Enam : Lesmana Kumbara

1863 Words
Langkahnya ringan pagi itu sambil membawa pot kecil berisi kaktus mungil. Dalam perjalanan menuju ke rumah Andaru, Pram tak sengaja melihat pot kaktus tersebut. Sekilas ia teringat bermacam-macam jenis bunga yang ada di halaman rumah Andaru. Lalu berinisiatif membeli satu untuk gadis itu. Sepanjang perjalanan Pram bersiul sambil menatap kaktus di tangannya. Hari ini Pram kembali bermimpi buruk, tapi setidaknya kini ia benar-benar yakin bahwa kematiannya adalah kasus pembunuhan. Dan setidaknya, kini Pram mempunyai seseorang untuk dicurigai. Langkahnya semakin cepat saat melihat tembok tinggi yang sudah usang, paling jauh dengan pemukiman. Pram terus tersenyum dan berharap ia akan segera mengungkapkan semua sebelum waktunya habis. Di depan gerbang setinggi d**a bercat hitam, Pram berdiri sejenak. Ia menyaksikan Andaru yang sedang menyirami tanaman di temani kucing berwarna hitam yang duduk di kursi anyaman. Satu hal yang sejak kemarin tidak Pram temui dari Andaru, gadis itu jelas sedang tersenyum saat ini. Tanpa permisi, Pram mendorong pagar seperti pemilik rumah tersebut. "Wah, ternyata kau bisa tersenyum juga? Seharusnya sudah sejak kemarin kau memperlihatkannya padaku," ucap Pram mendekat. Seketika Andaru menghentikan aktivitasnya, gadis itu hampir saja melarikan diri ke rumah jika Pram tidak cekatan menahan lengan Andaru. "Hey, tunggu dulu. Kenapa kau selalu kabur saat melihatku?" Pram menghela napas, ia ikut menunduk untuk mengintip wajah Andaru. Hanya sesaat, karena gadis itu terus menghindari tatapannya, Pram menyerahkan pot kaktus yang sejak tadi ia bawa. Pot dari tanah liat bercat putih dengan ukiran animasi matahari yang sedang tersenyum. "Hadiah untukmu," ucap Pram. Andaru membatu menatap pot di tangan Pram. Cukup lama hingga kemudian mendongak untuk menatap pria tinggi di depannya. "Hei, ayolah ambil saja. Kemarin 'kan kau sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau kau tidak segera memberiku makanan, aku benar-benar bisa mati dua kali kemarin," celoteh pria itu. "Kau ...," ucapannya berhenti. Sepasang netra sendu milik Andaru menatap Pram dan kaktus di tangan pria itu secara bergantian. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa di depan Pram. Sudah cukup ia merasa bersalah selama ini, tapi Pram justru datang lagi. Tentu saja itu bukan hal mudah untuk Andaru. Semua rentetean kejadian itu seperti pil pahit yang harus ia telan setiap saat melihat Pram tersenyum padanya. Seperti saat ini. Andaru menghela napas meski tak mengurangi sesak yang tertahan. Ia memberanikan diri menatap lekat manik hitam Pram sedalam mungkin. Namun, sebanyak apa pun Andaru memikirkan semua perkataan Pram, tidak ada satu pun yang bisa ia pahami. Andaru benci pada dirinya sendiri, sejak malam di mana ia telah menjadi seorang pengecut yang membuat nyawa seseorang melayang. "Apa kau bodoh?" katanya, "kenapa kau datang lagi? Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku yang sudah membunuhmu? Kau tidak takut aku akan melakukannya lagi padamu?" sepasang mata Andaru sudah berkaca-kaca. "Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi." Andaru berpaling dan bergegas melangkah menjauhi Pram. Melihat hal itu, tentu saja Pram tidak akan tinggal diam. Ia meletakkan kaktus yang ia bawa di teras rumah, berjejer dengan deretan pot lain. Pria itu memanfaatkan kaki panjangnya untuk menghadang Andaru tepat di depan pintu. "Pembohong!" ucap Pram. Keduanya saling bersipandang. Seperti kemarin malam, sepasang mata Andaru yang sudah basah memicing pada Pram. "Apa?" "Kau pembohong, Andaru!" Pram kembali berbisik, kali ini penuh penekanan dalam setiap kata yang diucapkan. "Aku tahu bukan kau pelakunya, 'kan?" terka Pram menyentuh kedua bahu Andaru. Tanpa sadar sepasang mata Andaru menyipit menatap Pram. Jantungnya kembali berdebar di saat yang tidak seharusnya. Antara perasaan takut dan kagum seperti dahulu, semuanya datang bersamaan. "Ka ... kau!" "Aku mendengar tangisanmu malam itu. Malam di mana aku mati, kau memang ada di sana. Tapi, aku yakin bukan kau pelakunya." Pram melanjutkan ucapannya tanpa mengalihkan pandangan dari gadis tersebut. "Kau mungkin melihat semuanya, tapi aku sama sekali tidak ingat kejadian malam itu. Aku tidak bisa mati seperti ini, hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku. Jadi, tolong bantu aku." Andaru menggeleng kuat, ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Pram di bahunya. Namun, pria itu kukuh juga untuk mempertahankan Andaru agar tetap berdiri di tempat. "Pergilah, aku tak bisa melakukan apa pun untukmu. Maafkan aku," ucapnya sudah sesenggukan. "Tidak, kumohon! Hanya kau yang bisa membantuku. Waktuku tidak banyak, aku tidak mau berakhir menjadi arwah pendendam begitu saja!" "Itu bukan urusanku!" teriak Andaru. Tangisnya kini benar-benar pecah di teras rumah. Kedua tangan Andaru yang tadinya memberontak untuk melepaskan diri, kini menutup wajah yang sudah sembab. Antara rasa marah, benci, juga perasaan bersalah, semuanya selalu menghantui Andaru setiap hari tanpa jeda. Rasanya, ia hampir saja tak memiliki waktu untuk sekedar bernapas lega. "Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana rasanya menanggung dosa karena kematianmu. Sudah cukup, setiap hari aku selalu bermimpi tentang malam itu. Dan asal kau tahu saja, sejak malam di mana kau mati, aku tidak pernah bisa berbaur dengan orang lain. Apa semua itu tidak cukup?" pekik tangis Andaru. Melihat semua itu, tak ayal Pram yang sejak tadi mempertahankan Andaru melepaskan kedua tangannya dari bahu gadis itu. Ia berusaha memahami keadaan Andaru, tapi di sisi lain, Pram juga tidak mempunyai banyak pilihan. Bahkan, jika saja Pram mempunyainya, ia tak akan memutuskan untuk mati secepat ini dengan keadaan serumit ini. "Apa aku yang memintamu untuk hidup seperti itu?" tanya Pram membuat isak gadis itu tertahan. Andaru masih bungkam, tetapi air matanya terus meleleh tanpa bisa dihentikan. "Apa aku yang memintamu untuk mengasingkan diri seperti ini? Apa aku yang memintamu untuk terus merasa bersalah? Apa aku juga yang memberikan mimpi buruk itu padamu, An?" cecar Pram. Pria itu berbalik membelakangi Andaru, jemari Pram menyurai rambut hitamnya ke belakang. Ia berkacak pinggang sambil mendongakkan kepala. Sejujurnya, Pram benci harus berbicara seperti ini. Berkali-kali ia menghela napas untuk menetralkan emosinya. Sangat tidak lucu jika ia melampiaskan kemarahannya pada Andaru. "Semua perasaan itu ada karena kau masih mempertahankannya, bukan karena aku. Kau memilih hidup seperti ini, juga karena pilihanmu, 'kan?" Pram sengaja tidak berbalik untuk menatap Andaru saat berbicara. Karena bagaimanapun juga, ia tetap tak kuasa melihat seorang wanita menangis sesegukan seperti itu. "Kau bisa dan harus melepaskannya mulai sekarang. Sesulit apa pun, kau harus melakukannya untukku. Kau harus membantuku, meskipun kau tidak menyukainya, Andaru," bisik Pram menundukkan kepala. Pria itu memutar tubuh setelah menyelesaikan kalimatnya. Andaru sudah lebih tenang sekarang. Pram kembali menyentuh kedua bahu Andaru, tak lupa ia suguhkan senyum untuk gadis itu. "Karena hanya dengan begitu, aku akan memaafkanmu." *** Bara menjatuhkan tubuh kurusnya di kursi kerja. Mata sayu itu terpejam, helaan napasnya juga terdengar sangat berat. Kedua tangan Bara berada di kepala meremas rambut dengan perasaan tak keruan. Sudah hampir setengah hari ia berada di kantor kepolisian pusat untuk berbicara dengan Detektif yang menangani kasus Pram. Namun, kenyataannya semua itu tak berjalan sesuai harapan Bara. Sepasang matanya mengerjap lelah, Bara melirik lacinya. Sedetik kemudian pria itu duduk tegak menghadap meja kerja, ia mengambil kartu identitas Pram yang ia simpan dalam laci. Entah sudah yang keberapa kalinya, ia pandangi benda mati tersebut dengan pikiran bercabang. "Kau memang sialan, Pram!" umpatnya sambil mengurut pelipis. Mendadak pintu ruangannya terbuka, Bara tersentak di kursi. Buru-buru ia berdiri dan menunduk melihat atasannya datang. "Dari mana saja kau? Aku dengar kau membatalkan rapat direksi pagi ini? Bahkan, asistenmu saja tidak tahu ke mana kau pergi. Apa begini caramu untuk menjatuhkan perusahaan ini, Lesmana Kumbara?!" bentak Presdir Wijaya. Bara menunduk tak berani menatap Presdir Wijaya. Ia sepenuhnya menyadari bahwa semua ini kesalahannya. Bara sadar bahwa ia terlalu gegabah mengambil tindakan. "Kau tidak berniat menjawab?" "Ma-maafkan, saya Presdir. Saya tidak akan mengu-" belum sempat ucapannya terselesaikan, Presdir Wijaya sudah lebih dulu mengambil kartu identitas Pram yang berada di atas meja. "Bukankah ini milik Pramoedya?" Presdir Wijaya memotong ucapan Bara. Pria itu terdiam manatap bosnya yang tengah mengamati kartu identitas milik Pram. "Kenapa ini bisa ada padamu?" Pertanyaan itu membuat kerongkongan Bara seperti tercekat biji salak. Bara gelagapan, menatap Presdir Wijaya dengan tatapan bingung. Ia tak tahu harus memulai semuanya dari mana dan bagaimana menjelaskan semuanya. Sedangkan saat ini Presdir Wijaya juga sedang menatapnya seperti sedang menuntut jawaban. Bara semakin gugup, pria itu bahkan mulai berkeringat karena takut. "I-itu ... anu, s-sa-saya ...." Drrrt ... Drrrt ... Drrrt Diam-diam Bara menghela napas lega, ia sangat-sangat berterima kasih kepada siapapun yang menghubungi bosnya saat itu juga. "Ya?" sahut Presdir Wijaya mengalihkan pandangannya dari Bara. Pria paruh baya itu berbalik menatap ke luar jendela kaca yang menampakkan deretan gedung bertingkat. "Kau tidak perlu datang ke sini, aku yang akan menemuimu di tempat biasa." Ponsel hitam itu dimasukkan kembali ke dalam saku jas. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh sebelum kemudian kembali menatap Bara yang masih menunduk. "Kau ... Ini peringatan pertama bagimu. Kalau sampai besok kau melakukan hal yang sama, aku tidak akan segan-segan mengembalikan posisimu seperti semula. Bara mengangguk. "Baik, Presdir!" Presdir Wijaya mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan Bara. Pria itu kembali menjatuhkan diri di atas kursi sambil menghela napas lega. Untung saja ada penelepon yang sudah menyelamatkanya hari ini. "Kau memang pembawa sial!" kata Bara memukul foto Pram dalam kartu identitas tersebut. *** Jalanan masih ramai meski matahari telah kembali ke peraduan sejak tadi. Pria itu duduk di bibir trotoar sambil menatap setiap kendaraan yang melintas. Kaleng soda di tangannya sudah tidak bisa lagi mendinginkan perasaannya saat ini. Pram meneguk soda terakhir dalam kaleng, lalu meremasnya hingga tak berbentuk. Helaan napas itu berulang kali ia embuskan, tapi tetap saja rasanya terlalu berat untuk tidak mengumpat. Apalagi saat matanya tak sengaja melirik gelang mutiara yang butirannya sudah banyak yang mulai menghitam. "Aku harus bertemu dengan Bara, bagaimanapun caranya," gumam Pram. Sedetik kemudian ia beranjak pergi untuk pulang ke rumah. Semoga saja, besok ia bisa mendapatkan petunjuk yang lebih baik dari hari ini. "Akan kubalas dia dengan tanganku sendiri." Pram terus bergumam di sepanjang jalan menuju ke rumah. Mengabaikan hiruk pikuk keadaan sekitar karena saat ini tujuannya hanya satu. Lesmana Kumbara. Entah bagaimana semuanya nanti akan berakhir, Pram akan membalas pria itu atas kematiannya yang sudah dimanipulasi. Lima belas menit Pram menyusuri jalanan, ia tiba di depan rumahnya. Dahi pria itu mengerut mendapati sebuah mobil yang terparkir di depan pintu gerbang. Pram hapal betul mobil siapa yang saat ini sedang ia perhatikan. Buru-buru ia mengintip dari balik pagar, dan seseorang yang berdiri di depan pintu utama berhasil menyalakan bara yang sudah panas dalam diri Pram. Bara ada di sana, mengintip isi rumahnya dari balik jendela. Kini berbagai pikiran muncul di benaknya. Haruskah ia menyapa Bara sekarang juga, dan menyerukam semua pertanyaan dalam benaknya? Atau, Pram hanya perlu melangkah diam-diam dan menghabisi Bara saat itu juga? Pria itu benar-benar sedang dikuasai oleh emosi. Ia mengambil tiga langkah mundur untuk mengambil pecahan batu besar yang berada di dekat pagar rumah. Napasnya menderu hebat, lalu tanpa berpikir panjang Pram menghantam kaca mobil Bara dengan sangat kuat. "Berengsek!" umpatnya pelan. Alarm mobil berbunyi nyaring, membuat Bara yang sedari tadi sibuk mengamati rumah Pram menoleh ke sumber datangnya suara. Sedangkan Pram masih belum puas, ia membungkuk untuk mengambil batu lainnya dan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, seseorang menarik tangannya untuk segera pergi dari sana. Keduanya berlari dengan cepat dalam kegelapan agar tidak ketahuan. Di balik pagar, Bara yang menyaksikan kaca mobilnya rusak parah benar-benar terkejut. Sekilas ia melihat dua orang berlari menuju tikungan yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Bara bergegas mengejar pelaku yang baru saja menghancurkan kaca mobilnya "Hei! Berhenti di sana!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD