Senja tenggelam digantikan malam yang kian mengelam. Menyisakan suara kemersik saling gesek dedaunan pohon belimbing di depan rumah. Suara jangkrik mendominasi malam itu, senyap, tetapi juga mencekam sebab langit juga tengah mendung menahan air matanya agar tak jatuh malam itu. Seolah-olah malam tengah berusah menghidupkan kembali setan-setan yang bersembunyi di balik senyapnya jalanan kota. Membangkitkan arwah-arwah dengan aura hitam kelam yang penuh akan dendam dari tanah busuk yang menelan semua bukti kebenaran. Sesekali suara burung hantu terdengar memekik, seolah sedang mengucapkan mantra ajaib untuk para atma yang masih berkeliaran tanpa wadah. Terombang-ambing selayaknya kabut asap yang terbang mengikuti arah angin.
Dalam rumah bernuansa jaman dulu yang didominasi dengan warna putih Gading yang mulai memudar, serta pintu cokelat tua yang sudah usang, tetapi menyimpan cukup banyak stok kehangatan itu. Pram dan Bara masih terjaga. Masing-masing dari mereka sibuk dengan kertas dalam genggaman tangan. Bara menghempaskan kertas berisi tinta hitam yang berjejer rapi membentuk susunan kalimat lewat penggalian kata-kata tersebut ke meja dengan gusar. Matanya sudah lelah seharian. Ia menyentuh minuman beralkohol dalam kemasan kaleng. Ini adalah kaleng ke enam milik Bara. Pria itu sudah tampak teler dengan minuman yang sejak tadi mengisi perutnya hingga kembung. Hanya ditemani beberapa jenis camilan makanan ringan. Seperti keripik dan ciki-cikian. Bara menyadarkan tubuhnya yang lemas pada punggung sofa. Matanya benar-benar lelah, sebab semenjak pulang kerja tadi ia sama sekali belum beristirahat. Pria itu menguap lebar sambil meregangkan otot tubuhnya yang lelah. Namun, sedetik kemudian ia kembali menegakkan tubuh menyamai posisi Pram yang sibuk membaca catatannya.
"Kau mengerti maksudku sekarang?" Bara tertawa pongah.
Ia teguk lagi minuman dalam kaleng hingga tandas. Lalu meremat kaleng tersebut hingga penyok. Bara membungkuk untuk meraih tas kerja miliknya dan merogoh sesuatu di dalam sana. Sebuah jilid tebal mirip makalah bersampul hitam ia keluarkan dari sana dan melemparkannya tepat pada d**a Pram.
"Yang satu, itu kau harus membacanya baik-baik," terang Bara, "aku menemukannya di laci kerja Presdir Wijaya."
Sekilas Pram menoleh pada Bara yang tampak acuh. Pria itu menatap datar pada manik mata kelamnya yang sudah setengah teler. Bisa dipastikan bahwa Bara pasti akan terlelap setelah kepalanya menempel pada bantal.
"Kau mungkin tidak akan pernah percaya padaku Pram, karena kau telah memilih jalan itu." Dengan langkah berat Bara berdiri dari sofa. Melepaskan jas juga dasi yang sejak tadi mengikat leher hingga sesak. Pria itu melemparnya sembarangan ke sofa lalu merebahkan diri di atas kasur lantai yang sudah tertata apik tak jauh dari sana. Pram masih mengamati sohibnya yang sempoyongan memejamkan mata.
"Karena kau memilih untuk tidak mempercayaiku," gumamnya.
Atensi Pram kini terbagi antara Bara dan juga makalah tebal di dekapan. Dengan helaan napas berat juga pikiran berkemelut lebat, Pram membuka sampul hitam tersebut dan membaca halaman pertama. Sebuah judul berita tak asing yang tercetak tebal di sana. Menjadi satu-satunya tempat Pram menjatuhkan perhatian. Dadanya berdegup kencang melihat banyaknya tanda silang berwarna merah memenuhi halaman pertama tersebut. Pram bergegas pada halaman berikutnya, judul yang masih ia kenali, dengan kalimat yang tercetak tebal juga penuh coretan warna merah. Pram merinding seketika. Ia membuka asal lembar-lembar kertas tebal tersebut dan menemui hal serupa. Tepat berada di bagian tengah, terdapat fotonya yang telah disobek menjadi helaian kecil terselip di sana.
Jantung yang pernah berhenti itu seakan terulang lagi. Napas Pram tercekat di antara kerongkongan melihat barang temuan Bara dari kantor Wayan Wijaya. Seseorang yang selama ini ia percayai, mengapa jadi begini?
"Ini, ti-tidak mungkin, 'kan?"
Sebisa mungkin dengan perasaan takut untuk dikecewakan, Pram kembali membuka lembaran hitam bercampur coretan merah itu hingga ke halaman terakhir. Terdapat sebuah pesan singkat yang ditulis dengan tinta merah pula di sana. Sepotong kalimat menggetarkan yang berhasil membuatnya merasa kosong seketika.
'Selamat tinggal!'
~A k s a m a~
Malam panjang ia lewati tanpa tidur barang sedetik. Mata merah itu masih terlihat antusias memikirkan segala rentet kejadian yang ada. Jika saja ia boleh mengeluh, Pram sudah pasti akan berteriak pagi itu, untuk membangunkan Bara sembari melepaskan emosinya. Diamati punggung lelaki kurus yang masih terlelap dengan posisi tengkurap. Kemeja biru laut yang kusut dan sebagian mencuat keluar membuat Pram tertawa kecil menatap Bara. Ada rasa bersalah yang menyelinap masuk ke dalam relung hatinya, yang selama ini ia senantiasa menaruh curiga para Bara. Sosok yang sebenarnya terlalu naif dan apa adanya. Begitulah Bara semenjak mereka masih sama-sama bertahan dalam kerasnya dunia yang fana.
Hanya pria kurus itu satu-satunya teman yang tulus mengajaknya makan siang tanpa membahas pekerjaan. Bahkan, Bara terkesan bosan saat Pram mengeluhkan tentang pekerjaannya. Seolah-olah pria itu ingin membuat Pram melepaskan sejenak beban di pundak saat mereka tengah istirahat. Senyum ceria milik Bara, juga sepenuhnya kemurnian. Pria itu sepenuhnya putih tanpa cacat, mestinya Pram sadar akan hal itu. Seperti ia menyadari ketulusan Andaru yang kini masih terlelap di dalam kamarnya. Pikirannya kembali berkelana pada hari kemarin, saat ia tengah mengikuti seseorang yang sedang joging. Seseorang yang ia percayai dengan segenap hati melebihi Bara yang ia ingat dengan kecurigaan besar.
Sebuah kejadian yang sampai saat ini masih ia simpan sendiri. Biarlah, kali ini apa yang ia lihat dan dengar akan menjadi rahasia miliknya seorang diri. Pram pasti akan menyelesaikan semua masalah ini dengan baik. Ia tidak akan kalah, tidak sedikutpun akan mundur untuk menyerah. Yah, itulah sosok Pram yang sesungguhnya.
Lambat laun ketenangan yang menentramkan itu lenyap saat suara pecahan kaca terdengar nyaring diiringi suara teriakan Andaru dari dalam kamarnya. Spontan dengan gerakan secepat kilat, Pram bangkit dari posisinya dan segera berlari menuju kamar Andaru. Begitupun halnya dengan Bara yang masih setengah sadar dalam mode pengumpulan nyawa setelah mati sementara, Bara juga bergegas beranjak dengan langkah sempoyongan. Sampai keduanya berhenti tepat di depan pintu kamar yang masih tertutup rapat. Suara gedebum masih terdengar dari dalam, tetapi sialnya pintu terkunci dari dalam.
"Hey! Buka pintnya, An!" teriak Pram.
Namun, tak ada sahutan selain teriakan gadis itu disusul suara barang pecah yang lain.
"Aish! b******k!" umpat Pram geram.
Tanpa banyak bicara lagi Pram menubrukkan tubuhnya pada daun pintu dan mendorongnya dengan keras, dan beruntung pintu berhasil terbuka dalam percobaan pertama. Pram segera melesak masuk menghampiri Andaru yang tergeletak di sudut ruangan dengan posisi meringkuk. Tubuh gadis itu bergetar hebat, Pram segera melipat sebelah lutut menyentuh lantai dan membawa Andaru ke dalam pelukan guna menenangkan gadis tersebut.
Sambil sibuk mengusap-usap punggung Andaru supaya gadis itu tenang. Pram mengamati seluruh isi kamar yang sudah hancur. "Tidak apa-apa, aku sudah di sini. Tenanglah, An." Pram membisikkan kalimat itu di telinga Andaru berulang kali.
Sesekali ia menyibak surai hitam panjang yang terlihat kusut lalu diselipkan ke belakang telinga. Sudut bibir gadis itu berdarah, membuat amarah dalam diri Pram memuncak minta dilepaskan. Akan tetapi, ia masih cukup waras untuk mengerti situasi ini. Apa lagi melihat kondisi Andaru yang Memprihatinkan, Pram memilih untuk menenangkan gadis itu terlebih dahulu.
Sedangkan Bara sejak tadi sibuk mengamati, keadaan kamar. Ia bahkan keluar melompati jendela kaca yang diduga sebagai akses pelaku untuk melarikan diri. Pecahan kaca bercecran di saja membuat Bara harus ekstra hati-hati. Matanya masih waspada meneliti setiap sudut pekarangan rumah Andaru yang hijau. Tepat di depan gerbang, seseorang berpakaian hitam berdiri di sana. Wajahnya tertutup masker dan topi. Namun, Bara masih bisa melihat dengan jelas sorot pandangan setajam pedang lawan yang siap dihunuskan tersebut. Seolah menantang dan sengaja menunjukkan diri, pelaku bahkan tak segera pergi melihat Bara yang memergokinya di sana. Ia seperti sengaja melakukan semua ini untuk memancingnya keluar. Cukup lama Bara menatap lelaki misterius itu dengan sorot tajam pula, setelah detik berikutnya pria itu beranjak lebih dulu meninggalkan halaman rumah Andaru.
"Ini tidak bisa dibiarkan."
Rumah ini sudah tak lagi aman. Pelaku pembunuhan itu sudah mulai bergerak lagi bahkan lebih cepat dari dugaan Bara. Sebab ia belum benar-benar melakukan penyelidikan secara mendetail. Ia baru saja mencatat hal hal kecil yang amat sangat janggal. Akan tetapi, bendera perang sudah dinyatakan secara terang-terangan. Jika rumah Andaru saja sudah dijadikan incaran, maka sama halnya dngan rumah Pram juga miliknya. Bara segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang.
Hari ini ia dan kedua rekannya harus pindah ke tempat baru.
Dan tentunya ....
Menyusun rencana secepat mungkin.
BERSAMBUNG!