Tidur Di Tempat Tidur Yang Sama

1135 Words
Tuan Kin menunjuk tempat tidur. “Ya sudah kalau tidak ada. Sekarang naiklah ke atas tempat tidur.” Raihana tersentak. “Lho kok masih naik ke tempat tidur?” “Ya,iya. Kita ‘kan mau tidur.” “Tapi tadi anda setuju kalau hukumannya ditunda.” Tuan Kin menggeram. Raihana dianggapnya sudah terlalu cerewet dan mengaturnya. Dengan gemas,  secepat kilat Tuan Kin membopong Raihana ke tempat tidur dan menaruh gadis itu sana. Tapi baru saja tubuhnya didaratkan pada tempat empuk itu, Raihana langsung bangun kembali. Gadis itu bergerak hendak turun dari tempat tidur. Namun, baru saja kakinya hampir menyentuh permukaan karpet, Tuan Kin lansung menunjuknya dengan rahang mengencang. “Berani kamu turun dari tempat tidur, aku akan melakukannya malam ini!” Raihana mengkeret dan langsung menarik kakinya kembali ke atas tempat tidur. “Iya, iya tidak jadi.” Dengan mata yang terus mengawasi Raihana, Tuan Kin lalu berjalan memutari tempat tidur dan naik dari sisi yang berbeda. Tak beda dengan Tuan Kin, Raihana pun terus mengawasi Tuan Kin, bahkan sampai pria itu naik ke atas tempat tidurnya. Tuan Kin menarik selimut. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku yang punya kamar ini tapi matamu mengawasiku seolah aku ini seorang pencuri.” Raihana menunduk pandang. “Oh eh maaf.” “Kalau begitu, apalagi yang kamu tunggu? Ayo tidur!” Tuan Kin merentangkan tangan kanannya. “Sini tidurlah di dadaku!” Mata Raihana melebar sembari melirik d**a Tuan Kin yang terlihat bidang dan kokoh. “Oh, hm, tidak. Aku…aku tidur di sebelah sini saja.” Buru-buru Raihana membaringkan dirinya dan menarik selimut. Tak lupa Raihana menaruh guling ke tengah-tengah mereka sebelum akhirnya dia memiringkan tubuhnya. Melihat itu, Tuan Kin tersenyum geli. Tingkah Raihana terlihat lucu dimatanya. Jujur jika ingin mengikuti kata hatinya, dia akan membawa Raihana ke dalam pelukkannya atau bahkan menikmati tubuh gadis belia itu. Tapi entah mengapa, tiba-tiba rasa iba itu menyentuh hatinya. Akhirnya, dia bersedia mengundur waktu hingga besok. Dia rasa, itu juga baik untuk menyiapkan mental Raihana. Tuan Kin menarik tangannya dan melipatnya ke bawah kepala. Lalu pria berwajah tampan itu menghela nafas panjang sembari melirik Raihana yang tampak belakangnya saja. Tapi satu hal yang pasti, hatinya mulai terisi. Rasa hampa itu mulai terkikis sejak hari ini. Sementara itu, sebenarnya Raihana belum tidur. Jangankan tidur, matanya masih tampak segar. Rasa takutnya membuatnya tidak merasa mengantuk sedikit pun. Lagipula, Raihana memang tidak ingin dirinya tidur malam ini. Dia harus tetap waspada untuk memastikan Tuan Kin tidak melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki. Detik demi detik berlalu. Begitu pun dengan menit dan jam. Malam yang menakutkan buat Raihana pun akhirnya berakhir. Ketika jam menunjukkan pukul setengah lima pagi, Raihana yang tidak tidur sama semalaman itu, langsung bangun dan mengganti baju tidurnya dengan baju seragam pelayan kembali. Setelahnya, dia berlari terburu menuju pintu. Sayangnya, meskipun sudah menggerak-gerakkan handelnya beberapa kali, pintu tidak bisa dibuka. Raihana mendengus kecewa. “Huh, ternyata pintunya masih dikunci dari luar ya?” Tapi sedetik kemudian matanya berbinar. “Kalau begitu, mungkin ada orang di balik pintu ini.” Tak menunda lagi, Raihana langsung berseru. “Hallo! Adakah orang di luar?! Tolong bukakan pintunya dong!” “Kamu berisik sekali sih?! Ini ruang kedap suara! Kita bisa mendengar suara dari luar tapi luar tidak bisa mendengar suara kita!” Raihana terhenyak. Bola matanya lalu bergerak ke kanan dan kiri dengan lincah. ‘Tuan Kin.’ Raihana berbalik badan dan langsung tersenyum kaku. “Maaf tuan jika mengganggu tidur anda. Tapi aku mau keluar. Ini sudah subuh.” “Memangnya kalau subuh kenapa?” Tuan Kin melangkah mendekat pada Raihana. “Hm, aku harus kembali bekerja.” Tuan Kin berhenti tepat di depan Raihana. “Kamu bekerja padaku bukan?” Raihana mengangguk cepat. “Iya.” “Kalau begitu kamu akan mengerjakan apa yang aku perintahkan. Jadi kalau aku belum mengusirmu dari kamar ini, maka berbaringlah dengan manis di tempat tidur. Kamu masih bisa melanjutkan tidurmu.” Raihana menggeleng cepat. “Ta-tapi tuan, a-aku harus sholat subuh. Aku yakin tak ada mukena di sini.” Mendengar itu, Tuan Kin tercenung. Pria itu tampak sedang berfikir. Setelah beberapa saat, Tuan Kin lalu menggerakkan tangannya ke arah Raihana, tentu saja Raihana langsung menghindar. Tapi gadis itu langsung merasa malu karena ternyata Tuan Kin bukan hendak menyentuhnya melainkan memegang handel pintu. Pintu pun terbuka. Sepertinya, sidik jari Tuan Kin-lah yang menjadi kunci kamar ini. Raihana langsung sumringah. “Terima kasih tuan.” Raihana melangkah keluar. “Eit tunggu dulu.” Raihana menoleh. “Ya tuan.” Tuan Kin menunjuk nampan bekas peralatan makan semalam. “Bawa ke dapur!” Raihana nyengir. “Ah, iya aku lupa.” Dia lalu bergerak mengambil nampan itu. Tapi begitu langkahnya sampai di pintu, Tuan Kin kembali memanggil. “Ada satu hal lagi.” Raihana kembali menoleh. “Ya tuan. Apalagi itu?” “Kamu hanya aku beri waktu untuk mandi dan sarapan. Setelah itu bawa sarapanku kemari dan bantu aku pakai baju.” Mata Raihana melebar. “Apa? Bantu pakai baju? Ta-tapi aku—“ “Jangan banyak protes! Mulai hari ini kamu adalah pelayan yang mengurusi semua kebutuhanku! Dari mulai pakaian, makan, kamar, dan kesehatanku!” Tuan Kin berbalik dan melangkah ke dalam tanpa dosa, meninggalkan Raihana yang kini kebingungan. “Apa? Pelayan yang mengurusi semua kebutuhannya?” Gumam Raihana lirih. “Kalau itu tugasku, itu artinya aku akan sering berdekatan dengannya. Aduh, mati aku. Mengapa aku harus sering bersama monster m***m itu?” *** “Eh, semalam pelayan baru itu tidur dengan Tuan Kin lho.” “Oya?” “Iya. Menurut kalian nih, kira-kira pelayan baru itu diapain?” Para pelayan itu saling pandang satu sama lain. Bingung untuk memberikan pendapat. Karena selama ini, Tuan Kin dikenal sebagai pria yang dingin dan tidak tertarik dengan wanita meski secantik dan seseksi apa pun wanita itu. Tapi kejadian semalam, sontak meruntuhkan pendapat itu. Karena Raihana adalah satu-satunya perempuan yang bermalam dengan Tuan Kin. Tak ada pria dan wanita yang berada dalam satu ruang tertutup tidak melakukan apa pun, setidaknya itu yang ada dalam pemikiran para pelayan tersebut. “Yang pasti, tidak mungkin dihukum cambuk. Karena aku lihat, pelayan baru itu sehat-sehat saja ketika keluar dari kamar Tuan Kin.” “Tapi sepertinya, di antara mereka juga tidak terjadi apa-apa. Aku perhatikan, lehernya mulus-mulus aja.” “Mungkin Tuan Kin sengaja tidak meninggalkan jejak di leher pelayan baru itu dan langsung bercocok tanam.” “Ya, mungkin saja seperti itu. Rasanya aneh jika semalaman hanya saling berdiam diri atau mengobrol saja. Setidaknya, terjadilah adegan peluk, cium, dan kecup.” “Iya, betul. Aku setuju dengan pendapatmu. Tapi itu artinya…Tuan Kin tertarik dengan pelayan baru itu dong.” Para pelayan itu kembali saling pandang. Di balik tembok, Aster –adik Tante Rose- mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya pun memerah menahan api kemarahan.   Bersambung… Follow i********: aku: Mayang_noura    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD