Kenangan

1182 Words
Setelah memastikan ibunya memakan beberapa potong buah apel yang sengaja ia kupas, lalu membuat perempuan paruh baya itu istirahat, Laila keluar dari kamar perawatan. Langkahnya terhenti persis di depan ruangan. Ia mengambil tempat duduk di atas pagar tembok berlapis keramik di sepanjang selasar rumah sakit. Sepasang netranya memandang taman yang dihias sedemikian indah. Seperti sengaja ditata di sana agar pasien dan pengunjung merasakan keasrian, selain tentunya sebagai sarana yang baik bagi pemulihan tubuh. Pikirannya menerawang jauh ke beberapa waktu silam. Ketika ia dan Mirza masih bersama. Mereka terkadang membicarakan hal-hal sederhana. Seperti memiliki rumah yang penuh dengan jendela dan dikelilingi taman bunga kesukaan Laila, mawar. Alasannya karena ingin rumah mendapatkan sirkulasi udara yang baik bagi penghuninya. Selain itu, tak jarang mereka saling mengemukakan alasan kesukaan masing-masing. Mirza yang lebih sering menanyakan hal itu. Membuat Laila terkadang kewalahan menanggapi rentetan pertanyaannya. "Kenapa kau suka sekali dengan pantai?" tanya Mirza satu hari, saat mereka berkesempatan berjalan-jalan menyusuri pasir putih dan deburan ombak di pantai Ancol. "Aku suka aroma dan keindahannya. Sejauh mata memandang lautan, seperti itulah kehidupan, tak pernah bisa ditebak di mana akan bermuara. Juga kesetiaan antara ombak dan pantainya," ungkap perempuan itu dengan seulas senyum di sudut bibirnya. Mirza memandang lekat wajah sang kekasih dari samping. Senyuman itu yang membuat ia jatuh cinta beserta semua kesukaannya. "Kalau kau, Mas, apa yang kau suka dari pantai?" tanya Laila seraya menatap wajah tampan sang kekasih. "Kalau aku, sewaktu kecil sering diajak Papa dan Mama pergi ke pantai. Aku menyukai gumuk yang jarang orang lihat." "Gumuk?" Laila tampak menautkan kedua alisnya. "Ya, bukit pasir yang ada di tepi laut. Di sana aku bisa puas bermain-main." Perempuan itu tertawa seketika. Ia membayangkan, betapa lucunya masa kecil Mirza saat itu. "Kenapa tertawa?" tanya Mirza masih memandang perempuan di sampingnya. "Aku hanya membayangkan, pasti kau sangat lucu sewaktu kecil." Lelaki itu ikut terkekeh, membuat Laila menoleh. Pandangan mereka bersirobok. "Kau salah, banyak orang mengatakan jika aku anak yang dingin dan tak acuh," ujarnya datar. "Tak heran, sih, kau memang terlihat seperti itu," Laila mendelik. "Kau jatuh cinta karena sikapku itu, kan?" Perempuan itu tersipu. Mengedarkan pandangan ke laut lepas yang biru. Tak sengaja, kedua netranya menangkap pusaran angin di tengah samudera. Berputar-putar ke sekitar, tembus menuju dasar lautan. "Halimbubu, Mas!" pekiknya tak percaya. Mirza mengikuti arah pandangan sang kekasih. Ia pun terkejut melihat pusaran yang tampak mengerikan. Bisa melahap benda-benda yang ada di sekitarnya. "Kita harus segera pergi dari sini, Sayang," ucapnya sambil meraih tangan Laila. Perempuan itu menurut. Mengikuti langkah Mirza menuju parkiran mobil. Segera meninggalkan pantai Ancol yang mulai dipayungi langit senja. Masih terlihat halimbubu di kejauhan. Lama-kelamaan semakin tak terlihat.. Mobil yang ditumpangi Laila dan Mirza pun mulai membelah jalanan kota metropolitan yang selalu ramai lalu lalang kendaraan. "Hidup itu seperti halimbubu ya, Mas," ujar Laila menoleh ke lelaki di sampingnya yang tengah fokus menjalankan kuda besi. "Maksudmu?" Mirza heran dengan pendapat kekasihnya. Terkadang, ia tak bisa memahami pikiran perempuan itu. Selalu penuh teka-teki. Mengartikan hidup dari berbagai sisi. Namun, kepolosannya yang telah membuat ia jatuh cinta. Berbeda dengan perempuan lain yang ia kenal selama ini. Laila dengan semua pendapatnya yang tak terduga. Selalu mengartikan sesuatu secara tiba-tiba. Entah mengapa, justru Laila menyukai bidang fashion designer. Ia begitu cekatan dalam mendasain pakaian untuk berbagai acara. Dengan sigap, tangan terampilnya menorehkan karya yang memukau. Itulah kenapa, ia termasuk salah satu fashion designer kesayangan perusahaan tempatnya bekerja. Keahlian yang dimiliki perempuan itu mampu memikat sang atasan yang terkenal galak dan sinis. "Hidup seperti putaran yang akan selalu berdampak pada hal-hal di sekitarnya. Sama seperti halimbubu. Tanpa disadari, hidup pun tak pernah terlepas dari lingkaran hubungan dengan sekelilingnya." "Bukannya halimbubu itu berdampak pada kerusakan pada apa saja yang dilewatinya?" "Apa bedanya dengan hidup? Hanya saja, hidup itu tergantung dari diri kita yang mengaturnya. Akan dibawa kemana putaran itu, tentu dampaknya pun akan sesuai dengan apa yang kita tentukan," terang Laila menjelaskan. "Pendapatmu cukup dapat diterima." Perempuan itu hanya melengkungkan garis tipis di bibir, menatap jalanan lurus di depan. Sementara sekali lagi, lelaki di sampingnya tampak terkagum-kagum dengan penjelasan sang kekasih, tentang hubungan halimbubu yang seperti kehidupan. Cukup dapat diterima dengan logika. Tak ada yang lebih membahagiakan, selain bisa dicintai dengan tulus oleh seseorang. Hati yang seakan penuh bunga karena indahnya jatuh cinta, begitu kuat dirasakan oleh Laila. Perempuan yang menjatuhkan hati pertama kali pada lelaki bernama Mirza, seorang pengusaha tekstil kaya raya. Bukan karena kekayaan lelaki itu yang membuat Laila jatuh cinta, tetapi sikap sedingin es dan wibawa yang ditunjukkan, mampu meluluhkan hati perempuan polos yang tak pernah merasakan jatuh cinta. Ya, Mirza adalah cinta pertama dalam hidupnya. Meskipun Laila bukanlah cinta pertama Mirza, tetapi perempuan itu telah mampu mencairkan hatinya yang membeku akan perasaan cinta. Karena dalam kamusnya, cinta ibarat fatamorgana. Ada, tetapi tak dapat dirasa. Masa lalu telah menorehkan luka yang begitu dalam pada hati lelaki itu, sehingga ia tak percaya lagi akan cinta. Namun, kehadiran Laila seolah oasis di tengah padang pasir. Membuat degup jantungnya selalu berpacu lebih cepat, terkesan dengan semua pemikiran sederhana yang dikemukakan perempuan itu. Mirza jatuh cinta lagi. Waktu enam bulan terlewati dengan penuh kemesraan. Bahkan, mereka sampai lupa, jika batas sebuah hubungan terletak pada jarak dan pandangan. Namun, gairah yang menggebu menerobos dinding pemisah yang harus tetap terjaga, sampai pada waktu untuk dihalalkan. Laila dan Mirza melupakan kaidah yang sudah ditentukan dalam agama, juga hukum yang berlaku. Mereka terjerumus ke dalam hasrat menggebu. Dibutakan oleh cinta yang membara. Hingga akhirnya, lelaki itu mengipuk hasil perbuatan yang tak seharusnya di rahim perempuan polos itu, justru ia mengaku tak pernah mengenalinya, apalagi menjalin hubungan lebih. Hancur sudah harapan dan cinta yang ada. Luruh semua impiannya membangun mahligai rumah tangga yang pernah mereka ungkapkan bersama. Semua itu kini hancur berkeping-keping. Pada siapa Laila melabuhkan diri dan nestapa. Kekalutan menguasai, pikiran menjadi buntu. Satu-satunya yang terlintas adalah pergi sejauh mungkin dari semua impian yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Namun, bagaimana dengan sang ibu? Belum tahu harus bagaimana menceritakan kenyataan yang terjadi pada perempuan paruh baya itu. Dapatkah menerima ia dan bayi yang ada dalam kandungannya? Sementara, betapa kaidah agama begitu dijunjung tinggi olehnya selama ini. Senja yang mulai temaram di batas cakrawala. Menyisakan siluet di langit jingga. Ketika hati luruh bersama luka yang merajam. Menyesaki pikiran dengan suara dentuman. Jiwa mana yang takkan merana. Dicampakkan begitu saja bak sampah tak berguna. Setelah cinta mengisi hari-hari bahagia, berubah dengan kenyataan yang menyiksa. Tentunsaja, hal itu membuat Laila bagai teriris sembilu yang menyayat perih. Ketika harapan mencipta tangis lirih, ingin rasanya lari sejauh mungkin dari semua rasa, nenekuri diri yang telah bergumul dalam dosa. Keinginan itu pudar saat masih ada perempuan yang harus ia jaga dari semua rasa sakit dan kecewa. Pada siapa melabuhkan hati yang telah rapuh? Sementara tak ada jalan untuk bersimpuh. Terlalu hinanya dirnya yang bergelimang dosa. Dianiaya bisikan hasrat semata. Akhirnya hanya diam tanpa perlawanan, menantikan takdir kembali datang menentukan. Bisikan di lorong sepi dalam keheningan, menyuarakan cabar untuk terus berjalan. Hidup tak sepekat malam, akan berganti dengan siang. Laila mendesah. Mengingat kenangan itu, hatinya terasa nyeri. Bahkan, cintanya tak pernah padam meskipun perlakuan Mirza sangat menyakitkan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD