sama kedua orangtuanya sekitar tiga tahun yang lalu. Sekarang, Veloz lagi nyusun skripsi di kampusnya. Iya, kan, Loz?”
“Eh? Iya, Oom...,” jawab Veloz kikuk. Laki-laki itu terkekeh pelan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hampir saja dia ketahuan sedang memperhatikan anak gadis Edward itu. Soalnya, Veloz benar-benar ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Fitri ini, sehingga wajah cantiknya tertutupi oleh awan mendung. “Saya juga baru tau kalau saya punya sepupu jauh yang tinggal di Indonesia. Soalnya, Papa sama Mama sama-sama anak tunggal. Pas balik lagi ke Indonesia, Papa baru ngasih tau kalau sepupunya tinggal di Indonesia dan anaknya waktu itu masih kelas dua SMP.”
“Wah, kalau begitu, kamu baru tau kalau Papa kamu punya saudara sepupu?” tanya Edward geli. “Kamu tau, nama sepupu Papa kamu, kan? Soalnya, Oom sama Tante juga kenal, kok, sama saudara sepupu Papa kamu itu.”
Baru saja Veloz akan menjawab, Fitri memutar tubuhnya dan berjalan ke lantai dua setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. Gadis itu berjalan dengan langkah gontai tanpa menoleh ke belakang lagi. Veloz memperhatikan gerak-gerik gadis itu dan tersentak saat mendengar namanya dipanggil.
“Eh, iya, Oom... nama sepupu Papa saya itu Tante Cesya, benar, kan?”
“Hahaha... seratus buat kamu.” Edward menepuk pundak Veloz beberapa kali. “Kalau gitu, secepatnya kamu minta sama Papa kamu untuk dipertemukan sama Virgo.”
“Virgo?”
“Iya... anaknya Tante Cesya, saudara sepupu jauh kamu itu, namanya Virgo.”
###
“Ngapain ngelamun di pinggir kolam renang begini? Nggak niat buat bunuh diri, kan?”
Suara berat yang menginterupsi lamunan Fitri itu membuatnya tersentak dan menoleh. Gadis itu mencibir dan kembali menatap permukaan air di depannya. Air yang begitu tenang. Saat ini, Fitri ingin sekali bisa bersikap tenang seperti air yang ada di hadapannya. Sayangnya, dia tidak bisa. Dia berusaha bersikap tenang, tetapi hal tersebut justru membuatnya sesak bukan main. Dia selalu menahan airmatanya, namun hal tersebut justru semakin menambah beban dan luka didalam hatinya.
Lalu, dia harus bagaimana?
“Diajak ngomong malah diem... masih punya mulut sama suara, kan?”
“Nggak usah sok ngurusin gue, deh... urus aja hidup lo sendiri.” Fitri menjawab dengan nada ketus, membuat Veloz yang sudah duduk di sampingnya tertawa renyah. Hal tersebut tentu saja membuat Fitri bingung dan menatap Veloz seolah-olah dia adalah alien yang baru saja turun dari UFO.
“Lo lucu banget, Fit. Sumpah, gue nggak bohong.” Veloz mengedipkan sebelah matanya ke arah Fitri yang membalasnya dengan cibiran. Gadis itu lagi-lagi mengarahkan tatapannya ke arah kolam renang.
“Lo orang yang aneh,” balas Fitri dengan nada datar. “Baru kali ini ada orang yang ketawa setelah diketusin sama gue. Apa lo itu makhluk asing yang nyasar ke bumi?”
“Kalau gue makhluk asing, bukannya harusnya lo takut sama gue?”
“Buat apa gue takut sama makhluk asing?” tanya Fitri malas. Gadis itu menarik napas panjang dan menopang dagunya dengan kedua tangan. “Makhluk asing nggak akan ganggu gue kalau gue nggak ganggu mereka.”
“Wah... teori lo menarik juga.”
“Nggak usah gangguin gue, deh... lo masuk duluan aja, sana! Nanti gue nyusul. Gue mau disini dulu.”
“Bunuh diri?”
“Nenangin diri!” sungut Fitri keki. “Kepo banget, sih?”
Veloz hanya mengangkat bahu tak acuh dan memiringkan kepalanya agar dapat menatap wajah Fitri. Senyum lembut muncul di bibir laki-laki itu. Fitri adalah gadis yang cantik dan manis. Dan Veloz sangat suka dengan kedua mata gadis itu.
Kedua mata Fitri seakan berbicara mewakili seluruh perasaannya yang tidak bisa tersampaikan oleh bibirnya.
“Ada masalah?” tanya Veloz ramah. “Mungkin, lo bisa cerita sama gue? Siapa tau, gue bisa bantu ngurangin beban pikiran lo.”
“Nggak ada masalah apa-apa,” ucap Fitri bete. “Pergi sana!”
“Pasti masalah cowok,” tebak Veloz sambil tertawa pelan. “Kenapa? Baru putus dan belum bisa move on?”
“Bawel banget, sih?!”
“Gue kasih tau, ya... lo harus mengikhlaskan dia... lo harus ikhlas dia pergi dari hati dan hidup lo.”
“Ya... ya... ya... semua teman-teman gue juga bilang kalau gue harus merelakan dia. Gue udah dengar itu ratusan kali.”
“Gue bilang mengikhlaskan, bukan merelakan....”
“Apa bedanya? Sama aja artinya... sama-sama melepaskan.”
“Merelakan itu lebih kepada lo biarin dia pergi tapi ternyata lo masih mikirin dia... masih belum terima kalau akhirnya dia jalan sama cewek barunya. Kalau lo mengikhlaskan dia, lo ikhlas lahir-batin. Lo hanya akan tersenyum saat liat dia jalan sama pasangan barunya nanti dan bilang ke teman-teman lo, ‘cowok bukan cuma dia. Jadi, buat apa gue sia-siain hidup gue untuk tetap mikirin dia?’”
Fitri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. Tanpa gadis itu tahu, Veloz sangat suka mendengar suara tawanya. Hanya dengan melihat Fitri tertawa saja sudah bisa membuatnya tersenyum.
“Teori darimana, tuh? Baru dengar, gue.”
“Teori ala Veloz, dong...,” kata Veloz sambil mengedipkan sebelah matanya dan ikut tertawa bersama Fitri. “Nah, gimana kalau kita mulai les pianonya sekarang?”
###
Kedua mata Fitri terbuka secara perlahan. Gadis itu meringis dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan mengenali bahwa ruangan ini adalah kamarnya. Ketika dia melihat ke arah tubuhnya sendiri, dia mengerutkan kening saat mendapati bajunya sudah berganti menjadi piyama.
“Kenapa gue bisa ada di kamar? Bukannya tadi gue masih di mobilnya si Virgo?” gumam gadis itu heran. Perlahan, Fitri turun dari tempat tidur dan berdiam diri sejenak. Rasa pusing yang dia rasakan membuat keseimbangan tubuhnya sedikit goyah. Ketika keseimbangan tubuhnya sudah kembali, Fitri mulai melangkah menuju ruang tamu di lantai satu.
“Udah sadar?”
Hampir saja Fitri jatuh dari tangga karena terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar itu. Dia menoleh dan menaikkan satu alisnya saat melihat Virgo sedang duduk sambil menonton televisi dengan kaki kanan yang disilangkan ke kaki kiri. Laki-laki itu menatapnya tegas langsung ke manik mata, membuat Fitri sedikit gugup dan salah tingkah dibuatnya.
“Hmm,” gumam gadis itu tidak jelas. Dia kembali melanjutkan langkahnya dan dengan sangat terpaksa duduk di samping Virgo. Kedua matanya menatap lurus ke televisi namun dia tidak bisa duduk dengan tenang karena melalui sudut matanya, dia tahu bahwa Virgo sedang menatap ke arahnya. “L—lo kenapa bisa ada di rumah gue?”
“Lo pingsan, terus gue gendong ke kamar,” jelas Virgo datar. Laki-laki itu kemudian meletakkan telapak tangannya ke kening Fitri, membuat gadis itu tiba-tiba saja menahan napasnya atas perlakuan tiba-tiba dari Virgo. Setelah dia bisa mengontrol dirinya lagi, gadis itu langsung menepis tangan Virgo dengan kasar, lalu dia berdeham.
“Demam lo kelihatannya udah turun,” kata Virgo seraya mengangkat bahu. “Mungkin, itu cuma karena lo kedinginan abis main pistol-pistolan air sama anak-anak panti tadi.”
“Mungkin,” balas Fitri grogi. Gadis itu mengipas dirinya sendiri dengan menggunakan tangan dan kembali berdeham. “Udaranya panas banget, deh. Lo ngerasa, nggak, sih?”
“Biasa aja,” kata Virgo. “Atau... lo ngerasa udara panas karena ada gue di samping lo? Lo... salah tingkah? Lo gugup?”
“NGACO!” teriak Fitri langsung, membuat Virgo terlonjak dan refleks menutup kedua telinganya.
“Gue belum tuli, Fit!” tegas Virgo bete. “Nggak usah pake acara teriak-teriak segala, bisa?”
Yang dilakukan oleh Fitri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meringis malu. Gadis itu menatap ke arah dapur dan tiba-tiba saja, dia merasa perutnya berbunyi. “Pembantu gue udah pulang, ya?”
“Udah dari satu jam yang lalu. Makanya, gue nggak tega ninggalin lo sendirian dalam keadaan pingsan disini.” Virgo menarik napas panjang dan bersedekap. Kemudian, dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Fitri yang mengerutkan kening. “Ayo.”
“Hah?” Fitri menatap uluran tangan Virgo dan wajah laki-laki itu secara bergantian. “Mau kemana?”
“Ke dapur. Gue udah masakin makanan buat lo. Mungkin, rasanya nggak akan seenak masakan yang biasa dimasakin sama nyokap lo atau yang biasa lo makan di restoran-restoran, tapi, seenggaknya, masakan gue masih bisa dimakan.”
Fitri bimbang. Gadis itu memejamkan kedua mata dan berusaha mengusir debaran aneh yang ada pada dirinya. Debaran itu semakin lama semakin cepat, membuat dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Kemudian, gadis itu membuka kedua matanya dan menyambut uluran tangan Virgo dengan tegas. Setegas genggaman tangan Virgo ketika menggenggam tangannya.
###
Leo memasang wajah cemberut ketika dia harus mengantri di tempat penjualan martabak. Sebenarnya, dia malas untuk datang ke tempat ini, ditambah dia juga sedang sangat lelah karena tugas kelompok yang mengharuskannya untuk pergi ke tempat-tempat sosial. Belum lagi dia merasa sangat kesal dengan sikap Lilian seharian ini. Gadis itu seolah menganggapnya angin. Menganggapnya tak kasat mata. Jangannya berbicara dengannya, menatapnya saja gadis itu tidak mau!
“Nyokap nggak ngerti banget, sih, kalau anaknya yang ganteng ini lagi bete.” Leo menggerutu sambil menendang-nendang kerikil-kerikil kecil dan menunggu pesanannya selesai. Tanpa dia sadari, beberapa gadis yang berdiri tak jauh darinya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan memuja.
“Pesanannya sudah selesai, Mas,” kata si penjual martabak ramah, yang langsung diberi hadiah pelototan oleh Leo.
“Dari tadi, kek! Lama bener!” sungut laki-laki itu kesal, lalu langsung naik ke motor Ninjanya. Sikapnya itu bukannya membuat gadis-gadis yang menatap ke arahnya ketakutan, tapi justru membuat mereka semakin tertarik pada Leo.
Di perjalanan, Leo mengerutkan kening dan menyipitkan kedua matanya. Dia menghentikan motornya di tepi jalan dan mempertajam penglihatannya. Lalu, Leo tersentak hebat.
Yang sedang dia lihat tak jauh di depannya dan sedang diganggu oleh beberapa pemuda itu adalah... Lilian!
Tanpa ragu, Leo langsung berjalan menghampiri Lilian yang sedang meronta hebat, mencoba untuk meloloskan diri dari cengkraman ketiga pemuda tersebut. Gadis itu sudah hampir menangis sepertinya, karena Leo bisa mendengar teriakan penuh frustasi dari gadis itu.
“HEI!”
Begitu pemuda yang mencengkram pergelangan tangan Lilian menoleh, Leo langsung melayangkan tinjunya dengan sangat keras hingga pemuda tersebut mengerang kesakitan. Cengkramannya pada tangan Lilian terlepas dan pemuda tersebut jatuh tersungkur. Lilian terkejut dan mendongak. Ketika tatapannya bertumbukkan dengan tatapan Leo, gadis itu terbelalak.
“Le... Leo?”
“Jauh-jauh dari gue!” tegas Leo keras. Kemudian, dia langsung menghampiri dua pemuda yang tersisa dan menghajar mereka habis-habisan tanpa ampun. Leo keluar sebagai pemenang dan ketiga orang tersebut lari dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Merasa napasnya habis, Leo memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Kemudian, dia berjalan ke arah Lilian, mencekal lengan gadis itu hingga dia meringis menahan sakit. “Lo bisa galak ke gue, tapi lo nggak bisa ngelawan ketiga orang tadi?!”
Lilian berusaha melepaskan diri, namun Leo tidak membiarkan.
“Lo bego atau g****k?! Lo bisa teriak! Lo bisa ngelawan, lo bisa berbuat apapun yang bisa bikin lo terbebas dari mereka dan bisa terlepas dari bahaya yang mengincar lo! KENAPA LO CUMA DIAM?!”
“Nggak usah ngurusin gue! Gue nggak butuh bantuan lo!” seru Lilian berang. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong d**a bidang Leo agar laki-laki itu menjauh darinya. “LO NGGAK USAH JADI PAHLAWAN KESIANGAN!”
Setelah meneriakkan kalimat tersebut, Lilian memutar tubuh dan pergi meninggalkan Leo. Sampai kemudian, sebuah tarikan keras pada lengannya membuat Lilian hampir terjungkal karena kehilangan keseimbangan. Gadis itu memekik keras dan terbelalak ketika Leo menatapnya dengan tegas dan tidak ingin dibantah sama sekali.
“Lo pulang sama gue!”
###
Liz sedang asyik melihat-lihat berbagai macam aksesoris, ketika pundaknya ditepuk dari belakang. Gadis itu menoleh dan terkejut. Dia menunjuk orang di depannya dengan ragu dan senyum simpul muncul di bibirnya.
“Kak... Veloz?”
“Hai princess Liz,” sapa Veloz sambil mengacak rambut gadis itu. Veloz tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. “Seneng lo masih ingat nama gue. Nah, Liz... lo masih ingat, kan, sama omongan gue waktu itu?”
“Yang... mana, yah?” tanya Liz sedikit gugup. Sebenarnya, dia masih ingat dengan ucapan Veloz waktu itu. Hanya saja, Liz berpura-pura tidak mengingatnya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum dan menatap penuh kagum ke arah Veloz. Sejujurnya, sejak pertemuan kedua mereka yang tidak disengaja waktu itu, Liz terus-terusan memikirkan laki-laki itu. Dan sekarang, ketika untuk yang ketiga kalinya mereka kembali bertemu secara tidak sengaja, Liz senang sekali. Dia merasa sangat bersemangat dan jantungnya berdegup tidak karuan.
Sepertinya, dia mengalami sesuatu yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama. Karena saat ini, dia tidak bisa berhenti untuk menatap Veloz sambil tersenyum lebar.
“Lupain aja,” ucap Veloz sambil mengibaskan sebelah tangan. Tanpa disangka, laki-laki itu langsung menggenggam tangan Liz. Dia sama sekali tidak sadar bahwa tindakannya ini justru membuat Liz panas-dingin di tempatnya. “Sekarang, gue lapar. Gue mau lo nemenin gue makan. Oke, princess?”
Tanpa ragu, Liz mengangguk.
###
Karena tidak ingin langsung pulang ke rumah, Fitri memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di mall. Gadis itu juga berniat untuk mencari beberapa novel karena stok bacaan di rumahnya sudah menipis. Ketika dia merasa lapar dan ingin mencari makanan, langkahnya mendadak terhenti.
Sudah satu tahun lamanya, Fitri tidak bertemu dengan Veloz. Komunikasi pun terputus begitu saja. Veloz seolah menghilang bak ditelan bumi. Dan kini, begitu keduanya kembali bertemu, Fitri merasa sangat senang. Senang hingga tubuhnya terasa lemas, tak bertenaga. Dia bisa melihat senyum Veloz lagi saat ini. Betapa dia sangat merindukan Veloz. Merindukan tawa laki-laki itu. Merindukan wajahnya, tatapan matanya, hidungnya, semuanya.
Baru saja Fitri akan menghampiri Veloz yang sedang tersenyum lebar entah karena apa, langkahnya kembali terhenti. Gadis itu menatap datar pada satu sosok yang berada tepat di depan Veloz. Sosok yang ternyata mampu membuat Veloz tersenyum dan tertawa hingga sedemikian rupa.
Ternyata, orang yang dulu pernah membantunya untuk move on dari mantan kekasihnya, kini justru menjadi orang yang menyakiti hatinya.
Kenapa? Kenapa Veloz harus datang waktu itu? Kenapa Papihnya dan Papa laki-laki itu harus mempertemukan mereka? Kenapa Papihnya dan Papa Veloz harus berteman? Kenapa Veloz harus menerima tawaran Papihnya untuk menjadi guru les pianonya? Kenapa Veloz menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatnya melupakan Kresna—mantan pacarnya? Dan kenapa Veloz justru menciptakan rasa cinta yang ditanamkan kedalam hatinya, jika setelah itu dia menghilang dan muncul dengan seorang gadis lain?
Dan... kenapa gadis itu harus Liz? Saudara sepupunya sendiri?
“Dari cara lo natap dia, sepertinya dia orang yang lo panggil-panggil saat lo pingsan tempo hari karena demam tinggi itu, ya?”
Fitri tidak menggubris ucapan bernada datar tersebut. hatinya saat ini terlalu sakit untuk bisa membalas ucapan Virgo yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di sampingnya. Memang tidak salah jika Veloz sudah memiliki pasangan, karena laki-laki itu tidak pernah tahu akan perasaan Fitri tersebut.
Tapi... sekali lagi... kenapa harus dengan... Liz?
“Gue senang kalau lo patah hati kayak sekarang. Gue bahagia kalau lo sakit hati kayak gini. Benar-benar bahagia.” Virgo terkekeh pelan, tak peduli bahwa kini, Fitri menoleh ke arahnya dan mengerutkan kening seraya menatapnya tajam.
“Lo ngomong apa barusan?” tanya gadis itu dengan nada tidak suka.
“Gue bilang, gue bahagia liat lo sakit hati.” Virgo mencekal pergelangan tangan Fitri dengan agak keras, hingga gadis itu meringis menahan sakit. “Karena lo juga udah menorehkan luka di hati gue!”
“Apa, sih, maksud lo?!” seru Fitri berang. “Lepasin tangan gue!”
“Lo pikir aja sendiri, apa maksud gue!” Virgo melepaskan cekalannya dan pergi meninggalkan Fitri yang hanya bisa terperangah karena ulahnya barusan. Sekali lagi, Fitri menoleh ke arah Veloz dan Liz yang tertawa bersama dengan wajah yang sangat senang. Hatinya memang sakit, tapi, entah mengapa, Fitri justru memikirkan ucapan Virgo beberapa saat yang lalu.
###
Virgo sedang asyik melahap es krimnya, ketika sosok Fitri muncul dan berdiri sambil berkacak pinggang di depannya. Laki-laki itu mendongak dan mengacuhkan Fitri serta lebih memilih untuk melanjutkan acaranya memakan es krim. Sampai kemudian, Fitri duduk di depan laki-laki itu dan bersedekap.
“Heh, pangeran es! Jelasin sama gue, apa maksud ucapan lo barusan! Enak aja, lo... setelah bikin gue kepo, langsung pergi gitu aja! Nggak bertanggung jawab!”
“Kepo? Tanya aja sama diri lo sendiri, apa maksud omongan gue barusan. Udah gede, kan?”
Fitri dibuat kesal setengah mati oleh ucapan Virgo barusan. Gadis itu menyipitkan mata dan mendesis jengkel karena Virgo sibuk sendiri dengan es krim yang ada di tangannya. Kemudian, tanpa peduli dengan reaksi Virgo setelahnya, Fitri langsung mendorong tangan Virgo yang sedang memegang es krim, hingga es krim tersebut mengenai hidungnya. Langsung saja, Fitri tertawa keras.
“Hahahahaha! Muka lo, Go... kayak badut Ancol!”
“Ooooh... lo mau main-main sama gue, Fit?” tanya Virgo sambil mengangguk-angguk dan membersihkan es krim yang ada pada hidungnya. “Oke. Gue ladenin!”
Tanpa basa-basi, Virgo bangkit berdiri dari duduknya, mendekati Fitri, menggelitik pinggang gadis itu dan berusaha untuk mengotori wajah Fitri dengan es krim miliknya. Keduanya sibuk berteriak dan tertawa tanpa peduli dengan tatapan para pengunjung mall tersebut.
Sayangnya, Virgo sama sekali tidak mengetahui masalah apa yang akan dia hadapi sebentar lagi. Masalah yang akan membuatnya frustasi, putus asa dan kemungkinan besar memilih untuk meninggalkan Indonesia agar dia bisa terbebas dari masalah tersebut.
###