1. Rey Lagi?!

1486 Words
Setelah melewati kepadatan jalanan kota Jakarta yang selalu padat akhir nya Rey dan Sheila sampai 5 menit sebelum gerbang di tutup. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor yang sudah ramai siswa dan siswi karena sebentar lagi akan upacara bendera yang rutin dilakukan setiap hari Senin. Setelah sampai di kelas nya mereka melihat satu meja kosong dan hanya itu yang tersisa membuat Sheila menghela nafas jengah sudah bisa dipastikan Sheila dan Rey akan duduk bersama lagi. "Masa gue duduk bareng lo lagi si Rey? Bosen ah gue." ucap Sheila dengan nada malas yang membuat Rey memutar bola mata malas, siapa manusia yang membuatnya telat? "Bodo amat suruh siapa lo kebo." Balas Rey acuh karena masih geram pada Sheila yang lagi lagi telat. Sheila mengerucutkan bibirnya sembari mengikuti Rey yang sudah berjalan menuju meja belakang yang tersisa, akhir nya mau tak mau Rey dan Sheila duduk bersama lagi di bangku paling belakang dan pojok. Baru saj Sheila mendudukan bokongnya bel pertanda upacara segera di mulai berbunyi membuat seluruh siswa dan siswi SMA Merdeka segera menuju ke lapangan dan langsung baris perkelas dengan rapih. Upacara di laksanakan dengan khidmat sampai selesai. Siswa siswi SMA Merdeka bubar dari lapangan, ada yang langsung ke kelasnya dan ada yang pergi ke kantin untuk sekedar membeli minum. Namun, berbeda dengan Rey dan Sheila mereka berdua masih berada di lapangan karena Sheila ingin membeli minum dan Rey tak ingin mengantarnya terjadilah pedebatan antara mereka berdua yang sebenarnya membuat beberapa orang memperhatikan nya. "Ayolah Rey lo mah sekarang gitu sama gue." Bujuk Sheila yang sepertinya masih belum ampuh. "Mls La gue cape pengen ke kelas aja. Lo beli sendiri aja kenpa si? Ga akan ada yang culik lo ini." Ucap Rey menolak ajakan Sheila untuk membeli minum. "Ih nanti gue keliatan banget jomblonya." Ujar Sheila yang tetap bersikeras mengajak Rey ke kantin. "Emang jomblo kan?" Tanya Rey sembari berjalan meninggalkan Sheila. "REY LO MAU KEMANA?! KO NINGGALIN GUE?" Tanya Sheila dengan berteriak karena Rey yang sudah jalan lumayan jauh karena langkahnya yang lebar. "BURUAN NANTI GUE MALES LAGI" Ucap Rey tanpa berbalik yang membuat Sheila paham dan langsung mengejar langkah Rey yang terlalu cepat menurutnya. "Wah buset Ka Sheila sama Ka Rey cocok deh beneran" "Ih Rey jalan berdua sama Sheila aja gue cemburu" "Buset muka ka Rey ganteng bangetttt" "Ka Sheila ko bisa secantik itu ya" Banyak bisik bisik adik kelas bahkan teman seangkatan nya yang mereka dengar saat mereka berdua jalan menyusuri koridor namun mereka berdua tidak perduli dan tetap melanjutkan jalan nya toh mereka sudah sering di perbincangkan dari kelas 10, ucapan-ucapan yang mengatakan mereka sepasang kekasih sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Sesampainya di kantin Sheila langsung duduk di kursi panjang yang memang disediakan tak lupa membuka ponselnya membuat Rey bingung dengan Sheila bukankah tadi Sheila mengajaknya ke kantin untuk membeli minum lalu kenapa Sheila tak membeli minum tapi malah terduduk? "Katanya lo mau beli minum kenapa lo duduk bukan nya beli?" Tanya Rey dengan nada malas dan datar andalan nya. "Beliin dong Rey gue mager." Ucap Sheila dengan puppy eyes nya yang lagi lagi membuat Rey ingin membuang Sheila saat ini juga. "Manja lo." Balas Rey sembari menjitak kepala Sheila namun tak urung juga Rey tetap membelikan Sheila minum. "Sakit b**o!" Marah Sheila sembari mengusap kepalanya yang terkena jitak Rey. Setelah membelikan Sheila minum Rey kembali lalu memberikan minuman pada Sheila yang langsung di sambut dengan gembira oleh Sheila. "Rey." Panggil Sheila yang sudah selesai dengan urusan nya dengan minuman. "Hm". Jawab Rey saat ia sudah duduk disebelah Sheila. "Mama sama Papa gue mau pergi." Kata Sheila yang membuat Rey langsung menoleh pada Sheila, Rey yakin Sheila minta ditemani di rumah karena tak berani di rumah sendiri. "Terus?" Tanya Rey dengan nada yang terdengar sangat dingin tapi itu sudah biasa bagi Sheila. "Ya lo temenin gue di rumah lah oon." Ujar Sheila yang sedikit terpancing emosinya.  "Yaelah biasanya juga lo tiba tiba nongol di depan kamar." Kata Rey yang sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Sheila jika Ia tak datang ke rumahnya membuat Sheila menyengir. Kriiing... Kriiiing... Bel berbunyi yang menandakan semua siswa dan siswi harus memasuki kelas, yang membuat Rey dan Sheila langsung meninggalkan kantin untuk menuju kelas mereka. Kelas Sheila,Alifa dan Tasya memang terpisah jadi mereka belum bertemu hari ini. "Oke sekarang kerjakan halaman lima lalu kumpulkan." Titah Pa Han selaku guru Biologi. "Raka nanti tolong simpan di meja saya ya." titah Pa Han lagi pada Raka yang memang sudah di  pilih untuk menjadi ketua kelas. "Siap pak." jawab Raka dengan tegas. "Karena jam pelajaran saya sudah selesai mari kita akhiri pertemuan hari ini, jangan lupa kerjakan tugas yang saya beri dan kumpulkan. Selamat siang." Pamit pa Han sembari berjalan keluar kelas dengan membawa buku paket yang ia jinjing. "Selamat siang pak." Jawab mereka dengan serempak. "Hfft" Sheila merentangkan kedua tangan nya lalu menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan nya saat sudah tak lagi melihat Pak Han. "Heh! Kerjain tugas nya dulu lo malah tidur!" Ucap Rey sembari menjitak kepala Sheila yang sedang memejamkan matanya. "Ish nanti ajasi ngantuk gue." Kesal Sheila karena selalu ada saja yang mengganggu waktu tidurnya. "Lo kerjain atau ga gue bukain pintu kalo lo ke rumah." Ancam Rey yang tepat sasaran membuat Sheila langsung membuka bukunya kembali dan mulai mengerjakan soal meskipun banyak sumpah serapah yang terlontar untuk sahabatnya itu. Sekitar dua puluh lima menit Sheila berpusing pusing dengan tugas Biologinya akhiranya tugas itu pun selesai. "Ko lo biasa ajasi?" Tanya Sheila pada Rey karena wajah Rey terlalu santai dalam mengerjakan tugas Biologi yang menurut Sheila itu sangat sulit. "Terus gue harus apa? Jungkir balik tengah lapangan? Atau berenang di tengah lapangan?" Tanya balik Rey yang berhasil membuat Sheila geram. "Au ah gue ngantuk." Ucap Sheila yang kembali menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan nya. "Nanti bangunin gue klo bel istirahat bunyi."Titah Sheila pada Rey. "Hm." Dehem Rey yang sudah mulai memainkan game yang berada di ponselnya. Kriiiinggg... Kriiiiinggg... Bel istirahat akhir nya berbunyi semua murid di kelas Rey dan Sheila telah keluar semua hanya menyisakan Rey dan Sheila yang tengah tertidur pulas. Mengapa Rey tak membangunkan Sheila? Ah sebenarnya Rey ingin melakukan hal itu namun setelah melihat wajah damai Sheila saat tidur ia tak tega, akhirnya Rey membiarkan Sheila tidur dan ia pun tak berniat pergi ke kantin. "She." Baru saja Alifa ingin berteriak namun Rey sudah menatapnya tajam yang membuat ia mengurungkan niat nya. "Dari kapan tidur?" Tanya Tasya pada Rey yang sudah kembali fokus pada ponselnya. "Tadi." Jawab Rey seadanya.  "Kenpa ga di bangunin si? Kasian kali nanti dia laper" tanya Tasya lagi yang membuat Rey kesal karena harus menjawab pertanyaan nya. "Kasian." Kata Rey yang tetap menjawab meski malas. Tasya dan Alifa hanya Ber "oh" saja toh tanya-tanya pada Rey itu tak seru ia hanya akan menjawab dengan satu kata sangat menyebalkan bukan? Karena Sheila yang tak kunjung bangun Alifa dan Tasya memutuskan untuk pergi ke kantin tanpa mengajak Sheila karena demi apapun mereka sudah terlalu lapar untuk menunggu lebih lama lagi. Kriiinggg... Kriiingggg... Istirahat telah selesai namun Sheila tak kunjung bangun sampai akhir nya Pa Tirta masuk dan dengan terpaksa Rey membangunkan Sheila yang sepertinya masih tak terganggu dengan keadaan kelas yang sudah ramai. "La bangun ada guru." Ucap Rey lembut sembari menggoyangkan tangan Sheila.yang membuat Sheila mengerjapkan mata nya. "Emang udah istirahat?" Tanya Sheila dengan suara serak khas bangun tidur. "Udah." jawab Rey enteng. "Ko lo ga bangunin gue?" Tanya Sheila lagi dengan suara yang tertahan karena hampir akan berteriak. "Kasian." Jawaban yang sama dengan jawaban pada saat teman Sheila bertanya tadi. Akhirnya jam pulang telah tiba. Seluruh siswa siswi SMA Merdeka langsung berdesak desakan di parkiran namun berbeda hal nya dengan Rey dan Sheila yang menunggu parkiran sepi. Sekitar lima belas menit parkiran sudah sepi membuat Rey dan Sheila mulai menyusuri koridor yang telah sepi karena sebagian siswa sudah pulang kerumahnya. "Woi Rey." Panggil seseorang dari arah belakang sontak membuat Rey dan Sheila berbalik secara bersamaan. "Weh makin lengket aja kalian berdua." Goda Dhafi pada teman nya, ya yang memanggil Rey adalah Dhafi. "Yeuu dari dulu kan kaya gitu oon." Ucap Revan dengan senyum tengilnya. "Baru mau pulang lo berdua?" Tanya Revan pada Sheila dan Rey. "Hm." jawab Rey yang lagi-lagi yang berdehem untuk menjawab pertanyaan. "Oh ya udah pulang gih sono." Usir Dhafi yang membuat Sheila dan Rey memutar bola mata malas. "Lah kan lo yang manggil Rey tadi pea." Ucap Sheila mengutarakan kekesalan nya pada teman nya Rey yang bernama Dhafi. "Biasa aja dong ga usah nyolot." Ucap Dhafi dengan nada bercanda yang malah membuat Sheila semakin kesal. Dhafi dan Sheila memang sangat suka berdebat, selalu banyak topik untuk mereka jadikan bahan debat tak jarang juga perdebatan mereka berlangsung dengan waktu yang lama. Terkadang teman-teman mereka yang lain harus ikut turun tangan untuk memisahkan mereka berdua. Rey dan Sheila akhirnya melanjutkan perjalanan nya yang tertunda karena Dhafi yang tiba-tiba memanggil Rey. Rey langsung menancap gas untuk pulang kerumah saat Sheila sudah merasa nyaman dengan duduknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD