"Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa kembali pulang ke rumah."
Perempuan paruh baya itu tersenyum kala menjejakan kaki di dalam rumah sederhana yang dibeli Laila dari hasil jerih payahnya bekerja selama ini.
Sejak pindah ke Jakarta dua tahun yang lalu, Laila dan ibunya terlunta-lunta tak jelas di kota sebesar itu. Keluarga sang ibu yang diharapkan akan menjadi tempat berlindung selama mereka hijrah, ternyata tak ditemukan di alamat yang mereka punya.
Harus mencari pekerjaan di tengah kota metropolitan yang terkenal kejam, membuat Laila bertekad untuk mencari pekerjaan. Demi sang ibu yang selama ini sudah mengalami berbagai penderitaan karena fitnah dan iri hati saudara-saudara iparnya.
Mereka terpaksa harus menetap di Jakarta. Selain tak punya lagi tempat untuk singgah, ada setitik harapan untuk bisa mengubah nasib. Sejak kepergian sang ayah tiga tahun sebelum mereka datang ke kota ini, hidup Laila dan ibunya penuh dengan cobaan.
Saudara-saudara ayahnya merasa tak rela jika harta peninggalan Burhan, ayah Laila jatuh ke tangan mereka. Itulah kenapa fitnahan dan
perbuatan-perbuatan tak menyenangkan lainnya berdatangan.
Hingga akhirnya, fitnah terakhir itu mengantarkan mereka berdua untuk pergi dari kampung halaman yang selama ini telah memberikan kenangan tentang kebahagiaan sekaligus kesedihan. Kota Bandung itu kini tinggal kenangan.
Mencari pekerjaan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Laila harus bekerja keras demi mendapatkan upah. Dari mulai pramuniaga, sales marketing, hingga pelayan toko pernah dilakoni demi mencukupi kebutuhan hidup.
Tinggal di rumah indekos yang kecil dan pengap, terkadang membuat sang ibu merasakan sesak. Penyakitnya seringkali kambuh. Namun, mereka kuat bertahan hingga setahun lamanya dengan keadaan seperti itu.
Masih di tahun pertama sejak ia tinggal di Jakarta, keahlian Laila yang memang sejak kecil suka dengan menggambar sketsa sebuah gaun, menarik salah satu pelanggan di toko tempatnya bekerja. Bahkan, desain itu dihargai dengan cukup mahal.
Merasa keahliannya memang di bidang itu, Laila mencoba peruntungan untuk melamar pekerjaan di salah satu butik yang cukup ternama. Pemilik butik itu pun tertarik dengan rancangan Laila. Hingga pekerjaan sebagai desainer pakaian pun jatuh ke tangannya.
Setahun menjalani rutinitas sebagai desainer pakaian di butik, membuat perekonomiannya cukup meningkat. Ia dan sang ibu bisa pindah ke rumah yang lebih layak dan memiliki fasilitas yang memadai.
Terkadang hidup memang tak bisa ditebak. Alur yang sudah ditentukan Sang Mahakuasa pun tak dapat ditolak. Takdir yang sudah dijatuhkan harus dijalankan. Seperti itu pula yang terjadi pada Laila.
Seorang perancang busana terkenal terpikat dengan hasil desain Laila yang unik dan menarik. Ia berani memberikan penawaran besar pada Laila jika mau bekerja sama dengan perusahannya.
Tentu saja, siapa yang mau menolak rezeki yang lebih baik, apalagi kehidupannya hanya monoton mendesain pakaian yang meski banyak diminati pelanggan, tapi tak membuat maju pesat seperti harapan.
Laila menerima tawaran itu. Bekerja sama di MOA, sebuah perusahaan besar milik salah satu perancang ternama ibu kota, merupakan kebanggan yang luar biasa. Meskipun sang pemimpin terkenal galak, judes dan sinis, tetapi ia merasa tertantang. Itulah yang membuat Cintia menyukai kegigihan Laila.
Kehidupan Laila mulai berubah. Setahun berlalu mampu menjadikan Laila yang seorang perempuan sederhana, menjelma laksana permata. Ia adalah perancang kesayangan sang atasan. Hampir tak pernah kesalahan dan kekecewaan ditimbulkannya selama bekerja.
Penderitaannya selama ini akibat ulah saudara-saudara sang ayah bagai kumulus luka yang ia tata sedemikian rupa. Tekad dalam jiwa membuatnya ingin menunjukkan hidup yang lebih baik.
Laila memang masih dengan kepolosan yang dimilikinya, tetapi perempuan itu telah menjelma menjadi sosok yang tangguh dan memiliki pemikiran luar biasa.
"Ibu harus banyak istirahat dan jangan terlalu capek. Satu hal lagi, jangan banyak pikiran," ucap Laila mengingatkan.
Ratna mengukir senyuman sambil mengibaskan tangan di depan wajah.
"Kamu ini, sudah seperti dokter sungguhan saja, terlalu banyak aturan," ujar perempuan yang masih tampak pucat itu tersenyum.
"Memang benar, kan? Ibu harus melakukan itu semua jika ingin segera pulih." Laila tak mau kalah.
"Iya, Ibu paham, Bu Dokter," timpal Ratna mengalah.
"Sayangnya, aku tak menjadi dokter seperti harapan Ibu." Laila seolah tengah menyayangkan harapannya yang tak sesuai keinginan orang tua yang begitu menginginkan ia menjadi seorang dokter.
"Apa pun pekerjaan yang kamu punya sekarang, Ibu tetap bangga, Nak," bisik Ratna seraya meraih tangan putrinya.
Perempuan itu mengelus lembut punggung tangan anak semata wayangnya, karena dengan tangan itu, bisa mengantarkan mereka ke lembah kebahagiaan yang sejak sepeninggal suami, jarang dirasakan lagi. Namun, kegigihan Laila seakan menjadi pemicu semangat untuk bisa kembali mengukir mimpi, mewujudkan harapannya.
Laila pun merasa ibunya sebagai tumpuan segala lara. Dalam doa yang terlantun, ada rida yang senantiasa mengantarkan pada satu demi satu titian anak tangga lebih tinggi. Meski belum mencapai puncak itu, tetapi ia sudah bersyukur, bisa mewujudkan sedikit demi sedikit harapan yang sempat pudar di awal-awal tinggal di Jakarta.
Perempuan itu masih ingat, saat pertama mereka tinggal di sebuah rumah kos sangat sederhana. Suasana ladah di sekitar rumah, apalagi jika datang musim hujan, seringkali becek dan kesadaran akan lingkungan bersih masih kurang diperhatikan warga. Sampai berserakan di mana-mana, menjadikan tak enak di pandang juga menimbulkan bau tak sedap.
Laila bersyukur. Saat ini, kehidupannya sudah jauh lebih baik. Tinggal di lingkungan yang lebih bisa menjaga alam sekitar, rumah tertata dengan rapi dan bersih, sehingga terciptanya suasana asri. Ratna pun tampak bahagia bisa tinggal di rumah yang sekarang dengan keadaan yang lebih nyaman.
"Laila, hubunganmu dan Mirza baik-baik saja, kan?"
Pertanyaan Ratna membuyarkan lamunan Laila. Perempuan itu tak siap menjawab mengenai hubungan yang kini sudah tak lagi terjalin. Bahkan, untuk mengatakan bahwa dirinya tengah berbadan dua pun, masih belum sanggup. Entah kapan kesiapan untuk berbicara itu muncul.
"Hubunganku dan Mas Mirza sejauh ini baik-baik saja, Bu," ucap Laila seraya memapah ibunya menuju kamar.
"Kalian tidak sedang bertengkar, kan?" Lagi, perempuan itu belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan putrinya.
Laila menggeleng, menyunggingkan senyuman supaya sang ibu merasa yakin, jika hubungannya dan Mirza tak ada masalah.
"Syukurlah, Ibu lega mendengarnya, karena Ibu sempat bermimpi, kalau kau menangis sambil terus menyebut nama Mirza. Ibu khawatir, kau tengah mengalami masalah dengannya," ucap sang ibu terlihat khawatir.
Perempuan itu terkesiap, mengalihkan pandangan ke arah sang ibu yang sudah duduk di bibir ranjang. Apakah perasaannya saat ini sampai ke hati perempuan itu? Meskipun lewat mimpi, tetapi kekuatan batin antara mereka begitu kuat.
"Ibu sekarang istirahat, Laila izin ke kamar dulu, ya." Perempuan itu pun pergi setelah membantu ibunya untuk berbaring.
Merenungkan apa yang dikatakan sang ibu, tiba-tiba membuatnya merasa berdebar tak karuan. Ia harus segera mengatakan kebenaran yang terjadi pada perempuan paruh baya itu. Tak ingin lebih dulu tahu dari orang lain.
Pikiran Laila menerawang jauh. Bagaimana kabar lelaki itu sekarang? Seminggu sudah berlalu dari pandangan, tak pernah sedikit pun keadaan tentang Mirza terdengar. Tidak, ia memang tidak ingin tahu kabar mantan kekasihnya itu.
Hanya saja, jika tiba-tiba bayangan lelaki itu berkelabat dalam ingatan, selalu saja kenangan demi kenangan seakan kembali menyeruak. Menguntai satu demi satu menjadi rangkaian kisah yang begitu melekat. Air merembes dari celah netranya, menimbulkan nyeri yang menyayat.
Kepingan yang pernah mereka rangkai bersama, menjadi potongan memori yang menguntai senyum sekaligus luka. Bahkan, ia masih mengingat dengan jelas, ketika Mirza memintanya untuk datang ke taman di sore yang cerah. Tak menyangka dengan perlakuan lelaki itu yang begitu romantis.
Sufrah terhampar di atas rerumputan hijau. Telah tersaji beberapa aneka makanan, buah-buahan dan minuman ringan di atasnya. Laila tentu teramat bahagia mendapat kejutan dari sang kekasih. Meski sederhana, tapi meninggalkan kesan yang mendalam di hati.
Meski hitungan bulan hubungan yang sempat terjalin, tetapi telah begitu banyak kisah yang telah mereka cipta, sehingga tak mudah untuk melupakan begitu saja. Ia berpikir, kenapa Mirza dengan begitu gampangnya melupakan ia dan semua yang pernah terjadi antara mereka?
Pasti ada satu hal yang membuat Mirza melakukan itu. Jika ingin putus, tak mungkin beralasan tak pernah mengenalnya sama sekali, bahkan sampai tega mengusir di depan banyak orang. Ia harus mencari tahu sendiri jawabannya.