Andaru tersenyum tipis menatap Pram yang berada di depannya memimpin jalan untuk menuju ke rumah pria itu. Bukan tanpa sebab, bagaimana mungkin Andaru tahan dengan segala ocehan Pram yang terdengar menggelikan. Gadis itu tahu Pram marah, kesal, dan merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sejak berada dalam restoran sebelumnya, Pram juga masih menggerutu pada Bara yang tak sadarkan diri. Sesekali bahkan Pram sudah melakukan penganiayaan kepada Bara dengan menepuk-nepul pipi pria itu gemas. Ia bahkan sudah tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang berada di restoran saat itu.
"Dasar berengsek! Kau ini berat sekali," gumam Pram di setiap perjalanan. Ia melangkah terburu-buru dengan menggendong Bara di pundaknya seperti karung beras.
Sedangkan Andaru yang berada di belakangnya terkekeh kecil. Ia berlari kecil untuk menyamai langkah pria yang diam-diam ia kagumi tersebut. Gadis itu menyentuh lengan Pram yang lain lalu tersenyum.
"Ternyata kau juga punya sisi seperti ini?" Andaru tampak mengulum bibir ranumnya.
Pram hanya menghela napas berat. Sudah pasti ia merasa lelah menggotong Bara sejak di persimpangan setelah mereka turun dari taksi.
"Jangan menggodaku. Aku sedang kesal sekarang," balas Pram masam.
Namun, Andaru justru terkekeh kecil. Ia berjalan mundur di depan Pram sambil terus memamerkan senyumnya. Matanya sesekali mendongak ke atas menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Hanya ada segaris bulan sabit yang mengintip dari balik awan mendung. Sepertinya malam ini hujan akan turun. Kini pandangan Andaru kembali turun pada sosok Pram.
"Apa masih jauh?" tanya gadis itu.
Pram menggeleng, napasnya memburu naik turun. Pria itu menunjuk sebuah pagar sebatas pinggang berwarna hitam yang tinggal berjarak dua blok lagi.
"Tidak," jawabnya, "dua blok bangunan lagi, rumahku ada di sana. Kau bisa masuk duluan, kuncinya ada di dekat pot bunga."
Andaru mengangguk setuju. Tanpa banyak bicara lagi gadis itu berlari kecil membuat anak rambut hitam sepinggangnya bergoyang ke kanan dan kiri. Diam-diam Pram tersenyum menatap punggung Andaru yang menjauh. Entah kenapa akhir-akhir ini perutnya mudah sekali merasa geli. Terlebih saat berada di dekat gadis itu. Gadis yang setiap hari ia temui di lobi dan ruang istirahat saat ia menyeduh kopi buatannya di kantor. Pram masih ingat betul, bagaimana ia pertama kali berkenalan dengan Andaru.
~A k s a m a~
Jam istirahat makan siang sudah habis. Seperti biasa saat Bara sedang melakukan riset di luar kantor, Pram pasti melewatkan makan siangnya. Karena hanya Bara yang berani mengganggu Pram bahkan membuat pria itu bangkit dari kursinya untuk keluar makan siang. Bagi Pram, makan siang bukan hal yang begitu penting. Asal ia masih bisa menikmati kopi hitam, meski hanya seteguk itu sudah cukup. Karena kopi adalah suatu kewajiban bagi pria itu.
Seperti hari itu, saat Bara tidak ada di kantor. Pram menenteng botol tumbler di tangan kiri yang berisi racikan kopi untuk di seduh di dapur sekaligus ruang istirahat yang disediakan oleh kantor. Di tangan kanannya ada selembar kertas yang baru saja keluar dari mesin print. Wajahnya serius membaca deretan kata yang berjejer di sana. Pada selembar kertas itu berisi artikel panas yang baru saja selesai ia garap. Tentang kabar terbaru penyelundupan n*****a juga penjualan wanita lewat pasar gelap. Berita ekslusif yang berhasil Pram dapatkan setelah semalaman menyelidiki kebenarannya. Senyum hiperbolis tercetak jelas di bibir Pram, sebab pria itu yakin Presdir Wijaya pasti akan menerima tulisannya sebagai headline berita seperti biasanya.
"Kerja bagus!" ucap Pram memuji dirinya sendiri.
Sesampainya di dapur kantor, Pram meletakkan kertas di tangannya ke atas meja yang kosong. Hanya ada beberapa gelas yang tengkurap dengan rapi dan sebuah teko kaca yang berisi air putih. Pasti untuk para staf kebersihan. Ia menatap sekeliling dapur yang sepi, dan segera mendekati teko elektrik untuk memanaskan air. Pria itu sempat menatap sekeliling dapur yang bersih dan rapi seperti biasanya sambil mengangguk-Angguk Pram memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan.
'Mungkin semua staf kebersihan juga sedang beristirahat untuk makan siang.'
Saat itu juga tiba-tiba pintu dapur terbuka, Andaru datang membawa bungkusan plastik berisi roti sambil bersenandung kecil. Rambut hitamnya diikat ekor kuda, dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Melihat kedatangan Andaru Pram berdiri tegak mengeluarkan kedua tangan dari saku celana. Sedangkan Andaru yang belum menyadari keberadaan Pram kini sudah duduk di kursi, ia meletakkan bungkusan yang ia bawa sambil terus bersenandung kecil. Andaru baru saja keluar mencari makanan ringan, seharian ini ia tak sempat duduk karena ada banyak tamu yang datang sehingga ia sibuk berada di lobi seharian untuk membersihkan jejak sepatu. Gadis itu sudah bersiap akan memasukkan roti ke dalam mulutnya. Akan tetapi, roti di tangannya justru terjatuh, ia mendadak mematung menatap Pram yang juga tengah menatapnya kikuk. Matanya membulat sempurna, membuat Pram ikut bingung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh, Hai!" sapa pria itu mencoba terdengar akrab.
Andaru mulai tersadar, gadis itu buru-buru menunduk sambil memungut rotinya yang jatuh. Ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan dari Pram.
"Eung ... se-sejak kapan kau di sini?" tanya Andaru dengan wajah yang bersemu merah.
"Aku ketinggalan jam makan siang, jadi aku numpang untuk menyeduh kopi di sini. Maaf jika aku mengganggumu."
Pram menatap Andaru yang memalingkan wajah darinya. Gadis itu memakan roti dengan tak beraturan, keduanya sedang berada dalam posisi canggung.
"Apa kau keberatan?" Pram bertanya dengan hati-hati.
Meskipun posisinya lebih tinggi dari Andaru, tetapi pria itu tetap mendahulukan sopan santun. Ia merasa daerah ini bukanlah teritorinya. Jadi, apa salahnya ia meminta izin? Toh, ia tak akan rugi.
"Tentu saja tidak," balas Andaru singkat. Ia sempat menatap Pram sekilas. Hanya sekilas.
Keduanya sama-sama diam untuk yang kesekian kalinya. Sampai suara teko elektrik yang berdenting memecah hening, Pram segera menyeduh kopi dalam botol tumblr-nya tanpa menunggu lama. Saat itu, saking gugupnya karena melihat Pram dengan posisi sedekat ini, dalam ruangan kecil ini pula, Andaru sampai tersedak roti. Gadis yang sedang menikmati makan siangnya itu terbatuk meletakkan rotinya di atas meja.
Sementara Pram bertindak dengan cepat menuangkan air putih dalam gelas untuk Andaru. Ia letakkan gelas itu sampai menyentuh tangan Andaru.
"Hei, pelan-pelan." Pram menyodorkan gelas tersebut ke tangan Andaru.
"Pelan-pelan saja, tidak ada yang akan meminta rotimu," ucap Pram seperti sedang berdialog dengan anak kecil.
Andaru segera meneguk air putih tersebut sampai tandas. Ia mengusap bibirnya laku melirik Pram yang masih menatapnya khawatir.
"Te-terima kasih."
Pram tersenyum manis, "mau secangkir kopi?"
Andaru menggeleng sungkan, meski sejujurnya ia senang jika Pram bersedia minum kopi di ruangan kecil ini bersamanya.
"Kenapa? Kau tidak suka, atau memang tidak minum kopi?" tanyanya.
Lagi-lagi Andaru menggeleng pelan. Pandangannya masih berkeliling, tak berani menatap Pram secara terang-terangan.
"Kalau begitu minumlah sedikit." Tanpa aba-aba dan persetujuan dari Andaru, Pram menarik cangkir baru lalu menuangkan kopi hitam untuk Andaru.
"Aku meraciknya sendiri dari rumah, kau harus mencobanya. Aku jamin kau pasti suka," imbuh Pram.
Kemudian menuangkan secangkir lagi untuk dirinya sendiri. Siang itu Pram menikmati kopi di dapur kantor sambil kembali mengamati hasil tulisannya dengan bangga. Entah mengapa meskipun berulang kali ia membaca, bagi Pram pekerjaannya kali ini sangatlah sempurna. Ia yakin berita ini akan membawa gebrakan besar di masyarakat.
"Kau bisa berbagi roti itu denganku jika merasa tak nyaman, jadi anggap saja kita sedang melakukan barter." tiba-tiba Pram berucap tanpa menatap Andaru. Pasalnya gadis itu sama sekali tak menyentuh cangkir yang mengepulkan asap di depannya.
Matanya fokus pada berita yang ia ciptakan. Hal yang ia pikir akan membuat nama white horse menjadi surat kabar yang paling banyak dicari karena berita yang eksklusif. Namun, tanpa Andaru ketahui Pram terus memperhatikan gadis itu yang dengan ragu, menyodorkan sepotong roti isi cokelat di dekat Pram. Sehingga membuat Pram menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak tertawa, untung saja Andaru tak menyadari bahwa sejak tadi hidung Pram sudah kembang-kempis menahan tawa. Pun dengan senang hati, Pram menerima roti dari Andaru yang sudah menyetujui tawaran barter darinya. Tanpa disadari hal itu membuat Pram mengunggingkan senyum manis lagi padanya.
"Terima kasih," kekehnya.
"Terima kasih juga untuk kopinya." Andaru menanggapi sambil mengangkat cangkirnya canggung.
Pria itu mengangguk tulus. Matanya kini melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan. Ia masih punya cukup banyak waktu untuk beristirahat. Pram mulai memakan roti pemberian Andaru, sambil mengangguk-angguk.
"Kau pandai memilih roti yang enak," puji Pram yang hanya dibalas sebuah anggukan singkat oleh Andaru.
"Oh, iya. Namaku Pramoedya Bagaskara. Kau bisa memanggilku Pram." Tangannya terulur menanti dijabat oleh Andaru.
Cukup lama tangan Pram menggantung di udara sebelum kemudian gadis itu menyambutnya dengan hangat. Tangan hangat yang seolah menarik Andaru dari kegelapan.
"Andaru," cicitnya hampir tak terdengar.
Dahinya mengernyit tak paham, tetapi sebenarnya name tag yang berada di seragam gadis itu sudah cukup jelas bagi Pram. Ia tersenyum lagi.
"Aku akan memanggilmu Lintang, setuju?" katanya.
Andaru diam tak bereaksi mendengar pertanyaan Pram. Gadis itu menatap sepasang mata Pram yang teduh.
"Diam berarti setuju, Lintang."
~A k s a m a~
Setelah cukup lama mencari-cari keberadaan saklar lampu, akhirnya gadis itu menemukannya. Ruangan gelap itu kini jadi terlihat jelas isinya. Rumah yang sangat berantakan. Ada beberapa pakaian yang tersampir pada sandaran sofa. Bungkus makanan siap saji, dan juga kaleng-kaleng minuman. Tanpa banyak bicara gadis itu terlebih dulu membereskan sofa, supaya nanti Pram bisa meletakkan Bara dengan mudah.
Tangannya dengan luwes mengumpulkan pakaian kotor menjadi satu di salah satu sofa berukuran kecil. Ia mulai mengambil sebuah plastik berlogo mini market yang tergeletak di lantai, dan memunguti sampah yang berserakan.
"Apa dia selalu memakan, makanan seperti ini?" tanya Andaru bermonolog.
Gadis itu menghela napas lalu memasukkan bungkus makanan instan ke dalam kantung kresek. Belum sempat ia menyelesaikan pekerjaannya bel pintu sudah berdenting, gadis itu terburu-buru untuk membukanya. Sudah pasti Pram yang datang.
"Oh, tolong cepat. b******n ini berat sekali," keluh Pram.
Andaru membuka pintu selebar-lebarnya dan membiarkan Pram masuk terlebih dahulu sebelum kemudian ia kembali menguncinya.
"Letakkan dia di sofa," ucap Andaru.
Dengan kasar Pram membanting Bara di atas sofa begitu saja, dan hal itu membuat Andaru meringis. Tepat saat kepala Bara terantuk lengan sofa cukup keras. Ia mendekat membenahi posisi Bara di atas sofa agar lebih baik.
"Kendalikan dulu emosimu, kau bisa saja membuatnya gegar otak," kata Andaru melirik Pram.
"Lagi pula kau sudah memukulnya sampai dia tak sadarkan diri, apa itu belum cukup?"
Pria itu tak acuh, ia segera bergegas ke sofa yang lain dan membanting tubuhnya sendiri ke sana. Keringat menghiasi pelipis juga punggung kemeja putihnya yang basah. Andaru datang dari dapur membawakan segelas air untuk Pram. Dan hal itu secara spontan membuat pria itu kembali duduk menyandarkan tubuh di punggung sofa.
"Ah, terima kasih banyak!" ucapnya setelah menandaskan segelas air.
Gelas kosong yang sengaja diletakkan di atas meja oleh Pram itu kembali diraih oleh Andaru untuk dikembalikan ke dapur. Hal itu membuat Pram menautkan alisnya, kemudian menatap sekeliling disusul dengan helaan napas. Matanya mengekori Andaru yang sibuk bergerak di dapurnya.
"Hey, hentikan. Aku tidak memintamu ke sini untuk menjadi pembantu." Pram menatap Andaru yang masih berada di dapur.
Sedangkan ia duduk di ruang tamu. Andaru hanya diam, ia membuka kulkas milik Pram. Ada rasa kasihan yang menelusup ke hati saat melihat isi kulkas yang sangat-sangat tidak layak. Saat itu juga pandangan Andaru berpindah menatap Pram yang duduk di sofa, sebelum kemudian kembali mengabsen setiap benda yang ada di dalam kulkas. Hanya ada sawi hijau yang mulai kering, air putih dan bir yang tertata di sana. Ah, juga makanan instan, dan frozen food. Tak salah lagi, dugaan Andaru pasti benar. Selama ini Pram hanya memakan makanan yang kurang layak.
"Kau tidak mendengarku, ya?"
"Tidak masalah, aku hanya tidak bisa melihat ruangan yang kotor." Andaru membalas ucapan Pram. Gadis itu sudah menutup kulkas sambil membuang sawi kering ke tempat sampah.
Kali ini ia mengumpulkan perabotan kotor ke dalam cucian piring. Gelas bekas kopi yang entah sudah berapa hari, piring, kotor, panci bekas merebus mie, semua perabotan kotor milik Pram kini sudah berpindah di tempat cuci piring. Selesai merapikan bagian dapur, Andaru kembali menuju ke ruang tamu dan meraih kresek untuk memunguti sampah yang belum sempat ia selesaikan. Gerakannya sangat cekatan, karena memang Andaru sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Melihat hal itu Pram gemas juga dibuatnya. Gadis itu ternyata cukup keras kepala. Mau tak mau, Pram berdiri dari kursi yang mendekati Andaru yang berjongkok untuk mengumpulkan sampah. Kedua tangannya menahan lengan Andaru untuk berhenti.
"Kau ini keras kepala sekali, ya? Sudah kubilang hentikan, kenapa kau tidak mau mendengakanku?!" Pram menahan tangan Andaru sambil menatap gadis itu gemas.
Perlahan Andaru juga menghela napas pendek. Kenapa pria di depannya mendadak bawel sekali. Ia menatap Pram tenang lalu melepaskan genggaman tangan Pram.
"Aku akan berhenti saat semuanya sudah rapi."
Pram mendelik, "Kalau kau seperti ini, lebih baik kau pulang saja. Aku tidak butuh pembantu, An."
"Aku pasti pulang setelah semuanya selesai." katanya, "tenang saja, kau tidak perlu mengantarkanku," jawabnya.
Pram mengeram kesal. Baiklah, ia mengaku kalah berdebat dengan Andaru kali ini. Pria itu kembali ke sofa dan membanting tubuhnya di sana dengan kesal. Dari tempatnya berjongkok Andaru hanya meliriknya sekilas sambil mengulum bibir untuk menahan tawanya agar tak menyembur keluar.
"Setidaknya kau harus mengganti pakaianmu yang basah jika tidak ingin masuk angin," kata Andaru.
~A k s a m a~
Manusia memang sosok yang tak pernah merasa cukup. Selalu lebih banyak keluhan yang datang ketimbang rasa syukur. Padahal dunia hanya dimensi fana, tetapi semuanya berlomba untuk tetap berada di atas dan mengorbankan segalanya. Termasuk cinta dan persahabatan. Pria tinggi kurus dengan sorot mata tajamnya menatap sekeliling tempat yang gelap. Ia melirik ponselnya yang masih menyala, menampakkan pesan teks yang dikirimkan oleh seseorang.
"Jangan bertindak bodoh. Aku akan datang malam ini."
Tawanya menyembur keluar sesaat, sedetik kemudian ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket hitam yang dikenakan. Beberapa kali ia melakukan peregangan leher juga tangan lalu menatap mangsa yang tergeletak di tanah dengan wajah yang sudah babak belur setengah sadar.
"Ah! Ini semakin menarik saja," gumamnya tersenyum iblis.
Malam itu kucing hitam berkeliaran di sekitar pemakaman umum, tetapi suara jangkrik lebih mendominasi keadaan. Lampu remang di sudut jalan yang tidak begitu jauh, membuat pria itu tertawa kecil menikmati ekspresi kesakitan lawannya yang sudah tumbang.
"Tenang saja, aku akan mengakhirinya dengan cepat kali ini. Sakitnya tidak akan lama, Detektif."
Sambil mengucapkan dialognya tersebut, pria itu menusuk perut lelaki paruh baya itu berulang kali.
"Begini baru benar," ucapnya, "tidak ada yang boleh bermain-main denganku, tau."
B e r s a m b u n g!