Episode 1. Awal Mula
Sinar mentari yang cerah memasuki sela sela korden sebuah kamar yang terbilang luas. Beberapa wanita yang menggunakan seragam khas pelayan sedang melakukan tugas yang biasa dilihatnya sejak dulu. Salah satu dari mereka menarik korden pintu kaca balkon dan membuka nya membiarkan sinar matahari dan udara pagi sepenuhnya masuk memenuhi seisi ruangan. Hal itu membuat satu satunya tuan muda di rumah ini mengerjapkan matanya akibat silau, dia membuka matanya dan duduk sambil melihat para pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tak lupa tangannya meraih gelas air putih yang di ulurkan oleh pelayannya untuk di minumnya.
“Tuan muda, sudah waktunya bersiap siap kesekolah,”ucap salah satu dari mereka yang berdiri di sampingnya dengan bathrobe di tangan.
Anak yang dipanggil tuan muda tadi mengangguk dengan tersenyum tipis. Kakinya turun menginjak lantai dingin dan berjalan menuju kamar mandi yang diikuti oleh wanita yang memberinya bathrobe tadi.
“Aku bisa mandi sendiri, Kaluel.” Anak laki laki tadi melirik ke arah wanita yang dipanggil Kaluel tadi, tangannya terulur mengambil bathrobe dan berjalan memasuki kamar mandi yang berada dikamar nya.
Mari kita perkenalan terlebih dahulu, namanya adalah Alvaro Gibradest. Dia terlahir dari perjodohan dua keluarga dengan kekayaan kelas atas, pernikahan antara Ragevo Gibrantara dengan Jasmine Radestka. Pada kenyataannya, keberadaannya di sembunyikan hingga memasuki usia remaja dengan alasan banyaknya musuh perusahaan keluarganya. Meski terlahir di keluarga yang serba berlebihan tidak membuatnya tumbuh dengan kasih sayang.
Ayahnya memiliki selingkuhan yang sialnya sudah memiliki anak yang seumuran dengannya. Sedangkan ibunya sibuk berfoya-foya dengan pria pria simpanannya. Ini bukan lagi rahasia di antara mereka bertiga, mungkin beberapa pelayan juga mengetahuinya.
Alvaro yang sudah selesai mandi melangkah menuju kamarnya guna berpakaian, dia melirik ke arah pelayan dan berkata, “kalian bisa keluar, hari ini aku mau sarapan sama mama papa.”
“Baik tuan muda.” Mereka membungkuk lalu berjalan keluar meninggalkannya sendirian.
Setelah selesai dengan perintilannya, dia melangkah menuju ruang makan yang berada di lantai satu. Bibirnya menyungging senang melihat pemandangan yang jarang di lihatnya ini.
“Pagi mama, papa,”sapanya saat tiba di ruang makan.
Tak ada jawaban dari orang yang ia panggil Mama dan Papa tadi hanya diam tak melirik, bahkan membalas senyuman pun tidak. Alvaro hanya meringis lalu duduk di kursi yang biasa ia duduki meski dengan perasaan yang campur aduk.
Baru saja tangannya menggenggam sendok dan garpu, ucapan dingin ayahnya sudah menyapanya, “saya dengar kamu membuat masalah lagi, berhenti membuat malu nama saya, Alvaro.”
“Maaf, papa.” Alvaro hanya bisa diam sambil menunduk mendengar ucapan ayahnya itu.
Usianya masih 11 tahun tentu saja ia tak memiliki keberanian memberontak, meski perkelahian kecil antara anak seusianya adalah hal wajar baginya.
“Memang apa yang bisa saya harapkan dari anak seperti kamu, lahir dari wanita yang tidak becus mengurus rumah,”ucap ayahnya lagi yang sontak membuat wanita di depannya membanting sendok ke piring yang langsung menggema di ruangan yang cukup besar ini.
“Bagaimana dengan kamu? Berhenti bertingkah seolah kamu suci Ragevo. Sadar diri, ingat anak sama selingkuhan kamu,”ucap mamanya sambil mendecih dan melirik sinis ke arahnya.
Lagi lagi pembahasan sensitif, Alvaro menunduk dalam diam sambil merutuki kesalahannya dalam hati. Yah seharusnya ia bersikap seperti anak yang di harapkan papanya dan tidak mencari masalah. Ia hanya bisa diam saat keduanya mulai beradu mulut. Yah bagaimanapun juga ini kan salahnya. Kepalanya mendongak saat melihat ayahnya berdiri dan berjalan menuju ke kantor tanpa pamit seperti biasanya.
Mamanya meliriknya lalu berdiri meninggalkannya sambil berkata, “memang gak ada gunanya saya lahirin kamu, nyusahin aja.”
Melihat mamanya pergi ia langsung berdiri dengan membawa tasnya menuju ke sekolah dengan wajah datar seperti biasanya. Ia memasuki mobil yang sudah di panasi oleh supir dan duduk di kursi penumpang tanpa banyak bicara. Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju tempat dimana ia mendapatkan siksaan selain dirumah.
“Pagi Varo,”sapa seorang anak laki laki yang satu tahun diatasnya.
Alvaro tidak menjawab sapaan itu ia hanya mengangguk dengan senyum simpul, jelas itu bukan sapaan yang wajar baginya. Hal ini membuat anak laki laki yang bernama Radizan pun menggeram marah karena merasa diabaikan, dia mendorong pundak Alvaro hingga terjatuh ke lantai koridor dengan cukup keras. Alvaro hanya meringis sambil mengelus lututnya yang sedikit mengelupas.
“Lemah banget digituin jatuh, hahaha lemah wuu,”ejek Dizan lagi sambil tertawa dengan bahagia, yah tentu saja bahagia.
Alvaro ingin menjawab perkataan tidak sopan kakak kelasnya itu tapi, suara ayahnya tadi pagi menggema dipikirannya. Dia mengurungkan niat dan memilih menunduk dalam diam sambil sesekali meringis. Selalu saja seperti ini, Alvaro selalu merasa kalah sebelum bertindak.
Mengetahui Alvaro yang kembali mengabaikannya, Dizan menjadi sangat marah. Dia mendorong Alvaro dengan kencang hingga hidungnya berdarah akibat kembali adu kekuatan dengan lantai. “Dasar gak asik, tinggalin aja yuk. Dasar lemah,”ucapnya sambil pergi bersama temannya dengan tawa remeh.
Alvaro berdiri sambil mengelus lutut dan sikunya yang kotor. Tangannya mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah dengan tisu yang sering di bawanya, kakinya melangkah memasuki ruang kelas yang sudah ramai diisi.
Dia duduk di bangkunya sendiri, pojok belakang. Ia menghela nafasnya lelah, tangannya mengambil buku pelajaran dan menyiapkannya di meja. Tak lupa ia menyiapkan buku bimbel yang selalu ia bawa, setidaknya hanya ini cara dia menghabiskan waktu. Jarinya sibuk membolak balik halaman perhalaman sambil mengusap hidungnya dari darah kering menggunakan tissue basah. Dalam hati ia menguatkan diri untuk tidak mencari masalah dengan siapapun seperti yang dikatakan orangtuanya.
Matanya sibuk membaca deretan angka yang berada di lembaran buku di depannya. Ia bahkan tak menyadari adanya kehadiran anak cantik di sampingnya hingga anak itu menyapanya.
“Pagi, Alvaro. Belajar lagi hari ini? Gak bosen ya?”sapa anak itu padanya.
Alvaro menatap ke arah bangku sampingnya sambil tersenyum dan berkata, “ pagi Gladis, hampir telat lagi hari ini? Kebiasaan ya.”
Anak yang bernama Gladis tadi menggembungkan pipinya kesal. Dia melirik ke arah Alvaro dengan kesal. Dia adalah Gladis, satu satunya temannya. Mereka satu bangku sejak ia kelas 4 sekolah dasar, awalnya Gladis menolongnya saat Alvaro di bully.
“Hidungmu berdarah, kenapa?”tanya Gladis saat melihat bekas darah di hidungnya, tangannya terulur dengan maksud mengusap hidung Alvaro namun segera di tepisnya dengan pelan.
“Jatuh tadi.” Alvaro terpaksa berbohong padanya, karena Gladis memiliki keberanian yang cukup wahhhh. Anak itu pasti akan berlari menghampiri kakak kelasnya itu.
“Hati hati makanya,”jawabnya sambil menepuk kepala Alvaro dengan pelan.
“Iya . . . ,”jawabnya mengakhiri, matanya kembali fokus pada lembaran buku dihadapannya.
***
Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Alvaro yang sudah duduk manis di bangku penumpang mobil jemputannya, matanya menatap pada pemandangan luar jendela dimana ada beberapa motor dan juga kendaraan pribadi yang lain sedang berlalu lalang. Bibirnya menyungging miris ketika melihat mobil putih di lampu merah. Mobil itu berhenti tepat disamping mobil yang sedang ia naiki ini, ditambah ia melihat bayangan dua orang dewasa yang terpantul dari kaca mobil yang berwarna putih. Ia sangat menghafalnya, mobil milik ayahnya yang sedang bersama tante Melyn, selingkuhannya dan juga dua anak seumurannya yang duduk dibangku belakang.
“Sepertinya seru,” batinnya sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Mobil berhenti saat sudah memasuki kawasan rumah. Kakinya melangkah memasuki rumah yang tak pernah bisa tenang jika dalam anggota lengkap. Tangannya mengulurkan tas kepada salah satu pelayan di rumah ini sambil berjalan menuju kamarnya.
“Hari ini aku mau dikamar, seperti biasanya. Paham kan?”tanya nya dengan jari yang sibuk membuka satu persatu kancing seragam sekolah tanpa memandang sang lawan bicara.
“Baik tuan muda, saya mengerti. Saya ijin undur diri.” Pelayan itu membungkuk setelah menaruh pakaian ganti ke kasur dan berlalu untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Alvaro berjalan ke arah meja belajar, ia duduk di bangku dan membuka buku latihan soal UN yang semalam belum sempat ia selesaikan. Jarinya menari di atas buku tulis, mencoret coret ke atas lembaran putih buku dengan pena hitam seiring matanya dan bibirnya yang bergerak membaca satu persatu huruf yang dirangkai menjadi kata dan juga kalimat yang cukup memusingkan otak.
Waktu berjalan seiring penuhnya coretan coretan penting di buku latihan soalnya. Matanya melirik ke arah jam dinding, tak disangka jarum sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah cukup telat dari jam mandinya, ia bangkit dari bangku meja belajar untuk melaksanakan ritual mandinya sebelum memutuskan untuk memakan makan malam yang sudah dingin akibat ia diamkan sedari tadi.
“Kaluel, bawakan makanan yang baru,”ucapnya saat telefon rumah yang berada di atas nakas tersambung pada pelayannya.
“Baik tuan muda.” Setelah mendengar jawaban dari pelayan, ia mulai berjalan untuk benar benar mandi.
Setelah selesai melakukan yang sempat tertunda, ia memilih membanting tubuhnya ke kasur, memilih memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan diri yang kemudian terlelap ke alam mimpi. Baru beberapa menit terlelap, matanya harus dipaksakan untuk kembali terbuka akibat bantingan pintu kamarnya. Alvaro terduduk sambil menahan pusing akibat tiba tiba bangun saat melihat papanya masuk ke kamarnya dengan wajah yang tidak enak. Badannya gemetaran hebat saat melihat papanya membawa ikat pinggang dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku dan dasi yang sudah terlepas.
“Papa kenapa?”tanyanya dengan takut. Badannya reflex bergerak menjauh seiring mendekatnya sang papa.
Tanpa banyak bicara papanya mendekat dan menampar pipinya dengan kencang membuatnya tertoleh ke samping, tak cukup dari situ papanya menarik tangannya membuat badannya terpaksa berdiri di lantai samping kasur. Papanya mulai menyabetkan ikat pinggang ke betisnya yang tidak tertutupi celana, bahkan punggungnya pun terkena sasaran.
Tidak perduli seberapa kencang suara ikat pinggang yang beradu dengan punggungnya, Alvaro masih mendatarkan wajahnya meski beberapa kali memejamkan mata menahan rasa nyeri.
“Seharusnya kamu sadar diri, saya menyekolahkan kamu agar berguna. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan uang saya untuk bermalas-malasan dan mendapatkan nilai sampah seperti itu,”bentak Ragevo dengan tangan yang masih sibuk memukul betis dan punggung Alvaro dengan ikat pinggang.
“Sudah sewajarnya kamu paham untuk apa kamu disekolahkan. Bodoh!”cacinya lagi sambil menoyor kepala Alvaro berkali kali.
Tangannya menoyor kencang kepala anaknya hingga terjatuh ke lantai. Ia berjongkok di hadapan Alvaro yang masih diam, tangannya menarik rambut Alvaro lagi sehingga mendongak sambil berkata, “Saya tidak mau menerima nilai busuk seperti kali ini. Saya pikir kamu akan memberikan nilai sempurna sehingga berani menolak pendidikan di luar negeri seperti yang kamu ucapkan pada saya.”
Pria itu tertawa dengan keras lalu melanjutkan ucapannya yang terpotong, “ ternyata hanya nilai sampah. Saya harap kamu tidak kecewakan saya lagi dengan menyia-nyiakan waktu dan uang saya. Paham?!”.
“Paham papa.” Papanya melepaskan tangannya dengan sedikit kasar, pria tua itu berdiri dan meninggalkannya sendiri.
Alvaro menunduk dalam diam, sedetik kemudian berdiri dan berjalan kearah kasur meski menahan rasa nyeri badannya. Memilih untuk memejamkan mata dengan harapan rasa nyerinya berkurang ketika ia bangun besok pagi.
Matanya yang terpejam mulai meneteskan air mata, awalnya hanya satu dua tetes yang lama kelamaan menjadi sebuah aliran. Punggung tangannya mulai sibuk mengelap air mata yang tak mau berhenti mengalir, hidungnya mulai terisak pelan. Ia memiringkan badannya yang kemudian terlelap sambil menangis. Tak apa dibandingkan dulu, dia kini sudah mengalami kemajuan.
“Gak apa apa, bentar lagi juga hilang kok hehe. Pasti bentar lagi mulai terbiasa,”batinnya sebelum benar benar terlelap.