Previously on Call Your Name...
Rado sangat senang ketika dia bertemu lagi dengan Ravina secara tidak sengaja di dekat taman. Ravina, gadis yang sudah berhasil merebut hatinya dua tahun yang lalu, juga gadis yang sudah dia sakiti hatinya hanya karena emosi sesaat dimasa itu. Sayangnya, rasa senang Rado itu harus dibalas dengan sikap dingin dan tak acuh dari Ravina. Gadis itu justru menunjukkan sikap yang sangat tidak bersahabat. Nada bicaranya sangat ketus, diiringi dengan tatapan tajam dan senyuman sinis. Bagi Ravina, Rado hanyalah penggalan kisah masa lalunya yang harus dia buang dan musnahkan dari dalam hatinya. Tapi, sepertinya Rado tidak menganggap demikian. Dia sangat menyesal karena perbuatannya di masa lalu itu dan ingin menebusnya. Namun, Ravina tidak menghiraukan permintaan maaf dari Rado. Gadis itu pergi begitu saja tanpa ada niat untuk memberikan kesempatan kedua bagi laki-laki yang sudah mencampakkannya di masa lalu itu. Ravina tidak tahu bahwa Rado tidak akan pernah menyerah dan tidak akan pernah membiarkan Ravina untuk move on dari dirinya.
Pertemuan keduanya dengan laki-laki yang mengaku bernama Veloz itu membuat Liz berbunga-bunga. Latar kejadiannya juga sama, di toko buku. Liz tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang sudah menarik perhatiannya tempo hari itu menyapanya terlebih dahulu. Setelah menyebutkan nama, tanpa disangka-sangka, Veloz berkata bahwa dia akan mengajak Liz kencan, seandainya mereka akan bertemu sekali lagi secara tidak sengaja. Entah kenapa, hal tersebut membuat Liz senang bukan main dan tidak bisa mengontrol diri untuk tidak tersenyum lebar.
Saat akan berangkat ke sekolah, Fitri tidak sengaja melewati jalanan yang sedang kacau oleh aksi baku hantam dari dua kelompok remaja berbeda. Gadis itu kebingungan dan mulai dicekam ketakutan. Ketika pikirannya mulai kalut karena beberapa kendaraan lebih memilih untuk putar balik, lengannya ditarik paksa. Karena Fitri memberontak dengan hebat, tarikan keras pada lengannya itu berubah menjadi gendongan paksa. Gadis itu hanya bisa menjerit dan berusaha membebaskan diri dari orang yang sedang menggendongnya dan membawanya ke sebuah mobil di tepi jalan. Ketika gadis itu sudah berada didalam mobil dan oknum yang menggendongnya sudah duduk manis di kursi pengemudi, barulah Fitri bisa mengenali siapa orang tersebut. Sialnya, sikap baik Virgo yang menanyakan keadaannya, apakah terdapat luka atau tidak dan lain sebagainya, membuat Fitri deg-degan. Entah darimana datangnya perasaan aneh tersebut, dia sendiri tidak tahu. Kemudian, Virgo menanyakan sesuatu yang membuat gadis itu terperangah.
Leo kehabisan akal untuk meminta maaf pada Lilian. Dia benar-benar tidak ada maksud untuk menyakiti gadis itu tempo hari. Ketika Yossi, teman sekelasnya melintas tepat di depannya sambil membawa gitar, Leo seolah mendapat pencerahan. Dia meminjam gitar tersebut pada Yossi, turun ke lapangan dan membawakan sebuah lagu untuk Lilian sambil mengucapkan permohonan maafnya dari dalam lubuk hatinya...
Part 5-A Word That You Can’t Trust
Suara tepuk tangan bergemuruh hebat di seluruh penjuru lapangan sekolah. Leo sudah selesai membawakan lagu yang dia nyanyikan sebagai tanda permintaan maafnya untuk Lilian. Laki-laki itu mendongak dan mengerutkan kening ketika tidak melihat sosok Lilian di balkon lantai tiga gedung sekolah mereka. Padahal, beberapa saat yang lalu, dia masih melihat sosok gadis itu. Meskipun Lilian memutar tubuhnya dan berniat meninggalkan balkon lantai tiga, namun gadis itu nyatanya tidak jadi pergi meninggalkan tempat tersebut. Lilian masih ada disana, walaupun dia tetap memunggungi Leo.
Tapi, sekarang? Dimana gadis itu sekarang?
“Cukup, Leonardo Arganza Aprilio!”
Perintah bernada tegas dan dingin itu membuat Leo tersentak dan menoleh. Di depannya, sosok Lilian sudah berdiri. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Matanya menatap tajam wajah Leo. Wajah gadis itu sedikit memerah, seolah menahan gejolak amarah yang sedang dia pendam. Seketika itu juga, suara tepuk tangan yang tadinya mendominasi seluruh lapangan mulai menghilang. Keadaan berubah menjadi sunyi.
“Li... gue cuma—“
“Cukup!” seru Lilian lagi, memotong ucapan Leo barusan. Gadis itu menunjuk wajah Leo dengan jari telunjuknya yang gemetar. Kedua matanya mulai berkaca, Leo bisa melihatnya dengan jelas. Sumpah mati! Dia benar-benar hanya ingin meminta maaf, bukannya ingin membuat Lilian menangis seperti sekarang ini. Atau, setidaknya tidak seperti yang akan terjadi sebentar lagi.
“Lilian... please, dengerin omongan gue dulu. Gue disini....”
“Kalau lo emang benci sama gue, lo harusnya ngomong,” ucap Lilian lirih. Suaranya mulai pecah dan airmata itu mulai bergulir turun. Leo harus bisa menahan diri mati-matian untuk tidak berlari ke arah Lilian dan memeluk gadis itu dengan eratnya. Dia rasanya ingin menyakiti dirinya secara fisik karena melihat Lilian menangis karena dirinya untuk yang kedua kali. “Bukannya malah mempermalukan gue untuk yang kedua kalinya di depan umum, Yo....”
“Demi Tuhan, Lilian!” Leo berdecak keras dan mendekati Lilian dengan dua langkah lebar. Dipegangnya kedua bahu gadis itu yang langsung ditepis dengan kasar oleh si empunya bahu. Lilian mengusap airmatanya dengan cepat menggunakan punggung tangan dan tertawa hambar. “Gue....”
“Tolong jangan bikin gue malu untuk yang kesekian kalinya lagi, Yo... gue mohon sama lo....” Lilian menarik napas panjang. “Kalau lo emang benci sama gue, langsung bilang sama gue.”
Dan dengan begitu, Leo membiarkan Lilian pergi dari hadapannya. Laki-laki itu tidak bisa berkata-kata dan benar-benar terperangah dengan semua tuduhan Lilian padanya itu.
Membenci Lilian? Apa gadis itu sudah gila?!
###
Karena sudah terlambat, Fitri dan Virgo akhirnya memutuskan untuk membolos. Virgo mengantar Fitri pulang ke rumahnya dan menjelaskan kepada kedua orangtua gadis itu bahwa Fitri sedang tidak enak badan. Virgo bilang, dia tidak sengaja bertemu dengan Fitri yang hampir saja pingsan di pinggir jalan. Karena tidak tahu mengenai rencana Virgo ini, Fitri hanya bisa membelalakkan kedua matanya yang langsung diberi kode oleh laki-laki itu untuk ikut berakting. Alhasil, Inggit dan Edward percaya saja bahwa anak gadis mereka sedang tidak enak badan. Inggit bahkan langsung panik dan membawa Fitri masuk kedalam kamar.
Didalam kamarnya, Fitri melamun. Gadis itu memeluk boneka beruang besarnya yang dia dapatkan dari seseorang. Hadiah yang dia dapatkan di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun lalu. Kemudian, setelah menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidurnya, Fitri menghembuskan napas berat. Gadis itu kembali teringat akan percakapannya dengan Virgo tadi pagi, saat keduanya berada didalam mobil dan sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Pertanyaan yang sanggup membuat Fitri tersentak hebat dan menelan ludah susah payah. Pertanyaan yang membuat jantungnya berdetak berpuluh-puluh kali lebih cepat dibanding biasanya. Pertanyaan yang tidak dia sangka-sangka akan keluar dari mulut Virgo.
“Kelihatannya, lo sama mantan pacar lo akrab.”
Fitri yang tidak menyangka akan mendapatkan sebuah ‘bom’ dari Virgo itu, langsung tersedak air liurnya sendiri dan terbatuk-batuk. Gadis itu memukul dadanya beberapa kali, sebelum kemudian menatap Virgo dengan tatapan tidak senang.
“Lo tau darimana soal mantan gue?”
“Leo yang kasih tau.” Virgo menoleh sekilas dan menaikkan satu alisnya ketika melihat wajah masam Fitri. “Waktu itu, pas lo beli roti bakar di perjalanan pulang, gue liat lo sama mantan lo lagi ngobrol akrab dan ketawa-ketawa gitu. Karena gue penasaran, gue tanya sama Leo, siapa orang yang bisa bikin cewek segalak elo ketawa ngakak kayak gitu.”
“Apa lo mesti sekepo itu sama urusan gue?” tanya Fitri dongkol. “Perasaan, waktu gue kepo soal lo yang nangisin cewek di pinggir jalan, elo malah ngomel ke gue, kan?”
“Gue cuma nggak habis pikir aja, kenapa ada cowok yang mau pacaran sama lo.” Virgo mengangkat bahu tak acuh. “Kayaknya, penyebab lo putus sama mantan lo itu karena dia nggak tahan dengan sikap galak dan sifat dingin lo itu, kan?”
“Nggak usah asal ngomong kalau lo nggak tau akar permasalahannya!” bentak Fitri kasar. “Mendingan lo urusin urusan lo sendiri dan konsentrasi sama jalanan kalau lo nggak mau kita mati sekarang!”
“Ah... satu lagi.” Laki-laki itu menarik napas panjang dan menghentikan mobil di tepi jalan untuk yang kedua kalinya. Dia memutar tubuhnya untuk menghadap Fitri, sementara gadis itu hanya menatap lurus ke depan tanpa ada niat untuk berhadapan langsung dengan Virgo, meskipun dia tahu bahwa laki-laki itu sudah menghadap ke arahnya. “Hadiah yang gue kasih ke lo tahun lalu, masih lo simpan?”
Barulah Fitri memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Virgo, ketika pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya. Gadis itu menyipitkan mata dan menaikkan satu alisnya. Kedua tangannya dilipat di depan d**a dan kedua matanya kini menatap Virgo dengan tatapan sinis.
“Masih. Kenapa?” tanya Fitri malas.
“Nggak pa-pa. Gue pikir, hadiah dari gue langsung lo lempar ke tong sampah begitu lo terima. Baguslah kalau masih lo simpan.”
“Kenapa dia tiba-tiba nanyain soal hadiahnya ini, ya?” tanya Fitri pelan pada dirinya sendiri. Memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan Virgo yang dirasanya agak aneh itu entah kenapa justru membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berusaha sekuat tenaga untuk menghapus pikiran-pikiran aneh yang masuk kedalam otaknya.
“Gue nggak boleh suka sama dia. Nggak boleh!” Fitri bertekad seraya menatap boneka pemberian Virgo itu dengan tatapan tegas.
###
“Hai, Rav....”
Sapaan ramah itu membuat Ravina menoleh dan otomatis menghentikan langkahnya. Gadis itu mendengus dan melengos serta melipat kedua tangannya di depan d**a. Satu-satunya orang yang tidak ingin dia temui sekarang justru muncul di depannya. Disaat semua teman-temannya berhamburan di lapangan sekolah bersiap untuk pulang ke rumah, mereka semua justru akan disuguhkan dengan pemandangan yang akan menghibur dan dijadikan bahan gosip selama beberapa hari ke depan.
“Ngapain kamu disini?” tanya gadis itu dingin.
“Kamu lupa kalau aku ini alumnus sekolah kamu? Aku ini mantan senior kamu, ingat?” tanya Rado dengan gaya uniknya, membuat beberapa siswi yang melintas di dekatnya memberinya tatapan memuja. Rado bisa melihat Ravina yang mencibir dan kembali mendengus. Karenanya, laki-laki itu menarik lengan Ravina dengan agak keras, menarik tubuh gadis itu yang hanya sempat menjerit tertahan ke arahnya dan berbisik, “Sekaligus mantan pacar kamu. Mantan pacar yang saat ini lagi berjuang untuk mengambil hati kamu lagi.”
“Silahkan bermimpi kalau begitu!” sungut Ravina kesal dan melepaskan diri dari cekalan Rado. Bukannya marah, Rado justru menampilkan senyuman khasnya. Senyuman miring yang disertai dengan tatapan nakalnya.
“Wow.” Rado menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan penuh semangat. Dia tidak menghiraukan sentakan-sentakan napas dari para siswi yang semakin berada dekat dengannya dan membentuk sebuah kerumunan-kerumunan kecil di sekelilingnya dan Ravina. Yang dia pedulikan saat ini adalah Ravina! Yang dia inginkan saat ini adalah Ravina! Yang dia butuhkan saat ini adalah Ravina Marissa Maladewa! “Sejak kapan kamu berubah jadi gadis yang energik dan pemarah seperti ini, Sayang? Kamu tau? Itu justru bikin aku semakin tertantang buat naklukin hati kamu lagi, loh.”
“Aku udah bilang sama kamu, silahkan kamu mimpi! Asal kamu tau, sampai kapanpun, aku nggak akan pernah mau kembali ke kamu lagi. Nggak akan pernah!”
Saat akan berjalan melewati Rado, Ravina terpaku. Gadis itu menatap ke satu titik. Ke arah seseorang yang kini berada tepat di belakang Rado. Seseorang yang menatapnya dengan tatapan datar. Seseorang yang kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Rado dan menatap laki-laki itu dengan tatapan haru. Tatapan yang haus akan rindu. Tatapan yang menyiratkan kesedihan. Tatapan yang masih terlihat penuh dengan... cinta.
Sepertinya Rado menyadari keterpakuan Ravina, karena laki-laki itu langsung memutar tubuhnya. Sama seperti Ravina, yang bisa dilakukan oleh Rado hanyalah terpaku di tempat dan menatap ke arah sosok tersebut. Sosok yang kini tersenyum tipis dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kedua matanya nampak berkaca-kaca dan airmata itu akhirnya mengalir turun.
“Kak Rado... apa kabar?” tanya orang tersebut dengan suara terbata. Dia langsung menyeka airmatanya dan menampilkan senyum terbaiknya. Mendengar sapaan tersebut, Ravina langsung tertawa hambar dengan sangat keras, membuat Rado yang baru saja akan membalas sapaan orang tersebut langsung terdiam. Atmosfernya mulai berubah canggung serta tidak mengenakan. Atmosfer yang juga terasa disekeliling para penonton adegan Rado dan Ravina sejak awal kedatangan laki-laki itu tadi.
“Hai, Shinta... lo sendiri apa kabar?” tanya Ravina basa-basi. “Kita satu sekolah, tapi gue baru ngeliat lo lagi sekarang. Kenapa? Harus main kucing-kucingan sama gue, ya, karena udah ngerebut mantan gue dulu?”
“Ravina!” sentak Rado langsung. Laki-laki itu mencekal lengan Ravina dan berusaha melihat wajah gadis itu. Gadis itu tidak ambil pusing dengan tindakan dan bentakan Rado barusan. Ravina justru semakin menatap Shinta dengan tatapan datar dan terkesan biasa saja. Padahal, semua kilasan masa lalu yang membuatnya sangat marah dan sedih dua tahun silam kini kembali muncul ke permukaan, membuat luka yang sudah susah payah dia kubur dalam-dalam kembali menganga dengan lebarnya. “Dia itu sahabat kamu!”
“Oh ya?” Ravina kembali tertawa dan melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Rado. “Sahabat yang hobi nusuk sahabatnya sendiri dari belakang, ya? Wah... nggak nyangka kita bertiga bakalan reunian disini. Nah, gimana kalau kalian berdua sekarang kangen-kangenan dulu sementara gue pergi?”
“Rav... kamu mau kemana? Urusan kita belum selesai,” ucap Rado dengan sabar. Laki-laki itu melirik Shinta sekilas dan tersenyum kecil.
“Aku mau pergi dari sini soalnya aku muak banget sama kalian berdua.” Gadis itu menatap Rado dan tersenyum sinis seraya memiringkan kepalanya. Telunjuknya menunjuk dirinya sendiri dan Rado secara bergantian. “Urusan kita, kamu bilang? Setau aku, urusan kita udah selesai dua tahun yang lalu.”
Tanpa memperdulikan reaksi Rado dan Shinta, Ravina bergegas pergi dari tempat tersebut tanpa ada niat untuk menolehkan kepalanya lagi ke belakang. Karena, dia tidak ingin Rado maupun Shinta tahu, bahwa saat ini, dia sedang menangis. Menangis yang benar-benar menangis karena dia tidak bisa menghentikan airmatanya sama sekali.
Luka itu akan selalu ada disana. Mengiris secara perlahan... mengeluarkan darah secara terus-menerus, hingga dia tidak tahu lagi, apa yang harus dia lakukan untuk menyembuhkan lukanya tersebut.
###
Keesokan harinya, Fitri masuk kedalam kelas dengan kening yang mengerut. Dia bingung setengah mati ketika melihat teman-teman sekelasnya sedang memasang tampang bete. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang mengomel tidak jelas. Narsya, yang melihat kemunculan Fitri, langsung melambaikan tangan ke arah sahabatnya itu untuk menyuruhnya masuk.
“Pada kenapa, sih?” tanya Fitri heran sambil menaruh ranselnya di atas meja. Gadis itu melirik ke arah bangku Virgo dan langsung menggelengkan kepalanya. Benar-benar bencana! Bahkan hanya melihat bangku Virgo saja, meskipun orangnya tidak berada disana, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Virgo belum datang, Fit.”
“Hah?”
Di tempatnya, Narsya mengulum senyum dan detik berikutnya dia terkekeh pelan. “Lo lagi nyariin musuh lo itu, kan? Dia belum datang.”
“Ngawur!” Fitri menjitak kepala Narsya pelan. “Buat apa gue nyariin Virgo?”
“Lah? Tadi lo ngelirik ke arah bangkunya.”
“Gu—gue nyari Leo! Iya, gue nyari Leo,” elak Fitri sebisa mungkin. “Lo liat kemana sepupu sinting gue itu pergi, nggak?”
“Siapa yang lo bilang sinting, Fit?”
Suara berat yang menginterupsi itu membuat Fitri tersentak dan memejamkan kedua matanya. Dia mengutuk nasibnya yang sial ini karena Leo baru saja mendengar ucapannya saat dia mengatakan bahwa Leo adalah sepupu sintingnya. Langsung saja, Fitri memasang wajah biasa dan tersenyum semanis mungkin, sebelum kemudian gadis itu memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Leo. Tapi, yang terjadi justru membuat jantungnya berhenti berdetak!
Dia menabrak Virgo!
Orang yang berada di depannya saat ini adalah Virgo! Yang ditatapnya saat ini adalah d**a bidang Virgo!
YA TUHAN!
“Ngapain lo?”
Pertanyaan singkat itu membuat Fitri mendongak. Dia bisa melihat kedua mata Virgo yang menerobos masuk kedalam kedua matanya dan alis laki-laki itu yang terangkat satu. Seketika itu juga, Fitri mengambil langkah mundur.
“Nggak ngapa-ngapain,” balas Fitri setelah sebelumnya berdeham pelan untuk mengatasi kegugupan yang tiba-tiba saja datang menderanya.
“Ada apaan, sih?” tanya Leo heran, ketika dia melihat tampang kusut teman-teman sekelasnya. Ketika dia menatap ke arah Lilian, Leo mengerutkan kening. Laki-laki itu mengikuti arah pandang Lilian dan langsung menyipitkan mata.
Kenapa Lilian menatap Virgo sedemikian rupa?
“Gini... Pak Burhan ngasih tugas ke kita. Dan tugas itu harus dilaksanain hari ini juga.” Narsya menjelaskan dengan menahan tawa. Dia selalu bingung dengan permusuhan diantara Fitri dan Virgo, tapi, dia harus akui bahwa dia juga merasa terhibur setiap kali kedua teman sekelasnya itu bertengkar.
“Terus? Masalahnya, apa?” tanya Leo heran.
“Kita disuruh berpasangan. Cewek sama cowok. Pasangan udah ditentuin sama Pak Burhan. Gue sama si Yossi. Elo, Yo... elo sama Lilian.” Narsya melirik Leo sekilas yang terlihat sedikit terkejut lantas melengos. “Dan elo, Fit... elo....”
Entah kenapa, Fitri merasa tidak enak. Gadis itu menelan ludah susah payah dan melirik ke arah Virgo dengan perasaan campur aduk. Laki-laki itu ternyata juga sedang menatapnya.
“Pergi sekarang?” tanya Virgo dengan nada yang tidak terbantahkan, membuat Fitri mengerang keras didalam hati.
###
“Kayaknya, kejadian seperti tadi, baru pertama kali dialamin sama lo dan gue, kan?”
Ucapan Virgo itu hanya dijawab dengan anggukkan kepala oleh Fitri. Gadis itu masih tersenyum lebar dan menatap dirinya sendiri yang masih basah kuyup. Awalnya, mereka berdua hanya menjalankan sebuah tugas dari seorang guru sebagai pelengkap nilai akhir tugas. Tugas ini memang tidak ada kaitannya dengan jurusan IPA, tetapi kata beliau, ini bisa digunakan untuk melatih rasa kemanusiaan dalam diri remaja-remaja sekarang. Kebetulan, Virgo dan Fitri ditunjuk sebagai partner.
“Makasih buat senang-senangnya hari ini.” Virgo kembali bersuara. Sebelah tangannya terulur untuk mengacak rambut Fitri dan menyampirkan beberapa helai anak rambut gadis itu ke belakang telinga. Dia dan Fitri baru saja selesai bermain air dengan menggunakan pistol-pistolan bersama belasan anak panti asuhan.
“Sama-sama.” Fitri menarik napas panjang dan senyumnya mulai memudar. Ditatapnya Virgo tepat di manik mata. Degupan jantungnya mulai meliar, seiring kedua matanya yang terus menelusup masuk kedalam dunia Virgo. Kemudian, Fitri menepis tangan Virgo yang masih bertahan pada wajahnya, membuat laki-laki itu mengerutkan kening.
“Fit?”
“Sekarang,” kata Fitri tegas. “Kita balik lagi ke keadaan semula. Lo dan gue itu musuh. Kita berdua nggak bisa bersikap seperti seorang teman. Kalaupun tadi kita bersenang-senang, itu hanya kebetulan. Ketidaksengajaan.”
Tubuh Virgo membeku. Diberinya Fitri tatapan tajam, lalu dia mengangguk tegas.
“Oke.” Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dan menarik napas panjang. “Kalau itu emang kemauan lo, akan gue turutin. Tapi, ada satu hal yang mau gue tanyain sama lo.”
Keterdiaman Fitri membuat Virgo menarik kesimpulan bahwa gadis itu mengizinkannya untuk memberikan sebuah pertanyaan seperti permintaannya barusan. Dengan napas yang dihembuskan dengan keras, laki-laki itu berkata, “Seandainya, kalau gue bilang ke lo... entah kapan... mungkin nanti... gue bilang kalau gue... gue ada perasaan khusus ke lo, apa lo bakal percaya?”
Sikap tubuh Fitri berubah tegang. Gadis itu menatap Virgo dengan mata terbelalak. Jantungnya yang sudah meliar sejak tadi, semakin bertambah liar, membuatnya merasa sesak dan kesulitan untuk bernapas. Dia bahkan bisa merasakan wajahnya memanas karena ucapan Virgo barusan.
“Apa lo bakal percaya, Fit?” ulang Virgo.
“Nggak.” Fitri menjawab pelan dan menarik napas panjang. Dia menatap wajah Virgo yang terlihat terkejut akan jawabannya itu. “Lo dan gue adalah musuh. Lo sama gue nggak pernah cocok dalam hal apapun. Jadi, baik lo maupun gue nggak akan pernah punya perasaan khusus satu sama lain. Kalaupun misalkan lo tiba-tiba punya perasaan khusus ke gue, gue akan menolak.”
“Oke.” Virgo mengangguk pelan. Rasanya seperti ada yang menusuk jantungnya saat ini. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia hanya ingin tahu jawaban Fitri akan pertanyaan aneh yang tiba-tiba saja melintas di otaknya. Tidak disangka jawaban gadis itu akan membuatnya merasa sesak bukan main. “Gimana kalau sekarang kita pulang? Udah sore.”
“Um... Go...,” panggil Fitri ragu. Virgo yang sudah berjalan menuju mobilnya menoleh dan mengerutkan kening. “Kenapa lo tanya hal kayak gitu ke gue.”
“Entahlah,” jawabnya pelan seraya mengangkat bahu. “Gue sendiri nggak tau kenapa.”
###
Pukul tujuh malam, mobil Virgo berhenti tepat di halaman rumah Fitri. Laki-laki itu mematikan mesin mobil dan menghela napas. Selama perjalanan pulang, keduanya tidak saling bicara. Hanya suara penyanyi yang mendominasi keadaan. Virgo terlalu fokus terhadap jalanan di depannya, sementara Fitri seolah pergi ke dimensi lain. Tatapannya datar, kosong dan tidak terbaca. Seperti raut wajahnya.
Rumah Fitri terlihat lengang dan sepi. Tadi saat di perjalanan, Fitri mendapat telepon dari orangtuanya yang memberitahu bahwa mereka akan pergi ke Bandung untuk mengunjungi saudara yang sedang sakit disana.
“Fit? Fitri, bangun... udah sampai.” Virgo membangunkan gadis itu dengan suara pelan. Ketika tidak ada reaksi dan respon yang diberikan oleh Fitri, Virgo menyentuh lengan gadis itu dan terkejut.
Suhu tubuh Fitri sangat tinggi!
“Fit?” panggil Virgo lagi seraya mengguncang pelan tubuh gadis itu. Suaranya terdengar cemas begitu juga dengan raut wajahnya saat ini. “Fitri! Jangan bercanda!”
Lagi, tidak ada respon dari gadis itu. Virgo kemudian meletakkan tangannya di kening Fitri dan semakin terperanjat. Fitri demam tinggi! Langsung saja, Virgo turun dari mobil dan setengah berlari menuju pintu penumpang. Dengan satu gerakan cepat, Virgo membuka pintu mobil dan menggendong Fitri masuk kedalam rumah.
Pembantu rumah Fitri datang tergopoh-gopoh dan membukakan pintu untuk Virgo. Wanita berumur empat puluh lima tahun itu terlihat khawatir saat anak majikannya harus digendong dalam keadaan tidak sadarkan diri dan baju yang masih terlihat basah. Dia langsung menunjukkan kamar Fitri pada Virgo dan berlari menuju dapur untuk mengambil air yang akan digunakan sebagai kompresan.
Didalam kamar Fitri, Virgo membaringkan tubuh gadis itu dengan hati-hati di atas kasur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Fitri sampai sebatas leher. Saat akan pergi meninggalkan kamar tersebut, Virgo berhenti melangkah. Dia menatap lengannya yang dipegang kuat oleh Fitri. Gadis itu terlihat gelisah dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Virgo kontan mengurungkan niatnya untuk pergi dan duduk di tepi ranjang, di samping gadis itu. Diusapnya peluh dan rambut Fitri dengan lembut.
“Ssst... Fit... tenang, lo udah ada di rumah.” Virgo mencoba menenagkan gadis itu, tapi yang ada, Fitri justru semakin gelisah.
“Jangan... jangan pergi, Kak... Kak Veloz... gue mohon jangan tinggalin gue... jangan, Kak... jangan....”
Virgo mengerutkan kening ketika dia mendengar Fitri menyebutkan nama Veloz. Dia tidak kenal dengan seseorang yang dipanggil oleh Fitri itu, tapi, sepertinya orang itu memiliki arti penting bagi Fitri. Karena sekarang, selain menyebutkan nama Veloz dan mencengkram lengannya, Fitri juga mulai menangis dalam tidurnya.
“Siapa Veloz, Fit?” tanya Virgo dengan suara rendah. Sadar bahwa Fitri tidak akan merespon pertanyaannya, Virgo melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Fitri dan keluar dari dalam kamar tersebut. Dia tidak bisa menjelaskan perasaan kesal dan amarah yang mendadak muncul dalam hatinya. Yang bisa dia lakukan hanyalah meremas rambutnya dengan sangat kuat dan berdecak jengkel di depan pintu kamar Fitri.
“b******k! Gue kenapa, sih?!” umpatnya pada diri sendiri.
###