08

1461 Words
Chapter 08 ….   "HAH?! APA-APAAN INI?!" teriakan cempreng Aji sukses menggetarkan kosan di selasa pagi ini. Lelaki itu menatap horor grupchat kosannya yang tiba-tiba aja dibagiin sebuah jadwal. "JADWAL MASAK?! MUKE GILE! GUA KAN GA BISA MASAK!"   Beberapa anak kosan yang juga bernasib seperti Aji menganggukan kepalanya, berduka cita dihati masing-masing. Ya ampun dah, kenapa ... KENAPA INI ADA JADWAL MASAK SEGALAA?!   GA CUKUP APA JADWAL PIKET YANG MENGHARUSKAN PENGHUNI KOSAN BANGUN PAGI-PAGI MESKIPUN KELAS DIMULAI JAM 2 SIANG?!   INI MALAH DITAMBAH JAWAL MASAK.   Aji rasanya pengen resign dari dunia aja. Tugas kampusnya udah bikin dia cape, kosan yang harusnya menjadi penghilang rasa cape malah ngebuat dia tambah cape.   "Kan ga perorang masaknya," balas Fathur—si pembuat jadwal masak kosan tersebut angkat bicara. "itu ada tim. Lagian kan kemarin aku udah ngadain vote di grup, siapa yang bisa masak dan yang enggak, dan ini disesuain sama kemampuan kalian. Pokoknya di satu tim itu minimal ada dua orang yang bisa masak dari empat manusia."   Syila lantas mengangkat tangannya. Dia bertanya, "Yang ga bisa masak ngapain?"   "Ya yang ga bisa masak bantuin yang bisa masak. Dari mulai siapin piring, bantu nyuci dan potong-potong bahan makanan," jawab Fathur. "ya pokoknya bagi-bagi tugas lah ya. Kan ada enam tim, masaknya buat sarapan sama makan malem doang."   "Yang ada kumpulan gimana?" tanya Abin bingung, Abin tuh termasuknya manusia sibuk. Banyak ikutan organisasi walaupun pas ikut cuman numpang haha hehe.   "Tadi aku udah nanya Bapak Jaelan, katanya yang ada organisasi, keperluan, kelas, ataupun pulkam bisa minta digantikan sama yang lain. Tapi konsekuensinya yang ga ikutan masak di jadwal yang seharusnya harus masak di jadwal temen yang ngegantiinya," ucap Fathur dengan penuh wibawa. Aura evalitbanknya kembari terlihat, Jovan jadi ngeri sendiri ngeliatnya. "dan semua aku yang ngawasin, jadi kalian ga bisa ngebohong."   Haris hanya menelan ludahnya, luntur sudah niatnya untuk kabur. Ia tahu betul, Fathur itu kalo ngawas teliti, dulu aja pas ospek kan barangnya Haris ga lengkap, langsung disamperin Harisnya.   "Mengerti?"   "Iya."   Setelah menganggukan kepala seperti yang lain, diam-diam Chan melirik Hana yang tampak cemberut, gadis itu tampaknya ogah bangun pagi kecuali untuk sholat subuh. 'Maaf ya Han. Gua ngelakuin ini demi kesehatan lo.'   Sebenarnya Chan yang menyarankan jadwal masak ini pada Fathur, mengingat minggu lalu Hana jatuh sakit karena makan sembarangan dan ketika Chan pantau Hana ga pernah sarapan di kosan, selalu makan ketika jam istirahat di kantin fakultas.   Padahal lambungnya bermasalah, tapi si pemilik lambung ga bisa ngejaganya. Menurut Chan mengadakan jadwal masak adalah cara terbaik menjaga Hana dari jauh, seengaknya kalo ada makanan di kosan dia ga mungkin kan makan di luar kan? Pasti makan sedikit mah. Apalagi Imma pernah bilang dulu pas sekolah Hana tipikal orang yang selalu sarapan.   "Han kita setim!" lamunan Chan pecah ketika dia mendapati Jeyhan menyenggol lengan Hana. Jeyhan tersenyum lebar kepada gebetannya. Tapi malah bikin Chan panic.   Sumpah, dengan kepanikan yang hqq, dia cepat-cepat menjadi nama Hana dilayar ponselnya. 'Shit.' batinnya mengumpat. 'Tim 2; Hana, Abin, Jeyhan, dan Gumelar. Masak: Selasa sore, kamis pagi.'   Chan is shaking. GA ADA NAMANYA DISANA, MAMANK! Chan malah satu tim sama Imma, Haris, dan Kenta.   Sabar, Chan mah sabar.   "Kang Jeyhan bisa masak emang?" tanya Hana bingung, "jujur loh, gua ga bisa masak yang susah-susah kaya sayur sop atau capcai. Bisanya cuman masak mie sama yang digoreng-goreng."   Batin Chan makin nangis aja pas denger gitu. Masalahnya Jeyhan itu jago masak, sama lah kemampuan masaknya kaya Chan. Setelah tau Hana ga bisa masak pasti si Jeyhan banyak modusnya sama Hana, pake alesan ngebantu Hana.   Rasanya pengen ganti jadwal, tapi Chan ga punya hak untuk itu. 'Mungkin ini salah satu cara dari Tuhan buat menyadarkan gua, kalo dia itu bukan buat gua.' Hana kembali menguap, gadis itu mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja, berusaha menahan kantuknya agar wajahnya tidak terpampang di akun @uibobounch.   Habisnya saat matkul sosiologi dasar, wajahnya pernah terpampang jelas di i********: tersebut dengan kondisi muka yang absurd, ya orang tidur aja gimana.   Ini semua karena Aji yang jahilnya minta ampun, tega banget manusia itu memoto Hana yang sedang ketiduran dan mengirimkan fotonya ke akun j*****m itu.   Pokoknya sekarang Hana bertekat untuk tidak tertidur. Terlebih, ini matkul umum, lebih banyak manusia disini dan pastinya anak kosan yang mengambil matkul yang sama dengannya sudah mempersiapkan ponselnya untuk memotret apapun yang bisa ditertawakan.   “Waspada Hana, jangan ngantuk,” katanya pada diri sendiri sembari mencubit pipinya. Untung kelas berakhir dengan cepat, katanya sih dosennya kepengen boker makannya kelasnya selesai 5 menit lebih awal.   "DOR!"   "Ga kaget tuh."   Jeyhan  menggembungkan pipinya ketika Hana malah merespon diluar dugaannya. Padahal dari tadi Jeyhan nungguin Hana keluar, tapi yang ditungguin malah sibuk sama ponselnya.   Lelaki itu penasaran, 'Ngapain sih?' jadinya dia mengintip sedikit apa yang dilakukan Hana. 'anjir webtoon! Apa webtoon lebih menarik dari gua?' batinnya meringgis karena lagi-lagi dia ditolak secara halus oleh Hana.   "Hei Yaman!" akhirnya Jeyhan menyusul Hana karena bocah kurang ajar itu malah jalan duluan.   Mendengar nama Ayahnya disebut, Hana langsung menatap Jeyhan dengan tatapan tajamnya. "Apa sih, Jajat?"   "Duh kok maba kurang ajar ya? Udah berani manggil nama ortu? Mau di kasih punnisment mereun."   Mimik wajah Hana berubah kembali, menjadi datar. Lah tadi yang ngeledek nama ortu duluan siapa coba?   "Iya lah tau. Maba mah salah mulu." balas Hana, nada bicaranya terdengar sarkas.   Jeyhan meresponnya dengan kekehan kecil. Wajah Hana kalau udah ngambek lucu ternyata. "Ih canda, jan ngambek gitu."   "Siapa yang ngambek, Kang? Gua mah ngantuk. Semalem ga bisa tidur." "Apa atuh? Mau ditidurin?" goda Jeyhan dengan wajah mesumnya.   Satu ujung bibir Hana terangkat. "Boleh, tapi kalo udah sah ya."   Aw pemirsa, apakah ini kode? Hati Jeyhan makin jedag-jedug saja. Baru kali ini loh dia deg-degan gara-gara cewek selain Ibunya.   "Kalo gitu, ijinkan Akang buat ngehalalin kamu."   "Lah, halalin? Emangnya gua babi?" Respon dari Hana memanglah sangat tak terduga. Bukannya ngefly, dia malah menjatuhkan harga diri Jeyhan sebagai raja gombal. "GA BABI JUGA KALI HAN!"   "Hahaha satu sama," balas Hana sembari menjulurkan lidahnya. Sayangnya Jeyhan malah semakin gemas dengan anak itu.   "Iya-iya, satu sama. Kantin yu," ajak Jeyhan pad akhirnya. "yang sampe terakhir taktir ya."   Terus cowok itu malah sprint, ninggalin Hana gitu aja. "EH BANGSUL!" Hana sesegera mungkin menyusul Jeyhan. "GUA BELOM GAJIANN!!"   Jeyhan senyam-senyum gaje disela larinya, beberapa orang di koridor bahkan terkena diabetes karena melihat senyumnya Jeyhan. Manis banget walaupun gaje juga. Gigi kelincinya sih yang bikin Jeyhan keliatan manis pake banget.   "Gua sampe duluan yeey," seru Jeyhan yang sudah duduk dibangku kantin, dan dua detik kemudian Hana sampai juga. "taktir ya Han."   "Enggak ah, gua belum bilang setuju juga."   "Kalo ga setuju kenapa ikutan lari?" Jeyhan mengangkat satu alisnya, senyuman nakalnya masih terpasang. Dia bahagia ngeliat Hana skatmat sampe kelagapan gini.   Iya juga sih, kenapa Hana harus ikutan lari padahal ga setuju? "E-em, refleks?"   "Amosokk?”   "Iya ih!" muka Hana beneran kusut sekarang, takutnya Jeyhan beneran minta dia buat ngebayarin makanannya. "y-ya pokoknya jangan minta taktir! Gue miskin."   "Buahahahahahh!" eh kampretnya Jeyhan malah ngaceng alias ngakak kenceng. Jeyhan lalu memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Hana, padahal mereka duduk berhadapan. "aduh Hana, lo tuh ga bisa diajak bercanda ya? Atau lo maunya gua seriusin?"   Sial, jantung Hana berasa otw copot sekarang, penyebabnya ya si Jeyhan Marzuki Waluya ini. Kenapa coba dia pake ngedeketin mukanya segala? Mau bikin Hana modyar? Duh sialnya dijarak begini Jeyhan keliatan ganteng banget!   "Hah?" astaga, Hana sampe ga bisa ngomong apa-apa sekarang. Apakah ini pesona asli seorang Jeyhan Marzuki Waluya?   Tangan besar Jeyhan terangkat dan mengelus rambut Hana. "Kamu lucu Han."   Batin Hana menangis seketika. 'ASTAGA, STOP! KALO GUA BAPER GIMANA ANJER?!' Hana ga mau baper pokoknya.   Anak asitektur itu lalu mengeluarkan sebuah topi putih berbentuk seperti kelinci, Jeyhan lalu memakaikan topi itu di kepala Hana. "Apalagi kalo pake ini, tambah imut kan?"   "Topi?" pertanyaan Hana dijawab hamya dengan anggukan oleh Jeyhan. Tak lama Jeyhan pun memakai topi yang sama.   "Nah sekarang kita couple an!" kata Jeyhan semangat. Dia meraih ujung topi kelinci tersebut, menunjukan bagian itu pada Hana. "coba deh pencet bagian ini. Nanti telinga kelincinya gerak. Kaya ginii."   Hana kini dibuat cengo oleh Jeyhan, seolah disihir—mata Hana ga bisa melihat ke arah lain selain Jeyhan. Jujur aja, Hana lemah sama orang ganteng. Manusiawi kan ya?   "Coba deh Han," suara Jeyhan kembali mengintrupsi Hana, membawa kesadaran gadis itu kembali. Tangannya yang hangat menuntun tangan Hana untuk memencet bagian ujung topi tersebut. "nah begini."   Mata Hana sedikit melirik ke atas, dia melihat bagian atas topinya bergerak. Matanya menatap lelaki itu kembali, kini Hana tertular virus senyuman Jeyhan.   Keduanya terlihat sangat serasi sekarang, menggenakan topi kelinci dan tersenyum bersama. Tak sedikit penghuni kantin merasa Hana dan Jeyhan cocok, namun tetap lebih banyak orang merasa sebal karena kedekatan mereka.   Termasuk Chan yang lagi duduk dipinggiran kantin, netranya memantau kedua manusia itu. Ekspresinya memang datar, namun hatinya kian dengki.   Chan tidak suka pemandangan dihadapannya, benci. Dia cemburu dengan mudahnya, namun ... Apakah Chan punya hak untuk itu?   Adanya perbedaan agama saja sebenarnya sudah menunjukan bahwa Hana bukan untuknya, tapi jauh dilubuk hatinya terdapat suatu pemberontakan, Chan ingin Hana, ia berharap Tuhan kelak akan menunjukam kuasa-Nya, bahwa Hana bisa menjadi milik Chan kelak.   Lelaki itu memejamkan matanya, bibirnya lalu terangkat—mentertawai dirinya sendiri. Setelah menghela napas dalam-dalam, netranya kembali tertuju pada Hana.   Sekali lagi, bisa kah Chan meminta pada Tuhan agar menjodohkan Hana dengannya meskipun dengan semua perbedaan ini?     ..   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD