Chapter 2 - Kuliah?

661 Words
Balik lagi ke acara ambil-mengambilkan piring tadi. Sekarang Sabtu siang dan kami sedang makan siang bersama. Yang masak? Nisa lah, siapa lagi, tentunya dibantu Ibu sama Ira. Ningrum belum balik. Katanya sih ada tugas kuliah atau apa gitu. Entah lah. Putri mungkin balik agak sorean. Entah kenapa tu anak sekarang jadi rajin balik. Dulu awal-awal kuliah, paling cepat sebulan sekali baru balik. Kalau sekarang, seringnya seminggu sekali, paling lama dua minggu sekali. Aku pernah nanya soal itu, alasan si Putri sih, kuliah mulai kurang, jadi bisa lebih sering pulang. Aku cuma diem dan pura-pura bloon. Ini kan awal tahun ketiga kuliah, Ira sama Putri ngambil S1, kecuali mereka memang c*m laude, harusnya ini kan waktu sibuk-sibuknya mereka kuliah. Aku pernah ngingetin juga sih, jangan dipaksain, ntar malah kecapekan. Dia jawabnya, nggak pa-pa nanti juga terbiasa. Balik lagi ke meja makan. Nisa mengulurkan piring ke arah Ira. Ira lalu mengambilkan nasi untukku. Kalau lauk, aku ngambil sendiri lah. "Han," panggil Ibu pelan. "Ya Bu," jawabku sopan. Harus sopan cuy, ini Ibu lho. Surga di telapak kakinya. "Kamu beneran nggak mau kuliah lagi?" tanya Ibu. Aku menghela napas. Ibu, udah berapa kali sih nanya? keluhku dalam hati. "Nggak Bu, Handoyo mau usaha aja," jawabku pelan, sama seperti kemarin-kemarin. Ibu menghela napas dan aku sudah bisa menebak kata-kata Ibu selanjutnya. Bukan karena aku sakti atau pakai kalung laknat itu lagi. Tapi karena ini sudah kesekian kalinya Ibu membujukku. Aku kini juga sadar kalau mungkin kegigihan Ibu yang membuat Bapak menyerah, selain kecantikannya pasti. "Istrimu, kedua calonmu, adekmu, semua kuliah, cuma kamu sendiri yang nggak," lanjut Ibu sesuai perkiraanku. Aku cuma diam saja. Ira dan Nisa pura-pura tak mendengar obrolan kami. Ya iyalah, kalau mereka berani ikut-ikutan, hmmm, lihat saja nanti pembalasanku pas sudah di kamar. Wkwkwkwk. Ibu lalu kembali menarik napas panjang ketika Nisa meletakkan piring berisi nasi di depannya. "Makan dulu Bu," kata Nisa pelan. Kami pun makan siang sembari mengganti topik pembicaraan. "Nis kamu kan D3. Kapan planning lulusnya?" tanya Ibu. "Bentar lagi Bu, mungkin setahun lagi," jawab Nisa sumringah. Jelas sumringah lah doi. Kan Abah dah janji, kalau Nisa lulus kuliah terus dah dapet pekerjaan mapan, dia boleh married. "Nanti malam nginep?" tanya Ibu. Muka sumringah si Nisa langsung meredup. Aku nggak ikut-ikutan. Wkwkwkwk. ***** "Ra, kayaknya kita perlu cari rumah sendiri deh," kataku malam itu sambil merapikan tempat tidur. Ira membantuku dan cuma menganggukkan kepalanya. Salah ding, Ira yang merapikan, aku yang bantuin dia. "Nanti gimana ngomongnya sama Ibu, Mas?" tanya Ira. "Itu yang bikin bingung. Ira ada saran?" tanyaku. "Nanti deh Ira pikirin," jawab Si Kalem. "Emangnya kenapa sih Mas musti cari rumah sendiri?" tanyanya kemudian. "Nggak leluasa kalau pas lagi ehm ehm. Takut kedengeran Ibu. Musti nahan-nahan," kataku sambil tersenyum m***m. "Apaan sih Mas? m***m mulu otaknya," protes Si Kalem dengan muka yang memerah sambil memukulkan guling yang ada ditangannya pelan ke arahku. "Eh, kalau nggak dimesumin kapan nanti dapat Aan sama Ira Junior?" kataku. "Ihhhh," jawab Ira yang mukanya makin memerah. Aku emang seneng banget godain doi. Itung-itung bikin mood-nya dapet dulu sebelum hidangan utamanya nanti. "Tumben Putri kok belum balik ya?" gumam Ira pelan setelah selesai merapikan tempat tidur. Dia lalu membuka jilbab dan bajunya. Aku bisa melihat wajah manis dan cantik istriku seutuhnya lagi. "Mungkin sibuk," kataku. "Coba Mas video call," kata Ira ngingetin aku. "Hu um," jawabku. Memang sejak kejadian waktu itu, aku jadi lebih perhatian ke Putri. Sedikit merasa bersalah gitu. Kata Ira, kalau ada cewek coba-coba selingkuh, jangan hanya salahin ceweknya yang nggak bisa nahan godaan, mungkin di kitanya yang kurang ngasih perhatian. 'Kita' yang dimaksud dia tu ya aku. Siapa lagi coba? Ira rebahan di kasur dan aku tidur di sebelahnya. Aku mengirim pesan chat ke Putri sambil baringan di sebelah Ira. Aku: Sibuk Put? Nggak nyampe semenit, Putri dah bales. Putri: Nggak. Maaf Yang, Putri pulang besok, ini ada asistensi mendadak tadi sore. Asistensi? Belum juga aku nanyain bisa dicall nggak. Hpku langsung getar karena panggilan masuk dari si Cantik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD