BERUSAHA MENUNDA HUKUMAN

1087 Words
“Ayah, aku mau pulang. Aku tidak mau di sini. Aku mau di rumah. Kenapa ayah melakukan ini kepadaku? Apa ayah sudah tidak menyayangiku lagi? Kenapa ayah menjadikanku sebagai penembus hutang?” Tubuh Raihana merosot ke bawah. Hatinya benar-benar hancur. Bagaimana tidak, Raihana sudah melihat kegelapan di depan matanya. Sikap Tuan Kin sudah jelas menunjukkan kalau pria itu menginginkan tubuhnya malam ini. Jika itu terjadi, jika Tuan Kin merenggut keperawanannya, bagaimana kelak dia bisa mendapatkan suami sholeh seperti harapannya. Selama ini dia berharap suatu hari nanti akan berjodoh dengan seorang pria rajin beribadah, pandai mengaji, mengerti ilmu agama, dan bisa menjadi imam sholat. Tak ada pria sholeh yang mau menikahi wanita yang sudah tidak suci lagi. Sementara itu di luar kamar mandi, Tuan Kin tampak mondar-mandir dengan gelisah. Dia tidak sabar menunggu Raihana keluar kamar mandi. Dan lagi-lagi Tuan Kin dibuat geleng-geleng kepala. Raihana adalah satu-satunya makhluk yang membuatnya menunggu seperti ini. Dengan wajah kesal, Tuan Kin mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk pintunya. “Hana! Sedang apa kamu di dalam?! Kenapa hanya berganti baju saja lama sekali?!” “I-iya tuan. Tunggu sebentar!” Terdengar jawaban dari dalam. “Oke, lima menit lagi. Kalau tidak keluar juga, akan aku tendang pintunya.” “Iya tuan.” Buru-buru Raihana mencuci wajahnya dan berganti baju. Tapi ketika dia bercermin, dia mengigit bibir bawahnya. Sedih sekali mendapati dirinya seperti bukan dirinya. Dia yang didalam cermin tampak seperti seorang p*****r. Baju tidur yang dikenakannya terlihat begitu seksi meski tidak terawang. Tapi karena bahannya sangat lembut dan jatuh, lekak lekuk tubuhnya seperti tercetak meski berpakaian. Raihana tercenung. “Allah, aku tidak ingin keluar dengan pakaian seperti ini. Rasanya aku ingin menghilang dari sini. Aku malu ya Allah…. Aku malu memperlihatkan tubuhku ini di depan pria yang bukan muhrimku. Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Apa? Aku tidak bisa menghindari Tuan Monster gila itu…” “HANA!!! AKU HITUNG SAMPAI TIGA YA. KALAU TIDAK KELUAR JUGA, AKU AKAN TENDANG PINTU INI!!!” Raihana tersentak kaget. “Iya aku keluar!!!” “SATU!” Raihana menggantung seragam pelayannya di sebuah gantungan yang ada kamar mandi itu. “DUA!” Raihana berlari ke pintu dan langsung menarik handel pintu kamar mandi. “TI-“ Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Dari baliknya Raihana muncul dengan wajah tegang. “GA.” Tuan Kin langsung mengalihkan pandang ke Raihana yang baru saja muncul. Gadis itu tampak sangat berbeda dengan baju tidur yang dikenakannya. Dia begitu cantik, seksi, dan memikat. Raihana seperti seorang peri bunga. Ditatap seperti itu, Raihana langsung menundukkan wajah. Kedua tangannya saling meremas. Raihana begitu takut dan cemas. Sementara itu di tempat lain, Pramudia tampak meletakkan keningnya di atas kedua tanganya yang ditautkan dan bertumpu pada siku yang berdiri di atas meja ruang tengah. Wajahnya terlihat begitu muram, nyaris menangis. Ayu- neneknya Raihana, mendekati Pramudia dan mengusap punggungnya. “Sudahlah Pra, nasi sudah menjadi bubur. Kamu tidak perlu menyesali semua yang sudah terjadi.” Pramudia mengangkat wajahnya dan menoleh pada Ayu yang sudah duduk di sebelahnya. “Tapi ma, aku sangat mengkhawatirkan Hana. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Kalau itu sampai terjadi, aku bisa terus menyalahkan diriku sendiri seumur hidup.” “Apa yang kamu khawatirkan? Kata orang-orang berjaket hitam tadi, Hana akan dijadikan pelayan ‘kan? Bukan yang lain.” “Hana itu cantik, ma. Aku takut Tuan Kin…” “Katamu Tuan Kin tidak tertarik dengan perempuan?” “Itu sih menurut gossip. Aslinya, aku tidak tau, ma. Bagaimana kalau ternyata Tuan Kin itu normal dan tertarik pada Raihana? Bisa hancur masa depan Hana, ma! Hancur!” Ayu tercenung. Sebenarnya, dia sama khawatirnya dengan Pramudia. Tapi sebagai seorang ibu, dia berusaha terlihat tegar agar bisa menjadi tempat bersandar bagi sang putra. “Kita berdoa saja agar Hana selalu dalam lindungan Allah, Pra.” Pramudia tidak menjawab. Dia kembali bergulat dengan kesedihan. Kembali ke kamar Tuan Kin. Tuan Kin menunjuk tempat tidurnya. “Naiklah! Kita beristirahat.” Raihana menggigit bibirnya. “Hm…maaf tuan. Apakah aku bisa tidur di sofa saja?” Tuan Kin terdiam beberapa saat, lalu kembali menatap Raihana. “Kamu fikir aku memintamu untuk menemaniku tidur itu seperti itu? Aku tidur di tempat tidur dan kamu tidur di sofa? Jadi apa untungnya buatku, hah?! Itu artinya aku tidak menghukummu atas kesalahan yang telah kamu perbuat! Kamu tau, Ibu Asih sudah kembali ke kamarnya dan mungkin sudah tidur nyenyak sekarang! Jadi, ayo naiklah ke atas tempat tidur!” Bibir Raihana bergerak ke kanan dan kiri dengan tangan kanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat ini dia sedang berfikir untuk menyelamatkan diri dari Tuan Kin. Tuan Kin menyipitkan matanya. “Jangan coba-coba berfikir untuk menyelamatkan diri dariku.” Raihana terhenyak. ‘Bagaimana Tuan Monster ini bisa tau apa yang aku fikirkan?’ Tanya Raihana dalam hati. Raihana memainkan kaki kirinya. “Aku tidak sedang mencoba untuk menyelamatkan diri dari anda.” “Lalu kenapa kamu tidak juga naik ke atas tempat tidur?!” Tanya Tuan Kin dengan suara keras. “Hm…itu…apakah hukumannya bisa ditunda malam besok?” Tuan Kin menghela nafas kesal sembari bersidekap. “Kamu fikir kamu aku itu siapa? Pedagang? Sehingga kamu bisa melakukan tawar menawar denganku?” “Bu-bukan begitu aku…aku…aku hanya belum siap. Tuan lihat! Aku ini masih terlalu kecil. Jadi aku perlu banyak belajar.” “Untuk apa kamu belajar?! Aku yang akan melakukan semuanya! Kamu hanya perlu berbaring saja!” Raihana berusaha keras untuk tertawa kecil. “Haha bagaimana bisa seperti itu? Jika aku hanya berbaring saja anda pasti tidak akan puas bukan?” Tuan Kin bergerak mendekat pada Raihana. Pria itu lalu menatap wajah Raihana lekat-lekat. “Aku tau kamu hanya berusaha untuk membuatku tidak melakukannya. Jika aku menunda hukumanmu, kira-kira kapan aku bisa menghukummu? Kapan kamu bersedia aku hukum?” Raihana nyengir. “Kalau soal itu…aku ‘kan tadi sudah bilang…” “Besok? Kamu tadi bilang besok. Aku mendengarnya.” Sela Tuan Kin. “Haha, ya.” “Oke. Aku setuju untuk mengundurnya.” Raihana menghela nafas lega. “Tapi besok, kamu jangan coba-coba untuk melakukan tawar menawar denganku.” Raihana menelan ludah. Baru saja mau berlega, tapi sudah kembali mendapat ancaman. ‘Benar-benar monster. Kerjanya hanya menakut-nakuti orang saja. Harusnya dia terlahir sebagai monster dan bukan manusia. Kalau dia lahir sebagai monster, pasti akan mendapat banyak penghargaan karena berhasil menjadi monster yang paling menakutkan dan banyak menakuti orang.’ “Apa lagi yang sedang kamu fikirkan?” Raihana menggeleng. “Tidak ada.” Bersambung...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD