Bab 11. Operasi

1255 Words
Pernikahannya sudah di depan mata, tapi Neina merasa pernikahan ini ada yang salah, benar-benar secara dadakan tanpa pengenalan lebih dekat kepada Mas Farraz. Ia bahkan akan mendedikasikan hidupnya untuk pria itu selamanya. Cita-citanya menjadi dokter tentu saja akan ia teruskan namun memikirkan itu terkadang ia merasa kasihan pada Aziz yang tentu tetap merasakan kekurangan kasih sayang mengingat ia tampaknya akan sangat sibuk. Namun, baik ia maupun Mas Farraz belum membahasnya. Neina tidak tahu pernikahan ini atas dasar apa mengingat Mas Farraz begitu buru-buru memutuskan, karena ia yakin pria itu pasti masih belum mencintainya sama sekali. Neina hanya takut jika sebenarnya Mas Farraz hanya merasa tertarik atau penasaran sesaat saja dengannya lalu menyesal di kemudian hari. Menarik napas sejenak, Neina memandangi jendela kamarnya yang tampak berembun karena hujan deras mulai mereda. Lusa adalah pernikahannya dan saat ini pria itu sedang melakukan sebuah operasi bedah kardiovaskular karena memang sebelum melakukan operasi, Mas Farraz memberinya kabar terlebih dahulu. Di rumah Neina sudah ramai para keluarga, saudara, serta tetangga yang ingin membantu mendekor rumah Neina. Ya, mereka memutuskan untuk membuat acara di rumah, lagi pula halaman rumah Neina cukup luas dan mereka menyewa para wedding organizer yang cukup handal untuk mendekor setiap sudut rumah Neina menjadi memukau. Beberapa hari ini Neina tidak diizinkan keluar kecuali hanya untuk kuliah dan mulai hari ini, ia benar-benar izin kepada dosennya untuk libur beberapa hari disertai dengan undangan yang dibagikan oleh Mas Farraz tentu para dosen sudah menebak. Lagi-lagi Neina menghela napas pelan. Apakah keputusan ini sudah benar? Apakah dia benar-benar mencintai Mas Farraz atau hanya sekadar rasa suka yang akan menghilang? “Na, di panggil sama nenek.” Neina menoleh ketika mendengar suara Kak Adel menyapanya. “Buat apa, Kak?” Kak Adel mengendikkan kedua bahunya tidak acuh. “Mau kasih wejangan kali. Dah sana turun.” “Iya, sebentar lagi,” sahut Neina sama sekali tidak berminat karena ia masih nyaman di posisi ini. Sejenak Neina merasa sofanya bergerak. Ia tak menoleh ataupun mengalihkan perhatiannya dari jendela kamar karena tahu bahwa Kak Adel yang duduk di sebelahnya. “Kamu kenapa? Ada masalah? Nggak semangat banget mau nikah.” “Aku bingung,” gumam Neina sejenak. “Hubunganku dengan Mas Farraz sebelum ini sangatlah asing.” Jari telunjuknya seketika ia tempelkan di jendela yang terasa dingin. “Tapi, tiba-tiba Mas Farraz mutusin buat nikah sama aku. Kayaknya dia cuma tertarik atau penasaran aja sama aku, Kak.” Adel menatap adik perempuannya ini sejenak sebelum berkata. “Perasaan kamu sendiri ke dia gimana?” “Aku suka sama Mas Farraz, Kak. Tapi, aku nggak tahu sudah di tahap cinta atau belum.” “Gini dek,” gumam Adel mencoba menelaah perasaan Neina. “Kamu merasa takut nggak kalau seandainya kehilangan Mas Farraz? Kalau iya, mungkin kamu sudah di tahap cinta. Tapi, kalau belum berarti kamu masih sayang bukan cinta.” Sejenak Adel menghela napas pelan. “Kalau misal Mas Farraz udah milih kamu sebagai istrinya, berarti dia yakin kamu pantas menjadi istrinya. Laki-laki nggak akan sembarangan pilih perempuan untuk dijadikan seorang istri, dek. Untuk perihal cinta dan sebagainya, itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Toh, kalian akan punya waktu seumur hidup untuk saling mengenal lebih dekat, untuk saling support, dan saling memahami satu sama lain.” Ucapan panjang sang kakak setidaknya membuka pikiran Neina sedikit. Ia benar-benar buntu dengan ini semua. “Thanks, Kak.” “You’re welcome. Sekarang ke bawah gih! Udah ditunggu nenek tuh.” Neina mengangguk, lalu ia turun ke bawah diikuti oleh Adel. * “Kita akan membuat sayatan sepanjang bagian tengah rongga d**a dan membelah tulang d**a hingga jantung dapat terlihat,” gumam Farraz kepada dokter muda yang baru masuk, kini membantunya melakukan operasi. Pria itu terlihat begitu lihai dan santai dalam memegang scapel. Tak lama, dokter bedah lain yang ada di tim operasi segera mengambil pembuluh darah vena yang akan digunakan sebagai cangkok dari bagian lengan. “Siapkan heart lung machine setelah detaknya berhenti, lalu sambungkan ke pembuluh darah besar jantung.” Pada saat yang sama jantung sudah berhenti berdetak, lalu digantikan dengan heart lung machine yang harus dipastikan berjalan dengan baik, maka Farraz dan tim operasi akan membuat pembuluh darah baru ini dicangkokkan ke arteri koroner yang mengalami penyempitan. Setelah operasi selesai mereka akan membuat jantung pasien kembali berdenyut menggunakan alat kejut jantung dan setelahnya mereka akan menyatukan kembali tulang d**a dengan kawat khusus secara permanen. Setelah disatukan, kulit bekas sayatan itu akan dijahit dan di perban. “Letakkan pasien di ICU, kita akan memantaunya selama 2 hari,” gumam Farraz sebelum keluar dari ruang operasi, ia membuang sarung tangan dan masker yang digunakan di tempat sampah yang tersedia. Lalu kembali ke ruangannya sendiri. Sesampainya disana, ia melihat Disa sudah ada di ruangannya. Alisnya seketika terangkat. “Aku dengar Mas lagi operasi, makanya aku tunggu disini.” “Ada apa, Dis?” tanya Farraz dengan wajah lelah tentu saja. Sebab dia baru menghabiskan waktu berjam-jam di ruang operasi. Disa tersenyum kecil lantas bertanya. “Benar kamu mau menikah lagi, Mas?” Farraz membuka penutup kepala lalu duduk di bangku kebesarannya sambil memijit kepalanya sendiri yang terasa berat. “Iya.” “Kamu sudah bisa melupakan Kak Zia, Mas?” tanya adik iparnya kembali membuat Farraz langsung menatapnya dingin. “Apa maksud kamu, Dis?” Farraz benar-benar tersinggung akan pertanyaan adik kandung mendiang istrinya ini. Disa menghela napas pelan. “Mama yang mengatakan padaku kalau kamu mau menikah lagi, Mas. Aku kemari ingin memastikan apakah kamu benar-benar sudah melupakan Kak Zia?” “Zia akan selalu ada di hati aku, Disa. Bagaimana pun, dia telah melahirkan buah hati kami tapi, bukankah aku harus melanjutkan masa depanku?” tanyanya dengan nada angkuh seakan menegaskan bahwa dia layak melanjutkan kehidupannya. “Lima tahun aku sendiri karena aku tidak bisa melupakan Zia, aku menghargainya sebagai istriku. Sekarang, apa aku tidak boleh melanjutkan hidupku?” Seketika Disa tergugu akan pertanyaan bernada retoris itu. “Mas, maksudku bukan tidak boleh.” Wanita itu menggigit bibirnya sejenak, sudah sejak lama ia menyukai kakak iparnya ini. Namun, ia sadar bahwa ia tidak boleh larut dengan rasa cintanya karena kakak iparnya ini milik kakak kandungnya. Hari demi hari berganti hingga ketika Zia meninggal dunia, Disa seakan memiliki kesempatan untuk mendekati kakak iparnya dan menjadi ibu bagi Aziz. Ia benar-benar berusaha mendekati Mas Farraz dan jelas saat itu Mas Farraz masih belum melupakan Zia. Namun, Disa tidak menyerah sama sekali sampai akhirnya ibunya sendiri mengatakan bahwa kakak iparnya ini akan menikah kembali. Membuat hati Disa seakan tidak bisa menerima kenyataan ini. “Disa, aku tahu kamu begitu banyak membantu setelah kepergian Zia, aku berterima kasih untuk itu, tapi bagaimana pun aku harus melanjutkan hidupku, bukan?” Disa sejenak mengepalkan tangannya erat. “Tidak tahukah Mas arti dari semua kebaikanku?” Ia tersenyum ironi sejenak. Apakah ini saatnya untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya? Tapi, Disa sadar bahwa dia tidak memiliki waktu di lain kali. “Aku mencintai kamu, Mas.” Kejujuran Disa membuat punggung Farraz yang tadinya santai menjadi tegang. Ia terperangah tidak percaya akan kejujuran wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri ini. “Kamu dengar kan, Mas? Aku suka sama kamu sejak kamu masih bersama Kak Zia, tapi aku tahu diri. Sekarang, kamu justru memilih perempuan lain yang—” “Kamu adik iparku, Disa!” Farraz memotong tegas apapun yang hendak dikatakan oleh wanita itu. “Aku tidak peduli, Mas!” seru Disa dengan air mata yang mulai menetes. “Kamu justru tidak pernah menganggapku ada walau hanya sesaat!” lanjutnya kemudian. “Aku cinta sama kamu sejak lama, Mas.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD