bc

Mr. Qenan's Assistant

book_age16+
748
FOLLOW
7.3K
READ
dominant
goodgirl
confident
dare to love and hate
sweet
bxg
city
enimies to lovers
stubborn
sacrifice
like
intro-logo
Blurb

Alecia Priscanara adalah asisten dari Qenan Allen Roberts, CEO dari Roberts Corporate. Ia tahu dirinya hanyalah sebatas asisten dalam kehidupan Qenan. Namun, perasaan yang bergejolak dalam hatinya tiap kali berdekatan dengan Qenan tidak bisa untuk ia sembunyikan secara terus-menerus.

Bermula dari sebuah malam yang sangat memalukan hingga membuat Alecia harus tunduk patuh pada setiap perintah Qenan karena takut akan dipecat. Pada saat-saat tertentu, Qenan menjadi malaikat pelindung yang menolongnya bahkan dalam keadaan yang paling berbahaya sekali pun. Bagaimana tidak mungkin Alecia akan terpikat dengan pria yang seperti itu?

Qenan dikenal sangat disiplin dan juga berhati dingin. Akan tetapi, ia berubah menjadi orang yang berbeda saat berhadapan dengan Alecia. Entah menggunakan mantera atau pemikat apa, asisten barunya itu sukses mengaduk-aduk hatinya yang sudah lama tidak merasakan apa pun tentang cinta.

Apa jadinya jika mereka saling jatuh cinta, tetapi tidak bisa bersama karena keadaan? Mungkinkah Qenan tetap memilih Alecia atau malah melepaskannya?

chap-preview
Free preview
Kejadian Memalukan
“Cukup Alecia, kau bisa mabuk!” larang Qenan pada wanita yang sejak tadi selalu menerima gelas minuman yang diberikan oleh klien bisnis padanya. “Tidak apa-apa, Tuan Qenan. Nona Alecia begitu kuat. Lihat, dirinya terlihat tidak mabuk sama sekali,” tutur pria yang sejak tadi bersemangat menuangkan minuman ke gelas milik Alecia. Ia tampak menguji kemampuan asisten dari pria yang terkenal tidak pernah ikut minum-minum itu yang berdalih karena kondisi tubuhnya tidak bisa menerima. Qenan merebut gelas di tangan Alecia, kemudian meletakkannya di atas meja. Bunyi gelas yang dihempas keras cukup membuat klien bergidik mendengarnya. Jangan main-main dengan Qenan! “Sudah cukup kau menggantikanku minum! Tidak perlu sampai sebanyak ini!” bentak Qenan pada wanita itu. Ia harap Alecia bisa memahami kata-katanya. Jika tidak paham, ia akan melakukan apa pun untuk Alecia berhenti minum. “Tapi Pak, saya masih sanggup,” ucap Alecia dengan mata yang mulai mengatup. Kesadarannya perlahan memudar. Qenan menatap klien bisnisnya dengan tajam. Ia tidak tahu kalau Alecia setiap diberi perintah menangani masalah dengan klien di luar sana, akan diperlakukan seperti ini. Benar-benar di luar dugaan Qenan. Selama ini, ia selalu memberikan perintah pada asistennya untuk menggantikan pertemuan di malam hari. Sangat jarang dirinya yang ikut menghadiri. Hanya di pertemuan-pertemuan tertentu saja jika itu harus benar-benar ada dirinya sebagai syarat pertemuan atau hal genting. Qenan memang tidak bisa minum minuman yang mengandung alkohol karena kondisi kesehatannya. Sebagai gantinya, asistennya yang menanggung hal itu. Banyak orang tidak percaya akan Qenan yang tidak bisa minum-minum. Namun, memang tidak pernah terlihat kalau Qenan ikut minum-minum entah itu di acara resmi atau hanya acara santai bersama teman-temannya. Kali ini, yang menggantikan dirinya adalah Alecia. Wanita itu merupakan asisten yang baru saja bekerja selama satu bulan di perusahaannya. Qenan sama sekali tidak berniat mempekerjakan asisten perempuan karena menurutnya itu akan merepotkan. Benar saja, Alecia tidak bisa menangani masalah ini dan malah terlibat dalam kegiatan minum para pria itu. Jika terjadi sesuatu, siapa yang akan bertanggung jawab? Tentunya Qenan sebagai atasan yang akan bertanggung jawab terhadap bawahannya. “Untuk selanjutnya, tidak ada kejadian seperti ini lagi,” kata Qenan yang tertuju pada Alecia dan juga para pria yang membuat masalah dengan asistennya. “Tenanglah Tuan Qenan,” ucap seorang pria berdasi kupu-kupu warna merah mencolok. Mata Qenan menyolot. “Kau pikir dia wanita apa yang kau suruh minum seperti itu?” tanya Qenan pelan, tetapi membuat bulu kuduk merinding saat mendengarnya. Suara serak dan tatapan penuh intimidasi itu sungguh menyeramkan. Pria itu menelan ludah. Ia tidak sanggup melihat sisi menyeramkan Qenan. Lebih menakutkan dibanding melihat hantu di film horor. Dengan cepat, Qenan menarik lengan Alecia untuk membawanya pergi. “Tuan Qenan, tunggu! Kau juga ingin membuat bawahanmu sama sepertimu yang tidak bisa minum?” tanya seorang pria menahan Qenan untuk pergi dari sana. Alecia berdiri di samping Qenan dengan kesadaran yang sudah tinggal separoh. Ia masih membuka mata, tetapi sudah tidak bisa mendengar semua ucapan di sekitarnya. Qenan tersenyum miring. “Aku bisa ataupun tidak, sama sekali tidak merugikan siapa pun. Jadi, jangan pernah harap aku akan bekerja sama dengan kalian lagi,” putus Qenan dengan serius. Tidak peduli sepenting apa kerja sama yang sudah dibangunnya, yang ia tidak sukai adalah orang-orang itu telah membuat asistennya menjadi wanita yang memalukan. Qenan tidak menyukai orang yang menindas wanita, terutama yang ditindas itu adalah bawahannya. Di mana letak harga diri Qenan sebagai atasan? Kedatangan Qenan ke tempat ini pun karena ia sudah mendapatkan laporan tentang Alecia yang dibuat mabuk tiap kali melakukan pertemuan dengan klien yang ditemui malam ini. Untuk membuktikannya, Qenan pun datang saat kegiatan sudah seharusnya selesai. Kalau saja ia tahu dari awal, tentu ia tidak akan mengirim Alecia pergi. Sudah dipastikan Qenan membatalkan hubungan kerja sama sejak awal. Qenan lanjut menarik Alecia pergi. Ia membawa wanita itu keluar menuju parkiran. Sepanjang jalan, Alecia meracau tidak jelas. Sampai-sampai ia menyebutkan semua perintah Qenan yang menurutnya itu terlalu membosankan. Ia juga menjelek-jelekkan sikap terlalu disiplin Qenan yang kekanakan seperti guru BP-nya di sekolah. “Kau menyusahkan,” keluh Qenan saat tiba di mobil. “Saya masih sadar, Pak!” seru Alecia membuka matanya lebar. Ia memelototi Qenan selama beberapa saat, lalu terkulai setelah itu. Untung tangan Qenan cepat menyambutnya hingga ia tidak terjatuh ke lantai. Qenan tertawa. “Sadar apanya? Kau sudah sangat mabuk. Kalau saya tidak datang, entah apa yang akan kau lakukan di sana,” omel pria itu. Ia membukakan pintu mobil dan mendudukkan Alecia dengan baik di samping kursi kemudi. Kemudian ia pasangkan sabuk pengaman pada wanita itu. Alecia yang mabuk, begitu menghirup aroma harum dari tubuh Qenan membuatnya menarik lengan pria itu hingga jatuh—menimpuk dirinya. Bibir Qenan pun tidak sengaja menyentuh bibir ranum milik Alecia. Mata Alecia yang tadinya terpejam jadi terbuka karena ada sentuhan yang tidak biasa mengenai permukaan bibirnya. Begitu pun dengan Qenan yang terkejut dengan apa yang terjadi saat ini. Cepat-cepat Qenan memasangkan sabuk pengaman wanita itu, lalu menarik dirinya dari sana. ‘Astaga! Mengapa aku bisa jatuh seperti ini?’ rutuk Qenan. Ia mengusap sisa lembab yang tersisa di permukaan bibirnya. Tidak disangka, wanita yang selalu menyahuti ucapannya itu ternyata memiliki bibir yang begitu lembut dan kenyal. ‘What the hell, Qenan?’ Pikiran Qenan sepertinya sudah mulai terasuki oleh hal yang kotor. Bagaimana mungkin ia membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya terlintas dalam benaknya? Apa lagi itu terhadap asistennya sendiri? Bukan hanya tubuhnya yang salah karena kecerobohan Alecia, tetapi otaknya juga ikut ceroboh. Segera Qenan menyingkirkan pikiran itu dan kembali fokus pada dirinya sendiri. Qenan tidak tahu harus kemana membawa Alecia malam ini. Ia tidak mungkin mengantarkan Alecia pulang ke rumah di mana wanita itu tinggal. Tentu ini akan membuat keluarga Alecia jadi khawatir. Pasalnya, ia adalah bos dari Alecia, dan jika membawa Alecia dalam kondisi mabuk, apa yang mereka pikirkan nantinya? Qenan bingung. Ia berpikir sejenak hingga satu ide pun terlintas. Qenan tersenyum sambil menoleh ke arah Alecia yang sudah tertidur pulas. *** “Alecia, ayo keluar!” perintah Qenan memaksa Alecia bangun dari tidurnya. Alecia yang sudah terkuasai minuman, membuatnya tidak bisa mengendalikan diri lagi. Ia sudah sepenuhnya hilang kesadaran. Seperti apa pun suara keras yang diteriakkan kepadanya, sama sekali tidak mempan. Bahkan, hingga membuat gendang telinganya pecah sekali pun, tidak akan membuatnya bangun. Wanita itu tidur seperti orang mati. “Dasar merepotkan. Lebih baik aku mempekerjakan Arya atau Lionel,” keluh Qenan. Meski begitu, pada akhirnya ia tetap membantu Alecia keluar dari mobil. Seumur-umur, belum pernah Qenan mengurus asistennya seperti yang ia lakukan pada Alecia hari ini. Baru kali ini ia peduli pada asistennya karena Alecia adalah asisten perempuan pertama yang ia pekerjakan. Sebelumnya, Qenan hanya mempekerjakan asisten laki-laki saja. Akan tetapi, belakangan ini tersebar gosip tentang dirinya yang lebih tertarik pada sesama jenis, padahal tidaklah demikian. Karena khawatir dengan gosip yang beredar, orang tua Qenan pun meminta Qenan mencari asisten perempuan. Sebagai seorang pimpinan perusahaan, Qenan harus terlihat sempurna di mata semua orang. Salah satunya adalah menghindari berita-berita miring tentang dirinya. Semua hal tentang diri Qenan harus perfect! Saat mendengar kabar tentang Alecia yang diperlakukan seperti itu oleh klien, Qenan pun menjadi khawatir. Bagaimanapun, Alecia itu adalah seorang perempuan. Tidak ada yang tahu bagaimana di luar sana Alecia diperlakukan. Kemungkinan-kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Terlebih para klien itu belum tentu semuanya orang baik. Kalau mereka orang baik, tidak mungkin juga kan menyuruh Alecia untuk minum sampai mabuk? Qenan menggendong Alecia masuk ke dalam rumahnya. Saat tiba di kamar, ia meletakkan Alecia di sofa. Tidak mungkin dirinya menidurkan Alecia di kasur tempat dirinya tidur, kan? Rumah yang Qenan tempati itu tidak berukuran besar. Rumah itu sengaja ia pilih untuk tempat tinggalnya selama hari kerja dan saat weekend ia akan kembali ke rumah utama, dimana di sana berkumpul semua keluarganya. “Kau tidurlah di sini, jangan macam-macam!” Peringat Qenan pada Alecia. Pasalnya di rumah itu Qenan tinggal seorang diri, tidak ada pembantu yang bisa membantunya untuk menyiapkan kamar tamu buat orang yang akan menginap di sana. Setelah meletakkan Alecia di atas sofa, Qenan pergi ke kamar mandi. Ia mengganti pakaiannya dengan baju baru karena tidak tahan akan aroma alkohol yang menempel akibat menggendong Alecia. Saat kembali, mata Qenan sukses dibuat membelalak besar. “Alecia!” pekik Qenan keras memenuhi ruangan. *** “Aww,” ringis Alecia saat bangun di pagi hari. Kepalanya terasa sangat berat dan matanya sulit terbuka. Efek setiap habis minum-minum selalu membuat Alecia merasakan sakit kepala di pagi hari. Dirinya masih belum terbiasa dengan hal itu, tetapi karena tuntutan pekerjaan membuatnya mau tidak mau tetap harus melakukannya. Alecia merasakan suasana yang berbeda dengan kamar biasa ia tidur. Ia mencoba untuk membuka mata lebar-lebar supaya bisa melihat dan memastikan di mana dirinya berada saat ini. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya apakah hanya ilusi akibat ia mabuk semalam. ‘Astaga! Ini dimana?’ tanyanya membatin. Alecia menoleh ke samping kiri dan kanan. Ia tidak tahu di mana ia berada sekarang. Bahkan, ia merasa tempat ini terlalu indah jika dikatakan kalau ini adalah sebuah hotel. Bisa saja ini adalah hotel mewah, tetapi terlalu luas kalau ini adalah sebuah hotel dan perabotannya cukup banyak. Apa mungkin ia dibawa oleh klien yang semalam? Tidak! Alecia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada dirinya! Jantung Alecia tiba-tiba berpacu cepat karena ia mulai menduga sesuatu. Dengan cepat, dirinya menyingkap selimut yang menutupi tubuh dan …. “Aaaa!” teriak Alecia memenuhi ruangan. Detak jantungnya berpacu kencang. Napasnya jadi tersengal. Ia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia pun menyisir ruangan itu. Tidak mungkin kan ia menjadi lupa diri karena mabuk hingga melakukan sesuatu yang terlarang? Seorang pria masuk ke dalam kamar dan membuat Alecia kembali berteriak. Kali ini ia berteriak dengan menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya. “Cukup! Hentikan teriakan kau itu! Ingin membuatku tuli, hah?” bentak Qenan disertai tatapan tajam yang menyeramkan—seperti biasa. Alecia merasa ini mimpi. Mimpi yang sangat buruk dalam hidupnya! Akan tetapi, karena merasa takut, Alecia pun berusaha untuk bisa tenang. Perlahan, ia mencoba untuk menghirup oksigen yang ada di ruangan yang sudah membuatnya sesak napas sejak tadi. Kemudian ia membuka matanya. Ia menatap Qenan dengan tatapan horor. Pikiran-pikiran aneh sukses menggerogoti isi kepala Alecia. Ditambah dengan keadaan Qenan sekarang yang hanya mengenakan handuk melilit menutupi pinggang hingga lutut. Pemandangan apa ini? Mengapa dirinya bisa terbangun di tempat asing dalam keadaan yang memalukan, ditambah dengan seorang atasan yang sangat ia takuti juga berada di sana? -Bersambung-

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.4K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
174.2K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
11.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook