Lima : Andaru

1974 Words
"Mungkin untuk sebagian orang menunggu bukan sesuatu yang perlu dicemaskan. Namun bagiku, menunggu sama saja menyia-nyiakan waktu untuk menemui kematianku lagi." - Pramoedya Bagaskara. *** "Namaku ... Andaru." Pram mengangguk mendengarnya. Lagi pula sebenarnya ia juga sudah tahu siapa nama asli gadis yang sejak tadi lebih suka menunduk itu. Entah apa yang lebih menarik di bawah sana dari pada wajah tampan yang bisa dinikmati secara gratis di depannya. Pram meneguk sisa teh tawar dalam gelas hingga tandas. "Kau tahu, kalau Lintang dan Andaru mempunyai makna yang sama?" tanya Pram melipat kedua lengannya di atas meja. "Artinya sama-sama bintang. Tapi, seperti katamu. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Andaru, kau suka itu?" Pram tersenyum lebar, bahkan menampakkan jejeran giginya. Sayang, Andaru tidak tertarik. Ia tetap menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Pram. "Kau itu cantik, kenapa selalu menunduk. Sayang sekali, padahal wajahmu itu harusnya bisa dilihat oleh banyak orang, apalagi kalau kau tersenyum," katanya masih mencoba membuka obrolan. Bagaimanapun, Pram harus mendapatkan informasi dari gadis itu. Setidaknya saat ini ia memiliki harapan dari pada sebelumnya. "Hei, aku sedang bicara denganmu. Kenapa kau selalu menunduk seperti itu! Apa kau masih berpikir aku ini hantu?" Pram mulai gemas. Kemudian Pram menyadari satu hal, bahwa yang terjadi kepadanya memang sedikit janggal. Pria itu menyandarkan tubuh pada sandaran kursi sembari menggigit pipi bagian dalamnya. "Baiklah, jadi aku memang sudah mati, tapi aku dibangkitkan lagi oleh malaikat maut. Kau, tahu?” Pram menggaruk kepala, ia bingung harus bagaimana menjelaskan semua kepada Andaru. “Ini memang terdengar aneh, bahkan sangat aneh. Kau boleh berpikir aku ini gila, atau apa pun. Tapi, ini benar-benar terjadi. Aku dibangkitkan lagi dari kematian untuk mencari penyebab kematianku," ungkapnya panjang tanpa jeda. Pram menghela napas panjang lalu melemparkan pandangannya ke langit-langit rumah sederhana tersebut. Rumah minimalis dengan cat berwarna putih gading yang mulai memudar, tapi ditata dengan sangat apik. Ia kembali menatap Andaru, gadis itu mulai mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap Pram. "Kau, sungguh hidup kembali?" tanyanya hampir tanpa suara. Jika saja telinga Pram tidak benar-benar jeli mendengarnya, ia tidak akan tahu bahwa Andaru mulai bersuara. Pram mengangguk semangat, ia kembali menegakkan tubuh dan meletakkan kedua tangan di atas meja. "Hmm, tentu saja! Kau lihat tadi? Aku menghabiskan mie yang kau buatkan." Masih berusaha meyakinkan gadis di depannya, Pram seakan sedang melakukan pameran senyum termanis miliknya. Pria itu mengulurkan tangan panjangnya untuk meraih tangan Andaru yang sedari tadi bertumpu menjadi satu di atas meja. "Kau bisa merasakan suhu tubuhku?" tanyanya sambil menggenggam kedua tangan Andaru. "Aku benar-benar masih berwujud manusia, yah setidaknya sampai saat ini." "Ta ... tapi, bagaimana mungkin? Ini mustahil," sergah Andaru menarik tangannya dari genggaman Pram. Lagi-lagi gadis itu menunduk enggan menatap Pram. Kedua tangannya berada dalam pangkuan. Hanya berselang sedetik kemudian suara isak tangis terdengar jelas di ruangan kecil tersebut. Pram mentap Andaru yang berusaha menahan isak tangisnya. Punggung gadis itu sudah naik turun, bahkan suara deru napasnya saja terdengar sangat berat. Pram ikut menghela napas panjang. Jujur saja ia juga bingung menghadapi situasi seperti ini. Ia sudah menjelaskan semuanya, tapi tetap saja semuanya terlalu mustahil untuk dimengerti. “Kau benar, ini memang sangat mustahil. Seperti ucapanku tadi, aku juga sempat tidak percaya kalau aku sudah mati lalu dibangkitkan kembali. Tapi, waktuku tidak banyak. Dan, jika sampai hari ke-seratus aku belum menemukan pembunuhnya ...,” ucapan Pram berhenti. Pria itu memejamkan mata ngeri mengingat mimpi di mana ia sudah menjadi arwah pendendam. Pram menghela napas, menatap Andaru yang masih keras kepala menahan air matanya. "Jangan ditahan. Itu hanya akan menyakitimu," tutur Pram. Akan tetapi, gadis itu tak mengindahkan ucapan Pram. Andaru masih saja berusaha menyembunyikan tangis yang sudah terlihat di depan mata. Pram berdiri dari kursinya, ia berjalan mendekati Andaru dan memutar tubuh gadis itu hingga menghadap padanya. Kini Pram menekuk kedua lututnya untuk menyamai tinggi Andaru yang sedang duduk. Ia menatap setitik embun yang berada di ujung sepasang mata Andaru. Sambil menatap gadis tersebut Pram menghela napas berat. Pram tahu bahwa ia harus lebih bersabar untuk mendapatkan petunjuk. Ia mengusap punggung Andaru untuk menyalurkan ketenangan. "Aku tahu ini memang sangat tidak masuk akal. Aku juga merasa kalau semua ini terlalu konyol, bahkan awalnya juga aku tidak percaya kalau ternyata aku sudah menjadi arwah gentayangan. Sampai kemudian Malaikat Maut menghidupkanku kembali seperti sekarang," jelas Pram. "Maaf, ma-afkan aku," isak Andaru pecah saat itu juga. “Tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kau siap menceritakan semuanya.” Andaru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Malam itu angin berhembus pelan. Gelap yang tadinya hanya diisi dengan suara ranting pohon yang saling bersentuhan, juga daun-daun kering yang jatuh beterbangan menciptakan suara gemersik pelan. Deru suara jangkrik terdengar nyaring beradu dengan tangis Andaru malam itu. Dari Jendela kaca yang sedikit buram, Pram bisa melihat dengan jelas bulan muncul dengan lingkaran sempurna. "Lepaskan semuanya, aku tidak keberatan mendengarnya." Pram menepuk punggung Andaru lembut. Perasaan bersalah dan menyesal itu semakin muncul ke permukaan melihat Pram yang begitu perhatian padanya. Pria yang selama ini Andaru perhatikan dari kejauhan, sekalipun tak pernah terbayang bahwa ia akan berada dalam situasi seperti ini bersama Pram. Andaru semakin sesenggukan. Ia menumpahkan semua tangisnya malam itu. Andaru juga sudah bertekad bahwa akan ia ceritakan semua yang dilihat malam itu. Jika memang hanya itu satu-satunya cara untuk menembus perasaan berdosanya selama ini, Andaru bersedia mengakui bahwa ia tak lebih dari seorang pembunuh. Andaru tak peduli meskipun nanti, mungkin saja Pram tidak akan pernah mau menemuinya atau sekedar melemparkan senyum seperti biasa. Karena ia pantas menerima itu. "Aa-ku ... pem ... ppem-bunuhnya," ucapnya terputus-putus. "Maafkan, aku! Aku pembunuhnya!" Gadis itu terus mengulang kalimat yang sama di depan Pram. Membuat pria itu secara alami membatu menatap sosok Andaru dengan penuh tanda tanya. *** "Selamat atas kerja kerasmu selama ini, ya!" Pria itu menepuk pundak Pram akrab seperti biasa disusul tawa. "Selamat tinggal, Pram!" Namun, ucapan perpisahan malam itu tidak seperti biasa. Bahkan, suara itu mendadak terdengar asing di telinganya. Tepat setelah pesta perayaan, Pram mendadak tergeletak di sebuah tempat yang sepi. Tempat yang dingin, gelap, dan tak ada seorang pun yang melintas kecuali pria yang sejak tadi berdiri di depannya. Hanya ada suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan. Malam itu angin kering berhembus, membuat rasa perih semakin menjalar ke seluruh tubuh menciptakan setitik embun yang membuat pandangan Pram semakin berkabut. Bau anyir bercampur dengan aroma bensin itu masih jelas tercium oleh hidungnya yang berdarah. Penglihatannya sudah mengabur, sebab matanya sudah sembab karena pukulan juga lebam. Pram merintih meminta pertolongan pada seseorang yang sibuk berbicara lewat ponsel. Namun, tetap tak ada jawaban. "Bereskan sekarang juga, kalau kau masih ingin mempunyai masa depan!" "Aku pegang kata-katamu. Kalau sampai kau tidak menepati semua janji-janjimu, maka bersiaplah untuk memiliki nasib yang sama seperti rekanmu ini." Pria asing itu menutup sambungan telepon lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Semua itu masih jelas teringat oleh Pram. Matanya berusaha mengerjap agar dapat melihat lebih jelas sosok yang kini berjalan mendekatinya. "Tt-to ... long," bisiknya lemah. "Aargh!" Pram mengerang pelan saat merasakan perutnya yang sudah sakit diinjak dengan keras. Ia terbatuk sampai mengeluarkan darah, sehingga pandangan Pram semakin samar karena hampir kehilangan kesadarannya. "Kau sudah bekerja keras selama ini, Pram. Sekarang, saatnya kau mati." Tepat setelah kalimat itu selesai, Pram merasakan sesuatu yang keras menghantam kepala Bagian belakangnya. Semuanya gelap, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Akan tetapi, telinganya masih samar mendengar suara isak tangis seorang perempuan. Sekuat tenaga tangannya berusaha mempertahankan seseorang yang menangis di sisinya malam itu. ‘Kumohon, jangan tinggalkan aku!’ Kalimat itu tertahan hanya dalam kerongkongan. Sialnya rasa sakit itu tidak bisa lagi ditahan oleh Pram. Pram sudah benar-benar lemah, seluruh tubuhnya seperti mati rasa. Tidak ada yang bisa ia rasakan malam itu selain rasa sakit yang amat sangat menyakitkan. Dengan keadaan mata terpejam pria itu menangis, dalam hati Pram masih berharap Tuhan memberikan keajaiban agar esok ia masih bisa melihat dunia. "Ah! Sial!" Mata sipit itu masih menatap sekeliling dengan pandangan bingung. Pram menyentuh perut, d**a, bahkan wajahnya sendiri. Napasnya naik turun, keringat membasahi seluruh tubuhnya. "Barusan itu apa?" gumamnya bermonolog. Pram menyandarkan tubuh pada sandaran tempat tidur. Tangan panjangnya meraih air putih yang berada di atas nakas lalu meneguknya sampai tandas. Ia menggeleng berusaha mengingat mimpi buruk yang terlalu mengerikan. Dalam mimpi itu juga ia hampir saja melihat siapa pembunuh yang sebenarnya. "Berengsek macam apa yang berani membunuhku?" Pram mengacak rambut frustrasi. Selalu saja menggantung seperti ini. Tidak ada petunjuk konkrit yang bisa menuntun Pram untuk segera menemukan siapa dalang di balik kematiannya. Mendadak ia ingat Andaru, gadis yang seharian kemarin ia ikuti sampai kelaparan tersebut, belum juga mau membuka suara untuk menceritakan semuanya. Hanya kata maaf dan rentetan ucapan penyesalan yang terus diucapkan. Pram juga tidak mau terlalu mendesak Andaru untuk menceritakan semua yang dilihat, walau sebenarnya ia juga sangat menginginkan Andaru menceritakan apa yang diketahuinya secepat mungkin. Akan tetapi, Pram terlalu takut gadis itu justru tertekan dan malah kabur darinya. Ia sendiri bingung bahkan sangat ketakutan jika nanti waktunya telah habis, sedangkan ia belum mendapatkan jawaban atas semua persoalan tentang kematiannya. Pram menyibak selimut untuk beranjak dari tempat tidur. Berjalan mendekati jendela kaca, Pram memikirkan seseorang yang kini menjadi satu-satunya tersangka. "Lesmana Kumbara," bisiknya berbicara sendirian. "Kalau memang firasatku ini benar, aku akan membalasmu dengan tanganku sendiri." Kini hanya ada satu nama yang terus menghantui pikiran Pram. Lesmana Kumbara selaku teman dekat yang berpotensi besar sebagai pembunuh. Mengingat semua kemungkinan yang menunjuk pada Bara, mulai dari pengangkatan jabatan yang terlalu cepat, juga tentang persaingan mereka untuk menjadi yang pertama di kantor. Pram semakin yakin bahwa pembunuh berkedok teman baik itu adalah tersangka utamanya. Sekarang, Pram hanya perlu bukti untuk menjebloskan Bara ke penjara. Lagi pula, Pram juga tidak habis pikir bahwa Bara adalah seseorang yang sangat mengerikan. Bagaimana bisa Bara membunuhnya dengan wajah kalem, juga pembawaan yang lembut di setiap situasi. Ini benar-benar di luar dugaan Pram. Tidak ada satupun bukti yang ia temui selama ini, dan lagi kematiannya bisa dengan mudah dipalsukan sebagai kasus tabrak lari supaya tidak ada tersangka yang perlu di datangi oleh polisi. Dengan begitu tidak akan ada penyelidikan berlanjut karena sampai saat ini, tersangka yang diduga mengendarai truk juga belum ditemukan. Tentu saja! Karena Kenyataannya, Pram adalah korban pembunuhan, bukan tabrak lari. Bara benar-benar melakukan semuanya dengan bersih dan sempurna. Ia berhasil menipu semua orang hanya dengan sebuah artikel. Tanpa sadar, Pram menciptakan tinju dengan tangannya lalu memukul kusen jendela dengan kuat untuk melepaskan amarah yang tengah memuncak. "Berengsek!" ia mengumpat lagi untuk memulai hari yang baru. Pram menatap tangannya yang memerah lalu mengerang kesakitan. "Ah! Kenapa sakit sekali?!" teriak Pram pagi itu. Pria itu kembali berguling di atas kasur memegangi tangannya yang terasa nyeri setelah meninju kusen jendela. *** Tidak ada yang bisa melawan takdir. Kehidupan atau kematian itu sepenuhnya milik Tuhan, sedangkan manusia hanya perlu menjalani semua yang telah disiapkan dengan cara mereka masing-masing. Tentang bagaimana mereka akan hidup, juga bagaimana mereka harus mati, itu sudah ditentukan oleh Tuhan sejak manusia berada dalam kandungan. Sedangkan manusia hanya memiliki andil untuk memilih proses dalam setiap perjalanan mereka. Jadi, tidak semestinya ia memiliki perasaan berdosa. Apalagi selama hidup dan menjadi rekan, Pram hanyalah penghambat bagi Bara untuk menunjukkan prestasinya entah itu semasa mereka sekolah, maupun di tempat kerja. Pram adalah halangan bagi Bara. Lagi pula selama ini Bara sudah menjadi teman yang baik, bukan? Ia memberikan tumpangan gratis, juga sering membelikan makan siang untuk Pram. Tidak ada yang perlu disesalkan. Bara menarik laci meja kerjanya, lalu memasukkan kartu identitas milik Pram ke sana. Ia menghela napas panjang untuk melepaskan sesak yang terus menekan dadanya. Bara tidak perlu cemas lagi, karena sekarang tidak akan ada yang menyainginya di kantor. Terlebih sekarang Bara sudah memiliki jabatan yang sejak dulu ia dambakan. "Pak Bara, anda sudah ditunggu di ruang rapat," ucap sekretarisnya yang berdiri di dekat pintu. Pria itu mengangguk dan bergegas meraih jas yang tergantung di kursi. "Baiklah, aku ke sana sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD