FIFTEEN

2507 Words
Gimana keadaannya? Buat apa lo tanya keadaannya? Bukannya lo nggak peduli sama dia? Cuma nggak mau berurusan sama polisi karena dituduh teror anak orang. Baik. Dia baik-baik aja. Dia orang yang kuat. Lo sendiri, kenapa tiba-tiba nanya keadaannya? Bukannya lo benci dia, karena dia berpotensi bikin orang yang lo sayang bersedih? Udah gue bilang, gue cuma nggak mau berurusan sama polisi. Bukan karena gue khawatir sama keadaannya. Lagian, mau dia sekarat pun, itu bukan urusan gue. Yakin? ... ... ... ... ... Kenapa lo nggak balas? Karena lo mulai goyah sama niat lo sendiri? Karena lo mulai mencemaskan keadaan dia? Karena lo mulai kepikiran dia? Pernah nggak, lo berpikir bahwa ini bisa jadi bumerang buat lo? Lo sakitin dia, tapi ternyata lo juga mulai tersakiti. Karena tanpa lo sadari, lo mulai menganggap dia sebagai orang yang penting buat lo. Nggak seperti itu. Gue hanya... ... ... ... Hanya? Entahlah... gue juga bingung. Yang jelas, gue nggak akan mungkin jatuh cinta sama dia. Kenapa nggak mungkin? Karena gue hanya mau mengingatkan dia, kalau orang yang dia sayang itu orang yang udah berstatus. Orang yang udah diikat sama orang lain. Gue hanya nggak mau dia sakit hati kalau dengar orang-orang bilang dia penghancur hubungan orang lain. Kenapa lo harus repot-repot peduli? Urusannya sama lo apa, kalau dia dikatain sebagai penghancur hubungan orang lain? ... ... ... Dengar, gue rasa, lo mulai ada hati sama dia. Gue nggak liat adanya masalah. Hati dan perasaan nggak bisa dipaksain. Lo suka sama cewek, wajar. Yang nggak wajar kalau lo suka sama sesama jenis. Tapi... rasanya nggak mungkin. Gue benci dia. Gue selalu nyakitin dia sama kata-kata gue. Lagipula, gue masih mencintai Shilla. Coba sekarang lo tanya sama diri lo sendiri... sama hati lo. Apa Shilla masih di sana? Atau... dia justru udah berganti sama sosok... Ravina? ... ... ... Look, dude... tanpa lo sadari, lo mulai melupakan Shilla dan mengganti posisi Shilla dengan Ravina. It’s ok kalau lo belum mengakui hal itu. Tapi, cepat atau lambat, lo akan sadar kalau Ravina udah dudukin tempat terpenting di hati lo. Dan mungkin, di saat lo menyadari hal itu, lo udah terlambat. Elkansa, lo berhak buat bahagia. Lo udah mengorbankan kebahagiaan lo sendiri demi Rado dan Shilla. Shilla mencintai Rado dan kedua orang tua Shilla juga orang tua lo menyetujui hubungan mereka, bahkan memang ada rencana menjodohkan mereka sejak kecil. Padahal, lo yang selalu ada untuk Shilla sejak kalian kecil. Tapi, Rado yang mendapat kebahagiaan itu. Lo bahkan menahan diri untuk nggak menghajar Rado, di saat adik lo itu sering gonta-ganti cewek dan dia masih mencintai cewek terakhirnya yang notabene adalah Ravina. Tapi, lo juga harus memikirkan kebahagiaan lo. Udahlah, nggak usah dibahas lagi.  Makasih udah mau jadi mata-mata gue. Gue benar-benar kaget waktu tau lo related sama Ravina. Nggak benar-benar related, sih. Dia saudara sepupu dari kakak yang adiknya gue taksir, dari ceweknya saudara sepupu gue. Ah, gue juga minta maaf karena udah bersikap jerk di depan saudara sepupu lo. Kakaknya dari cewek yang lo taksir juga menyeramkan menurut gue. Hati-hati lo dihajar sama dia kalau sampai berani nangisin atau nyakitin adiknya. Hahaha... gue emang harus berhati-hati. Leo sayang banget sama Liz, adiknya. Dia juga sayang sama Ravina dan Fitri. Dua saudara sepupunya yang dia jaga dari kecil. Virgo pun demikian. Intinya, mereka keluarga yang saling menjaga. Hmm... gue bisa liat hal itu. Anyway, makasih sekali lagi. Sama-sama. Jangan sungkan minta tolong lagi kalau ada apa-apa. Dan ingat, pikirin baik-baik omongan gue.               Elkansa menarik napas panjang dan memasukkan ponselnya ke saku jaket. Laki-laki itu menatap hamparan bintang di langit sana dengan tatapan menerawang. Rado entah ada di mana, Elkansa juga tidak mau ambil pusing. Hanya saja, bayangan Ravina pingsan tadi rupanya berhasil menghantuinya. Lalu, hatinya mendadak cemas dan dia meminta tolong sahabatnya untuk melihat kondisi Ravina. Tidak disangka, sahabatnya—Veloz, rupanya mengenal Ravina.             Sebelum ini, Elkansa memang pernah menceritakan masalah Rado, Shilla dan Ravina. Namun saat itu, Veloz tidak tahu kalau Ravina yang dimaksud Elkansa adalah Ravina saudara sepupu Leo dan Fitri. Ketika Elkansa menyuruhnya ke rumah sakit barusan lah, Veloz baru tahu bahwa Ravina yang selama ini diceritakan Elkansa adalah Ravina dari keluarga Leo.             Elkansa dan Veloz memang sudah lama saling mengenal. Kalau tidak salah saat Veloz masih SMP, mereka bertemu. Ayah mereka berteman baik dan memperkenalkan keduanya. Waktu itu, Elkansa dan Rado sudah tidak tinggal bersama.             Mengusap wajahnya, Elkansa berdecak jengkel. Jengkel dengan keadaan absurd yang sedang dihadapinya sekarang. Jengkel karena gadis yang sudah disakitinya lewat kata-kata b******k selama beberapa hari ini rupanya berhasil membuatnya khawatir.             “Sialan!” geram Elkansa tertahan. Laki-laki itu menjauh dari jendela kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Bahkan langit-langit kamarnya saat ini memperlihatkan wajah sakit hati Ravina, juga air mata Ravina. “b******k!”             Tanpa sepengetahuan Elkansa, Rado memerhatikan dari celah pintu kamar Elkansa yang terbuka sedikit. Tatapan mata Rado sulit diartikan dan kedua tangannya mengepal. Bukannya Rado tidak menyadari keanehan Elkansa, tapi dia perlu mencari tahu kebenarannya.             Karena, Elkansa mulai bersikap aneh ketika bertemu dengan Ravina.             Karena, kalau tebakannya benar, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah mengambil Shilla dari Elkansa, walau itu terpaksa karena mamanya yang menjodohkannya dengan gadis itu. Jika sekarang dia menghalangi, Elkansa akan kembali terluka. Dia memang tidak akur dengan Elkansa selama ini, tapi, Elkansa adalah kakaknya dan sudah terlalu banyak mengorbankan kebahagiaan laki-laki itu sendiri demi dirinya. Tapi... Rado pun tidak bisa kalau harus menyerah atas Ravina.             Karena, Rado menyadari satu hal.             Elkansa menyukai Ravina, tanpa laki-laki itu sadari. ### Lilian menatap pintu di hadapannya dengan jantung berdebar.             Entah apa yang terjadi pada dirinya, Lilian juga tidak paham. Dia merasa sesak ketika bertemu dengan gadis bernama Gendis semalam, dan bagaimana Leo sangat akrab serta ramah pada Gendis. Dia juga gugup tanpa alasan jelas, ketika bertemu dengan Leo semalam dan juga saat ini. Karenanya, Lilian berdiri di depan pintu kelasnya sendiri, menarik napas panjang, mengintip sedikit ke dalam.             Lalu... suara itu membuat Lilian menjerit dan seketika memutar tubuh.             Dan gadis itu berhadapan dengan Leo yang mengangkat satu alis.             “Kenapa lo? Nggak sopan banget teriak-teriak begitu di depan orang lain! Lo pikir gue setan? Dan lagi, ngapain ngintip-ngintip ke kelas sendiri, bukannya masuk ke dalam?”             Lilian menggeleng dan masuk ke dalam kelas tanpa menjawab pertanyaan Leo barusan. Membuat Leo mengerutkan kening dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laki-laki itu mengangkat bahu tak acuh, membenarkan letak ransel di bahu kanannya, kemudian melenggang masuk dan duduk di kursinya.             “Yo, gue dengar Fitri masuk rumah sakit?” tanya Narsya sambil membalikkan tubuh untuk menghadap Leo yang sudah duduk anteng sambil memainkan ponsel. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangan. Tatapannya jelas terlihat cemas. “Gue baru dapat infonya dari Virgo jam lima shubuh tadi.”             “Iyap!” Leo mengangguk tegas tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel. “Napas tikus kejepitnya kumat, makanya dilariin ke rumah sakit.”             “Napas tikus kejepit?” ulang Narsya tidak mengerti. “Meaning?”             “Asma.”             Gondok, Narsya segera menjitak kepala Leo yang mengaduh dan kini menatap gadis itu dengan alis terangkat satu sambil mengusap kepalanya yang menjadi korban. “Apa sih lo, Sya? Minta dicipok?”             “Ih! Amit-amit, deh!” seru Nasrya sambil memperagakan adegan orang yang sedang muntah, sementara Leo terkekeh geli. “Kok Virgo yang ngasih tau gue, ya? Tuh anak lagi jagain Fitri?”             “Iyap!”             “HAH?!”             Seruan Narsya rupanya menarik perhatian beberapa teman sekelasnya, hingga gadis itu terpaksa cengar-cengir dan meminta maaf akibat kehebohan yang baru saja dia ciptakan. “Kok bisa?” tanya gadis itu dengan intonasi yang lebih pelan.             Sekilas, Leo menoleh ke arah Lilian. Gadis itu terlihat kaget dan segera mengalihkan tatapan, ketika mata mereka tak sengaja bertemu. Melihat itu, Leo tersenyum miring dan bersedekap. Hatinya menghangat begitu saja dan laki-laki itu merasa damai hanya dengan melihat Lilian.             “Yo! Gue nanya malah dicuekkin!”             “Virgo sama Fitri udah jadian, Sya.”             “HAH?!”             Lagi, untuk yang kedua kalinya, Narsya berteriak heboh. Gadis itu kembali cengar-cengir saat Kelvin, wakil ketua kelas mengomelinya.             “Ikat aja di tiang bendera, Kel... terus lakban mulutnya. Si Narsya emang ribut banget kayak kenek metromini!”             Ucapan Leo kontan memicu tawa siswa-siswi yang sudah datang di kelas tersebut. Lilian sendiri hanya diam, melirik Leo tanpa kentara. Jantungnya kini kembali berulah, menyebabkan gadis itu meremas kemejanya agak kuat. Ini aneh! Ini benar-benar aneh. Kenapa Leo bisa membuatnya deg-degan seperti ini? Bukankah dia sebal pada laki-laki itu? Bukankah yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang dan deg-degan hanyalah... Virgo?             “Yo!” teriak Ikbal sambil tersenyum lebar. “Semalam gue nggak sengaja liat lo sama cewek. Cantik banget, lagi! Siapa, sih? Pacar lo, ya?”             Leo tertawa keras, sedangkan Lilian terpaku di tempatnya. Rasa sesak itu kembali hadir tanpa dia tahu apa penyebabnya. Nama Gendis melintas di otaknya dan Lilian mendadak berharap kalau Leo menjawab bahwa gadis yang dimaksud Ikbal bukanlah pacarnya.             Tunggu dulu!             Lilian tersentak dan menutup mulut dengan kedua tangan. Debaran jantungnya semakin meningkat dan gadis itu menggeleng tanpa kentara. Kenapa gue berharap Gendis bukan pacarnya Leo, sih?! Apa yang terjadi sama gue?             “Namanya Gendis....”             DEG!             Lilian bersumpah dia merasa seperti ditusuk oleh pisau.             “Dan dia—“             Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, mendadak kelas menjadi hening setelah terdengar suara berdebum yang sangat keras. Semua orang mengarahkan tatapan mereka kepada Lilian yang entah sejak kapan, sudah berlutut di lantai. Gadis itu terlihat kaget dan meremas kemejanya kuat.             “Lilian! Lo kenapa? Lo sakit?” tanya Narsya yang tersadar lebih dulu dan segera berlari menghampiri Lilian. Dia membantu Lilian berdiri dan bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar. Wajahnya terlihat memerah, mungkin karena malu akibat terjatuh, dan matanya terlihat agak shock.             “Gue... gue nggak apa-apa,” jawab Lilian terbata dan membasahi bibirnya sendiri. Dipaksakannya seulas senyum kepada Narsya. “Tadi gue nggak sengaja nabrak meja, terus jatuh.”             Semua orang terlihat lega dengan jawaban itu sambil mendesah dan menanyakan keadaan Lilian. Mereka sudah panik dan beranggapan Lilian akan pingsan. Seseorang bahkan menatap Lilian tanpa kentara di kejauhan. Tatapan yang sulit terbaca.             Lilian tersenyum meminta maaf pada semua teman sekelasnya dan menghela napas panjang. Tanpa sengaja, dia menatap ke kursi Leo dan hatinya mendadak nyeri ketika tahu bahwa Leo tidak peduli padanya dan menatap ponsel di tangannya sambil tersenyum.             Pasti Gendis, batin Lilian. Lalu, gadis itu tersenyum pahit dan menunduk. Matanya memanas dan dia mati-matian menahan diri untuk tidak menangis. Kenapa gue jadi begini? Childish! Bodo! Udah, lo urusin si Ipit yang benar. Lo bakal menyesal. Sikap lo kekanakkan, tau? Berisik! Dia nggak apa-apa tapi? Katanya sih nabrak meja, makanya dia jatuh. Tapi, kayaknya dia baik-baik aja. Kayaknya? Gue cuma ngeliatin sekilas doang tadi, terus langsung smsan ria sama lo buat ceritain kejadian ini. Tingkahnya mendadak aneh setelah Ikbal nanya soal cewek yang jalan sama gue dan gue bilang namanya Gendis. Hmm... good for you. Hah? Maksudnya? Lo sebenarnya paham nggak sih sama apa yang lagi terjadi? Sama apa yang lagi dialamin Lilian ke lo? Emang tuh cewek kenapa sama gue? Demi Tuhan, Leo! Lo nggak sadar? Lo nggak ngerasain sesuatu yang aneh sama sikap Lilian ke lo? Hah? Emang sikapnya Lilian ada yang aneh ke gue? Bukannya dia emang dari dulu begitu ke gue? Capek gue ngomong sama lo, Yo! Lo ngaku playboy, suka naklukin cewek, tapi nggak tau apa yang lagi terjadi sama Lilian! Jedotin kepala lo di tembok sana! Kebegoan elo saat ini bahkan bikin Ipit ketawa sampai nangis dan batuk-batuk! Lah? Kok lo sewot, Go?             Leo hanya bisa mengerutkan kening dan cemberut hebat ketika Virgo tidak lagi membalas SMS terakhirnya. ### “Lo siapa?”             Pertanyaan bernada waspada itu membuat Elkansa memutar tubuh dan menatap gadis di hadapannya dengan senyum kikuk. Gadis itu memakai pakaian rumah sakit dan membawa serta slang infusnya. Wajahnya terlihat pucat, tapi tatapan mata tajam itu terlihat jelas.             “Mm... gue... tadinya gue mau jenguk Ravina, tapi dia kayaknya lagi tidur,” jawab Elkansa dengan kalimat yang dia anggap paling normal. Gadis di hadapannya memicingkan mata dan terlihat semakin waspada kepadanya. “Tenang, gue bukan orang jahat.”             “Orang jahat bahkan selalu berkata begitu di awal.”             Elkansa menarik napas panjang dan memijat pelipisnya.  Dia sendiri heran, kenapa dia bisa melangkahkan kakinya ke rumah sakit ini dan berniat menjenguk Ravina. Entahlah, hatinya terus saja cemas dan kepalanya selalu mengingat Ravina. Dia hanya ingin memastikan bahwa Ravina baik-baik saja, sehingga nanti dia tidak perlu berurusan dengan pihak berwajib karena sudah dituduh menyakiti anak orang.             Benarkah?             Benarkah hanya karena alasan itu? Elkansa sendiri seolah ragu dengan pemikirannya barusan.             Sedikit banyak, gadis di hadapannya mengingatkan Elkansa pada Ravina. Tatapan mata tajam mereka sama, pun dengan wajah penuh dengan kewaspadaan. Seperti saudara, itulah kesan yang didapat Elkansa dari gadis di depannya dengan Ravina.             Tunggu... sepertinya Veloz pernah berkata kalau saudara sepupunya memiliki pacar—yang juga adalah saudara sepupu Ravina—yang dirawat di rumah sakit ini. Apa... apa gadis di depannya ini adalah saudara sepupu Ravina? Kalau tidak salah namanya... namanya...             “Elo Fitri?”             “Fitri?”             Kalimat Elkansa berbarengan dengan sebuah suara bernada kaget yang terdengar tak jauh di belakangnya. Fitri dan Elkansa sama-sama menatap ke sumber suara dan Elkansa langsung mengenali siapa oknum yang baru saja memanggil Fitri.             “Elo?!” Virgo segera mendekati Fitri, menarik pelan gadis itu dan membawa tubuhnya ke belakang punggung. Virgo menatap dingin Elkansa yang dibalas santai oleh laki-laki tersebut. “Ngapain lo di sini? Mau nyakitin Ravina lagi? Dan sekarang, lo mau ikut nyakitin Fitri, saudara sepupunya?”             Fitri mengerutkan kening dan menatap Virgo serta Elkansa bergantian. Apa laki-laki di hadapannya ini, yang diceritakan Virgo dan Leo semalam? Orang yang selalu mengganggu Ravina dan menyakit Ravina melalui ucapannya?             “Elo... Kak Elkansa?”             Elkansa menaikkan satu alis ketika Fitri menyebut namanya. Gadis itu terlihat ingin mendekati Elkansa, namun Virgo menahan lengannya, sehingga tubuh Fitri tetap berada di belakang punggungnya. Nyaris saja Elkansa mendengus melihat betapa protektifnya Virgo kepada Fitri.             “Ya. Sepertinya, lo udah dengar cerita soal gue dan Ravina dari mulut pacar lo dan juga saudara sepupu lo yang bernama Leo. Atau bahkan mungkin, dari mulut Ravina sendiri.”             Fitri hanya diam. Gadis itu menatap tegas Elkansa dan laki-laki itu harus mengakui keberanian Fitri kepadanya.             “I have a question for you.”             Elkansa diam, menyuruh Fitri melanjutkan kalimatnya secara tersirat.             “Apa Kak Elkansa... takut?”             Hah?             “Maksud lo apa?”             Fitri tersenyum miring dan Elkansa mendapat kesan gadis di depannya itu bukanlah gadis sembarangan. Bahwa Fitri bukanlah orang yang patut diremehkan.             “Let me ask you this: is it wrong to fall in love with... my cousin?”             Elkansa membeku. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, sementara Virgo menatap Fitri seksama dan terpana begitu melihat keseriusan di wajah sang pacar.             “Don’t you dare to—“             “Lo mulai jatuh cinta sama Ravina, kan?” tanya Fitri langsung, memotong kalimat Elkansa barusan.             Dan... pintu di samping mereka tergeser secara keras ke samping. Begitu pintu itu terbuka, sosok Ravina muncul di sana sambil mengerutkan kening kala menatap Fitri dan Virgo, juga bagaimana Virgo terlihat sangat melindungi Fitri. Lalu, ketika Ravina mengikuti arah tatapan Fitri dan Virgo, gadis itu mengangkat satu alis.             Kaget dengan gestur tubuh Elkansa yang berubah kaku dan tatapan mata laki-laki itu yang terlihat... entahlah... tidak percaya akan sesuatu?             Kemudian, Elkansa menoleh ke arahnya dan dengan satu gerakan cepat, laki-laki itu mendorongnya ke dinding lantas mengurungnya dengan rentangan kedua tangan. Elkansa menatap lantang ke manik Ravina yang dibalas tenang oleh gadis itu.             “What now?” tanya Ravina kalem. “Let me tell you this: do not stare at me too much or you’ll fall in love with me.”             DEG!             Elkansa mengeraskan rahang. Dia tidak bisa mengartikan debaran jantungnya yang meliar dan kenapa dirinya mendadak nyaman serta damai kala mendengar suara Ravina dan ketika dia menatap wajah Ravina dari jarak sedekat ini.             Menggeram tertahan, Elkansa berbisik tegas, “Who are you?”             Ravina hanya tersenyum dan bersedekap.             “Who am i? Gue Ravina.”             Elkansa mengumpat dan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh lagi ke belakang. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD