Tatapan mata setajam elang yang siap menerkam mangsa itu terus mengawasi dari kejauhan. Rokok yang masih setengah dibanting dengan sengaja ke aspal yang berembun, lalu dilumatnya dengan sepatu kumal yang ia kenakan. Sesekali ia meludah, berdecih kesal setelah beberapa kali mengamati layar ponsel yang masih menghitam. Malam mengelam, menyisakan hawa dingin yang menggigilkan. Membuat orang-orang lebih memilih untuk terlelap di rumah meski waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Pria berwajah keras itu meninju tembok di depannya dengan geram. Ada perasaan jijik saat mengingat seseorang yang belakangan ini kerap ia temui. Perasaan terancam dan ingin sekali melindungi diri sendiri dengan cara apa pun itu. Maka dari itu, ia memilih untuk menyerang terlebih dahulu ketimbang ia yang harus diserang secara tiba-tiba. Karena orang-orang seperti dirinya tak pernah memiki tempat yang layak di tanah busuk yang saat ini sedang ia pijak. Jika malam ini ia tak mendapatkan apa yang diinginkan, mungkin satu nyawa lagi bukan hal yang berlebihan bukan? Tentu saja, ia butuh pelepasan untuk menenangkan perasaan. Lagi pula, dia juga manusia biasa.
Di sebuah gang sempit yang jarang dilewati orang-orang, jauh dari pemukiman karena tempatnya dekat lokasi pembuangan sampah terbesar. Seorang bertubuh kecil dengan setelan jas mahal yang rapi datang, topi dan kaca mata hitam menutupi wajahnya. Dihampiri pria berjaket kumal yang sejak tadi asik mengumpat sambil melemparkan sebuah amplop berwarna coklat. Pria berjas itu tertawa kecil melihat siapa yang berdiri di depannya. Yang enggan mengambil amplop berisi uang di aspal.
"Suryabasa?"
Tak ada sahutan selain tatapan setajam pisau yang siap menghunus lawan. Pria itu mengepalkan tangannya erat, bersiap melemparkan pukulan.
"Karena kau membuat keributan lagi, kita anggap semuanya selesai sampai di sini." Ucapannya jelas terdengar meremehkan. Abas yang mematung menatap lawan bicaranya diam dengan perasaan panas. Jadi, ini balasan yang ia dapat setelah semua hal yang ia lakukan?
Manusia memang b******n!
"Kau ... jangan pernah muncul di depanku lagi," imbuh pria tersebut sebelum bergerak menjauh meninggalkan Abas yang mematung terbakar amarah.
~A k s a m a~
Pintu rumah Andaru yang tidak dikunci mendadak terbuka, menampakkan sosok Bara yang berdiri di depan pintu. Pria itu mematung, bola matanya berputar ke sembarang arah menghindari tatapan Pram yang memakunya di sana. Pria yang sedang merebahkan tubuh di atas sofa itu menatap Bara dari atas ke bawah. Kenapa juga pria itu kembali dengan setelan jas rapi malam-malam begini?
"A-ap-apa yang kau lihat?" sentaknya kesal kepada Pram.
Namun, ia tetap berdiri di sana tak berani melangkah masuk. Sedangkan Pram hanya menggeleng kecil melihat tingkah Bara yang selalu abnormal. Kenapa pula ia harus penasaran dengan pria bodoh itu? Bara 'kan, memang selalu penuh kejutan?
"Kalau kau tidak ingin masuk, tutup pintunya bodoh!" komentar Pram memalingkan wajah dari Bara.
Dengan gerakan cepat pria bertubuh kecil yang memiliki lesung pipit itu melangkah masuk dan menutup pintu dengan segera. Ia mengambil posisi di dekat Pram di sebuah kasur lantai yang sudah disiapkan oleh Andaru. Karena mereka sepakat untuk menginap di rumah gadis tersebut. Sebelum merebahkan tubuh, Bara melepaskan jas miliknya dan meletakkan jas tersebut di sandaran sofa yang menganggur. Ia segera meluruskan pinggang setelah itu.
Akan tetapi, baru saja ia menghela napas. Pram sudah berbalik menatapnya kembali. Kerutan di dahi Pram terlihat jelas, ia tatap Bara dengan napas yang cepat.
"Sejak kapan kau mulai merokok?" tanya Pram.
Sepasang mata Bara yang sudah terpejam kembali terbelalak kaget mendengar pernyataan tersebut. Ia enggan menoleh, malas menghadapi Pram atau lebih tepatnya tak berani menanggapi pria itu. Diam-diam ia kembali memejamkan mata tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Pram. Hal itu justru membuat semakin mengerutkan dahi heran. Pasalnya selama ia mengenal Bara, tak pernah sekalipun pria itu merokok di depan matanya.
Pram menghela napas pendek, kemudian membetulkan letak bantal sebelum kemudian terpejam lagi. Sejujurnya ia tak ingin tidur, sebab Pram masih terlalu takut menghadapi hari esok.
"Semuanya pasti baik-baik saja. Kau tak akan sendirian, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Pram."
Ucapan dari Andaru masih jelas terekam dalam benaknya. Itu adalah salah satu hal yang membuatnya sedikit merasa lebih tenang dari pada hari kemarin. Setidaknya ia memiliki teman untuk berbagi keluh kesah, setidaknya ia telah berusaha, meaki kerap kali merasa putus asa.
Sedangkan di dalam kamar dengan pintu terkunci, Andaru juga belum terlelap. Pikirannya melayang jauh memikirkan seseorang pria yang selama ini mengisi hatinya. Entah kenapa ia masih bersikeras memikirkan tentang Wayan Wijaya, gadis itu yakin bahwa presiden white horse itu memiliki peranan kuat sebagai tersangka pembunuhan Pram. Andaru mengusap kepala kucing hitam kesayangannya. Menatap hewan berbulu itu seperti sedang bersipandang dengan manusia. Gadis itu menghela napas pendek kemudian beralih menatap jendela kamar. Setiap melihat ke luar yang gelap, bayangan wajah Pram yang penuh luka itu selalu hadir. Tak peduli seberapa banyak lagi Andaru mengusirnya. Namun, sekuat hati ia berusaha mengalahkan rasa bersalah yang terus menekan hatinya untuk diam. Andaru tidak boleh terus-menerus menuruti perasaan berkabut atas kepergian Pram. Sebab sekarang ada yang lebih penting dari hal itu juga perasaannya sendiri. Ialah Pram. Hanya keselamatan lelaki itu yang sekarang menjadi prioritas Andaru.
"Apa kau setuju dengan apa yang sedang kupikirkan?" gumamnya.
Meong ....
Seperti sedang saling melempar dialog, Andaru tersenyum menatap hewan peliharaannya tersebut.
"Benar, 'kan? Tapi, bagaimana jika semua dugaan ini benar? Bukankah dia pasti tidak akan baik-baik saja."
Meong ....
Lagi-lagi gadis itu tersenyum karena kucingnya. Benar-benar malam ini ia seperti sedang berdialog dengan manusia. Andaru kembali mengusap puncak kepala kucing tersebut dengan sayang. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya malam ini. Karena besok mungkin akan menjadi hari yang sangat melelahkan. Andaru harus menyelidiki Wayan Wijaya sampai ke akar nya, secara diam-diam. Agar ia tak melukai perasaan Pram. Lelaki yang dikaguminya sampai saat ini.
~A k s a m a~
Meja panjang yang sengaja ditata lurus menjadi satu itu penuh dengan berbagai jenis minuman. Lebih banyak didominasi dengan minuman beralkohol memang, ada sekitar dua puluh karyawan yang duduk saling berhadapan. Semua karyawan bahkan telah melepaskan jas mereka, tersampir pada sandaran kursi di belakangnya masing-masing. Kecuali dua orang yang tetap terlihat rapi di dalam pesta perayaan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Presdir perusahaan tersebut, Wayan Wijaya. Dan, Bara.
Dalam segala situasi jelas saja seorang pimpinan harus terlihat lebih berwibawa. Salah satunya dalam hal berpakaian. Pria paruh baya itu selalu menjunjung tinggi nilai-nilai pakaian yang ia kenakan. Karena baginya seseorang akan dinilai lebih dulu dari cara mereka berpakaian. Benar begitu bukan?
"Baiklah, seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya. Hari ini aku yang akan membayar semua pesanan kalian," ucap Wayan Wijaya duduk di tengah-tengah karyawannya sendiri.
Tepatnya terapit di tengah, antara Pram dan Bara. Kedua pria itu saling pandang sejenak. Pram masih memberikan isyarat pada Bara untuk melepaskan jas yang dikenakan. Namun, Pria itu keukuh tak ingin melepasnya.
"Tentu saja kita harus merayakan hari ulang tahu Menejer Umum kita yang baru, bukankah begitu Pram?" Tepukan keras di pundak Pram membuat ia sempat terhuyung ke depan.
Akan tetapi, ia justru tertawa menanggapi hal itu. Pram mengangguk mengiyakan, kemudian ia mengangkat gelasnya dan membungkukkan badan pada seluruh karyawan yang ikut menghadiri pesta.
"Terima kasih, mohon dukungan dari kalian. Aku tidak yakin bisa berada di sini tanpa kepercayaan dari kalian semua. Dan juga, Presdir Wijaya," jelasnya panjang lebar.
Semuanya bersorak saat ucapan Pram usai. Mereka mengangkat gelas berisi bir ke atas lalu meneguknya bersamaan. Tak terkecuali Wayan Wijaya. Pram yang menyaksikan hal itu menggeleng pelan, ia letakkan gelas berisi bir dan menularkarnya dengan gelas kopi. Cairan hitam itu diteguk perlahan seperti biasa.
Pesta berjalan dengan lancar dan penuh canda. Membuat kedekatan antara bos dan karyawan itu semakin terlihat terjalin erat.
Mendadak semuanya gelap, langkah kaki Pram gamang. Tak ada sedikit pun cahaya di ruang yang ia pijaki. Suara tawa itu juga mendadak lenyap. Benar-benar menghilang sepenuhnya menyisakan deru napas Pram yang terdengar jelas tersengal.
Pria itu berjalan ke sembarang arah. Tak ada yang bisa ia pikirkan saat itu selain rasa takut juga khawatir. Mendadak Pram terjatuh. Tubuhnya melayang seperti sedang jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Hatinya seperti diremas habis-habisan. Namun, tak ada suara sedikit pun yang bisa Pram teriakan di sana.
Bruk!
Ruangan hitam yang sejak tadi mengurungnya berubah menjadi sebuah ruang tanpa ujung berwarna putih bersih. Hanya alas yang ia tapak yang dapat Pram percaya. Keringat sudah turun membasahi pelipis sampai meleleh ke leher. Jantungnya berdetak lebuh kencang dari sebelumnya. Pram benar-benar tak tau apa yang sedang terjadi.
"Kau sudah bekerja keras selama ini, Pram. Sekarang, saatnya kau mati."
Buk!
Bersamaan dengan suara itu berakhir, Pram merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pria itu mengeliat merasakan kepalanya yang seperti dihantam dengan keras. Ia terus bergerak kesakitan, sedangkan pandangannya semakin mengabur.
"Sial, apa-apaan ini?"
Saat itu juga di depannya Pram melihat dirinya sendiri sekarat di sebuah tempat yang gelap. Banyak darah yang keluar dari kepalanya, wajah tampan itu sudah babak belur. Rintihannya terdengar lemah mengusik telinga. Kejadian itu adalah di mana saat Pram mati.
Seorang Pria yang two dikenal mendekat sambil menggenggam pisau. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kurus, tetapi terlihat rapi karena setelan jas yang dikenakan. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi Pram bisa melihat wajahnya. Namun, belum sempat hal itu terjadi, sebuah tusukan telah bersarang tepat di perutnya.
Satu kali ....
Rasa sakit di seluruh tubuhnya semakin menjadi.
Dua kali ....
Tubuhnya mati rasa.
Tiga kali ....
Semuanya mendadak gelap bahkan malam pun tak lagi berarti
Empat kali ....
Matanya benar-benar terpejam
Semuanya hilang, mati, tak abadi. Gelap itu mengantarkannya dalam sepi yang tak akan pernah berakhir. Namun, suara tawa dan tangisan masih terdengar samar-samar. Bibirnya kaku, lidahnya kelu.
"To-long ... aku!"
BERSAMBUNG!