BAB 01: AMBULANS & SANG MAGANG

2269 Words
Beberapa bulan yang lalu. “Di jalan Ma,” “Angkot?” “Bukan, jalan kaki Ma. Rumah sakitnya dekat kok.” “Kamu pindah kosan lagi?” “Iya Ma. Kan area Isla dipindah lagi.” “Di mana nduk?” “Isla lagi jadi anak Jaksel sekarang.” “Yang ngomongnya nyampur-nyampur bahasa Inggris itu?” “Iya Ma,” kekeh Isla. “Mama gaul banget nih! Tau-tauan habit-nya anak Jaksel.” “Tuh kamu juga udah nyampur-nyampur bahasanya. Mama gini-gini tiap pagi masih streaming Prambors!” Isla semakin terkekeh geli. “Top banget emang Mamanya aku!” puji Isla. “Papa gimana Ma?” tanya Isla kemudian. “Yah seperti biasa, masih selalu menguji kesabaran Mama.” Isla tak lagi bisa menahan tawanya, benar-benar menyembur begitu saja. Sementara di ujung telpon sana, sang Ayah pun ikut tertawa. “Jangan gitu, Ma. Gitu-gitu pilihan Mama lho,” kekeh Isla. “Coba ya nduk... Kemarin Mama kan ke pasar, biasa deh belanja mingguan. Mama udah bilang agak lama karena mau ke bank dan nyari bahan kue, ada pesanan untuk pengajian. Pas pulang Papamu merintih-rintih. Perutnya sakit katanya. Maagnya kambuh. Mama tanya kenapa ga makan? Eh dia malah ngambek karena katanya Mama kelamaan. “Lah piye toh nduk Papamu? Dia ga tau ukuran nasinya dia sebanyak apa! Emang perutnya siapa toh? Kan perut dia sendiri kok ya ga tau batasnya semana! Emang gendeng Papamu itu! Hobinya bikin Mama spaneng tingkat dewi!” Isla terus saja tertawa. Kedua orang tuanya memang kerap bertengkar karena hal-hal remeh yang malah lucu bagi Isla. “Itukan artinya aku cinta kamu Sri!” Ayah Isla menyahut di ujung telpon sana. “Tuh Ma, Papa cinta sama Mama.” “Cinta opo? Udah tua kok yo masih aja cinta-cintaan! Yo wis nduk, Mama mau ke dapur lagi. Kamu hati-hati ya?” “Iya, Ma. Isla juga udah mau sampai. Tuh rumah sakitnya udah kelihatan.” “Oke. Assalammu’alaikum sayang.” “Wa’alaikumsalam Mama, Papa. Isla sayang kalian.” Isla Meili Zian menutup panggilan telponnya. Menghubungi sang Ibu yang tinggal di sebuah desa di Yogyakarta selalu menjadi rutinitasnya setiap pagi. Beberapa tahun lalu, Isla adalah seorang anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan. Karir sang Ayah sebagai seorang senior engineer di sebuah perusahaan kontraktor membuat Isla dan sang Ibu hidup dengan nyaman. Hingga suatu hari, perusahaan tempat sang Ayah bekerja dinyatakan bangkrut. Sebagian dari uang pesangon yang diberikan perusahaan digunakan untuk membuka usaha mandiri oleh orang tuanya. Sayangnya, tak berselang lama, Ayah Isla menderita stroke. Walaupun saat itu Dokter menyatakan hanya stroke ringan, tetapi untuk perawatannya cukup menguras biaya karena tak adanya lagi asuransi yang meng-cover kesehatan keluarga seperti saat sang Ayah masih berstatus sebagai karyawan. Berselang tahun, usaha keluarganya pun tak mengalami peningkatan, justru rugi berkali-kali. Dan akibatnya, Isla hanya mampu menyelesaikan kuliahnya hingga mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Ia tak mampu melanjutkan Program Profesi Dokter-nya apalagi mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter untuk mendapatkan gelar Dokter. Satu perjalanan hidup yang cukup mengenaskan untuknya, mengubur cita-cita demi meringkankan beban kedua orang tua. Lamunan rutin Isla di setiap pagi menguap kala mendengar sirine ambulans yang kian mendekat. Isla menghentikan langkah, memilih berdiam diri sejenak meskipun rumah sakit yang ia tuju sudah nampak di depan mata. Hanya hitungan beberapa menit, mobil yang membawa seorang pasien itu lewat di depannya. Seakan terhipnotis, Isla melangkah lagi, berbelok ke kanan, mengikuti ambulans itu hingga di depan pintu Instalansi Gawat Darurat. Kedua mata Isla membelalak, kedua tangannya spontan naik menutupi mulutnya yang menganga kala pintu belakang ambulans terbuka. Seorang pelajar sekolah menengah atas, terduduk di atas brankar. Sebuah besi panjang seukuran sekitar satu meter melintang di tubuhnya, menembus dari d**a kiri ke belakang punggungnya. Wajah anak itu terlihat pucat, kedua matanya nanar menatap Isla. “Ya Allah,” lirih Isla dengan setetes air mata yang mengalir begitu saja. Isla mengamati semuanya. Beberapa perawat berlari, satu orang naik ke dalam ambulans, menopang sang anak agar tetap dalam posisi duduknya. Petugas medis di ambulans yang menopang anak itu sebelumnya berpindah posisi, menggenggam brankar di bagian dalam. Sementara seorang staf keamanan menggenggam sisi brankar lainnya. Dalam gerakan cepat, mereka mulai mengeluarkan brankar itu. Seorang dokter muda memasang earpieces stetoskopnya, sementara diaphragm ia tempelkan tepat di d**a anak itu seraya juga mendengarkan laporan data vital pasien dari petugas medis di ambulans. Baru saja brankar akan bergerak kembali, pintu otomatis IGD terbuka lagi. Seorang pria berjas putih berjalan dengan gagah dan tenang mendekat pada sang anak. Dokter muda tadi menjelaskan kondisi pasien, sementara dokter yang baru saja bergabung itu seperti mengulang apa yang sudah dilakukan dokter muda sebelumnya. “Walinya?” tanya dokter itu. “Masih di jalan Dok,” jawab seorang perawat. “Komunikasikan via telepon. Pasien butuh cito. OR1!” Para perawat dan dokter muda itu hanya mengangguk seraya mendorong kembali brankar masuk ke gedung rumah sakit. Isla masih membeku. Ia memang sudah seringkali mendengar nama berbagai penyakit ataupun istilah untuk banyaknya jenis trauma. Tetapi melihat langsung sebuah besi tertancap menembus d**a seorang anak yang masih belia, itu jauh di luar imajinasinya. Ponsel yang bergetar di sakunya menyadarkan Isla dari lamunan, ia mengerjap beberapa kali, lalu menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuh kembali. Baru saja Isla menarik napas dalam-dalam, dokter pria tadi yang sepertinya masih membaca riwayat dan vital pasien menoleh padanya. Tatapan dokter itu begitu tajam dan dingin. Bahkan Isla langsung berimajinasi jika di balik masker medisnya, pria itu menyeringai. Yang lebih tak masuk akal, Isla bahkan tak berani menolehkan pandangannya, pun menghembuskan udara yang tadi dihirupnya. Tatapan dokter itu turun, seolah sedang memindai Isla dari ujung kepala hingga ujung kaki. Isla hanya terdiam, membeku, kakinya serasa dipasung paksa ke dalam bumi. Hingga akhirnya pandangan mata itu naik kembali, menantang kedua manik mata Isla. “Bereskan kekacauan yang Anda buat!” ujar pria itu tegas dan sinis. Ia memalingkan wajahnya, berjalan tegap, meninggalkan Isla begitu saja. *** Hari ini Isla mengenakan high-waist cuffed pants berwarna krem yang dipadu dengan crop blouse dan blazer bermotif salur dan berwarna putih-biru. Kakinya ditutupi strap heels – yang juga berwarna krem – dengan tinggi heels tujuh sentimeter. Wajahnya yang secantik Jisoo Blackpink tak banyak ia poles, cukup sapuan riasan tipis dan lipstick berwarna nude pink. Begitupun wavy hair hitam natural sepanjang setengah punggungnya, ia biarkan tergerai indah begitu saja. Bukan hal aneh lagi jika saat Isla datang banyak orang akan spontan memandangnya. Takjub. Mungkin sekaligus merutuki nasibnya sendiri, mengapa Tuhan seolah pilih kasih karena menghadirkan perempuan secantik Isla di muka bumi. Namun baru kali ini, Isla mendapatkan perasaan aneh kala seseorang melayangkan tatapannya. Begitu dingin, sinis dan mengintimidasi. Bahkan jantung Isla berdenyut aneh saat mendengar kata penutup dokter itu sebelum meninggalkannya dalam keadaan yang belum sadar penuh. ‘Gue perlu sekalian ke spesialis jantung apa ya?’ Isla menurunkan pandangannya, kedua matanya mendelik bersamaan. Sedikit terkejut. Akhirnya ia paham mengapa dokter tadi terlihat begitu tak bersahabat. Ia mendengus keras sebelum merendahkan tubuhnya, berjongkok di tengah kekacauan yang memang benar dibuatnya sendiri. Isla tengah menggenggam eco bag yang berisi perlengkapan presentasinya dan sebuah tumbler berisi caffè macchiato. Di tangan yang sama, ia juga menggenggam paper bag berisi classic tiramisu cup. Dan kini, semua bawaannya berhamburan ke segala arah. Sial sekali memang. “Astaghfirullah, Nek... Lo abis ngapain sih sampe berantakan begini?” Gary, seorang sahabat Isla sudah berdiri seraya bertolak pinggang di sampingnya. Mereka sudah bersahabat sejak di bangku SMA. Entah takdir apa yang menyatukan mereka kembali, setelah terpisah selama empat tahun saat kuliah, kini mereka bertemu lagi di perusahaan yang sama dengan karir yang juga sama. “Abis liat syuting Grey’s Anatomy. Live!” “Hah?” “Itu,” ujar Isla seraya mendelikkan dagunya ke arah ambulans yang masih terparkir di depan pintu IGD. “Kenapa?” “Ada anak SMA, besi nancep di dadanya, nembus di punggung.” “Oh my God, serius Nek?” “Serius banget!” “Terus?” “Ya kan gue mangap. Pas nutup mulut gue lupa bawaan gue banyak!” “Ish! Kebiasaan banget sih yey Nek! Rempong! Clumsy!” “Bawel lo! Bantuin gue buruan! Pungutin tuh brosur gue!” omel Isla. “Untung eyke cinta mampus sama yey! Sampe dibabuin begini juga eyke rela!” Isla tak mampu menahan kekehannya. Jika ditanya siapa orang yang tak pernah membuatnya bersusah hati, Isla pasti dengan spontan akan menjawab Gary. Tak akan ada yang menyangka jika di balik tubuh kekar, tampang macho dan beberapa anting yang berderet di telinga kirinya, ada sosok gemulai yang mendominasi diri Gary. “Nih!” ujar Gary seraya menyodorkan beberapa lembar brosur yang sudah dipungutnya. “Jongkok dong, masukin ke eco bag gue. Lo ga liat apa yang gue pungutin masih banyak?” “Ish! Dasar nenek-nenek jutek!” Gary merendahkan tubuh, turut berjongkok di samping Isla. “Duh, Nek...” “Apa?” “Kejepit, Nek!” “Apaan yang kejepit?” kekeh Isla. “Nyetak ga Nek? Ini eyke pan pake celana bahan, Bego!” “Lo yang bego! Masa gue harus liat artefak lo!” “Duh, Nek... Buruan, Nek! Ga enak banget ini. Udahlah kejepit, berasa nonjol pulak. Bisa terjadi huru-hara kalau ada yang liat!” “Jorok!” “Jorok dari mana? Anatomi nek! Anatomi! Makanya pacaran jangan kissing doang taunya!” “Sesat lo!” “Lah, Nek! Tiramisu lo?” Isla menoleh ke tangan kiri Gary yang terangkat seraya menggenggam paper bag yang berisi sarapan Isla hari itu. “Yah! My once-in-a-month-breakfast! Huhuhu!” “Segitu miskinnya lo Nek?” Isla mengangguk lesu. “Gue abis beli sepatu. Nih,” ujar Isla seraya menunjukkan penutup kakinya. “Jadi ga boleh jajan lagi bulan ini!” “Berapa lo beli itu strap heels?” “75 ribu. Lagi diskon. Online,” cengir Isla. “Astaga, Nek! Kan udah gue bilang, kalau beli yang murce gilace tuh flat heels aja! Nanti kalau lo jalan dan heels-nya coplok, kaki lo bisa terkilir tau ga? Lo pinter dikit kenapa sih, Nek! Heran gue orang ceroboh dan bloon kayak lo bisa masuk kedokteran!” “Ssst! Diam!” “Susah banget yey dibilangin!” “Gue kan harus nabung, Ger!” “Nek, harusnya si Oki tuh yang jungkir balik nyari dana. Bukannya elo. Lah dia bisa beli Bumblebee, masa tabungan nikah ga ada? Putusin aja sih, Nek! Heran banget gue kok lo mau sih punya tunangan model pengeretan begitu!” “Gary!” rajuk Isla. Gary hanya mendengus kesal. “Nanti abis nikah berubah kali, Ger,” gumam Isla lagi. “Terserah! Capek eyke cuap-cuap sama lo! Bikin cepet tua doang! Pokoknya eyke udah bilangin. Lo tanggung sendiri akibatnya. Kalau nanti dia bikin lo sakit hati, lo tinggal datang ke gue, kita mangkal bareng-bareng!” Isla terkekeh kembali. “Mangkal ngapain?” “Nakutin cowok tulen, Nek! Hahaha!” ujar Gary seraya tertawa usil. *** “Look so good yeah, look so sweet Looking good enough to eat “Coldest with the kiss, so he calls me ice cream Catch me in the fridge, right where the ice be.” Gary terus saja bersenandung seraya menggerakkan tangan kirinya dengan gemulai, sementara tangan kanannya terapit di siku kiri Isla. Ia sesekali mengedipkan sebelah mata, menggoda mereka yang memandang keduanya seraya tersenyum. “Ger, bentar.” “Kenapa Nek?” Isla berdiri diam di depan papan nama para dokter yang praktik di rumah sakit itu, mengambil gambar dengan kameranya mereka-mereka yang bertitel Sp.JP dan Sp.BTKV. “Susah ga Ger nemuin dokter-dokter di sini?” “Ngga sih. Asalkan sabar aja nunggu mereka selesai praktik. Jangan lupa yey isi daftar tamu di nurse station.” “Oh gitu?” “Iya, rata-rata dibatasin soalnya yang bisa nemuin mereka per hari.” “I see.” “Paling si Ji Sung yang susah.” “Ji Sung?” “Dokter Zhen.” Isla menyapukan pandangannya kembali, mencari nama Zhen di papan itu. “Yah! Sp.BKTV! Bagian gue dong?” “Ho oh cyn!” “Kenapa susahnya?” “Kayak hantu! Cepet banget ilangnya! Mungkin hobinya ghosting!” “Ngaco lo!” “Udah yuk, Nek! Gue musti ke poli psikiatri nih, dokter gue ngasih waktu lima belas menit sebelum praktik. Ntar gue ditikung lo mau tanggung jawab?” Gary menarik lengan Isla, mau tak mau Isla menyeret langkahnya dengan kedua mata yang masih memandang ke papan menghafalkan jadwal praktik Zhen. “Siapa Ger? Kenalin dong! Punya temen cakep diem-diem aja lo!” ujar seorang pria. Isla tak mengenalnya, yang Isla tau pria itu mengenakan medical scrub dan baru saja menelan potongan roti terakhirnya. “Jisoo! Tau Jisoo ga lo?” “Jisoo? Blackpink?” “Nah itu lo tau. Eyke kira lo taunya cuma sekitar anatomi, Dok!” “Mirip banget sih emang,” ujar pria itu lagi. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Isla. Dan Isla menyambutnya hangat. “Kane Seiya. Intern.” “Isla. Medrep.” “Perusahaan apa?” “Medicament Laboratoria.” “I see.” Genggaman mereka mengurai, Kane menolehkan pandangannya kembali pada Gary. “Cewek lo?” “Bini eyke!” canda Gary. “Mana mau dia sama laki belok model eyke! Mikir dong Dok!” Kane dan Isla malah terkekeh bersamaan. “Udah ada guguknya tapi Dok!” ujar Gary lagi. Kane semakin terkekeh. “Ga masalah! Guguk doang kan?” nada acuh Kane jelas terdengar di telinga Gary dan Isla. Kane merendahkan tubuhnya, mensejajarkan kedua matanya dengan Isla. “Udah ya, gue cuma dikasih jatah nelen roti! See you, Isla!” ujar Kane lembut dengan tatapan dan senyum hangatnya sebelum melangkah menjauh, yang justru membuat Isla merasa sangat-sangat tak nyaman. “Lo bener-bener dapet masalah, My Love!” gumam Gary.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD