Empat : Pengakuan Palsu

1907 Words
Suasana malam itu sangat sunyi. Apalagi di sebuah gang kecil yang akan membawa pejalan kaki menuju tempat pemakaman umum atau perumahan susun. Hanya ada suara jangkrik dan kucing liar yang selalu mendominasi setiap malam. Keadaan jalanan selalu remang-remang karena lebih banyak pepohonan juga tembok-tembok usang ketimbang tiang lampu jalanan. Hanya ada satu penerangan yang sangat minim di sebuah tikungan utama. Itupun juga sangat buruk. Suara rintihan itu terdengar jelas di pertigaan jalan. Andaru yang baru saja pulang kerja menghentikan langkahnya di persimpangan jalan, ia berusaha mencari di mana sumber suara tersebut berasal. Langkahnya pelan, matanya jeli menatap ke sekitar yang cukup gelap. Dan hanya dalam hitungan detik, wanita itu segera menyembunyikan diri di balik tembok tinggi. Tepat di dekat semak-semak yang tumbuh di dekat gerbang pintu pemakaman umum. Sosok tinggi yang selama ini sering ia perhatikan di kantor itu tak lagi menyunggingkan senyum manis padanya seperti biasa. Mata pria itu basah karena menangis, wajahnya babak-belur, dan sebuah luka tusukan di perut sebelah kanan yang membuat kemeja putih itu berubah warna menjadi merah. Tak ada lagi suara rintihan, hanya tangannya masih berusaha menggapai seseorang lelaki yang berjongkok tak jauh darinya untuk meminta pertolongan. Namun, pria itu justru berdiri dan menyeret sebuah balok kayu berukuran sedang. Hanya dalam satu ayunan kencang, balok kayu itu dihantamkan tepat pada kepala Pramoedya Bagaskara yang sudah tergeletak tak berdaya di aspal. Benar, seseorang yang sedang sekarat itu adalah Pram, sosok yang sangat hangat dan kerap kali menyapanya di kantor saat mereka berpapasan. Andaru menutup mulutnya sendiri saat tangan yang sudah melemah itu terkulai bersamaan dengan nyawanya yang lenyap. Sedangkan Andaru yang berada di balik dinding, masih membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat. Ia tidak pernah membayangkan akan menyaksikan hal seperti ini sepulang kerja. Gadis itu menyandarkan tubuh pada dinding usang, mengatur napas yang menderu sambil berusaha menekan tangisnya agar tidak pecah saat itu juga. Akan tetapi, tetap saja gagal. Jantung yang berdetak tidak normal sampai ia kesulitan bernapas, bahkan kini tubuhnya ikut gemetar hebat. Reaksi ketakutan sekaligus jeterkejutan karena menyaksikan semua kejadian brutal itu membuatnya benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Andaru menyaksikan semuanya, tapi ia tidak melakukan apapun untuk menolong pria malang itu di sana. "Tolong ...." Sayup-sayup suara lemah itu masih terdengar sangat pelan. Membuat tangisnya tak bisa lagi ditahan. Senyum manis Pram yang selalu menyapanya di kantor setiap pagi dan jam istirahat saat membuat kopi, kini digantikan raut menyedihkan dengan wajah penuh luka yang berdarah-darah. Andaru semakin menggigil ketakutan dalam kegelapan. Keringat dingin membasahi pelipis juga lehernya. Hingga suara kucing membuat gadis itu tersentak dari tidurnya. Netra berwarna cokelat tua tersebut mengerjap cepat. Ia segera duduk dan menumpahkan tangisnya pagi itu. Pagi yang selalu sama dengan mimpi yang serupa. Kucing hitam peliharaannya masih mengeong di atas kasur meminta agar sang pemilik membelai kepalanya. "Kau pembunuh, Andaru!" "Maaf," ucap gadis itu disela isak tangisnya setiap pagi. "Maafkan aku." Kedua tangannya menutupi telinga berharap agar ia tidak lagi mendengarkan apapun yang pernah ia lihat malam itu. *** Pram masih berdiri di depan rumah minimalis yang paling jauh dari pemukiman warga sekitar. Berkali-kali ia mengetuk pintu dengan tempo cepat, tapi tidak ada jawaban dari sang pemilik rumah. Padahal Pram sendiri menyaksikan bahwa Lintang, jelas-jelas masuk ke sana. Kini sudah hampir setengah jam ia berdiri di sana. Pram masih senantiasa menunggu karena pria itu sangat yakin bahwa gadis itu bisa membantunya menemukan penyebab kematiannya. Sebab, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Pram meninggal di malam hari. Dalam artikel tentang kematiannya juga tidak disebutkan dengan jelas waktu kematiannya. Akan tetapi, baru saja Pram mendengar dengan jelas bahwa Lintang menyebutkan kata kunci yang ia yakini bisa memberikan petunjuk. 'Malam itu.' Pram yakin Lintang mengetahui sesuatu yang bersangkutan dengan kematiannya. Lagi-lagi ia mengetuk pintu berwarna cokelat di depannya secara membabi-buta. Pram tidak akan menyerah, ia tidak mau menjadi arwah pendendam yang menyesatkan. "Aku tahu, ini memang aneh. Kau tidak perlu takut, aku bukan setan. Jadi, tolong buka pintunya, hanya kau yang bisa menolongku," ucap Pram tidak sabaran. "Lintang? Ayolah, tolong buka pintunya, aku tahu kau masih di dalam. Tolong, sekali ini saja! Aku butuh bantuanmu." Pram menyadarkan dahinya pada daun pintu. Matanya terpejam, setengah jam berdiri di sana ternyata cukup membuat kakinya terasa pegal. Pria itu menatap sekeliling, cuaca benar-benar sangat panas hari ini. Ia pandangi lagi pintu rumah tersebut dengan raut wajah melas sambil menyentuh perutnya yang mulai keroncongan. 'Lantas kalau bukan setan, kau ini apa, Pram?' Ia menggeleng pelan mengingat ucapan bodoh yang baru saja ia lontarkan pada Lintang. Bagaimana mungkin gadis itu mempercayai dirinya? Lagi pula mana mungkin juga orang yang sudah mati bisa kembali lagi? Malaikat maut bercandanya memang keterlaluan. Pram menjatuhkan diri di sebuah kursi anyaman yang berada di teras, tepat di sebelah pintu. "Aku tidak akan pergi sebelum kau membuka pintunya. Aku akan menginap di sini, apa pun yang terjadi." Pram sudah mulai menguap, tangannya ditarik ke atas melakukan peregangan sambil menghela napas panjang. Lagi-lagi perutnya keroncong an di saat yang tidak tepat, tapi seperti apa yang baru saja Pram katakan bahwa ia tidak akan pergi sebelum Lintang membuka pintunya. Pram bertekad, hari ini ia harus menemukan setidaknya satu petunjuk saja. Ponsel berwarna hitam itu akhirnya disentuh juga setelah sekian lama berada di dalam saku kemeja. Pram membuka website berita dan menemukan sebuah artikel yang sedang trending. Pengangkatan Menejer Umum baru. White Horse siap kembali! Meskipun berat Pram memilih untuk membaca artikel tersebut. Ia jadi teringat betapa miris hidupnya. Menyandang gelar Menejer umum hanya dalam kurun waktu sehari, bagaimanapun juga Pram harus bangga, 'kan? Setidaknya itu adalah rekor jabatan paling singkat yang pernah ada. Mendadak tampang malas pria itu digantikan dengan ekspresi penuh keterkejutan. Ada banyak tanya yang menggantung di kepalanya setalah Pram membaca artikel tersebut. Kini mulai muncul banyak praduga tentang siapa tersangka atas pembunuhannya. Pasalnya sebuah foto seseorang yang ia kenal terpajang di antara artikel tersebut. Seseorang yang dulu cukup akrab untuk mengantarkannya pulang ke rumah dan makan bersama saat jam istirahat. "Bara?" Pram bergumam sendiri. Ia mendadak serius, menatap foto Bara dan Wijaya yang sedang berjabat tangan sambil mengacungkan jempol dengan tangan yang lainnya. Ini baru satu minggu setelah kematiannya, tapi secepat itu Bara menggantikan posisi Pram? Apa hanya Pram yang merasa bahwa semua ini begitu mencurigakan? Atau memang demikian adanya? Sebab Pram masih ingat betul bagaimana ia dan Bara sering bersaing untuk mendapatkan berita yang akan menjadi trending. Hanya Bara yang bisa mengimbangi ambisinya untuk naik pangkat. Ternyata perasaan kecewa tidak hanya berlaku pada manusia saja. Nyatanya, kini meskipun Pram sudah menjadi setengah arwah, ia juga merasa kecewa dengan kenyataan yang terjadi. Pram marah, ia mulai membenci segala praduga yang muncul di kepalanya. Pria itu berharap apa yang ia pikirkan adalah sebuah kesalahan besar. Sudah cukup ia mati secara misterius seperti ini, semoga saja ia tidak mendapatkan penghianatan dari rekan terdekatnya sendiri. Pram menggenggam ponselnya erat, matanya menajam menatap pekarangan rumah yang sempit, tapi tertata dengan apik. Pot-pot kecil yang berjejer rapi dan ditanami bunga-bunga yang indah itu, nyatanya tidak bisa meredamkan amarahnya Kruuuk ... "Aih, sialan! Kenapa tidak ada penjual makanan yang lewat sama sekali, sih?!" umpat Pram mengelus perutnya yang semakin keroncongan. Pria itu menoleh menatap pintu yang masih tertutup rapat. Sedetik kemudian ia berdiri dan mengintip dari jendela kaca. Disusul dengan u*****n yang lagi-lagi sudah tak terhitung berapa kali jumlahnya. Pram tidak bisa melihat apapun dari luar. Pria itu mengetuk pintu dengan jari telunjuknya sambil menghela napas panjang. "Kau tidak perlu khawatir. Aku bukan orang jahat, aku juga tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal kepadamu, Lintang. Tolong buka pintunya," katanya, "setidaknya, kau harus menganggapku sebagai tamu, berikan aku air putih juga sudah cukup." ia menelan salivanya kasar. Kali ini Pram duduk bersandar pada pintu cokelat tersebut, sesekali ia menoleh ke belakang seolah bisa menatap Lintang dari sana. Berharap gadis di dalam sana luluh setelah melihat wajah tampannya, lantas bersedia membuka pintu untuk Pram. Namun sayang, itu cuma khayalan absurd Pram seperti biasa. Kenyataannya, gadis bersurai hitam panjang itu masih duduk memeluk kedua lututnya sambil meneteskan air mata. Lintang takut sekaligus merasa bersalah atas lelaki yang saat ini masih berada di luar sana. Setelah mimpi-mimpi buruk yang masih menghantuinya sampai detik ini, semuanya seolah tak cukup. Lintang malah bertemu langsung dengan Pram hari ini. 'Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali?' Pertanyaan yang serupa juga menghantuinya sedari tadi. Lintang kembali berandai-andai, jika saja malam itu ia menjadi seseorang yang lebih berani. Mungkin Pramoedya Bagaskara yang ia kenal sangat ramah dan baik hati tidak akan mati. Mungkin juga sampai hari ini ia masih bisa melihat pria itu tersenyum manis dan menyapanya dengan hangat setiap hari. Namun, Lintang tidak seberani itu. Ia hanyalah seorang pembunuh yang sampai saat ini terus bersembunyi dari semua kenyataan yang terjadi. Pikirnya, ia akan baik-baik saja setelah pindah dari rumah yang lama, padahal kenyataannya semua masih sama. Mimpi, ketakutan, dan perasaan berdosa itu tidak akan pernah hilang tanpa pertanggung jawaban. Lintang berlalu pergi menuju kamarnya. Ia berharap pria di depan pintu rumahnya itu menyerah dan segera pergi dari sana. *** Hari mulai larut, meskipun Pram tak bisa melihat secara langsung, tapi Pram yakin matahari sudah kembali ke peraduannya. Pram sudah lemas di depan pintu, ia sudah kelaparan juga keharusan sejak tadi, sialnya tak satupun penjual makanan lewat di sana. Pram khawatir jika ia pergi untuk membeli makanan, Lintang sebagai satu-satunya harapan akan kabur begitu saja. Kaki panjang Pram selonjoran, tubuhnya juga bersandar sepenuhnya pada daun pintu. "Sepertinya, aku akan mati dua kali kalau begini," gumamnya tak jelas. Ngieeet ... Pintu itu perlahan terbuka pelan, tapi karena beban tubuh Pram pintu jadi sepenuhnya terbuka lebar. Kini, Pram sedang dalam posisi rebahan di lantai rumah Lintang. Gadis itu juga diam tak bersuara, meski kepalanya menunduk, tapi bola matanya bergerak gelisah menghindari tatapan dari Pram. "Aku bukan setan," ucap Pram tersenyum tipis. Pria itu bangkit dan segera berdiri. Sedangkan Lintang hampir saja menutup pintu rumahnya kembali jika Pram tidak menahannya. "Maaf, aku belum siap untuk bercerita." Lintang terus berusaha menutup pintu dengan dorongan kuat. Akan tetapi, sia-sia karena bagaimanapun juga tenaga Pram lebih besar darinya. Pram mengetnyitkan dahi menatap wajah Lintang dengan jarak sedekat ini. Keduanya sedang berusaha mendorong daun pintu untuk menunjukkan siapa pemenangnya. "Aku tidak akan memaksamu buatuntuk berbicara sekarang," Pria itu berucap pelan berusaha meyakinkan Lintang. Kemudian dalam satu dorongan Pram mendorong pintu hingga sepenuhnya terbuka. "Setidaknya tolong aku kali ini saja," katanya, "aku butuh makanan, kalau harus pulang dulu, rumahku jauh sekali dari sini. Bisa mati di tengah jalan aku." *** Lintang menatap Pram yang duduk di depannya sambil menyantap mie instan dengan lahap. Bahkan sesekali pria itu terbatuk karena makan seperti orang kesetanan. Ia menuangkan teh tawar ke sebuah cangkir lalu menyodorkannya kepada Pram yang dibalas dengan senyum hiperbolis dari pria tersebut. "Terima kasih banyak, Lintang," ucap Pram dengan mulut penuh makanan. Pram tersenyum dengan matanya yang menawan membuat gadis itu mendadak menundukkan kepala. Ia masih bingung dengan sosok yang berada di depannya itu. Jelas-jelas malam itu ia melihat semua kejadian mengerikan yang menimpa Pram. Lantas sekarang, siapa sosok yang sedang duduk di depannya? Namun, tak ayal senyuman dari Pram masih tetap membuat Lintang merasa senang. Gadis itu menggigit pipi bagian dalamnya karena gugup. "Andaru." gadis itu bersuara tanpa menatap Pram. Tepat setelah Pram meneguk teh tawar hingga tetes terakhir, ia menaikkan kedua alis menatap gadis di depannya dengan tanda tanya. Namun, senyuman di bibirnya masih setia terukir. Manis dan menawan seperti sebelumnya. "Namaku ... Andaru," ucapnya malam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD