Tujuh belas : Day-49

1642 Words
Semuanya hilang, mati, tak abadi. Gelap itu mengantarkannya dalam sepi yang tak akan pernah berakhir. Namun, suara tawa dan tangisan masih terdengar samar-samar. Bibirnya kaku, lidahnya kelu. Malam itu Pram abadi dalam rasa sakit tanpa henti. "To-long ... aku!" ~A k s a m a~ DAY-49 Kabut tebal masih beterbangan di udara. Membawa embun yang dinginnya menusuk tulang menggigilkan. Cuaca hari ini mendung, tetapi tak membuat Pram mengurungkan niat untuk lari pagi di sekitar jalanan sepi. Ia keluar rumah tanpa membangunkan siapa pun sejak subuh tadi. Pikirannya melayang jauh, terbang seperti butiran embun yang sangat tipis, tetapi begitu ramai hingga dinginnya terasa nyata. Tak ada tujuan lain pagi itu selain mendinginkan isi kepalanya yang semakin kacau. Meskipun berulang kali Pram mencoba meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Namun, rasa takut itu nyatanya lebih besar. Semakin bertumbuh setiap detik hingga perlahan menelannya sampai kehabisan napas. Langkah kaki panjangnya lebar, memangsa jarak dengan cepat dan ritme yang sepadan. Di jalanan sepi yang memang bisanya digunakan sebagai para pejalan kaki berolahraga itu terasa sejuk. Sisi kanan kiri jalan ditumbuhi pepohonan rimbun dan terasa asri. Ada banyak semak-semak hias yang berada di tepi jalanan. Menambah suasana hijau menjadi semakin kental. Dan, tak bisa dipungkiri hal-hal seperti ini sangat mempengaruhi mood seseorang. Langkah lebarnya berhenti tepat di dekat sebuah kursi panjang yang berada di antara pohon-pohon. Pram membungkuk, kedua tangannya berada di lutut menopang tubuh sambil mengatur deru napasnya yang masih memburu hebat. Tak ayal, perasaan amarah itu perlahan mereda juga. Pria itu mengusap keringat yang mengalir di pelipis dengan lengan kemeja, lantas segera menegakkan tubuh dan menjatuhkan diri di atas kursi yang kosong. "Hei, lihatlah ... bukankah pria berkaki panjang itu sangat terlihat seksi?" bisik seorang gadis pada temannya saat lewat di depan Pram. Sayangnya pendengaran Pram masih sangat normal. Tak pelak pria itu mengulum senyum sambil memalingkan wajah ke arah lain. "Eih, kau terlalu jujur," gumamnya bangga seraya menyurai rambut ke belakang. Namun, hanya sedetik senyum itu bertahan. Tepat saat matanya tanpa sengaja menatap gelang mutiara yang melingkar di sana. Pandangan Pram memelas, ia menghela napas berat sebelum kemudian mengembuskannya dengan kasar. Namun, sebisa mungkin pria itu tak mau ambil pusing dengan gelang sialan itu. Toh, selama ini ia juga terus berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya salah dengan kematiannya sendiri. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Pram!" Tangan Pram tergerak menepuk dadanya sendiri dengan bangga. Atau lebih tepatnya rasa prihatin. Pria itu mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Jalanan ini tak begitu sepi, ada beberapa orang-orang yang juga tengah berlari. Entah demi menjaga kesehatan fisik mereka atau pun melepaskan amarah seperti yang sedang Pram lakukan. Pria itu mendongak, menatap langit yang sebagain tertutup rimbunnya daun pohon asam yang membentuk kanopi alami. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi langit bersinar sangat cerah di atas sana. Menciptakan gradiasi cahaya yang indah saat sinar matahari menembus rimbunnya dedauan dan mengenai embun-embun yang menggantung di ujung daun. Perlahan memori silam semasa ia masih hidup berputar di sana. Seperti sengaja dimainkan dengan suasana melankolis dan juga penuh drama. Saat ia berhasil membuat berita pertama menjadi trending selama dua minggu. Hal itu masih sangat membekas dalam ingatan Pram. Padahal topik berita yang saat itu lebih baru dan hangat juga tak kalah menarik perhatian, tetapi nyatanya berita yang Pram tulis terlalu menarik dan lain dari pada yang lain. Tentang kecurangan sistem pendidikan di negara ini. Berita itu pula yang membuat Presdir Wijaya lebih sering memperhatikan tulisan Pram. Dan sejak hari itu juga, keduanya lebih sering bertemu untuk mendiskusikan banyak hal. Mulai pertama kali minum kopi di kafe yang sama, bahkan makan sepotong kue mahal dalam piring yang sama. Senyum tipis menghiasi bibir Pram. Benar-benar samar. Akan tetapi, tulus dari dasar hati yang terdalam. Saat ia menerima gaji pertamanya di perusahaan itu. Sepulang kerja Pram langsung pergi membeli mesin pembuat kopi yang selama ini ia inginkan. Seperti biasa, saat seseorang berani memulai untuk menyelami kenanganny masing masing-masing, maka mereka juga harus siap menahan diri untuk tak memohon permintaan yang mustahil. Seperti memohon untuk dikembalikan pada masa itu, meskipun hanya sekali dan sekejap mata. Rasanya, Pram baru sebentar menikmati kebahagiaan yang hangat itu. "Sudah kau selesaikan semuanya?" Suara besar dan berat itu menarik perhatian Pram. Kepala yang sejak tadi mendongak menatap langit biru, kini turun ke bawah mengedarkan pandangan ke seluruh arah. Suara itu terlalu familiar untuk ia lupakan. Pram buru-buru memutar tubuh menyamping saat melihat Wayan Wijaya melewatinya begitu saja. Sepertinya pria itu juga sedang berolahraga. Lihat saja perutnya yang semakin membuncit. Secara alamiah Pram tertawa kecil menatap punggung Wayan Wijaya dari kejauhan. "Kau pasti merasa kesepian,'kan?" ucap Pram bermonolog. Secara naluri, Pram berdiri dari sana mengikuti temannya dengan langkah ringan tanpa suara agar pria paruh baya itu tak menyadari keberadaannya. Padahal jika boleh, Pram sangat ingin sekedar menyapa dan mengucapkan terima kasih pada Wayan Wijaya. Akan tetapi, mustahil rasanya. Ia bukan lagi manusia seutuhnya. Pada setiap langkah kaki yang menapaki aspal lembab itu ada harapan dan rasa keputus asaan yang datang bersamaan. Ada rasa berterima kasih atas semua rentet kejadian yang terjadi padanya sampai detik ini. Pramoedya tersenyum entah pada siapa. ~A k s a m a~ "Kenapa kau mencurigai Wayan Wijaya?" tanya Bara memecah keheningan yang terjalin di antara keduanya. Siapa lagi jika bukan Andaru? Gadis yang sejak tadi sibuk menyiapkan sarapan itu menoleh setelah membaik sebuah roti tawar di atas teflon. Ia menatap Bara sekilas sambil menggigit pipi bagian dalamnya. Gadis itu berbalik, kembali fokus pada roti dalam panggangan. "Entahlah, aku juga tidak begitu yakin." Di meja makan, Bara yang sibuk mengadu-aduk s**u cokelat dalam gelas itu menghentikan aktivitasnya. Pria itu mengamati punggung Andaru dengan kedua alis yang saling bertaut. Kenapa gadis itu sangat misterius. Terlalu sulit untuk dibaca. Bahkan, selama dua hari ia mengenal Andaru, sikap gadis itu selalu berubah-ubah setiap saat. Bara menelengkan kepalanya ke kiri, tangan kanannya kembali sibuk mengadu s**u yang sejak tadi sudah larut. "Hmm, baiklah kalau begitu. Tidak masalah jika kau belum mempercayaiku untuk mendengar alasanmu," balas Bara. Gadis itu mematikan kompor dan menghampiri Bara dengan dua porsi roti bakar yang tertata di atas piring. Andaru menggeleng pelan, "Bukan seperti itu." "Aku memang belum sepenuhnya yakin, kenapa aku mencurigai Wayan Wijaya selain karena cincin yang kutemukan di lokasi pembunuhan," imbuhnya. Sambil meneguk s**u cokelat, tangan Bara yang menganggur mencomot sebuah roti. Perlahan ia memasukkannya ke dalam mulut sambil mengangguk mengerti. Antara menikmati sarapannya dan juga memahami ucapan Andaru. Memang masih terlalu dini untuk menetapkan bosnya sebagai tersangka. "Kau sendiri? Kenapa kau mencurigai bosmu sendiri? Bukankah dia sudah berbaik hati menjadikanmu seorang menejer pengganti posisi Pram?" tanya Andaru sarkas. "Hei!" protes Bara tak terima. Ia bahkan membanting roti di tangannya ke atas piring lagi. Menatap Andaru dengan pandanfan Protes tertahan. Gadis itu diam mengulum senyum, tak ada maksud lain selain menjahili Bara lewat ucapannya barusan. "Karena menurutku, dia memang sedikit aneh setelah kepergian Pram," susulnya. Dahi Andaru saling berkerut menandakan bahwa ia tak mengerti dengan maksud Bara. Sedangkan pria itu kembali meraih roti yang baru saja ia lemparkan secara sengaja barusan. Dikunyah lagi roti tersebut tanpa rasa berdosa. "Dia sempat memanggilku ke kantor malam-malam hanya untuk menanyakan tentang kematian Pram." "Pertanyaan seperti apa?" balas Andaru cepat. Gadis itu duduk di salah satu kursi sambil melipat kedua tangan di atas meja. Ia bersiap menyimak ucapan Bara dengan serius. "Seperti yang kau dan Pram lakukan, Presdir Wijaya juga menuduh aku yang telah membunuh Pram," katanya, "aku tidak keberatan dengan hal itu, karena beberapa hari setelah kematian Pram, setelah aku resmi diangkat sebagai menejer umum, aku jarang menghadiri rapat, dan pergi dari kantor sebelum jam istirahat." Suapan terakhir, Bara memasukkan semua roti ke dalam mulutnya hingga penuh. Pria itu meneguk s**u untuk membantu menelan rotinya. "Akan kuberi tau apa yang kulakukan saat itu. Kalau kau percaya, aku selalu mendatangi Detektif yang kemarin meninggal dan membujuknya untuk bicara. Kau tau sendiri 'kan? Kasusnya ditutup dengan sangat cepat tanpa penyelidikan berlanjut? Aku bahkan mendatangi tempat kejadian perkara juga makam Pram setiap aku senggang." "Dan rumahnya?" susul Andaru. Bara menjentikkan jari mengiyakan ucapan Andaru. Pria itu mengangguk dengan semangat. "Tentu saja. Karena aku yang terakhir kali mengantarkan Pram pulang setelah pesta perayaan hari itu. Aku bahkan kembali untuk mengembalikan kartu identitasnya yang tertinggal. Karena tanpa kartu itu karyawan tidak bisa masuk sembarangan ke dalam gedung perusahaan. Sedangkan besoknya aku harus pergi ke tempat lain untuk melakukan riset, makannya aku cepat-cepat ingin mengembalikannya pada Pram," jelas Bara panjang lebar. Gadis itu menyimak dengan serius. Kepalanya mengangguk paham mendengar penjelasan panjang dari Bara. "Lalu, kenapa dia mencurigai begitu saja?" tanya gadis itu secara spontan. Bara menggeleng cepat, lalu berkata, "Bukan tanpa alasan. Dia melihat kartu identitas Pram yang ada padaku." "Ah, begitu rupanya?" Andaru lagi-lagi mengangguk paham. "Dan kau tau? Bukankah harusnya dia merasa berduka dalam waktu yang panjang karena kepergian Pram? Secara, mereka sangat dekat, bahkan sudah seperti seorang bapak dan anak. Tapi, raut kesedihan itu hanya terjadi beberapa hari," jelas Bara. "Dia bahkan melakukan perjalanan ke luar negeri bersama istri dan anaknya." "Dan lagi, harusnya dia lebih banyak melakukan penyelidikan dan membujuk Detektif itu dari pada aku bukan? Karena dia lebih dekat dengan Pram. Itu hanya pendapatku, sih!" Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk memahami ucapan Bara. Tak ayal hal itu mengundang kekehan di bibir Bara. Pria itu bahkan tertawa terang-terangan di depan Andaru sambil memukuli meja dengan gemas. Andaru yang tak mengerti menoleh ke belakang, mencari sesuatu yang mungkin lucu menurut Bara. Namun, tak ia temui apa pun di sana selain tumpukan piring kotor dan teflon bekas panggangan roti. Gadis itu menatap Bara heran, "Apa yang kau tertawakan?" "Kau!" balas Bara cepat. Gadis itu sama sekali tak mengerti dengan maksud dari ucapan Bara. Kedua alisnya saling bertaut. "Sejak tadi kau hanya manggut-manggut seperti burung kutilang. Dan ekspresimu itu ...," ucap Bara menggantung terpenggal karena tawanya sendiri. "Kau sangat menggemaskan!" BERSAMBUNG!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD