Sampai rumah lumayan sudah agak malam, karena kami sempat mampir di sebuah rumah makan sederhana. Kenapa tak di restoran? Itulah uniknya Abi, walau uang melimpah, harta di mana-mana tak membuat dia sombong dan angkuh pada pengusaha kecil. Baginya lebih baik makan di rumah makan biasa asal higenis. Bukan karena pelit, tapi baginya dari pada makan di restoran yang kadang menunya sama tapi harganya lebih tinggi. Lebih baik membantu usaha kecil untuk terus berkembang dengan membelinya. "Umi!" panggilnya ketika aku hendak naik keatas. "Iya, Bi?" aku menghentikan langkahku. "Apa Umi jadi bicara sama Abi?" tanyanya. "Kalau Abi punya waktu dan ngga menganggu waktu istirahat Abi." "Nggak kok, Mi! Ayo...!" ajaknya yang langsung merangkul pundakku. "Malam ini Abi tidur tempat Umi, Adek ti

