2. Si Dingin

2026 Words
Malam ini di kamar bernuansa abu abu Sheila tengah berkutat dengan tugas-tugasnya yang babhkan sudah menumpuk pada hari pertama masuk sekolah setelah libur hampir dua minggu. Tring... Suara ponsel Sheila mampu memecah konsentrasinya ia membiarkan ponsel nya terus berbunyi tanpa memiliki niat untuk membukanya. Setelah berkutat hampir tiga puluh menit akhirnya tugas tugas Sheila selesai semua. Sheila langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Geng 3S Tasyaaa: Woi setan! Alifa chantika: Paansi lo ganggu gue ngerjain tugas aja. Tasyaaa: Lo ngerjain tugas? Yang bener? Alifa chantika: Ngerjain dikit daripada kaga sama sekali keliatan malas nya. Tasyaaa: Si Sheila kemana nih? Alifa chantika: Jangan tanya, dia  pasti lagi ngerjain tugas kalo ga dikerjain ayang Rey bisa ngamuk kekek:v Tasyaaa: Bisa aja lo haha Sheila winata: Heh apaan lo?! Ayang Rey ayang Rey pala lo gendut! Alifa chabtika: Maap La, orang sabar pantatnya lebar. Sheila winata: Hm Tasyaaa: Tidur lo pada udah malem nih ga usah bergaya mau begadang kaya punya doi aja. Alifa chantika: Siap Umi:" Sheila winata: Siap Bun:" Tasyaaa: Kurang ngajar lo pada! Sheila hanya membaca chat terakhir dari Tasya ia langsung mematikan ponsel nya dan menyimpan nya di nakas. Setelah itu Sheila menarik selimutnya hingga menutupi sebagian tubuh mungilnya lalu Sheila terbawa ke alam mimpi. ----- Tok... Tok... Suara ketukan pintu yang membuat Sheila merasa terganggu pelan-pelan membuka matanya yang masih terasa sangat mengantuk, setelah kejadian kemarin Sheila bertekad untuk tidak bangun siang lagi agar Rey tak marah padanya. "De bangun udah siang." Suara Andira yang terdengar dari balik pintu kamar Sheila. Sedikit informasi Andira tak jadi berangkat keluar kota kemarin jadi hari ini mereka masih berada di Jakarta. "Udah bangun." jawab Sheila dengan suara serak khas bangun tidur. "Ya udah cepet mandi di tungguin sarapan di bawah." Perintah Andira pada anak perempuan nya itu yang langsung dikerjakan oleh Sheila. Setelah selesai semuanya Sheila turun untuk sarapan, melihat kedua orang tuanya yang seperti biasa sudah duduk di kursi nya masing-masing untuk menunggunya turun. "Selamat pagi Mama Papa." Sapa Sheila pada kedua orang tuanya. "Pagi sayang." Balas Mama dan Papa bebarengan. Akhirnya tak ada yang membuka suara sampai acara sarapan itu berakhir. Setelah selesai dengan sarapannya Sheila pamit kepada kedua orang tuanya. "Ma Pa Sheila berangkat dulu ya." pamit Sheila sembari mencium kedua tangan orang tuanya. "Udah ya Lala berangkat. Assalamualaikum." Ucap salam Sheila berteriak karena Sheila sudah berada di depan pintu utama setelah memakai sepatu. "Waalaikumsalam." Balas Mama dan Papa bebarengan dengan berteriak juga. Sheila menutup pagar rumah nya kembali setelah ia berada di luar rumah, sebenarnya ada satpam tapi sepertinya Pak satpam yang biasa berjaga didepan sedang mengambil kopi. Sheila bersenandung kecil selama perjalanan nya ke rumah Rey tak perlu waktu lama untuk sampai karena rumah mereka yang bersampingan. Sudah di depan pintu rumah Rey Sheila langsung masuk tanpa memencet Bel atau mengetuk pintu.  "Bundaaaaa." Teriak Sheila saat melihat Tiara-Mama Rey sedang membereskan bekas sarapan. "Aduh Lala jangan suka bikin bunda kaget nanti kalo bunda jantungan gimana?" Tanya Tiara dengan wajah pura pura merajuk. "Maap Bun Sheila kangen banget deh sama Bunda." Ucap Sheila sembari memeluk Tiara dari belakang dengan wajah yang sengaja di cembulkan dari samping. "Halah segala kangen orang tiap hari ada disini terus kamu nya aja yang ga pernah kesini." Tiba-tiba suara berat milik Dino-Papa Rey memasuki obrolan antara Sheila dan Tiara. "Papaaaa." teriak Sheila kedua kali nya saat melihat Dino. "Ish teriak teriak mulu de." ucap Dino sembari mengusap telinganya. Ya jika ngobrol dengan Dino seperti dengan teman sendiri bahkan jika Sheila boleh jujur mengobrol dengan Dino lebih asik di banding dengan Rey alasan nya adalah karena Dino selalu menyahuti semua ucapan Sheila di banding Rey dia akan sesekali saja menyahuti ucapan Sheila. "Hehe" cengir Sheila hingga menampilkan gigi rapihnya. "Mau nyari Rey de?" Tanya Dino yang sudah sangat paham tujuan anak teman sekaligus tetangganya jika berkunjung kerumahnya. "Iya pa, Rey mana?" Tanya balik Sheila pada Dino. "Ada di kamar susulin aja sana." Suruh Dino karena Rey belum keluar dari kamar setelah sarapan tadi padahal jam sudah menunjukan pukul 06.30. Tanpa ucapan apapun lagi Sheila segera menghampiri kamar Rey yang ada di lantai dua setelah menemukan pintu berwarna putih dengan tulisan 'Reyhan' Sheila langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Rey." panggil Sheila tiba-tiba membuat Rey terlonjak kaget. "Lo masuk ketuk dulu pintunya klo gue lagi ga pake baju gimana?" Omel Rey.  "Udah biasa liat lo ga pake baju." Ucap Sheila dengan tampang tanpa dosanya. "Najis. Mau ngapain lo?" Tanya Rey pada Sheila setelah Sheila duduk di tepi ranjang milik Rey. "Mau ngajak lo ke sekolah lah emang lo ga mau sekolah apa?" Tanya Sheila balik dengan suara yang naik satu oktaf. "Nikah sama lo aja gimana?" Goda Rey dengan menaik turunkan alisnya dan tampang menyebalkan yang sangat jarang terlihat. "Kaga mau gue nikah sama lo bisa bisa anak gue jadi kulkas kalo punya bapa macam lo!" Sarkas Sheila. "Gue juga ga mau punya istri manja macam lo!" Tukas Rey balik dengan wajah yang sudah kembali seperti biasa. Datar. Sheila tak menyahuti lagi ucapan Rey. Tanpa mengatakan apapun Rey keluar dari kamarnya meninggalkan Sheila sendiri yang masih terdiam di kasurnya ntah apa yang membuat Sheila tiba-tiba diam. Satu detik Dua detik Tiga detik "REYYYYYYYYY!" Teriak Sheila yang suaranya mampu mengguncang bumi. Sheila langsung berlari menghampiri Rey yang sekarang sudah duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu Sheila. "REY KO LO NINGGALIN GUE SIH?!" Sungguh suara Sheila membuat gendang telinga Rey berasa ingin pecah. "Ayo." ajak Rey tanpa memperdulikan ucapan Sheila sebelum nya. Karena Sheila masih tak bergerak akhirnya Rey menarik Sheila seperti menarik kambing hingga Sheila masuk ke dalam mobil Rey. Akhirnya mereka pergi ke sekolah. Setelah melewati perjalanan yang tak cukup lama akhirnya Rey dan Sheila sampai sekolah dengan selamat. Mereka berdua berjalan berdampingan di koridor. Seperti biasa Rey dengan wajah dingin nya dan Sheila dengan semua tingkah nya dari mulai menyapa orang-orang dengan suara cempreng nya dan yang lain. "Cielah masi pagi udah berduaan aja l" Suara yang sangat familiar di telinga Sheila dan Rey menyapa gendang telinga mereka berdua. "Sirik ae jomblo!" Ucap Sheila seolah melupakan statusnya yang juga sama-sama jomblo. "Dih au amat dah gue ke kelas duluan aja bye." Ucap Tasya yang tak ingin menjadi kambingcongee pagi ini jika harus berjalan bersama dengan Rey dan Sheila. Setelah Tasya menghilang Rey dan Sheila melanjutkan kembali perjalanan menuju kelasnya yang sempat tertunda karena gangguan Tasya. Sesampainya di kelas Rey dan Sheila langsung duduk di tempatnya, Rey yang tak banyak bicara langsung memainkan game yang ada di ponsel nya sedangkan Sheila terdiam seperti orangbegoo. Cukup sudah Sheila bosan. "Rey." Panggil Sheila dan Rey hanya membalas dengan deheman seperti biasa. "Ajakin gue ngobrol kek gue bosen." Ungkap Sheila. Ya dia merasa bosan karena tak ada yang mengajaknya mengobrol, biasanya ada kedua teman nya tapi sekarang? Mereka di pisahkan. "Ngobrol apa?" Tanya Rey pada Sheila dan memasukan kembali ponselnya nya ke saku celana abu-abu nya. Memang Rey itu memiliki sikap yang dingin dan tak pedulian tapi jika menyangkut sahabat nya yang satu ini Rey bisa berubah 180 derajat dari biasanya. Jadi jangan salah jika banyak yang iri dengan posisi Sheila karena bisa banyak mengobrol dengan Rey tanpa ada suara dingin Rey yang terdengar di gendang telinga. Ah, sebenarnya semua itu salah suara dingin milik Rey terkadang tetap ada meskipun sedang bersama Sheila. "Ga tau." Balas Sheila dengan wajah polos nya. Pletak. Teloyoran mendarat mulus di atas kepala Sheila. "Sakitbegoo!" Kesal Sheila sembari mengusap kepalanya yang terkena teloyoran Rey, tak terlalu kencang namun cukup berasa di kepala Sheila. "Bodo amat." ucap Rey acuh tak acuh. Kriingg... Kriingg... Suara Bel pertanda akan di mulainya kegiatan belajar mengajarpun sudah berbunyi semua siswa langsung memasuki kelasnya masing masing. Dengan wajah santainya Bu Nina selaku guru seni budaya memasuki kelas 11 IPA 1. Pelajaran terus berlangsung, memang pelajaran seni budaya itu pelajaran favorit Sheila namune ntah mengapa hari ini ia sangat bosan dengan pelajaran seni budaya. Bu Nina masih terus menjelaskan bahkan ada yang sudah terlelap masuk ke alam mimpi namun Bu Nina tak menyadarinya. Perlahan lahan mata Sheila pun terserang virus kantuk ia menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan tangannya sendiri. Sheila mencoba memjamkan matanya sedikit lagi ia akan berhasil sebelum alhirnya  Pletak! Sebuah pulpen meluncur dengan indah di kepala Sheila, pelakunya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat super es di sebelah nya yaitu Rey. Sheila menatap tajam kearah Rey yang merasa tak ada apa-apa bahkan mukanya terlewat santai seperti dia tak melakukan apapun sedangkan Sheila sudah mengibarkan bendera perang sekarang. Saat Sheila ingin membuka mulutnya tiba-tiba ada suara lain yang terdengar lebih dahulu di telinganya siapa lagi jika bukan suara Bu Nina. "Sheila Reyhan kalian bisa tolong Ibu ambil buku Seni budaya di perpustakaan?" Tanya Bu Nina pada Sheila dan Reyhan. Mendengar itu mata Sheila langsung berbinar karena dia bisa keluar kelas meskipun sebentar. Tak ada yang di fikirkan lagi Sheila langsung mengiyakan perintah Bu Nina. "Bisa banget bu." Jawab Sheila tanpa persetujuan Rey. "Ya sudah silahkan ambil sekarang." Perintah Bu Nina lagi. Tanpa banyak omong Sheila langsung menarik tangan Rey untuk keluar kelasnya dan menuju perpustakaan. Sheila dan Rey menyusuri koridor yang sepi karena sekarang kegiatan belajar mengajar masih berlangsung hanya ada siswa yang sedang pelajaran pjok saja berada di luar. Mereka terus menyuri koridor tanpa ada yang membuka suara sedikit pun Sheila yang biasanya berisikpun kali ini diam entah lah Rey tak mengerti tiba-tiba saja sikap Sheila seperti ini padahal tadi dia yang bersemangat untuk keluar kelas. Setelah sampai di depan pintu perpustakaan mereka berdua langsung memasuki ruangan yang penuh dengan buku. Menyusuri rak-rak yang ada di ruangan tersebut hingga akhirnya mereka menemukan buku yang di perintahkan Bu Nina. Mereka mengambil buku itu sesuai dengan jumlah murid di kelasnya tentu saja Rey membawa lebih banyak di banding Sheila. Setelah berbicara pada penjaga perpustakaan mereka berdua kembali ke dalam kelas. Namun saat mereka berdua sedang berjalan tiba-tiba Bruk! Sebuah bola basket mendarat di kepala Sheila yang membuat kepala Sheila merasakan pening yang luar biasa buku buku yang ia bawa jatuh berceceran di lantai dan gelap, Sheila langsung terjatuh dan berhasil di tahan oleh Rey sebelum badan Sheila mendarat di lantai yang dingin. Rey langsung membopong Sheila menuju ruang uks melupakan buku-buku tebal yang terjatuh di lantai. Sesampainya di UKS Rey langsung menidurkan Sheila di atas brankar UKS. Siswa yang sedang bertugas langsung menempelkan aroma terapi pada hidung Sheila sedangkan Rey langsung keluar dari ruangan UKS dan menuju tempat terjadinya Sheila terkena lemparan bola basket mengambil buku-buku yang berjatuhan dan kembali ke kelas untuk izin menemani Sheila di UKS. Beberapa menit kemudian Sheila bangun dari pingsan nya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Rey yang melihat Sheila sudah sadar pun langsung memberinya minum. "Apa yang sakit?" Tanya Rey pada Sheila setelah selesai memberinya minum dan meletakan kembali gelas itu pada nakas yang terletak di samping brankar. "Kepala gue pusing banget anjir!" Jawab Sheila dengan nada ngegas nya. "Gila! Lo baru bangun dari pingsan aja ngegas heran gue." Ucap Tasya yang tiba tiba datang. Tasya mengambil alih tempat duduk Rey. Tanpa aba aba Rey keluar dari uks memberi waktu kepada mereka bertiga. Mengapa bisa Tasya dan Alifa ada di sini? Ah setelah bel lima menit yang lalu mereka berdua mendengar tentang Sheila yang terkena hantaman bola basket dari teman sekelas Sheila. Mereka yang tadinya akan pergi ke kelas Sheila untuk mengajak makan di kantin jadi berbelok arah menuju UKS. "Ko bisa kena bola si La?" Tanya Alifa. "Ga tau gue tiba-tiba aja tuu bola ngegudubrak di kepala gue sangka ring basket kali kepala gue" jawab Sheila "Ngawur lo!" Ucap Tasya sembari memukul tangan Sheila dengan lumayan kencang. "Anjir lo! Sakitgeblekk!" Kesal Sheila pada Tasya karena seenaknya memukul tangannya. "Eh kantin yo. Lo udah gpp kan La?" Tanya Alifa karena perutnya sudah mengamuk minta di beri jatah. "Rey mana?" Tanya Sheila balik.  "Ga tau nyamperin sohibnya kal.i" jawab Tasya dan Sheila hanya ber-oh. Akhirnya mereka meninggalkan UKS dan pergi menuju kantin karena ya tak bisa di pungkiri perut Sheila pun sudah berteriak meminta jatah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD