BAB 08: I SEE THE LIGHT

1551 Words
'Aritmia adalah gangguan yang terjadi pada irama jantung. Penderita aritmia bisa merasakan irama jantungnya terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Salah satu penyebab aritmia adalah jatuh cinta dan perasaan yang tak terkendali, apalagi jika pria yang diincar memiliki paras yang tampannya melebihiiiiii' “Astaghfirullah, Nek!” Isla menolehkan kepalanya, mendapati Gary yang sedang menatapnya penuh tanda tanya. “GARY!” pekik Isla riang. Gary mengulurkan tangannya, memeluk bahu Isla dari belakang. “Nek, lo jatuh cinta?” tanya Gary, masih dengan wajah kebingungan. “Maksud lo?” “Itu, lo ngetik apaan?” Kedua mata Isla kembali ke objek utamanya; tulisan di layar laptop. ‘Astaghfirullah!’ Gegas! Isla menekan tombol backspace tanpa jeda, membuat paragraf pertamanya terhapus cepat. “Bener ya kata dokter Kane? Lo ga kira-kira kalau bengong!” Isla justru mencengir lebar. “Kalau bukan karena eyke takut dipecat karena ngajak yeiy ngobrol setelah libur panjang, yeiy ga akan selamat dari semua list pertanyaan eyke!” “Pulang kerja, shabu-shabu?” saran Isla. “Deal!” ujar Gary bersemangat. “Deal!” balas Isla menyambut uluran tangan Gary. Gary baru saja meninggalkan meja Isla menuju mejanya sendiri saat Aryo – superintendent team Isla datang mendekat bersama seorang perempuan yang usianya lebih muda dari Isla beberapa tahun. “La?” “Iya, Pak?” “Kenalin dulu dong.” Isla mengulurkan tangannya, perempuan itu menyambutnya hangat. “Isla.” “Lian, Kak.” “Fresh graduate, La. Ngikut lo dulu ya?” “Oh, oke Pak.” “Kamu ikut dulu sama Isla. Perhatiin gimana cara dia kerja dua minggu ini baru nanti saya tentukan area dan produk kamu,” ujar Aryo pada Lian, sementara Isla hanya tersenyum menatap keduanya. “Ya udah, aku tinggal ya La, Li? Lalalili!” “Mulai deh garing!” ketus Isla. Aryo hanya terkekeh lalu berbalik dan melangkah menjauh. “Lulusan jurusan apa Li?” “Farmasi, Kak.” “Udah Apt?” “Belum, Kak.” “Oh. Biasanya anak-anak farmasi langsung ambil profesi?” Lian mencengir lebar. “Kok malah senyum Close Up?” “Aku kelamaan lulus, Kak. Jadi Masku ngamuk, aku disuruh kerja dulu.” “Oh ya?” Isla sudah beberapa kali melihat fenomena ini. Di mana atasan meminta bawahannya untuk membimbing fresh graduate ‘titipan’. Ya, bukan para fresh graduate yang lulus dari serangkaian uji masuk penerimaan karyawan, tetapi mereka yang memiliki privilege karena mengenal beberapa petinggi perusahaan. Apa Isla keberatan? Oh tentu tidak! Isla tidak seperti para koleganya yang kerap menggerutu kala dititipkan amanah spesial yang satu itu. “Kak Isla, lulusan apa?” kini Lian yang bertanya padanya. “Kedokteran,” jawab Isla santai. “Hah? Kok dokter jadi medrep?” “Iya nih, banting setir ya?” “Serius Kak?” “Iya. Lagian aku belum dokter kok. Baru esked.” “Kok ga terus Kak?” “Mmm, mungkin emang rejeki aku hanya sampai esked.” Lian terdiam. Senyum palsu yang Isla tunjukkan membungkamnya. Ia tau, Isla tak ingin membahas permasalahan pendidikannya lebih lanjut. “Kak Isla?” “Ya?” “Kak Isla pasti medrep paling cantik di sini ya?” “Ish, ngawur kamu!” “Beneran tau Kak. Kan aku tadi udah muter-muter sama HR. Terus dikenalin ke semua team paru dan jantung sama Pak Aryo, Kak Isla lho yang paling glowing.” “Hush!” “Mau ga Kak aku kenalin sama Abangku? Dia juga ganteng banget lho, Kak! Persis aktor Korea!” “Lian, coba kamu baca tumpukan di depan kamu. Ada beberapa informasi obat paru dan jantung. Bermanfaat banget pas nanti kamu detailing. Nanti habis makan siang kamu ikut aku ke distributor team, follow up listing dari rumah sakit.” “Detailing?” “Baca yang di map merah itu dulu deh biar kamu ga bingung alur kerja kita.” “Oh. Oke, Kak.” Lian menuruti perkataan Isla, mulai menyibukkan dirinya dengan beberapa dokumen yang Isla susun bersandar ke partisi yang memisahkan mejanya dengan meja kolega di sampingnya. Hingga jam kerja berakhir, tak ada sesuatu yang khusus terjadi hari itu. Semuanya sama seperti bisanya kecuali fakta jantungnya yang sesekali masih berdenyut nyeri kala teringat Oki, dan kedua sudut bibir Isla yang terangkat naik kala teringat sikap manis Zhen. “Berasa nano nano!” gumam Isla. “Apalagi sih, Nek?” Isla menoleh, mendapati Gary yang bertolak pinggang di belakang kursinya, mendengus kesal padanya. Isla mencengir lebar. “Lo udah beres?” ia menjawab dengan balasan pertanyaan. “Udah. Yuk capcus!” “Oke.” Setengah jam kemudian Isla dan Gary sudah tiba di satu wilayah pujasera, memilih tempat duduk mereka di sebuah tenda yang menawarkan hidangan shabu-shabu dan seafood panggang. Begitu pelayan mencatat pesanan mereka, Gary tak lagi menunggu waktu untuk menuntut Isla menceritakan segala hal yang sempat ia lewati selama kepulangannya ke kampung halaman. “Jadi, dispepsia yeiy itu udah lama banget lho Nek ga kumat. Kalaupun kumat paling sekedar kembung dan antasida mempan buat yeiy. Bisakah yeiy bayangin gimana paniknya eyke saat dokter Kane nelpon gue nanyain siapa wali lo yang bisa dihubungin. Dini hari, Nek! Dini hari!” “Gue dan Oki bubar, Ger,” lirih Isla. Gary mematung. Perpisahan Isla dan Oki memang salah satu doanya, tapi seingat Gary ia tak pernah mendengar Isla bercerita tentang pertengkarannya dengan Oki. Isla adalah sosok perempuan yang terlampau sabar. Bahkan Gary sendiri gemas melihat kesabaran dan ketulusan Isla. “Yeiy meledak Nek?” Isla menggeleng lemah. Ia menatap Gary dengan tatapan sendunya. “s**t!” geram Gary. “Abis tuh orang sama gue!” Tak ada sedikitpun nada gemulai di suara Gary. “Gitulah, Ger,” ujar Isla, parau. “Ga tau diri banget itu orang! Setelah semua yang lo kasih ke dia dan dia selingkuhin lo?” Kali ini Isla mengangguk lemah. Gary beranjak dari tempatnya duduk, pindah ke samping Isla, merangkul Isla, menepuk-nepuk lengannya pelan. “Lo mau si Oki gue jadiin pasiennya Ji Sung, Nam Goong Min, atau Han Hyo Joo?” Isla tak jadi bersedih hati, justru terkekeh geli. “Jelasin yang bener coba!” “dr. Zhen Sp.BTKV, dr. Irgi Sp.BS(K), atau dr. April Sp.KJ,” tutur Gary. “Tergantung request gue mah, La!” lanjutnya lagi. Isla mendengus keras. “Apa yang paling lo sesali?” tanya Gary kemudian. “Ngabisin lima tahun hidup gue dengan orang yang salah,” jawab Isla lugas. “Tapi La, bisa jadi lo putus sama dia karena lo akan ketemu dengan orang yang tepat.” “Menurut lo begitu?” “Kan gue bilang bisa jadi.” “Kenapa ga lo aja ya Ger?” “La, kita udah pernah kan bahas ini. Gue punya trauma. Dan trauma itu ngebuat gue aseksual. Lo yang paling tau gimana berusahanya gue untuk sembuh. Tapi nyatanya sampai detik ini ga ada perkembangan, La. So, please, keluarin gue dari list cowok impian lo even gue seganteng Jung Hae In.” “Ngimpi banget lo!” kekeh Isla. “Gue sebagai fans-nya Jung Hae In ga terima tau!” Gary tertawa geli. “Gue kira lo ngefans sama Ji Sung!” “Ih ngga sih!” “Halah! Awas aja lo kawin sama dia, gue ketawain sengakak-ngakaknya!” “Ampun ampun!” kekeh Isla lagi. “Nah gitu dong, jangan sedih terus ya La. Oki ga pantes dapetin setetespun air mata lo!” *** Malam itu Zhen baru saja turun dari Bentley berwarna royal blue miliknya. Ia menenteng beberapa tas kain yang berisi berbagai macam makanan ringan. Seorang perempuan paruh baya tersenyum menatapnya seraya membuka lebar pagar kayu yang membatasi halaman muka bangunan yang rutin Zhen kunjungi. “Assalammu’alaikum, Umi,” sapa Zhen hangat. “Wa’alaikumsalam, nak,” balas Ambar yang kerap disapa Umi karena posisinya sebagai pengelola panti asuhan sekaligus tempat perawatan anak-anak dengan kelainan jantung bawaan. Sebuah yayasan sosial milik kedua orang tua Zhen. “Anak-anak udah tidur Umi?” tanya Zhen seraya berjalan beriringan bersama Ambar menuju ruang utama bangunan itu. “Ya belum. Baru juga jam setengah sembilan. Dan hari ini, alhamdulillah Umi udah dapet storyteller yang baru.” “Oh ya?” “Iya. Pas banget kamu datang hari ini, nak. Orangnya cantik sekali.” “Umi mulai deh.” “Yuk ke aula, kita lihat. Dia lagi bacain cerita sambil main gitar. Pasti kamu takjub.” Zhen terkekeh melihat antusiasme Ambar. Ya, sudah lama sekali mereka mencari seorang pembaca cerita yang bisa menceritakan kisah-kisah baik hingga membekas di hati anak-anak penghuni panti asuhan itu. Langkah Zhen melambat kala mendengar petikan gitar yang seolah memanjakan pendengarannya. Dentingnya begitu hangat di hatinya. ‘Nice fingerstyle.’ Begitu langkah itu bertambah, suara indah seorang perempuan menyapanya. “All those days watching from the windows All those years outside looking in All that time never even knowing Just how blind I've been Now I'm here blinking in the starlight Now I'm here suddenly I see Standing here it's all so clear I'm where I'm meant to be.” Dan saat Zhen melihat sosok cantik itu... Langkahnya, terhenti sempurna. “And at last I see the light And it's like the fog has lifted And at last, I see the light And it's like the sky is new And it's warm and real and bright And the world has somehow shifted All at once, everything looks different Now that I see you.” ‘Isla...’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD