Lilian menutup pintu di belakangnya pelan dan menarik napas panjang.
Gadis itu baru saja selesai berbicara dengan Virgo dan dia memutuskan untuk berusaha menerima semuanya. Bahwa Virgo memang hanya menganggapnya teman dan laki-laki itu sudah bahagia bersama Fitri. Tapi, kenapa rasanya bukan karena hal itu, Lilian merasa tidak enak hati seperti sekarang? Kenapa wajah Leo dan juga nada bicara laki-laki itu padanya tadi, yang membuat hatinya sesak?
Sekali lagi, Lilian menarik napas panjang. Gadis itu memijat pelipisnya dan berjalan menuju lift. Tepat di tikungan, tempat di mana Lilian melihat Leo sedang duduk sambil memejamkan mata ketika dia tiba di rumah sakit ini, gadis itu kembali melihat keberadaan Leo. Laki-laki itu duduk di tempatnya semula, bersedekap dan memejamkan kedua mata.
Seketika itu juga, jantung Lilian berdetak sangat keras. Dia berhenti melangkah dan meremas kausnya sendiri. Berharap bisa meredam detak jantungnya yang mendadak meliar. Gadis itu lantas membasahi bibirnya kemudian menarik lagi napasnya untuk yang kesekian kali.
Tenang, Lilian... batinnya.
Lilian kembali melangkah. Dia lantas berhenti tepat di depan Leo yang tak kunjung membuka kedua mata. Gadis itu memerhatikan Leo dengan seksama, mencari tahu apakah Leo tertidur atau tidak.
“Ngapain lo berdiri kayak orang bego di depan gue?”
Suara dingin Leo membuat Lilian tersentak. Refleks, gadis itu mundur dan nyaris terjungkal kalau saja pergelangan tangannya tidak dicekal oleh Leo. Kedua mata laki-laki itu terbuka dan menatap tegas manik Lilian yang terlihat salah tingkah. Mungkin, Lilian merasa tidak enak dan malu akibat tertangkap basah oleh Leo sedang memerhatikan laki-laki itu.
“Gu—gue cuma mau mastiin, lo itu lagi tidur apa nggak,” jawab Lilian gugup. Entah kegugupan yang datang darimana dan karena apa, Lilian juga tidak tahu pasti. Dia menunduk sedikit, menatap pergelangan tangannya yang masih dicekal oleh Leo, kemudian beralih ke wajah Leo.
Leo sendiri diam. Laki-laki itu menatap datar Lilian, sedatar raut wajahnya saat ini. Gadis di hadapannya adalah gadis yang berhasil merebut hatinya, tapi Leo tahu, Lilian masih mencintai Virgo, meski Virgo baru saja menjelaskan hubungannya dengan Fitri. Entah harus dengan cara apalagi, Leo meluluhkan hati Lilian. Leo hanya tidak ingin Lilian merasa sedih karena Virgo dan Fitri sudah berpacaran.
“Udah selesai ngomongnya sama Virgo?” tanya Leo, memecah keheningan. Laki-laki itu lantas melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Lilian.
Lilian mengangguk pelan. Aneh, dia justru tidak merasa sesak ketika Leo menyebut nama Virgo. Dia justru merasa sesak karena nada suara Leo, juga raut wajah dan tatapan laki-laki itu untuknya sekarang. “Udah. Kalau gitu, gue pamit.”
“Oke.” Leo mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Lilian bahkan tidak percaya dengan sikap Leo. Laki-laki tersebut hanya menyuruhnya untuk berhati-hati dan tidak ada niat untuk menawarkan diri mengantarnya pulang?! Ya, Lilian tahu kalau Leo tidak ada kewajiban untuk mengantarnya pulang, tapi, apa Leo tidak merasa kasihan? Apa Leo tidak merasa khawatir?
Lalu kenapa sekarang, dirinya justru ingin Leo mengantarnya? Kenapa dirinya ingin Leo bersikap hangat seperti dulu kepadanya? Kenapa dia justru merindukan Leo?
Kenapa?
“Leo?”
Panggilan itu membuat Leo dan Lilian menoleh. Leo tersenyum tipis saat melihat sosok ayah dan bundanya, juga seorang gadis berambut ikal dengan wajah cantiknya, berdiri tak jauh di depannya. Lilian tanpa sadar sedikit mendekat ke arah Leo dan menatap gadis berambut ikal di hadapannya dengan tatapan takut.
Astaga, takut?! Takut karena apa?!
“Makasih udah mau datang, Yah, Bun,” kata Leo. Dia mencium tangan ayah dan bundanya, kemudian tak lupa Leo juga mencium kedua pipi sang bunda. Lalu, Leo mengacak rambut ikal si gadis cantik berjaket biru tosca. “Kamu datang juga? Makasih, ya.”
DEG!
Ada sengatan di hati Lilian saat ini, kala dia mendengar nada suara hangat dan lembut Leo yang ditujukan untuk gadis berambut ikal tersebut. Juga bagaimana Leo terlihat akrab, sampai mengacak gemas rambut ikal si gadis dan memakai kata sapaan ‘aku-kamu’ dengannya. Mata Lilian mulai memanas tanpa sebab, dan Lilian mati-matian menahan diri untuk tidak menangis di sini.
“Leo, dia siapa?” tanya Krystal, bunda Leo.
Leo menoleh dan mengangkat satu alis. Tidak menyadari kalau Lilian masih ada di sini. Berdeham, Leo menunjuk Lilian dengan ibu jarinya. “Teman sekolah Leo, Virgo dan Fitri. Namanya Lilian.”
Krystal dan Rizky nampak terkejut dan saling tatap. Keduanya kemudian tersenyum tipis, namun sarat akan makna. Membuat Leo mengerutkan kening dan merasa ada yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya.
“They’re my parents!” tegas Leo. Nada suaranya kembali dingin ketika berbicara dengan Lilian dan hal itu membuat Lilian semakin merasa sesak. “Dan yang itu Gendis.”
Gendis? Jadi, nama gadis itu Gendis? Nama yang unik dan cantik, secantik orangnya, kata Lilian dalam hati.
Gendis Prasistya tersenyum ramah dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Lilian. Ragu, Lilian membalas uluran tangan Gendis dan memaksakan seulas senyum yang diharap bisa terlihat normal.
“Hai, Lilian. Nama gue Gendis. Salam kenal. Semoga, lo nggak kapok berteman sama Leo, ya!”
“Li—Lilian Aulia. Salam kenal.”
Lilian segera melepas jabatan tangannya. Gadis itu lantas membungkuk sedikit untuk memberi hormat pada kedua orang tua Leo dan kembali memaksakan seulas senyum yang dirasa sopan. “Lilian Aulia, Om, Tante... salam kenal. Dan maaf, aku harus pulang sekarang.”
Tanpa memberi kesempatan kepada kedua orang tua Leo, Gendis juga Leo sendiri untuk berbicara, Lilian segera memutar tubuh dan berlari. Gadis itu menuju tangga, tidak menggunakan lift seperti dia datang ke lantai di mana Virgo meminta bertemu. Lilian bahkan sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, sehingga buliran kristal itu melaju dengan cepat di pipi mulusnya.
“Kamu nggak antar dia, Yo?” tanya Rizky pada anak sulungnya. Dia melirik Leo yang terlihat menghela napas berat, kemudian memijat pelipisnya sambil memaki tanpa suara. Kelakuan Leo itu jelas membuat Rizky diam-diam menahan senyum dan menggeleng. Teringat pada kisah masa mudanya dulu bersama Krystal.
“Loz,” panggil Leo cepat saat melihat Veloz melintas di depannya sambil bersiul dan memasukkan kedua tangan di saku celana. Veloz menoleh dan buru-buru mengubah sikap tengilnya barusan menjadi sikap seorang laki-laki gentle karena menyadari keberadaan kedua orang tua Leo dan Liz. “Gue boleh minta tolong?”
Veloz mengangkat satu alis kala melihat raut wajah lelah Leo. Dia tidak begitu paham masalah yang terjadi diantara Leo, Virgo, Fitri dan seorang cewek bernama Lilian. Dia hanya tidak sengaja mendengar kisah rumit itu dari percakapan Virgo, Leo dan Ravina, ketika Virgo mengutarakan niatnya untuk berbicara empat mata dengan Lilian.
“Tolong apa?”
Leo nampak ragu. Namun, saat mengingat Ravina mungkin sedang tertimpa masalah, Leo segera menunjuk wajah Veloz. Tatapan matanya sangat tegas.
“Ikutin Lilian. Jagain dia. Gue ada urusan!”
Veloz hanya bisa mengerjap dan mengangkat bahu tak acuh ketika Leo melesat pergi. Meninggalkan Krystal yang bingung, Gendis yang terkekeh geli dan Rizky yang terbahak.
“Your son resemble me! A lot!” Rizky mencubit pipi Krystal gemas, membuat Krystal semakin bingung di tempatnya.
###
“Kenapa lo bisa ada di rumah sakit ini?”
Pertanyaan Ravina dijawab dengan lirikan bete dari Elkansa. Laki-laki itu menunjuk Ravina, membuat Ravina menatap dirinya sendiri.
“Jaket gue! Gue mau ambil jaket gue, makanya gue ikutin lo dalam perjalanan pulang. Waktu gue mau ngebel rumah lo, gue liat lo dan yang lain heboh naik ke mobil dan menuju rumah sakit ini.”
“Ah....” Ravina manggut-manggut. Gadis itu kemudian melepas jaket Elkansa dan menyerahkannya pada laki-laki itu. Elkansa sendiri menerima jaket miliknya dari Ravina dengan wajah dan tatapan semakin bete, membuat Ravina bertanya-tanya dalam hati, apa kesalahannya saat ini pada Elkansa. “For your information, rumah tadi bukan rumah gue. Itu rumah sepupu gue, yang lagi dirawat di sini.”
Elkansa mendengus dan menggantung jaketnya hanya di pundak kanan. Penampilannya saat ini bisa dibilang seperti laki-laki nakal atau tengil, namun justru memberi efek lain bagi Ravina hingga jantung malangnya berulah. Ravina mendapati diri terpesona pada ketampanan Elkansa, hingga dia merasa harus memeriksakan diri ke dokter jiwa. Takut kalau-kalau kepalanya terbentur hingga mengakibatkan kejiwaannya terganggu, karena bisa-bisanya dia berkata dalam hati kalau Elkansa tampan.
“Dan yang tadi cowok lo?” tanya Elkansa dengan nada yang sulit ditebak oleh Ravina. Nada suara Elkansa seperti mengindikasi bahwa laki-laki itu cemburu, tapi Ravina meyakini diri jika Elkansa tidak akan mungkin cemburu padanya. Memangnya Elkansa memiliki rasa khusus untuknya? Nonsense!
“Gue sepupunya.”
Suara tegas itu datang dari arah belakang Ravina, membuat Ravina dan Elkansa menoleh. Leo melangkah mantap ke arah sepupunya, menarik lengan Ravina untuk membawa tubuh mungil itu ke belakang tubuhnya sendiri. Leo menatap manik Elkansa dengan tatapan tegas dan dingin, yang dibalas tak kalah tegasnya oleh Elkansa.
“Oh, sepupu,” sahut Elkansa terkesan meledek. “Sepupu yang sangat dekat. Gue dengar, sepupu pun bisa saling menyukai. So, apa lo menyukai sepupu lo ini, Ravina? Dan, di saat bersamaan, lo juga kembali menggoda Rado? Mau merebut Rado dari tunangannya?”
Baru saja Leo ingin membalas ucapan Elkansa, Ravina menarik lengannya. Gadis itu menggeleng ketika Leo menatapnya gusar, tanda bahwa Ravina tidak ingin Leo ribut dengan Elkansa. Ravina hafal watak Leo. Meski Leo tidak suka pertikaian, perdebatan dan semacamnya, tapi kalau Leo merasa dia perlu melakukannya, akan susah sekali menghentikan sepupunya itu.
Sebagai gantinya, Ravina maju. Dia memasang tubuh mungilnya di hadapan Elkansa dan tersenyum miring.
Membuat Elkansa menaikkan satu alisnya, setelah sempat tersentak.
“Kalau gue suka sama sepupu gue sendiri, masalahnya buat lo apa? Lo cemburu?”
Apa?
“Elkansa, lo cemburu sama Leo?”
Sialan! Gadis di depannya ini benar-benar sialan!
“Lo suka sama gue? Hanya dalam beberapa kali pertemuan?”
b******k! Dipikirnya, dia itu siapa?!
“Maaf mengecewakan lo, tapi, gue nggak mau menjalin hubungan sama siapa pun meski sekarang gue lagi available. Jadi, lebih baik lo mundur. Soal Rado, lo boleh tenang karena gue nggak ada niat untuk godain dia, balikan lagi sama dia, dan lain sebagainya. Gue sama Rado ada di masa lalu, bukan masa sekarang apalagi masa depan. He’s just my past.”
Selesai berkata demikian, Ravina memutar tubuh. Namun, baru tiga langkah dia berjalan, lengannya dicekal kuat dan tubuhnya diputar paksa. Ravina tetap tenang, setenang tatapan matanya saat ini ketika beradu dengan manik penuh emosi Elkansa.
“Lepas.”
Suara Ravina tidak ditanggapi oleh Elkansa. d**a Elkansa bergemuruh. Dia benci diintimidasi seperti ini, terlebih oleh seorang perempuan. Tanpa sadar, cekalannya semakin menguat, membuat Ravina merasakan perih di lengan putihnya. Dia melirik sekilas dan warna kemerahan sudah menjalar di lengannya.
“Dia bilang lepas... lo budek?”
Suara dingin itu diikuti oleh cekalan tangan yang begitu kuat pada pergelangan tangan Elkansa. Ternyata, Leo lah yang sudah berbicara dan mencekal pergelangan tangan Elkansa. Tak lama, seseorang meremas kuat pundak Elkansa, membuat Elkansa, Leo dan Ravina menoleh.
Virgo dengan tatapan tajamnya muncul di hadapan Elkansa.
“Let her go!”
Elkansa mendengus dan tertawa hambar. Dia melepas lengan Ravina—nyaris menyentak—hingga tubuh Ravina terdorong mundur dan segera ditangkap oleh Leo juga Virgo.
“Datang lagi pahlawan kesiangan. Hidup lo dikelilingi sama cowok-cowok, ya? Interesting!” Elkansa memakai jaketnya dan menunjuk wajah Ravina. “Jangan muncul lagi di hadapan gue, ngerti?!”
Selesai berkata demikian, Elkansa pergi dari hadapan Ravina, Leo dan Virgo. Cowok itu mengepalkan kedua tangannya dan menahan diri untuk tidak berteriak akibat emosi yang semakin bergejolak. Entah kenapa, dia sangat muak melihat dua orang laki-laki tadi berada di sisi Ravina dan membelanya.
Sialan!
Di sisi lain, entah karena terlalu lelah atau memang belum makan sejak siang, Ravina merasa dunianya berputar. Gadis itu kemudian pasrah saat kegelapan yang jahat mengurungnya. Samar, dia bisa mendengar suara Leo dan Virgo yang menyerukan namanya dengan panik, lalu dia tidak ingat apa-apa lagi.
Ravina pingsan.
Tanpa sepengetahuan Leo dan Virgo, Elkansa berhenti melangkah ketika mendengar teriakan keduanya kala memanggil nama Ravina. Laki-laki itu menoleh sekilas dan menatap datar Ravina yang jatuh begitu saja, kemudian ditangkap oleh sepupunya yang bernama Leo.
Hatinya mendadak seperti disengat lebah.
Elkansa mendadak tidak enak hati. Entah kenapa.
###
Fitri merasa dunianya berputar.
Hal yang pertama dilihatnya adalah langit-langit putih. Lalu, dia menyadari ruangan tempatnya berada adalah kamar rumah sakit. Dia melepas oksigen dan mencabut slang infusnya. Di kamar itu, tidak ada siapa-siapa. Lalu, ketakutan itu menghinggapinya.
Fitri memanggil nama Virgo berulang kali sambil menangis. Pelan, gadis itu turun dari ranjang dan hampir terjatuh saat kedua kakinya menjejak di lantai. Setelah merasa keseimbangannya mulai kembali, Fitri segera melanjutkan langkah. Dia ke luar dari dalam kamar, mencari keberadaan Virgo.
Sepanjang lorong rumah sakit, Fitri menangis. Dipanggilnya nama Virgo dengan suara pelan dan lirih. Jantungnya mencelos, entah kenapa. Dia takut bahwa semua kebahagiaan yang dia rasakan sebelum ini hanyalah sebuah mimpi.
“Virgo...,” lirihnya sambil berjalan tertatih dan berpegangan pada dinding. Menjadikan dinding itu sebagai tumpuan. “Go....”
Merasa tidak mampu lagi berjalan, Fitri berhenti. Gadis itu menunduk dan meremas dadanya. Napasnya agak tersengal dan terasa satu-satu. Dia bisa merasakan suhu tubuhnya semakin meningkat dan membiarkan saja ketika tubuhnya terasa semakin lemas, lalu meluruh.
Dan ternyata, langsung ditangkap oleh dua tangan besar nan hangat yang melingkar pas di pinggang juga punggungnya.
“Fitri!” seru Virgo. Laki-laki itu sangat takut sekarang melihat keadaan Fitri yang masih jauh dari kata pulih, memaksakan diri untuk berjalan-jalan di lorong rumah sakit. Langsung saja, Virgo menggendong tubuh Fitri tanpa kesulitan di punggungnya dan segera membawa gadis itu kembali ke kamar.
“Lo bego atau gimana, sih?! Kalau lo kenapa-napa, gimana?! Lo belum sembuh, Fit! Gue takut lo kenapa-napa! Gue takut lo ninggalin gue!” seru Virgo dalam perjalanan menuju ke kamar inap Fitri kembali. Bisa dia rasakan tubuh panas Fitri di punggungnya.
Lalu, dia mendengar isak tangis itu.
“Fit...?” panggil Virgo hati-hati. Dia menoleh ke belakang, mencoba mencari wajah Fitri. Sadar dia tidak akan bisa berhasil menatap Fitri, Virgo meneruskan langkah dan masuk ke dalam kamar inap gadis itu. Didudukkannya Fitri dengan hati-hati di atas ranjang, dan dia ikut duduk tepat di samping gadisnya.
“Fit, kenapa? Ada apa? Ada yang sakit?” tanya Virgo cemas. Digenggamnya dengan kuat tangan gadis itu.
Fitri menggeleng dan, tahu-tahu saja, gadis itu langsung memeluk Virgo. Virgo yang kaget hanya bisa terdiam, sebelum akhirnya dia membalas pelukan Fitri.
“Gue takut... lo nggak ada saat gue bangun. Gue takut gue hanya mimpi, waktu kita sama-sama mengakui perasaan masing-masing. Gue takut... gue takut lo pergi, Go....”
Virgo terpana. Laki-laki itu merasa dadanya meringan kala mengetahui isi hati Fitri barusan. Gadis itu takut kehilangannya, seperti dia yang takut kehilangan gadis itu. Pelukan Virgo semakin menguat dan dia mengusap rambut Fitri lembut.
“I’ll always by your side, Fit... always.... because i really love you....”
###