“Guys, Rehan cerita kalau ceweknya cantik banget terus berhijab.” Ira pagi-pagi sudah bergosip bahkan ini masih jam sepuluh yang mana mereka baru saja selesai mata kuliah di jam pertama.
Neina menaikkan alisnya. Rehan benar-benar pintar. Tentu saja berkerudung soalnya dia memang dipaksa untuk berhijab tadi malam. Tampaknya lelaki itu bisa menjaga mulutnya sesuai janjinya.
“Lo pagi-pagi cepet banget dapet gosipnya,” seru Jihan yang sedang merapikan bukunya sehabis jam pertama. Mereka hendak pindah kelas untuk jam berikutnya.
Ira mengangguk. “Gue langsung serbu si Rehan buat mastiin siapa calonnya Pak Farraz.”
“Berarti memang Pak Farraz nggak salah pilih dong ya?”
Ira mengangguk. “Gue tapi sedih karena akhirnya Pak Farraz mau nikah lagi tapi bukan sama gue.”
“Mimpi!” sahut Jihan lalu menatap Neina yang tampak termenung. “Oi, Na, ayo!”
“Eh? Ayo,” balasnya kemudian lalu mengikuti Jihan dan Ira yang kini berjalan di depannya sambil menceritakan tentang Pak Farraz tidak henti-hentinya.
Neina yang berjalan di belakang kedua temannya itu seketika membuka ponsel. Ada notifikasi disana dari Pak Farraz, Neina segera membuka dan membacanya.
‘Pulang kuliah saya jemput. Kita akan berbelanja.’
Neina lalu membalas,
‘Belanja untuk apa, Pak?’
‘Untuk hantaran kamu.’
Neina menghentikan langkahnya seketika. Padahal baru saja semalam lamaran tapi Pak Farraz tampak bersungguh-sungguh ingin segera menyelesaikan urusan ini.
‘Apa tidak bisa hari minggu saja, Pak?’
Neina membalas karena ia tahu bahwa hari ini jadwalnya full dari pagi hingga jam 2 nanti. Siangnya Neina berniat beristirahat dan tidur karena semalam tidurnya tidak nyenyak.
‘Ya sudah, hari minggu kita belanja. Tapi, hari ini kita akan tetap bertemu. Saya merindukanmu.’
Seketika wajah Neina memerah. Pak Farraz benar-benar tahu bagaimana membuatnya malu terus menerus.
‘Lihat nanti ya, Pak. Soalnya saya kuliah sampai jam 2.’
‘Pulang kuliah langsung ke rumah saya aja. Aziz ingin bertemu kamu.’
Neina tampaknya tak bisa menolak sehingga dia memilih mengiyakan permintaan Pak Farraz. Toh, di rumah Pak Farraz ada pembantu dan juga babysitternya Aziz, bukan? Jadi, mereka tidak berduaan disana.
*
Neina sampai di rumah Pak Farraz yang sangat besar. Seketika ia nyaris saja menjatuhkan rahangnya melihat rumah Pak Farraz dua lantai namun memiliki halaman yang juga sangat luas. Ini pertama kalinya Neina menginjakkan kakinya di rumah Pria itu.
Sejenak, ia ragu untuk masuk. Namun, tiba-tiba saja dua pintu depan itu terbuka lebar dan disana Pak Farraz terlihat memakai pakaian santai kaos oblong serta celana pendek sedang menyambutnya. Neina menipiskan bibir karena ini pertama kalinya ia melihat Pak Farraz dengan gaya informal.
“Ayo, masuk. Aziz sudah menunggu kamu di dalam.”
Neina mengangguk tipis lalu mengikuti Pak Farraz masuk sambil mengucapkan salam. Neina sejenak merasa kagum dengan interior rumah Pak Farraz yang begitu indah dan sangat cantik. Di d******i warna putih serta perabotan yang tak kalah mewah.
“Kak Neina!” seru Aziz kemudian berlari memeluk Neina. “Daddy told me you wanna come and play with us.” Aziz kemudian tersenyum lebar.
“And here I am.” Neina menjawab sambil tertawa kecil dan mencubit gemas hidung Aziz yang mancung.
Aziz langsung menarik Neina untuk duduk selonjoran di atas karpet tebal nan mewah. Disana sudah berantakan mainan Aziz. “Come here and sit with me.”
Neina menurut, tak lama ia mendengar suara Pak Farraz berkata, “Saya akan menyuruh Bibi menyiapkan kamu minum.”
“Nggak usah repot-repot, Pak.”
“Tidak sama sekali. Sebentar ya?”
Neina hanya mengangguk dan membiarkan Pak Farraz ke dapur sementara ia menemani Aziz bermain.
“Mbak Neina?” tegur seorang wanita yang usianya sekitar 3 tahun lebih tua dari Neina.
Neina mengangguk dan menatap wanita dengan seragam babysitter itu sambil tersenyum. Ia tahu wanita ini pernah ke rumahnya pertama kali saat keluarga Pak Farraz memperkenalkan Mas Vano kepada Kak Adel.
“Saya Irma, pengasuh Aziz, Mbak.”
Neina membalas jabatan uluran tangan tersebut dan tersenyum. “Panggil Neina saja, Mbak.”
Irma tampak maklum karena bagaimana pun ia lebih tua dari Neina. “Ah, baik Neina.” Kemudian, Irma menatap Aziz yang sibuk dengan mainannya. “Kamu belum makan ‘kan? Ayo, makan dulu, setelahnya baru main lagi atau nanti kena marah Daddy.”
Aziz terlihat mengerucutkan bibirnya. “But I wanna play with her,” Aziz mendekati Neina lalu merangkulkan lengan kecilnya ke arah Neina.
“Aziz kalau sudah ada orang baru memang begitu, suka susah makan.”
Neina tersenyum lalu berkata. “Biar saya aja yang ngomong sama Aziz, Mbak.”
Irma sejenak terdiam, tak lama ia mengangguk dan meninggalkan Aziz kepada Neina.
“Aziz belum makan?”
Lelaki kecil itu menggeleng. “Not yet and I’m not hungry.”
“But, you must eat or I won’t play with you.” Neina menatap Aziz sambil menaikkan kedua alisnya membuat Aziz mau tidak mau terpaksa mengangguk.
“Tapi, Kak Neina suapin Aziz ya?”
“Jangan manja!” tegur Pak Farraz yang tiba-tiba berada di belakang mereka dan memilih duduk di sofa. “Makan sama Mbak Irma di dapur. Kak Neina nggak akan kemana-mana.”
Tak lama seorang wanita paruh baya mengantarkan minuman dan meletakkannya di atas meja. Neina kemudian berucap. “Terima kasih, Buk.”
“Sama-sama, Non,” balas si Ibu sambil memberikan senyumannya.
“But Daddy...” Aziz hendak membantah namun tatapan tajam ayahnya membuat Aziz langsung segera ke dapur untuk menemui Irma.
Ditinggal berdua seperti ini lagi-lagi membuat debaran jantung Neina seketika menggila.
“Sini duduk, Na.” Pinta Pak Farraz membuat Neina berdiri lalu memilih duduk di atas sofa. Neina memilih duduk sedikit menjauh dari pria itu. “Kejauhan.” Pak Farraz seketika menarik tangan Neina agar mendekat padanya.
Sontak saja Neina tanpa keseimbangan membuat kepalanya jatuh ke d**a bidang lelaki itu. “P-pak!” serunya dengan bola mata yang melebar.
Pak Farraz tampak menahan senyumnya. Tangan lelaki itu bergerak menyelip di pinggang Neina sementara tangan yang satunya menggenggam tangan Neina. “Semalam, kita nggak punya waktu buat ngobrol,” bisiknya pelan dengan mereka yang duduk tanpa jarak.
“P-pak nanti dilihat sama—”
“Mereka sedang sibuk di dapur. Tidak akan ada yang melihat kita, Na.” Mata lelaki itu seketika menyipit. “Dan biasakan panggil Mas karena kita juga akan menikah.”
Neina bahkan tidak bisa menghela napasnya dengan teratur mengingat kedekatan mereka saat ini. “Tap—”
“Daddy!” seru Aziz dari jauh membuat Neina segera menjauh dan melepaskan dekapan pria itu.
Akhirnya, Neina mampu menghela napasnya dengan panjang.
“Aziz mau makan disini sama Kak Neina!” lanjut Aziz saat ia sudah berada di depan mereka.
Neina tersenyum melihat tingkah lelaki kecil ini, ia lalu membiarkan Aziz duduk di sebelahnya.
“Kak, Ica nggak ikut kakak?”
Neina menggeleng. “Ica di rumah.”
“Yah, padahal Aziz juga mau main sama Ica dan kakak.”
“Son,” panggil Farraz tiba-tiba membuat Aziz dan Neina menatap pria itu bingung. “Call her Mom from now!”
Baik Aziz dan Neina seketika menatap kaget pada sosok arogan di sebelah mereka.
“Pak!”
“Dad?”
Mata tajam Farraz seketika melirik puteranya dan berkata. “She will be your mother, soon. So, try to call her Mom.” Saat dilihat puteranya ingin membantah, Farraz kembali menegaskan. “No excuses!”
*
“Terlalu cepat rasanya memaksa Aziz untuk memanggil saya ibunya, Pa-Mas.” Neina kini sudah berada di luar hendak pulang mengingat hari juga sudah sore.
“Mau cepat atau lambat, kamu akan menjadi Ibunya, Na. Jadi, harus dibiasakan.”
“Tapi, seharusnya biarkan dia mencernanya dulu, Pak. Aziz masih kecil!” sahut Neina tidak ingin kalah.
Farraz menghela napas pelan kemudian berdiri tepat di depan Neina. “Panggil saya Mas untuk diluar jam kampus. Urusan Aziz biar aku yang jelasin ke dia.” Pria itu lalu mengelus kening Neina. “Kamu hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut. Kabari kalau sudah sampai.”
Neina menurut lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pelataran rumah Mas Farraz.