Bab 5

1016 Words
~Merelakan ternyata menyakitkan~ Jihan merasa sedih, setelah kepergian Alif tergesa-gesa saat mendapat telpon dari Mawar. Entah apa yang Mawar lakukan sampai suami menjadi tunduk. 'Jihan sampai kapan kamu seperti ini. Kamu harus kuat, buktikan jika bisa melewati ini semua.' Ucap Jihan seakan berperang dalam hatinya. Jihan mengusap air matanya, ia takut Beno maupun uminya melihat ia menangis. Bisa-bisa mereka akan banyak bertanya padanya. Untung saja ada Lili yang bisa menghibur hati Jihan. "Lili, udah bangun. Kita mandi, setelah mandi temankan Ammah ke butik ya." Ucap Jihan sambil membuka baju Lili yang mungil. Lili tersenyum melihat Jihan, bocah perempuan yang itu bicaranya belum lancar hanya bisa mengatakan papa, mama saja. "Papapa." Jihan terkekeh mendengar Lili celoteh sambil memegang mainan di tangannya. "Lili kangen ya sama Papa? Nanti habis mandi Lili telpon papa ya. Lili doain papa Lili kerjaannya lancar." Ucap Jihan hanya tetap dijawab dengan papa. Jihan berpikir mungkin seperti ini rasanya memiliki seorang anak. Jihan tak berdaya karena belum di berikan keturunan. "Hmmm.." terdengar suara Beno berdehem dari luar pintu kamarnya. "Astagfirullah! Mas Beno, Kagetkan aku aja." Jihan mengelus dadanya membuat Beno terkikih puas menjahili Jihan. "Udah lama nggak ganggu kamu. Anak Adi? Kamu ngapain juga bawa kesini, Alif tau ini anak Adi?" Jihan menggeleng pasrah dengan bibirnya memanyun. "Astaga! Jadi Alif nggak tau. Kalau dia sampai tau, Alif bisa marah, Jihan." Jihan menghela napas panjang mendengar omelan dati Beno. "Mas Beno, udah ya. Aku mau mandiin Lili. Kita ngobrolnya nanti aja." Ucap Jihan menggendong Lili hendak membawanya kamar mandi. Jihan tau telah melakukan kesalahan telah menyembunyikan jika Lili anak Adi. Tapi ia hanya tidak ingin menambah masalah. Apalagi Lili memiliki kelainan jantung, itu membuat Jihan kasian. Karena anak sekecil itu harus merasakan sakit yang parah seperti itu. "Lili, senang ya main air." Seru Jihan yang sudah memandikan Lili. Setelah memandikan Lili, memakaikan baju, Jihan baru juga ingin menelpon Adi tapi justru sudah Adi menelpon panggilan video padanya. "Masya Allah papa kamu udah telpon duluan sayang." "Assalamuaikum, Mas Adi." Ucap Jihan mengangkat telpon dari Adi, tertampak wajah pria itu dari layar ponselnya. "Wa'alaikumsalam, Jihan. Maaf saya menganggu. Saya ingin bicara dengan Lili." Impuh Adi dari seberang sana. "Lili juga ingin bicara dengan papanya. Daritadi dia panggil papapa terus loh." Ujar Jihan membiarkan Lili bicara dengan Adi, sedangkan dia memegang ponsel. Mendengar tingkah lucu Lili, membuat Jihan semakin gemes pada anak perempuan itu. "Jihan, saya ingin bicara sama kamu sebentar." Jihan menjauh dari Lili, membiarkan Lili bermain boneka yang baru ia belikan kemarin untuk Lili. "Iya, Mas. Ada apa?" Ucap Jihan. "Kalau kamu nggak keberatan saya ingin menitipkan Lili seminggu lagi, soalnya mendadak saya ada kerjaan yang benar-benar tidak saya tinggalkan." "Tidak masalah, Mas. Saya malah merasa senang sekali, jadi saya ada temannya." "Tapi.. gimana dengan suami kamu? Apa dia tidak keberatan?" "Nanti saya akan bicarakan pada suami saya, saya yakin Mas Alif tidak masalah." "Ya sudah kalau begitu saya tutup. Titip Lili ya. Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam." Jihan merasa senang karena bisa lebih lama menjaga Lili. Setidaknya jika ia pulang kerumah, dia tidak pernah sedih tidak menentu kareba ulah Mawar. Setelah bersiap ke butik, Jihan harus kerumah sakit, karena pesan Adi jika Lili seminggu sekali konsultasi jantungnya. *** Alif terpaksa pulang ketika mendapat telpon dari Mawar yang memarahinya, dan seperti biasa mengancamnya. Mawar menelpon Alif karena mengingatkannya hari ini jadwal Mawar check up kandungannya. "Kamu tuh ngapain ya nyusulin Mbak Jihan, kamu kurang kerjaan ya, kamu nggak mikir aku hamil anak kamu." Ricau Mawar membuat Alif kesal. Pria itu yang fokus menyetir mobil menuju rumah sakit. "Mawar, kamu bisa diam! aku lagi nyetir, kalau kita kecelakaan gimana, gara-gara kamu cerocos nggak jelas." Geram Alif melajukan mobilnya membuat Mawar semakin kesal. Alif memang menjemput Mawar ke rumah mereka, setelah dari rumah orang tua Jihan. Kemudian ia langsung menuju rumah sakit, bahkan Alif hanya sempat berganti pakaian saja, untungnya ia sudah sarapan dirumah orang tua Jihan. "Nggak jelas darimana? Wajar aku protes, kamu udah nggak adil sama aku, mas. Sedangkan Mbak Jihan kamu sangat mencintainya." Gerutu Mawar. Pada kenyataan Alif memang lebih mencintai Jihan daripada Mawar. Tidak cinta yang mengalir untuk Mawar. Alif menepikan mobil, menatap Mawar sinis, Alif sudah tidak bisa menahan rasa sabarnya lagi."Kamu tau alasan aku menikahimu 'kan. Anak dalam perut kamu, tidak pernah ada cinta, aku hanya mencintai Jihan. Hanya Jihan. Paham!" Ujar Alif meninggikan suaranya. Mawar terdiam sesaat mendengar ucapan Alif, Mawar semakin tak terima. 'Aku bersumpah, Mas. Aku akan membuatmu menyesal karena mencintai Jihan. Lihat saja bagaimana aku menyinggirkan Jihan dari hidup kita.' Gumam dalam hati Jihan. Alif melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit tidak terlalu jauh. Tidak ada pembicaraan lagi, hanya hening dan ketegangan di antara keduanya. Jihan baru saja sampai rumah sakit bersama Lili. Jihan turun dari mobilnya sambil menggendong Lili, dan secara bersamaan ia melihat Alif suaminya keluar dari mobil bersama Mawar. Ulu hati Jihan saat itu juga seakan tertarik menyayat hatinya. 'Ya Allah sakit sekali rasanya, kenapa kenyataan ini pahit, kenapa?' Ucap pilu dalam hati Jihan. Hati Jihan benar-benar tersulam pedih, melangkah kakinya saja rasanya ia tak mampu. Napas menggebu dengan deraian air mata tiada terhenti. "Cukup Jihan! Jangan nangis! Kamu wanita kuat, ini pilihanmu." Gumam Jihan menghempaskan napas kasarnya sambil mengusap air matanya. Jihan yang awalnya ingin konsultasi pada dokter Lili menyangkut keadaan Lili, ia justru mengikuti kedua orang ini, ia penasaran apa yang mereka lakukan disini. Sekuat apapun tetap bertahan menata hatinya yang sangat terluka dalam. Matanya membulat saat melihat keduanya memasuki ruangan kandungan, Jihan berpikir jika Alif suaminya ingin melakukan program hamil dengan Mawar, tapi tak tau Jihan jadi sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan dengan dokter. "Ibu Mawar jangan kerja yang berat dulu, ibu tengah hamil muda saat ini. Usia kandungan ibu sekarang memasuki 12 minggu." Jihan memundurkan langkahnya, ia tak percaya apa yang baru ia dengar tentang Mawar hamil.. Bagaimana mungkin Mawar bisa hamil sedangakan mereka belum lama menikah. Apalagi jelas dokter tersebut mengatakan jika Mawar hamil 12 minggu yang artinya sudah tiga bulan. Bagaimana bisa? Hancur sudah semua perasaan Jihan, bagaimana tidak, ia tak menduga jika suami dan Mawar memiliki hubungan sampai melakukan hal menjijikan itu sebelum menikah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD