SIXTEEN

2347 Words
Previously on Call Your Name.   Lilian Aulia mulai meragukan perasaannya sendiri. Belum lama ini dia masih sangat mencintai Virgo dan begitu sedih saat mengetahui bahwa Virgo dan Fitri sudah resmi berpacaran, tapi sekarang dia pun tidak senang dengan kenyataan bahwa Leo dekat dengan cewek lain yang bernama Gendis dan cowok itu pun bersikap cuek dan datar kepadanya. Lilian bahkan sampai tidak fokus pada sekitar dan sempat jatuh akibat pikirannya terhadap Leo dan Gendis. Bahkan ketika mengetahui dirinya jatuh pun, Leo bersikap tidak peduli hingga membuat Lilian sakit hati, entah kenapa. Sementara itu, Leo dan Virgo saling mengirimkan pesan singkat. Virgo mengatai Leo sebagai seorang yang bodoh karena tidak mengerti arti dari perubahan sikap Lilian kepadanya. Virgo juga kesal dengan tindakan kekanakkan Leo terhadap Lilian dan mengatai Leo seorang pengecut. Leo sendiri hanya menanggapi kekesalan Virgo dengan kebingungan dan memutuskan untuk tidak memikirkan Lilian dan perasaannya untuk cewek itu terlebih dahulu. Fokusnya akan dia arahkan kepada Fitri, saudara sepupunya, yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit, juga Ravina, sepupunya yang lain, yang juga mengikuti jejak Fitri dengan berakhir di rumah sakit. Leo yakin, penyebab masuknya Ravina ke rumah sakit berkaitan dengan masalah cewek itu dengan seorang cowok dewasa bernama Elkansa. Di sisi lain, Elkansa dan Veloz rupanya berteman sejak SMP. Elkansa meminta tolong kepada Veloz untuk pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Ravina, untuk kemudian memberikannya kabar. Semenjak dia melihat Ravina pingsan tempo hari di rumah sakit setelah bertengkar dengannya, Elkansa jadi tidak bisa mengalihkan pikirannya dari cewek tomboy tersebut. Cewek yang merupakan masa lalu dari adiknya, Rado. Cewek yang menurut Elkansa berpotensi untuk merusak hubungan Rado dan tunangannya, Shilla. Shilla yang juga merupakan sahabatnya sejak kecil sekaligus orang yang dia cintai dan terpaksa dia relakan untuk Rado karena Shilla sangat mencintai Rado sejak mereka bertiga masih kecil dulu. Sialnya, Veloz berkata bahwa sebenarnya, Elkansa mulai menyukai Ravina. Hanya saja, cowok itu belum menyadari perasaannya sendiri untuk saudara sepupu dari pacar Veloz tersebut. Hal yang langsung ditentang oleh Elkansa mati-matian. Cowok itu berkata bahwa dia hanya tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian akibat sudah membuat anak orang masuk rumah sakit. Veloz sendiri hanya mengiyakan dan tidak membantah, walau dia yakin seratus persen bahwa tebakannya benar. Bahwa kemungkinan besar, Elkansa sudah jatuh cinta pada Ravina.     Brengsek!             Umpatan itu terus saja diucapkan oleh Elkansa di dalam hatinya seperti sebuah mantra. Dia tidak peduli dengan tatapan pengunjung rumah sakit juga para suster yang melintas di dekatnya, ketika dia berjalan dengan langkah cepat menuju parkiran rumah sakit. Hatinya mendidih, heran, terkejut, tidak percaya, marah dan masih banyak lagi, yang membaur menjadi satu hingga membuatnya sesak dan ingin mengeluarkannya dalam bentuk makian paling kasar yang pernah dia ketahui.             Ketika Elkansa berhasil keluar dari rumah sakit dan menuju motornya yang berada di parkiran, cowok itu terengah-engah. Peluh membasahi wajah tampannya. Jantungnya berdebar begitu liarnya, sampai-sampai Elkansa harus meremas kuat dadanya sendiri. Rahangnya mengeras, giginya mengertak dan sebelah tangannya mengepal kuat hingga buku tangannya memutih.             “b******k!” kali ini, umpatan itu keluar dari mulutnya dengan geraman tertahan. Mati-matian, Elkansa menahan diri untuk tidak berteriak histeris sambil mengumpat kasar supaya tidak memancing perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Saat ini saja, dia sudah cukup menjadi pusat perhatian.             “Mau lo mengumpat jutaan kali pun, kalau emang hati lo berkata lo mulai mencintai Ravina Aulia Maladewa, lo bisa apa?”             Kalimat itu membuat Elkansa tersentak dan memutar kepalanya cepat. Matanya sempat membelalak, sebelum akhirnya berhasil menormalkan ekspresinya tersebut dan menggantinya dengan tatapan tajam.             “Ngapain lo di sini?” tanya Elkansa dengan nada dingin.             Virgo mengedikkan bahu dan bersedekap. “Mengejar lo.”             “Mengejar gue?” ulang Elkansa, seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.             “Mengejar lo.” Virgo kembali menjawab dengan kalimat yang sama, dengan penekanan nada pada kalimatnya tersebut. “Karena Ravina yang menyuruh gue. Sebenarnya, gue bisa aja menolak perintah dia. Cuma, cewek gue menyetujui permintaan Ravina, sehingga gue terpaksa mengejar lo untuk memenuhi permintaan cewek gue itu.”             Elkansa mendengus, walau dia sempat kaget mendengar jawaban Virgo yang mengatakan bahwa Ravina yang menyuruhnya datang ke sini. “Dasar b***k cinta. Buat apa cewek sialan itu menyuruh lo mengejar gue?”             “Cewek sialan?” tanya Virgo dengan nada tidak senang. “Cewek sialan yang lo sebut itu sayangnya adalah cewek yang mulai memasuki ruang hati lo, kan?”             Kedutan pada rahang Elkansa bisa dilihat dengan sangat jelas oleh Virgo bagaikan buku yang terbuka lebar di hadapannya. Cowok ini mulai terusik, batin Virgo puas.             “Jaga ucapan lo. Apa yang lo bilang itu sama sekali nggak masuk akal. Gue? Suka sama Ravina? Ha! Lucu sekali.” Meski kalimat Elkansa begitu tajam dan menyakitkan menurut Virgo jika Ravina mendengarnya, tapi ekspresi dan gestur tubuh cowok itu tidak bisa berbohong.             Karena saat ini, Elkansa mengalihkan tatapan matanya dan kedua tangannya mengepal kuat sekali di sisi tubuhnya. Dia seperti sedang menyembunyikan kebenaran hatinya sendiri di depan Virgo, tapi Virgo tidak akan tertipu.             “Then,” sahut Virgo kalem. “Look at me in the eyes and say those words again.”             Gigi Elkansa semakin mengertak. Dia melirik Virgo dengan lirikan tajam dan berkata, “Buat apa gue harus ngelakuin apa yang lo suruh?”             “Untuk membuktikan kalau lo emang serius sama ucapan lo.”             “Dengar, gue—“             “Virgo....”             Panggilan itu membuat kalimat Elkansa terhenti. Dia dan Virgo menoleh dan mendapati Ravina sedang berjalan mendekat. Cewek itu masih terlihat pucat, tapi tatapan matanya begitu tegas dan lantang. Langsung saja Virgo mendekati Ravina dan memegang lengannya supaya cewek itu tidak jatuh atau semacamnya. Karena, jika dilihat dari kondisi Ravina, Virgo yakin seratus persen kalau cewek itu akan jatuh dalam beberapa detik ke depan.             “Ngapain lo ngejar gue?”             Ravina membasahi bibir bawahnya. “Gue cuma takut lo bakalan nggak sengaja matiin dia,” katanya kalem dengan nada pelan sambil melirik ke arah Elkansa. “Sekalian gue berubah pikiran. Gue kepengin langsung ngomong sama dia. Empat mata.”             “Oh,” sahut Elkansa dengan nada mengejek. “Jadi, lo memutuskan untuk menghadapi gue secara langsung? Iya?”             “Emangnya sejak kapan gue nggak menghadapi lo secara langsung?”             Elkansa diam. Mengutuki kebodohannya barusan karena sudah salah berbicara. “Apa yang mau lo omongin?”             Ravina tidak langsung menjawab. Cewek itu menatap Virgo terlebih dahulu dengan tatapan tegas. “Bisa tinggalin gue sebentar sama dia?”             “Hah?! NO!” Virgo menolak tegas sambil menggeleng. “Kalau dia apa-apain lo gimana?”             Baru saja Ravina ingin menjawab, suara Elkansa telah lebih dulu terdengar. “Yeah, right. Kayak gue bakalan bisa aja ngapa-apain dia di sini, pelataran parkir rumah sakit, di saat banyak orang berlalu-lalang dan para satpam yang cinta sama pos mereka lagi betah duduk di pos tercinta mereka itu sambil kepoin kita bertiga.”             Virgo menatap sekitar. Memang benar banyak sekali orang di sekitar ketiganya, sehingga tidak memungkinkan bagi Elkansa untuk menyakiti Ravina. Tapi, bagaimana jika nanti setelah dia pergi dari sini, Elkansa menculik Ravina? Berpura-pura sebagai orang yang ingin membantu Ravina agar terlihat baik di mata semua orang, kemudian secara diam-diam memasukkan Ravina ke bagasi mobil dan membawanya pergi? Kesampingkan urusan dia akan dicincang oleh om Elang alias ayah dari cewek tomboy ini, Virgo pun pastinya akan sangat merasa bersalah karena sudah membiarkan hal seperti itu terjadi pada Ravina.             “Gue bawa motor, bukan mobil,” kata Elkansa, seolah tahu jalan pikiran Virgo. Kelakuan Virgo melihat sekeliling dan kendaraan yang terparkir memudahkan Elkansa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Virgo tersebut. “Jadi, gue nggak bakalan bisa masukkin cewek ini ke dalam bagasi mobil terus nyulik dia.”             Virgo mendesis jengkel dan menatap dingin Elkansa. “Sampai gue tau dia kenapa-napa, lo habis di tangan gue. Mark my words!”             “Whatever,” balas Elkansa sambil mengibaskan sebelah tangan. “Gue lagi nggak mood buat berantem lagian.”             Virgo kemudian menatap Ravina. “Gue bakalan nunggu dan ngawasin dari lobby rumah sakit. Hati-hati.” Cowok itu mengusap pipi Ravina dan mengacak rambutnya hingga membuat Ravina tersenyum lembut.             Senyuman lembut yang sialnya terlihat sangat manis di kedua mata Elkansa saat ini.             Setelah Virgo pergi, Ravina langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Elkansa dan menatap tegas manik cowok itu yang rupanya juga sudah balas menatapnya dengan tak kalah tegasnya. Cowok itu berdeham dan bersedekap. Alisnya terangkat satu. Dia mengumpat dalam hati saat merasakan jantungnya berdebar sangat keras.             Sial! Sial! Sial!             “So,” katanya memulai pembicaraan. “Apa yang mau lo omongin sampai-sampai lo memutuskan untuk menemui gue secara langsung, setelah sebelumnya lo mengutus anak buah lo?”             “Anak buah,” ulang Ravina sambil mendengus. “Dia sahabat gue. Sahabat dekat sekaligus sepupu jauh.”             “I don’t care about that!”             “Really?” tantang Ravina. Cewek itu memberikan Elkansa seringaian mengejek. “Yang gue tangkap, lo seperti ingin meyakinkan diri lo sendiri akan status gue. Apakah gue masih single atau udah taken. Pertama lo bilang Virgo itu pacar gue, pun dengan Leo. Lo juga menuduh gue masih menjalin hubungan sama Rado. Terus, lo bilang kalau Virgo adalah anak buah gue. Biar lo tenang, gue masih single.”             Elkansa mendengus keras tapi entah kenapa merasa sedikit... entahlah, lega? “Gue nggak butuh tau soal itu semua, Ravina.”             “Oke.” Ravina mengangguk. “Yang ingin gue bicarakan adalah soal gue dan Rado.”             Karena Elkansa hanya diam, Ravina melanjutkan. “Pertama-tama, gue mau minta maaf sama lo. Maaf, atas semua tindakan dan ucapan menyakitkan dan kasar yang pernah gue berikan buat lo. Kedua, gue sama sekali nggak ada niatan untuk menghancurkan hubungan siapa pun, termasuk hubungan Rado dan tunangannya yang katanya sangat lo sayangi itu. Gue dan Rado itu adanya di masa lalu, bukan masa sekarang apalagi masa depan. Nggak sama sekali. Gue akui, gue kaget begitu ketemu lagi sama Rado dan gue sempat terbawa perasaan beberapa kali, tapi itu bukan berarti gue masih sayang apalagi cinta. Dia hanya kepingan masa lalu. Dia mengkhianati gue dan itu udah cukup bagi gue untuk taruh dia di black list gue. Dia emang selalu berusaha dekatin gue lagi, tapi gue nggak ada niat untuk menerima dia kembali. Jadi, lo bisa tenang. Rado hanya akan jadi milik tunangannya.”             Setelah diam sejenak, Elkansa berkata, “Kenapa lo kasih tau gue soal ini?”             “Karena gue nggak mau lo terus-terusan salah paham ke gue.” Ravina terbatuk pelan dan menarik napas. “Gue nggak peduli apa pandangan orang lain tentang gue. Mereka mau bilang gue urakan, tomboy, nggak cewek banget, i don’t give a s**t about that. Tapi, gue benci dituduh melakukan hal yang nggak pernah gue lakukan. Gue tau lo melakukan hal itu karena lo ingin melindungi cewek yang lo sayangi dan lo relakan untuk jadi tunangan Rado, adik lo. Tapi, tuduhan lo itu sama sekali nggak benar dan menyakiti gue.”             “Rav, gue—“             “It’s ok,” potong Ravina cepat dan tersenyum tipis. Senyuman lelah. “Lo hanya orang baik yang ingin memastikan kebahagiaan orang yang sangat lo sayangi. Lo juga sebenarnya sayang sama Rado dan nggak ingin adik lo dicap yang aneh-aneh sama orang lain. Gue hanya ingin mengakhiri semuanya sama lo. Jujur, gue capek dan lelah sama semua tuduhan lo dan kata-kata menyakitkan lo. Karena itu, gue tegaskan sekali lagi di sini: gue udah selesai sama Rado. Dia hanya bagian dari masa lalu. Gue sama sekali nggak punya perasaan apa pun lagi buat dia.”             Elkansa membuka mulutnya dan mengatupkannya kembali. Dia bingung harus merespon seperti apa. Ketika Ravina mengatakan bahwa dia sakit hati akan semua tuduhan Elkansa dan kata-kata menyakitkan yang selalu dia lontarkan untuk Ravina, Elkansa merasa ingin sekali menyakiti dirinya sendiri. Kedua tangannya bahkan sudah mengepal kuat di sisi tubuhnya saat ini.             “Lo bisa percaya akan hal itu, kan?”             Pertanyaan bernada lelah itu menyadarkan Elkansa dari lamunannya. Cowok itu kembali menatap wajah dan mata Ravina.             “Gue... percaya.”             Ravina mengangguk dan kembali tersenyum. “Good. Thank you so much buat kepercayaan dan waktunya.”             Ketika Ravina membalikkan tubuh untuk pergi dari hadapan Elkansa, cowok itu dengan sigap langsung memegang lengan Ravina dan menahannya untuk tidak pergi. Ravina menoleh dan mengerutkan kening. Bingung dengan sikap Elkansa yang tiba-tiba itu.             “El?”             “Ah? Eh, itu....” Elkansa merutuk dalam hati. Kenapa dia menjadi gugup saat ini? Kenapa dia tidak bisa mengucapkan kata apa pun untuk cewek di hadapannya itu? Kenapa dia merasa plong dan lega ketika mengetahui bahwa Ravina tidak lagi memiliki perasaan apa pun terhadap Rado?             Lo tanpa sadar sudah menyukai Ravina, Elkansa Altair...             Kata hatinya mengambil alih, mengingatkan Elkansa pada ucapan Veloz dan Virgo. Sepupu bersaudara itu sama-sama mengatakan kepadanya bahwa dirinya sudah menyukai Ravina tanpa dia sadari. Meski begitu, dia selalu menyangkal. Rasanya tidak mungkin jika dirinya menyukai cewek itu, yang usianya empat tahun lebih muda dibandingkan dengan dirinya dan selalu dia sakiti dengan perbuatan serta kata-katanya. Terlebih, cewek itu adalah mantan dari adiknya sendiri.             Lalu kenapa? Apa yang salah? Toh Ravina seorang single.             Elkansa menarik napas gusar. Ini semua benar-benar menyebalkan. Dia tidak bisa begitu saja menyatakan perasaannya hanya karena kata hatinya mengambil alih. Dia yakin seratus persen jika dirinya menyatakan perasaannya pada Ravina, cewek SMA itu akan langsung mengambil langkah seribu dan menatapnya seolah dia terkena virus yang mematikan.             “El?”             “Sori,” kata Elkansa, begitu dia sadar akan sikap anehnya kepada Ravina. Dia melepaskan tangannya dari lengan Ravina dan berdeham. “Thanks buat penjelasannya tadi. Dan, gue juga minta maaf untuk semua perbuatan dan ucapan gue yang selalu menyakiti lo.”             Ravina mengangguk. “It’s ok. Jadi, kita udah nggak ada masalah lagi, kan?”             Ya! Tapi, gue nggak mau lo pergi dari gue! Apa yang harus gue lakuin supaya lo selalu ada di sekitar gue, Rav? “Ya.”             “Oke.” Ravina tersenyum dan melambaikan tangan. “See you, El.”             See you? “See you?”             “Kenapa? Setelah ini, lo nggak mau gitu mencoba untuk berteman sama gue?”             Ah, teman. Elkansa menunduk dan menggeleng. Lalu, dia terkekeh geli. Apakah Tuhan baru saja mengasihaninya? “Emangnya lo mau berteman sama gue?”             “Kenapa nggak?”             “Setelah yang gue lakuin selama ini ke lo?”             “Itu masa lalu.”             Cewek ini terlalu baik.             Baru saja Elkansa ingin mengucapkan sesuatu, seseorang menginterupsinya. Cowok itu menatap sumber suara, pun dengan Ravina dan mematung ketika Ravina tersenyum sangat manis kepada orang tersebut sambil memeluknya dengan erat.             “Kean!”             Who the hell is Kean?! Elkansa membatin.             Di sisi lain, Virgo yang sedang memerhatikan Elkansa dan Ravina dari lobby, langsung berdecak dan memijat pangkal hidungnya saat dia melihat kedatangan Kean.             “Mungkin masalah lingkaran setan di antara lo, Fitri, adik gue dan Veloz udah selesai. Mungkin orang mengira kita semua masuk dalam lingkaran setan, kecuali Ravina. Tapi, nyatanya Ravina justru membuat lingkaran setannya sendiri. Bersama dengan Elkansa, Rado dan Kean yang baru aja muncul.”             Virgo melirik Leo yang baru saja tiba dan berdiri di sampingnya tersebut. Dia terpaksa mengakui kata-kata Leo barusan.             “Dan ini sama sekali nggak bagus.”             Sialnya, Leo pun terpaksa mengakui kebenaran dari kalimat Virgo barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD