Sembilan : Secangkir Kopi dan Rencana Pembalasan

1822 Words
Di sebuah meja kayu bundar berukuran kecil surat kabar keluaran white horse bersanding dengan secangkir kopi hitam milik Andaru yang masih mengepulkan asap. Gadis bermata hitam pekat dengan bulu mata yang lentik itu masih menelusuri setiap kata yang tercetak pada lembar kertas koran tersebut. Rambut panjang sepunggungnya terurai menutupi sebagian wajah karena diterpa angin sepoi, sedangkan jemarinya sibuk mengelus kucing hitam yang sejak tadi berada dalam pangkuan. Kini tangannya berhenti mengelus kepala kucing, jemari lentik itu berpindah menyentuh sosok Pram yang berdarah-darah dalam koran tersebut. Sehingga hal itu membuat Andaru merasa terlempar lagi pada kejadian malam itu. Saat ia berlari seperti seorang pengecut. Andaru menghela napas sesak, sungguh penyesalan dan rasa bersalah adalah hal yang paling menyakitkan bukan? "Maafkan aku, Pram." Gadis itu berbisik entah kepada siapa. Dalam lamunannya itu, suara derit pintu gerbang yang terbuka membuat gadis itu menoleh. Pram berdiri di sana menenteng sebuah kantung plastik berlogo mini market dengan senyum cerah yang mereka indah. Senyum yang meluluhkan hati Andaru, dan membuatnya merasa terbebaskan dari kegelapan. Andaru membalas senyuman Pram bahkan dengan matanya yang ikut menyipit. "Bagus sekali kau sedang minum kopi, aku membawakan roti yang sama seperti yang semalam kita makan." Pram duduk tanpa dipersilahkan di seberang Andaru. "Kau tidak perlu repot-repot mengganti yang semalam," ucap Andaru menatap Pram yang mulai memasuki teras rumahnya. "Hey, siapa bilang aku mau menggantinya? Aku juga lapar tau," bas Pram diiringi kekehan ringan. Gadis itu tersenyum tipis nan tulus, "Kau ingin secangkir kopi?" tawar Andaru membuat Pram mendelik padanya. "Kau bercanda?" ucapnya, "tentu saja!" Mereka berdua tertawa kecil pagi itu. Andaru segera beranjak dan memindahkan kucingnya di kursi yang lain, lalu bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi Pramoedya. "Aku tidak akan lama," ucap gadis itu sambil melewati Pram. "Tenang saja, aku tidak akan pergi ke mana-mana." Sejenak sebelum punggung Andaru hilang ditelan kelokan pintu dapur, Pram masih mengamati gadis yang penuh dengan kejutan tersebut. Kemarin di waktu yang sama seperti saat ini, ia bahkan masih duduk memohon dan merayu gadis itu agar mau membantunya. Namun, seperti biasa Andaru terlalu kukuh dengan pendiriannya. Ia tak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba datang saat ia berusaha melampiaskan kemarahannya pada benda mati milik Bara. Tentunya sebelum Pram mendapatkan petunjuk lewat mimpinya semalam. Membicarakan Bara, Pram jadi teringat tentang kartu identitas kerjanya berada di dalam mobil yang semalam ia hancurkan. Ia terlalu hafal dengan mobil tersebut, sebab beberapa kali Bara sempat mengantarkannya pulang dengan mobil yang sama. Jadi, sudah tidak ada keraguan lagi bahwa mobil mewah yang ia hantam semalam bukanlah milik Bara. Lagi pula, Pram juga sudah terlalu hapal dengan sosok Bara. Mata yang sejak tadi menatap pekarangan rumah Andaru, kini beralih pada secarik kertas koran yang berada di atas meja. Perhatiannya tersedot sepenuhnya di sana. Yah, surat kabar yang dicetak oleh perusahaannya, white horse. Menampakkan dirinya terkapar berlumuran darah di tengah jalan. Antara perasaan ngeri dan marah itu muncul lagi ke permukaan. Melihat dari wajahnya yang babak belur, tak mungkin ia mati tertabrak. Bara pasti memukulinya hingga mati sebelum memanipulasi keadaan hingga kematiannya terlihat seperti kecelakaan biasa. "Dasar b******n licik," gumam Pram tanpa mengalihkan pandangan dari surat kabar tersebut. Sejak terbangun karena mimpinya semalam, ia sudah memiliki sekelebat rencana yang tersusun rapi dalam benak. Bagaimana ia akan menemui Lesmana Kumbara kemudian membalaskan dendam kematiannya. Hari ini Pram pasti akan mendapatkannya. "Minumlah. Setelah ini kita bahas apa yang akan kita lakukan untuk mencari tahu penyebab kematianmu," suara Andaru memecah lamunan Pram. Pria itu sempat tergagap saat melihat Andaru meletakkan secangkir kopi hitam lengkap dengan asap yang masih menepul, seolah menari-nari berusaha menarik perhatian Pram untuk segera menyeruput minuman berwarna hitam pekat tersebut. Namun, fokus Pram justru ada pada Andaru yang terlihat manis dengan sweater berwarna salem. Wajah sederhana dengan mata hitam yang sayu itu sangat jarang tersenyum. Pram sampai hapal bahkan jika hanya melihat punggung Andaru, pria itu pasti mengenalinya. Punggung tegar yang sebenarnya sangat amat rapuh. Pria itu beralih pada cangkir di atas meja, ia menghela napas kemudian menyentuh bibir cangkir dengan jemarinya. Aroma kopi buatan Andaru membuatnya sedikit lebih tenang. Sedetik kemudian Pram kembali menatap gadis yang duduk di depannya sibuk menyeruput kopi hitam. "Tentu kita harus bergerak cepat," Ucapnya sambil mengangkat tangan kiri di mana gelang mutiara itu melingkar sempurna di sana. "Waktuku sudah tidak banyak lagi, aku tidak mau menetap di sini menjadi arwah pendendam yang akan menghancurkan mimpi semua orang." Andaru tersenyum samar, "Itu tidak akan pernah terjadi." Mendadak keduanya diam dibebat kesunyian. Suasana pagi itu cukup cerah, burung bercericit ramai di antara dahan kering pepohonan yang mulai tumbuh dedaunan muda. Pram dan Andaru saling melempar tatapan, mengunci satu sama lain dalam fokus pandangan sehingga mengaburkan semua objek yang ada di sana selain mereka berdua. Dalam dan terus menusuk untuk mencari ketulusan yang sudah jelas tercetak dalam dua pasang manik yang saling menentang. "Aku akan membantumu." Andaru mengucapkan lagi kalimat yang serupa dengan semalam. Sepasang mata Pram perlahan memicing heran. Sedikit pun ia tak beralih dari Andaru. "Kau ...," ucap Pram menggantungkan kalimatnya, "Kau sangat penuh rahasia, aku tak bisa menebakmu." Pria itu mengalah lebih dulu. Ia meraih pegangan cangkir lalu mendekatkannya ke hidung untuk menghirup aroma kopi yang sangat ia sukai. Sebelum kemudian Pram menyeruputnya penuh dengan khidmat. Yah, inilah yang dinamakan ibadah ngopi. Ia tersenyum saat cairan hitam yang terasa hangat itu mengalir turun ke perut. "Meskipun begitu, kau tidak perlu merasa bersalah, karena kau tidak melakukan kesalahan apa pun hari itu." Pram semakin melebarkan senyumnya di depan Andaru untuk menguatkan gadis tersebut. Tulus dari hati ucapan itu ia lontarkan, meski semalam ia sempat berpikir perandaian yang tidak ada gunanya. Pram berusaha memahami posisi Andaru malam itu. Syukurlah ia sudah menjadi setengah arwah, mungkin karena hal itu ia bisa membaca isi kepala lawan bicaranya. Bahkan hal-hal yang ingin disimpan sendirian. Seperti Andaru. Pram tau Andaru ingin membantunya karena dorongan rasa bersalah yang selama ini menghantui gadis tersebut. Dalam hening kerongkongan Andaru mendadak seperti tercekeik, matanya pedih saat itu juga, tetapi pandangannya tetap mengunci Pram. Seolah-olah tak ada hal yang lebih menarik di sekitarnya dibanding sosok pria yang mustahil untuk ia miliki. "Aku melihat semuanya dalam mimpiku, jika bukan karenamu, hari ini aku tidak tau harus meminta tolong kepada siapa. Aku masih sangat beruntung karena malam itu, tangisanmu sudah menyelamatkanku hari ini," terang Pram dengan penuh kejujuran. Ia meletakkan cangkir kopi dan kembali bersipandang dengan Andaru. Gadis itu mendadak beranjak dari kursi, lalu pergi melewati Pram. Namun, tepat saat Andaru melangkah di depan Pram, pria itu langsung menahan lengan Andaru agar gadis itu diam di tempat. Pram mendongak demi menatap wajah ayu yang sedang berpaling darinya saat itu. "Kau akan kabur dan bersembunyi lagi?" Pram menghela napasnya berat. "Hey, lihat aku, aku sedang bicara denganmu. Kenapa kau jadi begini? Apa ada yang salah dengan ucapaku?" Andaru masih bungkam. Saat ini ia bahkan tak memiliki keberanian lagi untuk sekedar menatap Pramoedya. Pria yang selama ini ia sukai diam-diam, yang selama ini memberikan secercah cahaya pada hidupnya yang gelap. Akan tetapi, hatinya serasa diremas hingga hancur tak bersisa menerima kenyataan bahwa sosok Pram sudah pergi untuk selamanya. Pria di sebelahnya itu tak boleh ia anggap nyata, karena sewaktu-waktu Pram akan pergi ke tempat yang seharusnya. Sedangkan Andaru sendiri masih belum siap dengan sebuah perpisahan. Tak mendapatkan jawaban dari Andaru, Pram berdiri dari kursi. Ia beralih menyentuh kedua pundak Andaru dan memutar tubuh gadis itu hingga sepenuhnya berhadapan dengannya. Pram menunduk berusaha melihat wajah yang sedari tadi di sembunyikan oleh pemiliknya. Namun, Andaru juga kukuh enggan menatap lawan bicaranya. "Hey, kau baru saja bilang akan membantuku, tapi kau bahkan tidak mau menatapku sekarang," tanya Pram lembut. Ia mengusap pundak Andaru pelan, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa kematiannya bukan salah Andaru. "Jangan biarkan perasaan bersalah itu mengalahkanmu, An. Bukan kau yang membunuh—" "Aku yang membunuhmu!" potong gadis itu parau. Perlahan ia tunjukkan wajah penuh rasa bersalah itu di depan Pram. Sehingga Pram semakin merasa iba, betapa berat selama ini Andaru menjalani kehidupannya. "Seandainya malam itu aku lebih berani, kau tidak akan mati begitu saja. Seandainya malam itu aku tidak meninggalkanmu sendirian, kau mungkin tidak akan mati begitu saja. Aku terlalu pengecut, aku selalu kabur dan bersembunyi seperti orang yang tidak waras, aku sudah membuatmu mati begitu saja. Aku juga sudah membuat orang tuaku meninggalkanku sampai saat ini," tangisnya tersedu. "Aku hanya beban, aku yang membuatmu sengsara dan kesulitan sampai detik ini, aku juga—" "Hentikan, An!" ucap Pram pelan, tapi penuh dengan penekanan. "Kenapa? Kau juga terluka mendengarnya, 'kan? Kau kecewa karena malam itu aku meninggalkanmu sendirian, kau pasti berpikir kalau saja malam itu aku tidak pergi. Sekarang kau pasti masih bisa —," Cup! Kedua tangan Pram yang berada di pundak Andaru berpindah menyentuh kedua pipi gadis itu, lalu dengan gerakan cepat ia mencium bibir ranum merah jambu tersebut dengan lembut. Hanya kecupan sekilas yang membuat Andaru membeku dalam dekapan Pram. Kedua tangan pria itu masih bersarang di pipi Andaru, ibu jarinya menghapus jejak air mata yang senang sekali turun di sana meninggalkan jejak luka. Pram terus menatap sepasang mata Andaru yang membola sempurna. Gadis itu sendiri merasa seperti tersengat lebah, kakinya lemas dan dadanya bergemuruh hebat. Ia sempat oleng ke belakang, dan berkemungkinan terbentur dengan lantai jika saja Pram tidak menahan pinggang Andaru dalam pelukannya. "Aku tau kau memang sangat pengecut, tapi mau sampai kapan kau seperti itu? Hmm?" bisik Pram. Lewat tatap matanya Pram seolah ingin menyampaikan hal yang sangat penting untuk gadis itu. Ketulusan. Pram ingin Andaru menyadari bahwa ia sepenuhnya tak pernah menyalahkan Andaru atas semua yang menimpanya. Pram memiringkan kepalanya, "Dan lagi ... "Kenapa kau sangat menggemaskan saat banyak bicara seperti barusan?" bisik Pram, "kalau kau bicara seperti itu lagi, aku akan menciummu lebih dari ini." Pria itu terus mempertahankan Andaru dalam pelukannya. Ibu jari tangan kanannya masih mengusap pipi lembut Andaru penuh perhatian. Menciptakan gejolak tak tertahankan dari gadis itu. Andaru bisa gila jika Pram tidak melepaskannya sekarang juga. "Le-le ... lepaskan," gagapnya mendorong d**a bidang Pram. Namun, Pram justru mengulum senyum jahil menyaksikan pipi yang mulai merona tersebut. "Tidak, sebelum kau berjanji, tidak akan mengulanginya lagi." Andaru diam, ia menatap Pram sekilas. Dan, sial! Jantungnya berdebar kencang sehingga kakinya gemetar. "Tapi, memang aku yang sud—" Pram mendekatkan kembali kepalanya sebelum sempat Andaru menyelesaikan ucapannya. Namun, gadis itu sudah lebih dulu menahan bibir Pram dengan telapak tangannya. "Ba-baiklah ... aku tidak akan mengulanginya lagi," cicit Andaru sampai ke telinga Pram. "Sekarang lepaskan aku." Akhirnya Pram melepaskan pelukannya. Gadis itu bergegas lari ke dalam rumah untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam. Sedangkan Pram kembali duduk di kursinya. Ia sempat mengintip Andaru yang sudah menghilang di dalam rumah, lalu diam-diam ia membanting punggung pada sandaran kursi. Kedua tangannya menyentuh d**a atas bagian kiri yang berdebar tak keruan. Pria itu mengambil napas rakus sambil mengacak rambutnya kasar. "Dasar sinting! Apa yang barusan aku lakukan?!" umpat Pram menampar pipinya sendiri geram. Ia merasa sudah menjadi pria m***m yang sengaja memanfaatkan kesempatan. Pram meraup wajahnya gemas. "Gila! Kau ini sudah gila, Pram. Benar-benar tidak waras." BERSAMBUNG!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD