Gadis Yang Menggemaskan

1313 Words
“Apa? Menemani anda tidur?” Kalimat keterkejutan itu akhirnya terucap juga dari bibir Raihana. Tuan Kin yang masih memegang ponsel, berbalik badan. Tapi dia tidak langsung menjawab pertanyaan Raihana melainkan menyudahi pembicaraan dengan Cakra. Barulah setelahnya dia mendekati Raihana. “Iya. Itulah hukumannya. Ada masalah?” “Anda bertanya apakah ini masalah dengan nada seolah ini tidak masalah? Tentu saja ini masalah. Masalah besar malah,” jawab Raihana tanpa ingin menyembunyikan perasaannya. “Tolong ganti hukumanku dengan hukuman yang lain. Cambuk misalnya? Yang penting aku menggantikan Ibu Asih dan beliau tetap bekerja di sini.” Mata Tuan Kin menyipit. "Jadi, kamu berharap aku mencambukmu?" Raihana mengangguk cepat. "I-iya. Menurutku bagusnya begitu. Lebih baik aku dicambuk daripada menemani anda tidur." Tuan Kin diam sejenak, merenung, sebelum akhirnya tertawa kecil. Tawa yang menggambarkan kebingungan, aneh, dan merasa lucu. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti ini. Begitu banyak wanita yang ingin tidur dengannya, tapi seorang Raihana malah memilih untuk dicambuk. Beberapa detik kemudian, tawa Tuan Kin pudar. Lalu berganti dengan tatapan serius. "Memangnya kamu fikir kita bisa tawar menawar? Kalau kamu tidak mau menemaniku tidur, maka Ibu Asih akan tetap menerima hukuman yang pertama. Yaitu dipecat dari pekerjaannya. Hanya itu. Tak ada opsi lain!" Raihana menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau jadinya akan serumit ini. Dia lebih rela dihukum cambuk ketimbang harus tidur dengan pria yang bukan suaminya. Menurutnya, hukuman menemani Tuan Kin tidur terlalu berat. Tidak sebanding dengan perbuatannya. ‘Ya Tuhan, adakah dosa besar di masa lalu yang membuatku berada di situasi ini? Tolong lindungi diriku. Tolong lindungi kesucianku!’ gumam Raihana dalam hati. ‘Tapi aku juga tidak bisa membiarkan wanita tua baik hati seperti Ibu Asih harus menerima hukuman dari kesalahan yang tidak dia perbuat. Kasihan suaminya. Aku yang salah maka aku yang harus dihukum.’ Tuan Kin menatap Raihana yang sedang termenung, lekat dengan tangan bersedekap. Lagi-lagi Raihana telah membuatnya tertarik. Bagaimana tidak, selama ini di luaran sana banyak wanita yang ingin tidur dengannya. Tapi tidak dengan Raihana. Gadis itu ketakutan setengah mati seolah akan dihukum pancung ketika diminta untuk menemaninya tidur. Tapi dengan antusias menawari dirinya untuk dicambuk. Di detik ini. Tuan Kin ingin berterima kasih pada Cakra yang telah menghadirkan Raihana dalam hidupnya. Tuan Kin merasa seperti mendapat mainan sekaligus hiburan yang asyik. Raihana adalah satu-satunya gadis yang berbeda yang pernah dia temui seumur hidupnya. Satu lagi, sejak ada Raihana dia bisa tertawa lagi. Satu hal yang sempat lenyap sejak kehilangan keluarganya. Tuan Kin mengaitkan kedua tangannya ke belakang. Dia berjalan mondar-mandir di depan Raihana. “Bagaimana Hana? Apa kamu sudah memutuskan? Ibu Asih dipecat dari pekerjaan ini atau kamu menemaniku tidur?” Raihana mendengus tak berdaya. Perlahan dia lalu mengangkat wajahnya. “Tuan, jangan sangkut pautkan Ibu Asih lagi dalam hal ini. Aku yang bersalah maka aku yang menerima hukuman. Akan tetapi aku mohon kepada anda untuk tidak menghukumku dengan hukuman seperti itu. Masih banyak hukuman lain yang bisa anda berikan daripada harus tidur dengan anda.” Tuan Kin menatap Raihana lekat-lekat dengan mata elangnya. Kemudian perlahan dia melangkah mendekat pada Raihana. Raihana yang menyadari ada yang tidak beres pada Tuan Kin, langsung beranjak dari duduknya, melangkah mundur ke pintu. Terus mundur hingga punggungnya menabrak daun pintu. Niatnya sih ingin melarikan diri. Namun sayang, belum sempat membuka handel pintu, Tuan Kin sudah memepetnya. Bahkan tangan kiri pria bertubuh tinggi, besar, dan kokoh itu sudah ada di sisi kanan wajahnya. “Sebenarnya, apa sih yang ada dalam otakmu itu, Hana? Kenapa cara berfikirmu berbeda dengan semua wanita yang aku temui? Dengar, jika kamu sekali lagi mengatakan keberatan atas hukuman yang aku berikan ini, maka saat itu juga aku akan memerintahkan Cakra untuk melempar Ibu Asih ke luar pagar tanpa basa-basi. Kamu mengerti?!" Raihana tidak menjawab. Gadis itu menundukkan kepala memikirkan hal ini. Bukan tanpa sebab, Tuan Kin tampak serius ketika mengatakannya. Jika dia tetap melawan, maka ditakutkan Ibu Asih benar-benar akan menjadi korban. Apa dia harus menjadi orang yang tidak berhati nurani saja demi keselamatannya? Maksudnya biar Ibu Asih saja yang dipecat. Oh, dia tidak tega. “Lihat aku!” ucap Tuan Kin kemudian. Dia tahu kalau Raihana sangat tidak mau menatap wajahnya. Raihana menggeleng pelan. Saat ini pikirannya sedang kacau. “Lihat aku, Hana!” Raihana kembali menggeleng. Tuan Kin menggeram. Lalu dengan suara keras dan lantang, dia berseru. “HANA!” Raihana langsung tersentak kaget dan otomatis menatap wajah Tuan Kin. Mata mereka pun bertemu. Tuan Kin menyeringai penuh arti. "Kenapa kamu begitu pembangkang dan selalu memintaku untuk marah dulu baru menurut?" Raihana tetap membisu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Raihana merasa takut, bingung, marah, dan tertekan bersamaan. Dia tidak pernah berdekatan dengan pria hingga sedekat ini. Mata tajam Tuan Kin lalu menyusuri wajah Raihana. Dia mengagumi semua yang terlihat oleh matanya. Mata bulat Raihana yang lembut namun penuh kewaspadaan, hidung mancung sempurna, bibir mungil menggairahkan, dan pipi yang halus nan kenyal. Sial! Dia begitu memikat! Perlahan, tangan kekar Tuan Kin bergerak ke arah wajah Raihana. Dia begitu gemas ingin mencubit pipi Raihana yang kenyal itu sedikit saja. Tapi, begitu jemari Tuan Kin akan hampir menyentuhnya, refleks Raihana menepis tangan itu. "Jangan sentuh aku! Aku bukan istri anda!" Tuan Kin menyeringai. "Apa? Bukan istri? Memangnya aku peduli dengan itu?" "Tapi aku perduli!" sahut Raihana cepat. Tuan Kin kembali menatap Raihana lekat-lekat. "Lihat di mana dirimu sekarang, hah? Terkurung di kamarku. Jangan menyentuhmu, bahkan aku bisa dengan bebas merasakan tubuhmu yang indah ini." Deg. Jantung Raihana seperti mau lepas dari rongganya. Dia benar-benar takut mendengar ucapan Tuan Kin barusan. Hal yang dirasakannya sejak masuk ke kamar ini. Kalau begini, sepertinya dia tidak boleh terus memberontak. Mungkin dia harus menghiba. “Jangan tuan. Aku mohon…,” balas Raihana kemudian. “Jangan apa-apakan diriku. Usiaku masih sangat muda. Masa depanku masih panjang.” Setetes bening lalu menyeruak dari kedua sudut mata Raihana. Rasa takutnya sudah memuncak. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menyelamatkan diri dari Tuan Kin ini. Tuan Kin menyeka bulir bening di pipi Raihana dengan lembut. “Kenapa kamu harus menangis? Aku menghukummu dengan sesuatu yang diidamkan oleh wanita-wanita di luar sana. Begitu banyak wanita di luar sana yang ingin digagahi olehku.” Raihana menggeleng cepat. “Itu mereka bukan aku. Aku tetap tidak mau. Dan aku memohon jangan lalukan itu padaku.” Bukannya iba, Tuan Kin justru semakin gemas pada Raihana. Rasanya, dia ingin menelan bulat-bulat gadis itu. Mungkin, dia memang sudah dibuat gila oleh Raihana. “Sayangnya kamu tidak bisa merubah keputusanmu sendiri. Dan aku, aku adalah orang yang tidak pernah bisa diatur. Selama ini akulah yang mengatur orang. Jadi malam ini, kamu akan tetap tidur bersamaku.” Raihana panik. “Tuan aku…” Raihana tidak sempat meneruskan ucapannya karena Tuan Kin sudah menarik tangannya ke dekat lemari pakaian besar dengan sepuluh pintu. Tuan Kin lalu membuka salah satu pintunya dan mengeluarkan sebuah dress wanita berbahan sutera, berwarna lavender, tidak berlengan, dan panjangnya lima senti lebih pendek dari seragam Raihana sekarang. “Pakai baju ini!” Tuan Kin meletakkan baju tidur itu ke tangan Raihana. Raihana menjembrengkan baju tidur itu. ‘Ya Tuhan… dress ini sangat seksi. Bagaimana aku bisa memakainya?’ “Sekarang kamu tinggal pilih. Mau ganti di sini atau di kamar mandi?” ucap Tuan Kin tanpa basa-basi. Pria itu sama sekali tidak perduli dengan keberatan yang tergambar di wajah Raihana. “Aku…aku menggantinya di kamar mandi saja.” Raihana terpaksa mengatakan itu. Toh, dia sudah tidak punya pilihan selain menurut. "Oke. Kalau begitu pergilah ke kamar mandi." Tuan Kin menunjuk pintu kamar mandi. Dengan berat hati, Raihana melangkah masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Begitu sampai di dalam, tangisnya pecah. Namun, sekuat tenaga dia menahan agar suara tangisnya itu tidak keluar dan terdengar oleh Tuan Kin. “Ayah, aku mau pulang. Ayah, aku tidak mau di sini. Aku mau di rumah. Kenapa ayah melakukan ini kepadaku? Apa ayah sudah tidak menyayangiku lagi? Kenapa ayah menjadikanku sebagai penembus hutang?” Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD