Dari tempat duduknya sekarang, Tuan Kin dapat melihat Raihana dengan sangat jelas dari kepala sampai kaki. Tapi legging yang membalut kaki Raihana tampak aneh dipadukan dengan seragam pelayan yang dikenakan gadis itu. Tuan Kin pun menyeringai penuh arti melihat pemandangan tersebut.
‘Dasar gadis aneh. Apa yang dia pikirkan dengan mengenakan legging itu? Dia benar-benar tidak mau menunjukkan tubuhnya pada orang lain,’ gumam Tuan Kin. Nadanya memang merendahkan, tapi jauh di lubuk hatinya merasa kagum.
Tapi Ini membuat Raihana terkesan sangat berbeda dengan para wanita yang selama ini mendekatinya. Mereka sengaja berpakaian seksi demi menunjukkan keindahan tubuh mereka demi berusaha membuatnya terpikat. Tapi sayang, dia tidak menyukai mereka semua, malah terkesan menyebalkan.
Anehnya, di matanya sekarang, penampilan Raihana yang lumayan tertutup ini justru tampak lebih seksi daripada para wanita seksi yang mengejarnya itu. Dan yang pasti, lebih memikat.
Dilihat setajam itu oleh Tuan Kin, jantung Raihana semakin berdegup kencang seperti mau lepas dari rongganya. Sebenarnya dia tidak takut jika berada di tempat pertama mereka bertemu tadi sore, karena terbuka dan banyak orang.
Namun, di tempat tertutup seperti ini, nyalinya melayang entah kemana. Sekali lagi dia yakin tidak akan bisa lari jika Tuan Kin menyerangnya karena saat ini dia berada di tempat yang memang sulit untuk lari. Selain itu, Tuan Kin memiliki postur tubuh yang terlihat sangat kokoh. Tenaganya tak akan sanggup melawan kekuatan Tuan Kin.
"Kenapa berdiri saja di sana? Mendekatlah. Bawa kemari nampan berisi makan malam itu. Aku sudah sangat lapar. Kalau aku kelaparan, aku bisa memakan yang selain nasi. Mungkin...aku bisa memakan kamu."
Raihana tersentak kaget mendengar ucapan Tuan Kin. Tentu dia tidak ingin itu terjadi. Segera, Raihana mendekat dan lalu meletakkan nampan berisi makan malam Tuan Kin.
Mendapati itu, Tuan Kin tersenyum geli. Raihana tampak begitu ketakutan, padahal dia sendiri hanya bercanda. Ya, dia bukan pria yang sembarangan tidur dengan wanita. Bahkan, selama ini dia tidak tertarik dengan wanita. Tapi anehnya, dia mempunyai perasaan yang berbeda pada Raihana yang belum pernah dia rasakan pada wanita manapun.
Dengan tangan gemetar, Raihana memindahkan piring dan mangkok berisi menu makan malam Tuan Kin dari nampan ke atas meja. Tangannya gemetar karena dia sadar Tuan Kin sedari tadi memperhatikannya, seolah dia adalah hewan buruan yang diincar.
"Silahkan makan, tuan," ucap Raihana dengan wajah tertunduk. Sungguh dia ingin berkata; silahkan makan Tuan Monster. Karena menurutnya panggilan itu lebih cocok untuk pria di depannya ini. Tapi dia tidak berani mengatakan itu di situasinya sekarang. Dia takut di makan seperti ancaman Tuan Kin tadi kepadanya. Selama berada di kamar ini, dia harus menjaga sikap demi keamanan dirinya sendiri.
Tuan Kin melirik meja. Piring porselen dan sendok ada di sisi terjauh meja. "Kamu menyuruh aku makan tapi tidak memberikan piring dan sendoknya?"
Raihana terhenyak. "Ma-af tuan..." Dia lalu mengambil piring tersebut. Tapi tunggu.
Kening Raihana mengerut. Kenapa piringnya ada dua? Apakah orang dapur yang menyiapkan makan malam untuk Tuan Kin melakukan kesalahan dengan membawakannya dua piring.
"Maaf Tuan, sepertinya orang dapur kebanyakkan membawakan piring." Raihana menaruh satu piring ke hadapan Tuan Kin. Sedangkan yang satunya dibiarkan di tempatnya.
"Tidak, orang dapur tidak salah. Aku yang meminta untuk dibawakan dua piring. Satu untuk aku dan satunya untuk … kamu."
Raihana melebarkan matanya.
Benarkah itu? Tapi, dirinya di sini seorang pelayan bukan? Bagaimana mungkin bisa akan makan bersama majikannya? Jangan bilang Tuan Kin mengajaknya dinner sederhana.
"Kenapa kamu masih diam saja. Makanlah!"
Raihana menggeleng cepat. "Tidak tuan, aku sudah makan."
"Jangan berbohong. Aku tau kamu belum makan dari siang tadi. Jadi, makanlah. Kamu pasti sudah sangat lapar."
Glek.
Raihana menelan saliva, sedikit meringis. Ditawarin seperti ini, dia yang sudah kelaparan, kian terasa pedih perutnya.
"Ayo, ambil piringmu dan kita makan bersama."
Untuk kedua kali, Raihan menggeleng. "Maaf tuan, aku tidak bisa menerima tawaran tuan."
Karena kesal, Tuan Kin lalu menggebrak meja. Sepanjang hayat, hanya Raihana yang menolak ajakkannya.
Brak!
“Berani kamu menolak tawaranku?”
Raihana tersentak kaget. " Maaf tuan aku..."
"Kenapa kamu selalu membantah ucapanku?!" tanya Tuan Kin dengan suara yang tinggi dan tegas. "Sekarang duduklah dan makan bersamaku!"
Raihana mematung.
"Apa kamu mau aku melakukan sesuatu padamu dulu baru kamu menurut?!"
Raihana menggeleng cepat. "Ti-tidak tuan. Baik, aku duduk dan ... makan."
Raihana langsung duduk di kursi yang terjauh dari Tuan Kin. Lalu, dia segera mengambil piring yang tersisa tadi. Tapi ketika mau menyiendok makanan, dia ragu.
Dan itu membuat Tuan Kin geram. "Apa mesti aku yang mengambilkannya untukmu?"
Raihana kembali menggeleng. "Tidak tuan, aku bisa ambil sendiri."
Raihana langsung menyendok nasi dan lauk pauk ke piringnya. Tanpa berkata-kata lagi, dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Melihat Raihana sudah mulai makan, Tuan Kin pun mulai makan sambil sesekali melirik Raihana. Meskipun cara makan Raihana tidak menunjukkan cara makan wanita berkelas, Tuan Kin merasa tidak bosan memandang. Lagi dan lagi, dia melirik Raihana.
Selesai makan, Raihana langsung merapikan meja. Tapi, meja itu bersih, dia tidak beranjak pergi melainkan tetap duduk tegang di tempatnya semula.
Tuan Kin mengerti kenapa Raihana tidak jua kunjung pergi. Tapi dia akan pura-pura tidak tahu.
"Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya kemudian.
Raihana mengangguk cepat. "Iya, tuan. Ini mengenai... Ibu Asih."
"Ooo, kamu ingin bertanya mengapa dia akan dipecat bukan?"
"Iya tuan."
"Karena dia tidak bisa menghandlemu. Sebagai seorang kepala pelayan dapur, dia harus menanggung hukuman karena kesalahan pelayan-pelayan asuhannya. Kamu tau, dia hidup, menyekolahkan anak, dan mengobati suaminya yang sakit kanker dari gajinya bekerja di sini. Bisa kamu bayangkan, pengobatan kanker itu biayanya besar. Jika dia tidak lagi bekerja di sini, maka bisa dipastikan keadaan suaminya akan semakin memburuk dan kemudian …. Ah, sudahlah, itu bukan urusanku. Dia tidak lagi kompeten seperti selama ini karena ada pelayan yang melawan. Maka aku akan memecatnya dan segera mengangkat kepala pelayan dapur yang baru.”
Mendengar itu, Raihana menelan salivanya. Dia tidak mau Ibu Asih menanggung hukuman atas kesalahannya. Raihana membayangkan keadaan suami dari Ibu Asih tersebut.
Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Raihana pun bersujud di lantai. "Tuan tolong ampuni aku. Ibu Asih tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Jadi, harusnya aku yang dihukum."
Tuan Kin menggeleng. Lalu bangkit dari duduknya. "Tidak. Aku akan tetap menghukumnya karena sebagai kepala pelayan dia tidak bisa tegas sehingga kamu menjadi pelayan yang pembangkang. Selain itu, aku tidak mungkin menghukum kamu dengan memecat kamu karena kedatanganmu ke rumah ini adalah sebagai penebus hutang. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan memecat Ibu Asih."
"Jangan tuan! Aku mohon lepaskan Ibu Asih! Hukum saja aku dengan apa saja."
Tuan Kin memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya, kemudian menghadap jendela kaca kamarnya yang besar.
"Kenapa aku harus menghukummu?" Tanya Tuan Kin dengan suara menggantung. "Bukankah kamu merasa tidak bersalah? Bukankah kamu merasa sikap pembangkangmu itu benar?"
"Tidak tuan, aku salah. Aku mengakui salah."
"Jadi menurutmu kamu yang mesti dihukum dan bukan Ibu Asih?"
"Iya, tuan."
"Kamu tidak akan menyesali permintaanmu?"
"Tidak tuan, aku tidak akan menyesalinya."
"Oke, keputusanmu tidak bisa diralat lagi."
Tuan Kin berjalan mendekati mendekati nakas dan mengambil ponselnya. Dia menelpon seseorang.
"Cakra, urungkan niat untuk memecat Ibu Asih. Kembalikan dia sebagai kepala pelayan dapur.”
"Lho, kenapa harus dibebaskan tuan? Bukankah ini pelajaran untuknya yang tidak tegas?" Terdengar suara Cakra dari ponsel itu. Tuan Kin sengaja mengaktifkan pengeras suara itu agar Raihana bisa mendengar obrolannya dengan Cakra.
"Raihana sendiri yang akan bersedia menggantikan hukuman Ibu Asih," jawab Tuan Kin. Komunikasi ini sebenarnya adalah sebuah rekayasanya dengan Cakra.
"Jadi, apakah Raihana akan dipecat? Itu ‘kan tidak mungkin. Dia akan di sini sebagai pembayar hutang ayahnya hingga lunas."
"No, no, tentu saja dia tidak akan menerima hukuman seperti itu."
"Lalu, dia akan dihukum apa?"
"Hukumannya adalah... menemaniku tidur malam ini."
Bagai tersambar petir Raihana mendengar itu. Dia langsung mengangkat wajahnya dengan mata membelalak.
‘Menemaninya tidur?’ tanyanya dalam hati.
Bersambung...