Tiga : Mencari kebenaran

1696 Words
Manusia selalu memiliki harapan, bahkan mungkin mereka yang berbeda alam. Sedangkan harapan selalu datang bersama dengan rasa putus asa. Sebab ketika mereka tak mendapatkan apa yang diinginkan, maka yang tersisa hanya tentang kekecewaan. Entah itu dalam kehidupan ataupun kematian. Semuanya sama, harapan adalah hal yang fana. Harapan adalah hal yang menghancurkan.’ Kedua tangan itu mengepal di sisi tubuh. Matanya masih mengamati setiap orang yang ramai keluar masuk dari pintu utama sebuah gedung berantai lima. Wajar saja, pria itu datang tepat pukul dua belas tengah hari, waktu di mana para karyawan bergantian untuk makan siang. Tepat di seberang jalan, Pram masih mematung di sana sejak setengah jam yang lalu. Selain untuk melindungi mata agar tidak kesilauan karena terik matahari, topi hitam yang ia kenakan juga berguna sebagai alat kamuflase agar tidak ada karyawan yang mengenalinya. Pasalnya sejak tadi Pram masih ragu dengan keputusannya untuk datang ke White Horse. Padahal ia harus mengecek ruang kerjanya, barangkali kali ada sesuatu yang ia temukan untuk dijadikan petunjuk. Pria itu memasukkan kedua tangannya yang gemetar ke dalam saku celana. Lagi-lagi ia menghela napas pendek. Sekali lagi Pram mendongak untuk menatap bangunan megah yang selama tujuh tahun menjadi tempat penghasil uang baginya. Terlalu banyak kenangan yang terukir di sana untuk Pram. Tempat bersejarah yang menjadi saksi perjuangannya untuk merangkak naik demi kehidupan yang lebih baik. Pram menelan salivanya susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat karena menahan perasaan campur aduk yang mulai muncul ke permukaan. Hancur, sesak, tidak adil, dan semua tentang hitam kelam yang ia lalui. Mungkin Tuhan memang sengaja menyiapkan buku takdir hitam untuk Pramoedya sejak dalam kandungan. Sebab sejak kecil, hampir seluruh hidupnya diisi dengan kisah melankolis. Aih, Pram mendadak menjadi emosional. Pria itu menghela napas berkali-kali sambil mengusap mata yang sudah berkabut. Bisa dikatakan bahwa Pram adalah tipe lelaki berhati hello kitty. Pria itu memiliki hati yang sangat lembut dan perhatian. Pram menggelengkan kepala kuat-kuat. “Ck, Berengsek! Jangan cengeng. Ingat umur, Pram!” gumamnya memaki diri sendiri. “Ini bukan ide yang bagus. Tidak lucu kalau sampai aku ketahuan, bisa-bisa justru membuat gempar orang satu kantor.” Setelah lama berdiri di sana kakinya mundur selangkah. Pram memutuskan pergi dari sana dan memikirkan cara lain untuk bisa masuk ke kantornya. Langkahnya cepat di antara banyaknya orang yang berlalu-lalang di trotoar. *** “Sekiranya semua sudah jelas, Rapat hari ini saya sudahi,” ucap pria paruh baya itu formal. Semua orang dalam ruangan itu bertepuk tangan sambil menyunggingkan sebuah senyum. Mereka semua baru saja mengadakan rapat dadakan untuk pengangkatan Menejer umum yang baru. Pasalnya, seminggu yang lalu White Horse kehilangan seorang karyawan muda yang sangat berbakat, jabatan Menejer hanya sehari melekat pada Pramoedya. Kini seorang pria seusia Pram yang tak kalah cerdik telah mengisi poisi Menejer umum yang sempat kosong selama satu minggu. Orang-orang berpakaian formal dan rapi itu mulai keluar meninggalkan ruang rapat. Tentunya setelah mereka sempat memberikan selamat kepada Lesmana Kumbara. Seorang pria muda yang berhasil masuk ke White Horse bersama dengan Pram karena keduanya adalah teman seperjuangan. Pramoedya dan Bara juga sempat menjadi teman sekelas waktu SMA, mereka berpisah setelah hari kelulusan. Bara sempat mengambil kuliah di luar negeri karena keinginan orang tuanya. Sedangkan Pram melanjutkan ke Universitas Indonesia karena ia mendapatkan beasiswa di sana. Setelah sekian lama keduanya tidak pernah bertemu, Pram dan Bara menjadi teman akrab di kantor. Keduanya sering makan siang bersama, bahkan sesekali Bara mengantarkan Pram pulang dengan mobilnya. Bisa dibilang, selain Presdir Wijaya, Bara adalah seseorang yang tahu kelamnya masa lalu Pramoedya. Pria itu cukup terkejut dengan berita kematian Pram yang sangat mendadak. Bahkan artikel milik Bara-lah yang kemudian disetujui oleh Presdir Wijaya untuk diterbitkan dalam surat kabar. “Selamat ya, Bara." Wayan Wijaya selaku presiden perusahaan tersebut memberikan ucapan kepada Bara. Pria berambut klimis itu tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Bara menyambut uluran tangan Wijaya seraya menunduk memberi hormat. "Aku harap kau bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita, sama seperti Pramoedya,” imbuhnya. Mendengar kalimat barusan, senyum di bibir Bara mendadak lenyap tak berbekas. Pria itu mendadak bungkam dan terus menunduk menatap sepatunya sendiri. Ia melepaskan tangan Wijaya kemudian membungkuk sekali lagi. “Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu." Pria paruh baya yang terkenal murah senyum dan selalu merangkul karyawannya itu menepuk bahu Bara layaknya seorang bapak dan anak. Sebelum sesaat kemudian ia berbalik, sekertarisnya sudah berdiri di depan pintu menyunggingkan senyum. “Ada tamu yang memaksa ingin bertemu, Pak.” Wanita itu berucap sopan. Presdir Wijaya menoleh, ia mengerutkan dahi, seingatnya rapat hari ini adalah jadwal terakhir yang ia miliki. “Baik, Presdir. Terima kasih banyak, aku permisi,” ucap Bara membungkuk untuk berpamitan. Pria itu berbalik untuk pergi setelah mendapat anggukan persetujuan dari atasannya. Bara sempat berpapasan dengan seorang pria, yang saat itu masuk tanpa permisi ke ruang rapat untuk menemui Presdir Wijaya. Matanya sempat melirik ke dalam ruangan sebelum Bara menutup pintu dengan sempurna. “Siapa, Mbak?” tanya Bara heran. Mengingat penampilan lelaki tadi sangat jauh dari kata rapi. Kemeja kotak-kotak hitam yang tidak dikancingkan, dan celana jins robek-robek di beberapa bagian. Sekretaris wanita itu mengangkat bahu tidak yakin. “Katanya, sih Presdir Wijaya mempunya anak laki-laki yang nakal, mungkin dia orangnya,” terka wanita itu. “Benar-benar tidak punya sopan santun, mau masuk saja sudah membuat keributan dengan Satpam,” sambungnya gemas. “Hus! Tidak boleh begitu, Mbak,” katanya, “nanti kalau ada yang mendengar, bahaya.” Bara tertawa kecil mendapat pukulan ringan di lengannya. Pria itu menatap sebentar pintu yang sudah tertutup sebelum keduanya bergegas pergi beriringan menjauhi ruangan tersebut. *** Sluuurp .... Gelas plastik yang menyisakan es batu itu dikocok dengan gemas. Pram membuka tutup gelas plastik tersebut lalu mengangkat gelas tersebut agar tetes terakhir dari es kopi itu masuk ke mulutnya. Pria itu mengunyah es batu dengan santai sambil menyadarkan punggung pada sandaran kursi plastik. Siang ini terlalu terik, terlalu berat juga untuk Pram. Jadi, ia memutuskan untuk singgah di kedai kopi dan memesan dua gelas es kopi hitam yang kini sudah berpindah ke perutnya. “Kenapa hari ini panas sekali, sih?” ucapnya sambil mengunyah es batu. Pria itu memilih duduk di luar, di bawah payung besar. Di sekelilingnya ada banyak jenis bunga yang ditanam dalam pot kecil dan disusun dengan apik. Suara lagu band indie mengalun merdu, meski tak begitu terdengar dari luar. Akan tetapi, Pram turut mengangguk-anggukkan kepalanya seperti burung pelatuk. Kaca mata hitam yang tadi ia kenakan sudah berada di saku kemeja. Pram melepaskan topi hitam yang ia kenakan, lalu meletakkannya di salah satu lutut. Pria itu menepuk-nepuk lututnya sendiri seperti orang bodoh disusul tawa hiperbolis. “Dasar pengecut!” teriak Pram membuat orang-orang yang melintas berhenti menatapnya bingung. Sayangnya Pram sudah terlanjur kesal dengan apa yang ia dapatkan hari ini. Ia bermaksud masuk ke ruang kerjanya, tapi Pram justru berdiri seperti orang bodoh di seberang gedung White Horse. Ia menjambak rambutnya gemas sebelum kemudian berdiri dari kursi. Topi hitam itu kembali ia kenakan, dengan langkah tergesa Pram terus mengumpati dirinya sendiri. Pram sudah bertekad, ia akan mengambil rencana B yang sudah ia siapkan dengan matang. Jadi, Pram berencana untuk melakukan operasi plastik. Dengan wajah baru Pram akan kembali melamar di perusahannya dan dengan begitu, ia bisa lebih mudah keluar masuk tanpa khawatir dikenali oleh orang lain. Itu bahkan sudah terdengar sangat tidak masuk akal! Operasi juga pasti membutuhkan waktu yang sangat panjang, belum lagi masa pemulihan, apa dengan sisa waktu yang singkat itu Pram bisa menemukan kebenaran? Lagi pula Pram juga tidak sepenuhnya yakin bisa menemukan hal yang bisa membantunya untuk menyeberang ke dunia arwah di kantornya itu. ‘Kenapa aku? Kesalahan apa yang sudah kuperbuat? Sampai aku harus mati? Sekarang, apa yang harus kulakukan?!’ Pertanyaan itu terus memenuhi benak Pram, bagaimanapun juga menerima kenyataan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pram bingung, juga putus asa, sedangkan ia sendiri tidak memiliki banyak kenalan dekat di kantor. Semuanya hanya sebatas rekan kerja, jadi ia benar-benar bingung harus meminta tolong pada siapa. Karena pikirannya sedang kacau, Pram tidak memperhatikan jalanan di sekitarnya. Pria itu menubruk seorang gadis sampai tersungkur. Kresek belanjaan yang dibawa jatuh membuat isinya berceceran keluar. Gadis itu masih terduduk di jalanan sambil mengaduh. “Eis, sialan! Kalau jalan lihat-lihat! Memang kau pikir jalanan ini punya moyangmu?!” maki Pram gemas. “Ma ... maaf, aku tidak sengaja,” balas gadis itu pelan. Sedetik kemudian Pram menepuk kedua pipinya sendiri dengan kencang. Pria itu menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang mengganggu. Ia segera membungkuk dan membantu mengemasi barang belanjaan yang berceceran. Pram sadar, ia terlalu emosi dan meluapkan semuanya kepada orang lain. “Enggak, enggak! Aku yang salah, maaf, ya?” Pram masih mengumpulkan jeruk yang berceceran dan memasukkannya ke dalam kresek. Namun, suara itu membuat si gadis bersurai hitam panjang tersebut berhenti mengumpulkan belanjaannya. Matanya sudah basah, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Suara itu ... ia mengenalinya. Begitu ia menoleh, jantungnya benar-benar serasa dihunus dengan pisau. "Ka ... kau?" "Bagaimana mungkin?” kedua telapak tangannya membekap mulut tak percaya dengan apa yang dilihat saat itu. Pram masih belum sadar dengan reaksi si gadis sebelum kemudian ia menoleh dan keduanya saling bersipandang. Mata Pram membulat sempurna. “Lintang?” Gadis itu menggeleng tak percaya. Perlahan ia berdiri tanpa mengalihkan pandangan dari Pramoedya. “Malam itu ... kau ... kau, sudah mati,” ucapnya terbata-bata. Tangis gadis itu sudah terlihat jelas di kedua mata sendunya. Pram tidak begitu terkejut melihat reaksi gadis di depannya. Gadis yang setiap pagi ia sapa dengan sebutan Lintang itu juga pasti sudah membaca surat kabar, jadi mana mungkin dia tidak tahu tentang kematiannya. Gadis itu berlari menjauh dengan langkah yang tidak stabil. Sedangkan Pram hanya menghela napas menatap kepergian Lintang yang semakin menjauh. Seseorang yang tidak begitu dekat dengannya saja bisa sekaget itu melihat Pram, bagaimana dengan orang-orang kantor, apalagi yang setiap hari ia temui? Mendadak kepalanya pening membayangkan semua itu terjadi. “Malaikat maut, tolong jemput aku sekarang! Aku tidak tahu harus berbuat apa?" Pram duduk di tepi trotoar meraup wajahnya dengan gemas. “Aku harus bagaimana, sialan?!” gumam Pram tak henti-hentinya mengumpat entah pada siapa. “Kenapa juga tidak ada saksi mata malam itu? Kenapa orang-orang tidak tahu kalau ada orang yang sekarat, sih? Harusnya malam itu aku tidak mati begitu saja!” Mendadak sebuah lampu menyala dalam kepala Pram yang sejak tadi gelap dan suram. Pria itu menoleh ke samping ke mana Lintang pergi barusan. Buru-buru ia bangkit untuk mengejar Lintang, karena Pram yakin, Lintang sempat mengucapkan kata kuncinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD