Senja hampir kembali ke peraduan sore itu, saat Bara kembali selepas membeli beberapa minuman beralkohol dan bir kemasan kaleng untuk amunisinya malam nanti. Pria itu meletakkan barang belanjaannya sekantung kresek besar penuh. Ia mengobrak-abrik asal barang belanjaannya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna merah jambu. Kemudian kaki kurusnya melangkah menuju kamar Andaru. Pintu bercat cokelat tua itu sedikit terbuka. Menampakkan gadis yang sejak tadi masih mengalami shock itu berbaring meringkuk di atas kasur menunggungi pintu. Sedangkan Pram masih setia berada di sampingnya, menepuk-nepuk pundak Andaru dengan sabar seperti tengah menidurkan bayi.
Bara menatal benda kecil berwarna merah jambu dalam genggaman. Lalu segera dimasukkan ke dalam saku celana. Pria itu melangkah memasuki kamar Andaru yang sudah kembali rapi. Setelah sebelumnya kamar itu berantakan total, dengan bercak darah kucing yang berceceran. Bara yang sibuk membersihkan semuanya, saat Pram sibuk menenangkan Andaru yang kesulitan bernapas saat itu. Suara derap langkah kaki Bara sama sekali tak mengusik atensi Pram dari wajah gadis itu. Bahkan setelah Bara menepuk pundaknya pelan sambil bergumam lirih.
"Dia tidur?"
Hanya sebuah anggukan kecil yang menjawab pertanyaan Bara. Ia ikut mengangguk-angguk paham. Sedetik kenudian Bara melangkah pergi, tetapi tepat di depan pintu kamar ia berhenti sejenak. Bara menoleh pada Pram yang masih fokus pada Andaru. Pria itu menghela napas lagi sebelum kemudian berkata pelan, "Keluarlah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."
Sedetik itu Pram menoleh kemudian mengangguk untuk menjawab perintah dari temannya. Matanya masih memaku gadis yang terlelap sekita sepuluh menit yang lalu. Pram tak habis pikir dengan apa yang barusan saja ia lihat. Meski dipikirkan dari sisi manapun, perbuatan ini sangatlah tidak masuk akal. Lagi pula apa yang mereka lakukan sampai harus menerima teror seperti ini? Padahal ia, Bara, juga Andaru baru saja melakukan pergerakan kecil. Mendatangi lokasi kejadian kematian detektif di pesisir pantai lusa yang lalu. Hanya itu.
Bukankah itu sebuah pergerakan kecil, tetapi teror yang terjadi hari ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dilihat dari mayat kucing hitam peliharaan Andaru, sepertinya pelaku pembunuhan memang seorang psikopat gila. Ada sekitar tujuh sayatan kecil yang cukup dalam di bagian perut kucing. Bahkan kedua kaki belakang kucing itu hampir saja putus, pun dengan ekornya yang berada tepat di atas kasur Andaru. Dan lagi, saat mereka pergi rumah ini terkunci rapat. Akan tetapi, tak ada sedikit pun kerusakan pada pintu rumah Andaru. Entah lewat mana pelaku sialan itu masuk, Pram bahkan belum sempat memeriksa seluruh tempat karena ia sibuk mengkhawatirkan Andaru. Kepala Pram kini penuh di sesaki dengan pertanyaan siapa pelakunya. Ia menghela napas pendek, lalu beranjak untuk keluar.
Namun, belum sempat ia berdiri sepenuhnya. Pram merasakan sebuah genggaman di tangannya. Pria itu buru-buru menoleh mendapati Andaru yang menatapnya dengan mata sembab. Wajah ayu yang pagi tadi masih menyuguhkan senyum padanya, kini digantikan raut pias pucat seperti tak memiliki gairah untuk sekedar bernapas. Pram kembali duduk ke posisi semula, ia menggenggam balik lengan Andaru dan mempertahankannya dengan kedua tangan.
"Tidurlah, aku akan menjagamu di sini." Pram suguhkan senyumnya pada Andaru.
Hanya untuk membuat gadis itu merasa lebih baik dan merasa aman. Tak bisa dipungkiri, kejadian tadi cukup menggoyahkan mental Andaru yang memang lebih lemah dari kelihatannya. Gadis itu baru saja memulihkan diri dari rasa bersalah atas kepergian Pram, kini ia sudah disuguhi oleh kematian hewan peliharaan yang sudah ia rawat selama satu tahun dengan keadaan yang mengenaskan.
Gadis itu masih menggenggam jaket denim yang Pram kenakan. Pertanda bahwa ia masih takut sendirian. Pria itu mengangguk mengerti, ia kembali mengusap pundak Andaru dengan hangat. Bahkan, Pram dan Bara yang menguburkan mayat kucing tersebut merasa ngeri.
Tanpa menunggu silabel yang akan keluar dari garis tipis menawan Andaru, Pram tau bahwa gadis itu masih ketakutan. Ada banyak kekhawatiran yang disimpan, bahkan perasaan bersalah yang kini kembali mengukungnya dalam kegelapan.
"Aku akan menunggumu sampai tertidur," ucapnya, "sekarang, tidurlah."
Gadis itu menghela napas pendek, matanya berusaha terpejam hanya untuk melupakan hal mengerikan yang baru saja ia lihat. Mata yang terpejam itu bergetar beriringan dengan napas yang tak beraturan. Pram dapat melihat dengan jelas setitik cairan bening itu merembes melalui ujung mata Andaru, membasahi bulu mata lentiknya. Jemari Pram terukur mengusap lelehan air mata Andaru, bahkan sebelum benar-benar jatuh membasahi bantal. Mendadak gadis itu menegakkan tubuhnya, kepalanya menggeleng pelan berusaha mengenyahkan ingatan-ingatan menyakitkan yang semakin terasa menyesakkan d**a.
Pram turut terluka, ia tak bisa berbuat banyak selain segera memeluk gadis itu dalam dekapannya. Menyembunyikan wajah pias Andaru dalam ceruk lehernya seraya mendekat punggung yang bergetar tersebut. Tangis Andaru masih tertahan, sedangkan tangan Pram sibuk mengasak rambut panjangnya.
"Tidak apa-apa. Semuanya pasti akan baik-baik, aku akan selalu menemanimu. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya padaku?" ucap Pram berusaha menenangkan.
"Ini bukan salahmu. Kau tidak boleh kalah lagi, kau sudah berjanji untuk membantku, 'kan? Jadi, untuk saat ini kita hanya perlu bertahan dan tetap melangkah maju. Aku akan selalu melindungimu, An," bisik Pram tepat di telinga Andaru.
"Lepaskan ... lepaskan semuanya, jangan ditahan. Itu hanya akan menyakitimu." kedua tangan Pram memeluk erat lintang yang tengah meredup itu senantiasa menenangkan. Mengusapnya penuh perhatian dan menyalurkan kekuatan untuk Andaru.
Sedetik kemudian, tangis Andaru pecah di sana. Tepat dalam pelukan Pram, gadis itu menangis sesegukan. Tanpa ada perasaan ingin menyembunyikan air mata seperti biasa. Ia benar-benar melepaskan semua bebannya di pundak Pram. Tempat paling nyaman yang sejak dulu ia dambakan. Seseorang yang ia cintai dalam diam, penuh luka juga sumber air mata. Akan tetapi, Pram tetap sebuah lentera padang dalam lorong gelap yang dilewati Andaru. Pria itulah yang membuatnya menjadi sebuah bintang yang akan benar-benar bersinar kelak.
Sedangkan di balik bahu Andaru, pria itu juga menyimpan senyumnya lega.
~A k s a m a~
Satu jam sudah Bara mengamati berlembar-lembar kertas juga laptop yang masih menyala. Tangannya sibuk menyetubuhi keyboard, sesekali menggeser-geser kursor dalam genggam. Empat kaleng soda dan bir yang sengaja dituang menjadi satu dalam gelas berukuran besar, ia genggam lagi, menyisakan setengah dari setengah isi gelas. Helaan napas berat terdengar lagi, ia fokus pada berita-berita yang pernah Pram terbitkan di surat kabar White Horse. Meneliti setiap judul juga isi dan tanggal publikasi. Semua data konkrit itu lantas ia saling ke dalam sebuah notebook pribadinya. Tempat Bara menyimpan semua berita juga informasi penting.
Suara derit pintu terdengar memecah lamumannya. Bara menoleh, mendapati Pram yang keluar dari sana dengan raut wajah lelah. Pria berkaki tinggi itu mendekati Bara dan menghempaskan diri di sebelahnya dengan helaan napas berat.
Dengan sigap, Bara menarik pengait kaleng salah satu minuman dan memberikannya pada Pram. Disambut kaleng itu dengan iringan ucapan terima kasih.
"Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Bara.
Pram mengangguk gamang dengan helaan napas pendek. Respon yang ambigu bagi Bara. Akan tetapi, pria itu tak ingin melanjutkannya. Ia memilih fokus pada apa yang sedang ia kerjakan saat ini. Berharap menemukan titik terang akan semua kasus dengan baik.
"Lihat apa yang sudah aku temukan," ucap Bara menggeser laptopnya ke arah pandang Pram.
Pria itu bangkit menegakkan tubuh lalu menegak setengah isi kaleng dan fokus pada laptop yang menyala. Kedua matanya membola dengan kernyitan di dahi yang semakin menebal.
"Apa maksudnya semua ini?"
BERSAMBUNG!