Sepuluh : Penculikan di Sebuah Restoran

1939 Words
~A k s a m a~ "Lesmana Kumbara." Matanya nyalang menatap lurus ke depan. Sejak pagi tadi, Pram bahkan tak memiliki niat untuk kembali pulang. Ia masih merasa nyaman di rumah kecil Andaru yang memiliki pekarangan asri. Langit sore mulai menggila, perasaannya kacau dan dipenuhi rasa melankolis. Pram benci itu. "Kau sudah yakin dia yang melakukannya?" tanya Andaru. Kini perhatiannya berpindah pada sepasang mata teduh milik Andaru. Gadis itu segera memalingkan wajah dari Pram, mengingat kejadian tadi pagi. Ia beralih mengelus-elus kucing yang sejak tadi dipangkuan. Kepalanya sengaja tertunduk membiarkan rambut hitam itu terurai jatuh menutupi wajah yang mulai merona. 'Kendalikan dirimu, An! Kau tidak boleh seperti ini.' Andaru mengatur napas untuk menenangkan dadanya yang mulai berdetak abnormal. Ia tidak boleh terlihat bodoh di depan Pram. Pria yang sudah cukup lama ia kami. Kejadian tadi pagi hanyalah sebuah kesalahan, jadi Andaru tak perlu terus menerus memikirkannya. "Kenapa? Kau meragukannya?" "Eung ... tidak. Bukan seperti itu." Gadis itu menggeleng pelan. Masih enggan menatap pria di sebelahnya. "Sebenarnya aku menemukan ini," sambung gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku sweaternya. Andaru mengulurkan tangannya pada Pram, lalu meletakkan sebuah cincin kawin yang tak asing di mata Pram. Matanya memicing memastikan setiap lekuk cincin tersebut adalah milik seseorang yang ia kenali. Sebuah nama terukir di dalam bagian cincin dengan manik mata berlian kecil di tengahnya. "Wayan Wijaya," gumam Pram. Dugaan itu tidak salah lagi. Ia sudah terlalu hapal dengan cincin yang selalu melingkar di jari manis bosnya. "Aku memutuskan untuk kembali malam itu, tapi kau dan lelaki kurus itu sudah tidak ada di sana. Hanya itu yang tersisa, dan ... pakaianmu yang berulumuran darah sudah terbakar di tempat sampah," imbuhnya masih enggan menatap Pram. Gadis itu mengulum bibir, menyesal karena baru menceritakan semua itu hari ini pada Pram. "Bahkan jejak darahmu sudah tidak ada saat aku tiba di sana. Hanya aroma bensin yang tersisa sangat kuat, jadi bau anyir itu juga sudah benar-benar hilang.". "b******n gila! Dia pasti psikopat sinting, dia membereskannya dengan sangat baik," ucap Pram kesal. Matanya kembali fokus pada cincin di tangan, "Tapi, cincin ini bukan milik Bara." "Karena itu, aku juga sedikit ragu, bukankah itu cincin pernikahan? Sedangkan pria yang bernama Bara itu belum menikah. Seingatku." Pram mengangguk cepat. "Ini milik bosku, mungkin aku harus bertanya padanya. Dia pasti tau sesuatu tentang kematianku, 'kan?" lagi-lagi Pram terlihat sangat antusias. Matanya bahkan berbinar seperti telah menemukan secercah harapan baru. Akan tetapi, tidak dengan Andaru. Gadis itu tampak berpikir sebentar sebelum kemudian berucap, "Kurasa kita tidak boleh terlalu cepat menyimpukan." Andaru kini menatap Pram sekilas, tetapi ia beralih ke pekarangan rumah saat pria itu membalas tatapannya dengan tanya. "Aku tau kau cukup dekat dengan Pak Wijaya, tapi lebih baik kita fokus menemui Bara terlebih dahulu. Menurutku lebih baik tidak banyak orang yang tau bahwa kau bangkit kembali," jelas gadis itu lugas. Pram tampak berpikir sebelum kemudian mengangguk setuju dengan ucapan Andaru. Pria itu berdiri dari kursi dan mendekati Andaru yang masih duduk memangku kucing. "Kau benar, aku hanya terlalu bersemangat," kekeh Pram. "Tapi, apa kau menyadari sesuatu?" "Apa?" Akhirnya Pram berjongkok tepat di depan Andaru. Sehingga gadis itu membolakan matanya saat kedua tangan Pram mengurung dirinya pada sandaran kursi. "Kau selalu menghindari tatapanku, apa aku terlihat aneh?" Buru-buru Andaru mendorong Pram hingga terjungkal ke belakang. Gadis itu berpaling sambil menggendong kucingnya. "Ti-tidak!" sentaknya kesal. Pram terkekeh melihat reaksi gadis tersebut. Ia masih terduduk di lantai sambil menatap punggung Andaru yang bahkan terlihat sangat manis. "Pulanglah, besok kita harus bekerja keras untuk menemui Bara. Jadi, berhentilah tertawa," katanya sebelum bergegas pergi memasuki rumah. Alih-alih menghentikan tawanya, Pram justru makin terkikik geli. Gadis itu ternyata benar-benar sangat menggemaskan. Ia jadi, memiliki hobi baru yaitu menjahili Andaru. "Kau sangat manis, An." ~a k s a m a~ Di depan gedung white horse Andaru dan Pram berdiri terpaku, menatap bangunan megah yang berdiri tegak tersebut. Mengabaikan kendaraan yang lalu lalang di sekitar mereka juga orang-orang yang sibuk berkeliaran di sisi jalanan. Keduanya sudah sepakat untuk menemui Bara di jam makan siang dan menculik pria itu untuk diinterogasi. Pram dan Andaru menoleh saling tatap satu sama lain, sebelum kemudian mengangguk mantap. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tengah hari, Pram melirik Andaru sekali lagi. Gadis itu masih terlihat gugup sambil meremas jemari tangannya sendiri. "Kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Pram mengkhawatirkan Andaru. Gadis itu memutar tubuh menghadap Pram, kemudian mengangguk pelan. "Aku hanya ... hanya sedikit gugup, sudah lama tidak bertemu banyak orang. Apa lagi aku pernah bekerja di sana, mungkin saja aku akan bertemu dengan beberapa kenalanku," katanya, "itu agak merepotkan." Pram tersenyum. Tangannya terulur menepuk puncak kepala Andaru lembut. Supaya gadis itu tau bahwa ia selalu mendukungnya dari belakang. Pram akan selalu membayangi Andaru. "Aku bisa melihatmu dari sana," kata Pram menunjuk sebuah restoran yang memiliki tema out door. "Jadi, jika ada seseorang yang berani macam-macam denganmu, aku bisa berlari dengan cepat menghampirimu. Kau tidak perlu meragukan lagi kemampuan kaki panjangku ini." Pram tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. Gadis itu ikut tersenyum, bahkan terkikik pelan. Tangan Pram beralih ke pundak Andaru lalu pria itu menggangguk, tepat saat banyak karyawan white horse yang keluar dari pintu utama. "Pergilah, aku akan mengirimnya padamu." Andaru mengusir Pram dengan dagunya. Pria itu mengangguk, menatap punggung Andaru yang menjauh melewati zebra cross. Pram menurunkan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya, lalu beranjak pergi. Keduanya berpisah di depan area penyebrangan, Andaru yang bertugas untuk menggiring Bara menuju Pram. Dan pria itu akan mengurus sisanya nanti. Pram menghela napas berat, siap tak siap ia akan menghadapi Bara. b******n yang sudah menghancurkan hidupnya begitu saja. "Bagaimanapun juga, kau harus membayar semua perbuatanmu, berengsek!" gumamnya. ~a k s a m a~ Di dekat pintu utama yang terbuat dari kaca itu, Andaru berdiri di antara anak tangga. Matanya dengan jeli mencari sosok Bara yang akhirnya menampakkan batang hidungnya. Saat-saat seperti ini membuat Andaru kembali mengingat kenangannya dulu. Waktu ia masih menjadi petugas kebersihan di kantor saat jam makan siang. Ia yang paling rajin berada di lobi untuk membersihkan debu demi melihat Pram dan Bara keluar bersama untuk makan siang. Kemudian saat keduanya kembali, Pram selalu memberikan kopi atau minuman lainnya untuk Andaru. Gadis itu tersenyum hambar mengingatnya. Namun, ia tersadar bahwa kedatangannya ke sini bukan untuk bernostalgia. Andaru datang dengan misi untuk diselesaikan. Langkahnya terburu-buru untuk mendekati Bara yang terlihat sibuk dengan ponsel di tangan. "Permisi, apa kau mengingat?" tanya Andaru menyamai langkah Bara yang cepat menuruni anak tangga. Pria itu menoleh sekilas dan menatap Andaru secara intens. "Maaf, tapi aku tidak mengenalmu," balasnya sopan. Sepasang mata polos dan wajah imut itu, apakah mungkin telah benar-benar melakukan pembunuhan pada temannya sendiri? Andaru jadi gamang. Akan tetapi, nyalinya tidak juga padam. Ia masih membayangi Bara dan mengikuti setiap langkah kakinya. "Tu-Tung-tunggu sebentar! Kita sering bertemu saat jam makan siang, coba kau ingat-ingat lagi," bujuk Andaru masih terus berusaha. Bara abai, bahkan tak sedikit pun menoleh pada Andaru yang terus membuntutinya. "Hey, kau mau ke mana? Bukankah makanan di Restoran itu lebih enak? Kau akan mendapatkan secangkir kopi geratis jika datang bersamaku," ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah restoran yang sudah ia rencanakan bersama Pram. "Bisa diam tidak?!" bentak Bara kesal. Katanya menelisik Andaru dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu kini tertunduk saling meremas jemarinya sendiri. "Maaf, aku hanya ingin menanyakan soal Pramoedya padamu. Karena hanya kau teman makan siang yang selalu bersamanya setiap saat," cicitnya sengaja membuat Bara terpancing penasaran. Mendengar nama itu, sepasang mata Bara melembut. Ia mendekatkan diri pada Andaru, "Kau ... kau tau dari mana kami sering makan siang bersama?" "Dulu aku bekerja sebagai petugas kebersihan di kantormu, dan Pramoedya sering memberikan minuman gratis padaku setelah makan siang bersamamu," balas Andaru jujur. Bara mengangguk paham, ia menepuk pundak Andaru pelan, "Baiklah, kita makan di restoran yang kau tunjukkan tadi." "Benarkah?" "Tentu saja, aku harus mendengar soal Pramoedya darimu, bukan?" Andaru mengangguk cepat, "Terima kasih." Bara tak membalas, ia hanya tersenyum dan mengikuti langkah Andaru. Keduanya mulai menyeberang jalan menuju restoran yang ditunjukkan Andaru. Bara membuntuti gadis itu dari belakang sambil sesekali mengecek ponselnya. Setibanya di sana, Andaru juga yang memilih letak kursi yang sudah di rencanakan agar Pram bisa mengintai mereka berdua. "Kau mau pesan apa?" tanya Andaru antusias. "Apa saja, yang penting kenyang." Andaru mengangguk kemudian membuka buku menu yang ada di depannya, "Baiklah." Dari posisi yang tidak terlihat Pram tersenyum hiperbolis menatap Bara dengan sorot tajam. Dalam dirinya gejolak ingin menghancurkan Bara semakin membara. Pram mati-matian mengendalikan emosinya saat itu. Apa lagi kakinya sudah gemas ingin melangkah lalu menghadiahkan tendangan pada Bara. "Dasar kunyuk! Kebiasannmu itu bahkan membuatku sangat muak," gumam Pram. Sedangkan di meja Andaru dan Bara, gadis itu sudah menentukan pesanan. Sesekali ia melirik Pram yang terus mengintai keduanya dari kejauhan. Namun, mendadak pria itu beranjak dari kursinya. Sepasang alis Andaru terpaut sempurna, ini tidak ada dalam rencana mereka. Ke mana pria itu akan pergi? "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan soal Pram?" Bara meletakkan ponselnya di sisi meja, lalu disusul dengan kedua tangan yang bertumpu sepenuhnya di sana. Andaru yang mendapati pertanyaan secara mendadak seperti itu tersetak kaget, tetapi gadis itu mampu menutupi keterkejutannya dengan sangat baik. Andaru tersenyum sebelum kemudian menoleh menatap Bara yang duduk di seberangnya. "Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kau bersedia menanggapi kemauanku," ucap Andaru. Bara mengangguk, ia menelisik wajah Andaru. Pria ini baru saja menyadari bahwa gadis di depannya menarik juga. "Tidak masalah, jika kau teman Pram, maka kau juga akan menjadi temanku," balasnya, "jadi, apa yang ingin kau sampaikan?" "Aku harap kau tidak tersinggung, karena aku juga sangat penasaran dengan hal ini. Apa kau tau sesuatu tentang kematian temanmu itu?" Dahi Bara berkerut heran. Tanda tanya besar muncul dalam kepalanya, tetapi pria itu tak melepaskan sosok Andaru dari pandang matanya. Ia terus mengamati pergerakan gadis tersebut. "Apa yang kau ketahui?" Andaru tampak gugup, matanya melirik ke seantero restoran secara tak ketara. Namun, belum juga ia temui sosok Pram. Mau tak mau, ia harus mengurus semuanya sendiri. Gadis itu menghela napas pelan. "Tidak apa-apa, katakan saja. Sebenarnya aku juga sedikit merasakan hal yang tidak wajar," balas Bara tertawa skeptis. Pria itu mendadak menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan wajah santai ia tatap Andaru yang bergeming di tempatnya. "Apanya yang tidak wajar?" Suara berat itu membuat kedua insan yang tadinya saling pandang menoleh ke arah sumber suara. Andaru menatap Pram dengan tanda tanya, dari mana pria itu muncul secara tiba-tiba? Dan, apa yang sebenarnya sedang Pram rencanakan? Berbeda dengan Andaru yang masih bingung, Bara justru membeku seperti mayat yang sudah kaku. Oksigen di ruangan itu seperti habis tak bersisa untuknya, napas Bara tersengal naik turun menatap sosok Pram yang berjalan mendekatinya sambil membawa nampan. "K-ka-kau?" ucap Bara dengan mata sepasang mata yang membelakak kaget. Pram melempar senyum sinis seraya meletakkan makanan di meja dengan sedikit gebrakan. Pria itu menopang tubuhnya dengan kedua lengan yang bertumpu di atas meja. "Apa yang kau maksud tidak wajar Lesmana Kumbara?" katanya, "Apa karena kau telah menghabisi nyawa temanmu sendiri?" Andaru hanya menyaksikan peristiwa itu dengan kebisuan. Ia tidak tau Pram akan muncul dengan tiba-tiba seperti ini. Sudah pasti Bara merasa terkejut setengah mati. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati bisa hidup lagi. Andaru menghela napas pendek sambil menarik sebuah nuget ayam. Ia menatap Pram yang masih memandangi Bara dengan kebencian. "Hentikan, kau membuat orang-orang salah paham." Andaru menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Ia mengenakan tudung sweater hingga menutupi sebagian wajah karena para pengunjung sedang menatap Bara dan Pram dengan ekspresi aneh. "Lagi pula dia sudah pingsan, biarkan saja." "Kau tahu An?" tanya Pram tanpa bergerak sedikit pun. "Apa?" Pram tertawa hiperbolis, "Aku sangat ingin menghabisinya sekarang juga." "Kau sangat penuh dengan kejutan Pram," imbuh Andaru tertawa kecil. B e r s a m b u n g! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD