Bab 8. Keputusan

1470 Words
Neina masuk ke ruangan dosen dimana ada beberapa dosen disana, namun ruangan Pak Farraz memang ada sekat tersendiri di dalam sana. Seketika ia mengikuti Pak Farraz masuk sambil memberikan senyumnya untuk dua dosen yang tampaknya hendak mengajar karena dilihat mereka sudah bersiap-siap ke luar ruangan. Neina duduk tepat di depan Pak Farraz dan menanti apa yang ingin dikatakan oleh Pak Farraz. “Kamu sudah memikirkan yang saya katakan?” tanyanya serius dengan mata menatap tepat di mata Neina, sehingga gadis itu tidak berkutik sama sekali. “S-saya takut, Pak,” jawabnya pelan. “Apalagi hubungan kita saat ini adalah dosen dan mahasiswa.” Ya, Neina memang takut hubungannya ini diketahui oleh anak-anak kampus sehingga ia nanti akan dijadikan bahan gosip. “Tidak ada yang perlu ditakuti. Kalau kamu memang mau menjalani keseriusan sama saya, maka saya akan datang bersama orang tua saya untuk melamar kamu.” Mata Neina melebar ketika Pak Farraz mengucapkan kalimat itu dengan gamblang. “P-pak, b-bisakah kita jalani pelan-pelan terlebih dahulu? Maksud saya, Kak Adel dan Mas Vano juga akan menikah, bukan?” Mata Farraz seketika berkilat mendengar pernyataan itu. “Kalau begitu, maka kita duluan yang akan menikah. Saya bisa menikung mereka karena pendekatan mereka terlalu lama.” “Bapak!” seru Neina tanpa sadar dengan suara yang lumayan keras. Ia lalu menutup mulutnya dan meringis. “Maafkan saya.” Untung saja tidak ada dosen lain di ruangan ini sehingga Neina tidak menahan malu saat keluar ruangan nanti. “Jadi, Akifah Neina Clemira, apa jawaban kamu?” tanya Pak Farraz seketika. “Saya bukan orang yang sabaran melakukan pendekatan terlebih dahulu dan berujung gagal. Kita bisa melakukan pendekatan setelah menikah kemudian baru memikirkan urusan rumah tangga kita ke depannya.” Neina tampaknya memang tidak bisa menghindar lagi. “Apa Bapak yakin dengan keputusan Bapak memilih saya? Saya bukan cewek cantik dan juga modis. Saya juga banyak kurangnya.” Ya, tentu saja Neina merasa minder apalagi setelah melihat adik ipar Pak Farraz kemarin, membuatnya benar-benar merasa menjadi perempuan yang tidak layak untuk dipandang. “Saya tidak peduli bagaimana kamu dimata orang lain, tapi kamu cantik di mata saya. Tidak hanya fisik, namun hati kamu juga.” “Bapak tahu dari mana saya baik hati?” Mata Neina menyipit seketika. Terlihat Pak Farraz menipiskan bibirnya. “Kamu tidak perlu tahu. Sekarang, apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup saya selamanya?” Neina masih terlihat ragu. “B-bagaimana dengan orang tua Bapak? Atau orang tua saya? Lagi pula, saya masih kuliah.” “Semester depan sudah semester akhir, bukan? Kamu tetap akan kuliah setelah menjadi istri saya.” Kini mata Pak Farraz terlihat menajam. “Apa ada alasan lain lagi? Atau kamu punya pacar?” Neina dengan sigap menggeleng. “Saya nggak pacaran, Pak, soalnya saya benar-benar ingin menjadi seorang dokter bedah yang ahli dan hidup saya hanya saya dedikasikan untuk belajar dan belajar.” “Bagus. Kalau begitu ada alasan lain kamu menolak saya?” Neina menelan salivanya kemudian menggeleng pelan. “Nggak ada, Pak.” “Jadi, kamu bersedia atau tidak?” Tampaknya memang Neina benar-benar akan berakhir dengan Pak Farraz yang sama sekali tidak ada dalam ingatannya sedikit pun bahkan terbayang pun tidak. “S-saya akan mencoba.” Neina menjawab gugup lalu menatap ada seringai puas di wajah tampan Pak Farraz. “Tapi, saya harap Bapak tidak pernah menyesal telah memilih saya.” “Tidak akan, Neina. Kalau begitu, saya akan segera ke rumah kamu untuk melamarmu lalu kita menikah.” Pak Farraz tersenyum kecil. “Bersiaplah, kita akan menikung mereka dan kamu akan menjadi ibu sambung Aziz untuk selamanya.” * Neina berjalan ke dapur hendak mengambil minuman kaleng dari kulkasnya. Ia benar-benar merasakan pikirannya penat dan saat ini, bagaimana cara dia mengatakan kepada orang tua dan juga saudaranya bahwa Pak Farraz berniat untuk menikahinya? Kepalanya benar-benar terasa ingin pecah. Lalu, apakah kedua orang tuanya menyetujui hal itu? Seketika terdengar suara riuhan dari luar. Neina segera berlari ke ruang tamu dimana Mama dan Papanya baru saja pulang dari luar kota. “Nak, tolong ambilkan minum untuk Mama dan Papa,” pinta ibunya membuat Neina mengangguk lalu segera mengambilkan minum untuk kedua orang tuanya. “Mama sama Papa kenapa cepat sekali pulang? Bukankah dua hari lagi baru pulang?” Tiara menepuk sofa di sebelahnya. “Sini duduk di sebelah Mama. Ada yang mau Mama dan Papa omongin.” Neina menurut kemudian duduk di sebelah kedua orang tuanya. Ia lalu menatap Mama dan Papanya bergantian. “Ada apa, Ma? Pa? Kayaknya penting banget.” Tiara sejenak menoleh ke arah suaminya sebelum melihat puteri ketiganya ini dengan penuh kasih sayang. “Anak Mama sudah pada besar-besar ya ternyata.” Tiara tersenyum lalu menyelipkan rambut Neina ke telinga anak gadisnya. “Mama sama Papa sebenarnya ingin kamu sukses dulu. Tapi, tampaknya itu nggak mungkin.” Neina tampaknya sudah menebak arah pembicaraan ini. “Ma—” “Sayang, dengarkan Mama.” Neina terdiam dan bersedia mendengarkan. “Mama dan Papa mendapat telepon dari keluarga As'ad bahwa mereka ingin melamar kamu untuk Farraz, Nak.” Tiara bahkan tidak sanggup menahan bendungan air mata yang mengalir di pipinya. “Mama tahu suatu saat anak-anak Mama akan meninggalkan Mama dan hidup masing-masing dengan keluarga masing-masing pula. Jadi, Mama ingin meminta maaf kalau selama ini Mama jarang sekali berada di rumah untuk kalian semua.” Neina tidak mampu menahan air matanya, ia segera memeluk ibunya sambil menangis terisak. “Ma...,” “Papa dan Mama akan memberi restu jika kamu dan Farraz menikah lebih dulu.” Kali ini kepala keluarga itu bergumam kemudian menghela napas pelan. “Itu sebabnya kami segera pulang karena besok malam, keluarga mereka akan datang melamar kamu dan menentukan pernikahan kalian.” Neina seketika membelalakkan matanya, ia melepaskan pelukan ibunya. “B-besok?” Tiara mengangguk lalu menghapus air matanya dengan tisu yang tersedia di meja ruang tengah tersebut. “Iya, Nak. Keluarga Farraz akan datang besok untuk langsung melamar kamu dan tampaknya besok kita akan sangat sibuk.” Neina benar-benar tidak habis pikir, karena seingatnya Pak Farraz memang mengatakan akan melamarnya tapi tidak secepat ini juga. “Ya sudah, sekarang kamu istirahat dan kami juga akan istirahat. Jaga kesehatan badan kamu agar fit hingga hari pernikahanmu tiba.” Neina hanya mampu mengangguk kemudian memilih kembali ke kamar. Besok dia masuk kuliah pagi dan malamnya acara lamaran. Ia tidak habis pikir dengan keputusan pria itu tanpa melibatkannya terlebih dahulu. * “Muka lo lesu amat? Masih sakit?” tanya Jihan saat mereka sedang duduk di kantin setelah jam kuliah selesai. Ya, Neina memilih untuk tidak langsung pulang karena tahu di rumahnya kini sedang masak besar-besaran untuk acara nanti malam. Bukannya Neina tidak ingin membantu, tapi Mamanya juga tidak akan mengijinkannya membantu dan dari pada dia mengurung diri di kamar, lebih baik dia menghabiskan waktunya disini hingga siang. “Enggak kok.” Seketika, Ira yang entah dari mana langsung duduk di sebelah Neina lalu berkata. “Lo pada kenal sama Rehan kan?” “Rehan saudaranya Pak Farraz?” Ira mengangguk antusias. “Dia bilang tadi sama gue kalau Pak Farraz akan menikah lagi.” “Heh?!” Jihan seketika membelalakkan matanya tidak percaya. “Seinget kita Pak Farraz memang nggak pernah terlihat dekat dengan siapa-siapa, tiba-tiba udah nikah aja.” Ira mengangguk. “Rehan bilang entar malam lamaran dan dia rencana ingin ikut supaya bisa lihat calonnya. Penasaran apakah lebih cantik dari Kak Zia atau justru nggak ada bandingannya.” Neina menelan salivanya seketika. Kacau jika Rehan datang ke acara lamarannya ntar malem! Belum juga lamaran ia bahkan sudah dibandingkan dengan almarhumah istri Pak Farraz. “Tapi, wajar sih ya, Pak Farraz udah lama juga menduda. Nggak masalah sih kalau mau nikah lagi.” Ira mengangguk mendengar ucapan Jihan. “Tapi, setidaknya istrinya pasti cantik banget seperti almarhumah ya, ‘kan?” Mereka tidak tahu bahwa Neina sejak tadi menahan diri untuk tidak membandingkan dirinya dengan almarhumah istri Pak Farraz. Seketika Jihan menggeleng. “Kalau pun nggak cantik, minimal baik hati dan mau merawat serta mendidik Aziz yang masih butuh dukungan orang tua. Gue yakin, Pak Farraz sepemikiran sama gue.” “Bener juga sih.” Ira lalu menatap Neina sejenak. “Menurut lo gimana, Na?” “Y-ya gitu. Nggak semua harus dinilai dari fisik.” Ia berdeham sejenak. “Kalau Pak Farraz dapat perempuan fisik bagus tapi hatinya nggak bagus, buat apa kan? Toh, fisik juga bakal pudar seiring berjalannya waktu.” “Iya. Tapi, setidaknya orang yang seganteng, semapan, sekaya Pak Farraz pasti mendapatkan calon yang juga berpendidikan tinggi dan dari keluarga yang bermartabat.” Neina hanya menghela napas lelah, berharap bahwa teman-temannya ini tidak berlebihan berharap dengan calon Pak Farraz karena Neina tahu bahwa dia tidak ada dalam kategori tersebut. Mungkin keluarganya bermartabat dan memiliki karir yang terbilang sukses, tapi untuk fisik Neina sendiri, ia terlalu minder jika harus dibandingkan dengan almarhumah istri Pak Farraz, Zia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD