“Gila, si Kosaku itu, pasukannya baru saja dihabisi oleh pasukan pemberontak. Bagaimana mungkin Samurai sehebat dirinya bisa kalah oleh pemberontak-pemberontak itu. Kita akan mengunjungi daerah Kurosa.” perintah Taiki kepada Riki.
Riki kembali mengawal Taiki, kali ini menuju daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kosaku, tidak jauh dari Geisaku. Walau tempat tinggal mereka masih dikelilingi hutan lebat, tetapi sudah dibuatkan jalan besar. Mereka berkuda bersama beberapa prajurit pengawal.
“Hei Riki, kau lihat hutan itu? Itulah hutan yang dikatakan oleh Tuan Kaze. Katanya tempat tinggal seorang penyihir yang mampu menembakkan api dari tangannya dan membusukkan daging.” ucap Taiki.
Riki memperhatikan gelapnya hutan tersebut, mungkin hanya jalan setapak untuk melintasi hutan tersebut.
* * *
Rombongan Taiki disambut begitu sampai di depan gerbang Kurosa.
“Aku ingin segera bertemu Tuan Kosaku!” perintah Taiki kepada penjaga yang menyambutnya.
Rupanya Kosaku sudah menunggu kedatangan Taiki, dan menyambutnya begitu Taiki sampai di kastilnya.
“Kosaku, apa yang terjadi denganmu?”
“Yoshikuni, ini parah sekali, aku rasa wanita itu memang penyihir, dia punya meriam-meriam pelontar api dan besi yang mampu menembakkan timah panas.”
“Apa yang kau katakan?”
“Aku telah melihat wanita itu, penyihir yang dibicarakan oleh orang-orang, rupanya dia memiliki senjata berupa besi yang mampu menembakkan timah panas berapi, sungguh senjata yang luar biasa. Senjata tersebut mampu menembus baju pelindung kita dan membakar daging kita.”
“Apa?”
“Kemarilah, akan kuperlihatkan sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya.”
Kosaku membawa Taiki dan Riki ke barak kesehatan, rupanya di sana prajurit-prajurit yang sakit sedang di rawat, dan keadaan mereka sungguh mengenaskan.
Bau busuk di seluruh ruangan menusuk hidung, orang-orang itu menggeliat menahan sakit sepertinya mereka sudah tidak menyadari apakah mereka masih hidup atau sudah mati.
Taiki memandang mereka dengan ekspresi takut, “Ya Tuhan, mengapa tidak kau bunuh saja mereka semua.”
“Senjata macam apa yang dapat membuat luka seperti ini?”
Riki begitu terkejut melihat luka-luka di tubuh prajurit Kosaku, tubuh mereka berlubang dan membusuk, daging mereka terkoyak seperti ada yang meledak di dalam daging mereka.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat lautan mayat hidup pasukanku sendiri. Mungkin kalau ini perang biasa, aku biarkan mereka seppuku di tempat. Tetapi aku rasa ini adalah kutukan, kita harus menghadap Kaisar, apa yang telah terjadi di negeri kita ini? Kita saling membantai satu sama lain. Sebenarnya apa yang sedang kita kerjakan?”
“Kosaku, apa yang ada dalam pikiranmu? Kau takut melihat semua ini? Apa yang kau bicarakan? Menghadap Kaisar? Apa yang mau kau katakan nanti?”
“Yoshikuni, bukan itu maksudku. Tidakkah kau lihat, mungkin ini pertanda. Negeri kita ini sedang mengalami bencana, dan kita sendiri yang membuat.”
“Negeri ini baik-baik saja, sebelum orang-orang asing datang dan mengacaukan segala yang kita miliki selama bertahun-tahun lamanya dengan pemikiran-pemikiran mereka. Kita adalah abdi Amaterasu, mereka tidak menghormati kebudayaan kita, warisan leluhur kita. Lihat akibat perbuatan mereka, rakyat tidak lagi menghormat kepada Amaterasu, pemerintahan kacau balau, timbul pemberontak.”
[Amaterasu = Dewa Matahari]
“Yoshikuni, kebudayaan itu sudah berlalu, itu semua hanyalah mitos, kau tahu itu. Budaya seperti itu hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Kau tahu hal itu.”
“Sesungguhnya semua akan baik-baik saja jika rakyat kita menurut. Segalanya berjalan dengan lancar sebelumnya, hingga pemikiran-pemikiran barat datang dan mengacaukan segalanya di negeri kita.”
“Entahlah, Yoshikuni, aku tidak dapat berkata apa-apa. Tapi aku yakin kalau ini adalah pertanda buruk.”
“Kita dengarkan saja apa perintah Amaterasu selanjutnya.”
Taiki meninggalkan ruangan yang dipenuhi mayat hidup itu.
* * *
Pulang dari tempat Kosaku, Riki sangat lelah, dia beristirahat di pondokannya. Hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Ah, siapa?”
“Maaf tuan, aku mengganggu, aku hanya ingin menawarkan apakah anda membutuhkan sesuatu, mungkin makan malam? Akan saya antarkan.”
Riki bangun dari tempat tidurnya membukakan pintu untuk pemuda itu, memandangnya dengan ekspresi dingin untuk beberapa saat.
Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ah, aku tidak pernah menyangka akan punya pelayan yang mengurusi keperluanku. Dari dulu aku terbiasa melakukan segalanya sendiri. Baiklah, aku lapar, ayo buatkan aku makanan, dan kita akan sedikit berbincang.”
“Ah baiklah.”
Aikawa berjalan menuju ke dapur, dan Riki mengikutinya.
“Lho, ada yang kurang tuan?”
“Aku ikut denganmu. Aku tidak ingin makan di kamar atau pun di barak prajurit.”
“Ee? Baiklah.”
* * *
Saat makan malam Riki membuka pembicaraan,
“Ya Tuhan, aku belum pernah melihat yang seperti itu. Sungguh mengerikan, luka-luka itu. Aku tidak pernah membayangkannya.”
“Seperti apa?” tanya Aikawa.
“Entahlah, mungkin benar apa yang tuan Kosaku katakan. Ini semua adalah kutukan, bukan warisan leluhur kita yang dirusak, tetapi kita sendiri yang seharusnya berpikiran maju dan meninggalkan budaya kolot yang hanya menguntungkan pihak tertentu saja.”
“Ya, lagipula apa sih yang kita kerjakan sekarang, buat apa sih strata masyarakat itu? Dan lagi, apakah nasib dan hak tiap orang untuk hidup harus diatur sedemikian rupa oleh negara? Apakah setiap kali Kaisar tidak setuju atas sesuatu, orang tersebut harus dihukum mati? Apa yang telah Dewa kerjakan? Negeri ini sedang krisis dan rakyat yang disalahkan.”
“Kau juga berpikir demikian?”
“Bagaimana tidak, sampai sekarang aku tidak habis pikir, aku kehilangan seluruh keluargaku saat pasukan istana menyerbu desaku. Kami mempertahankan desa kami karena tidak bisa mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah kalau kami harus bekerja, membayar pajak yang sedemikian besar, yang katanya semua itu demi membiayai perang dan kemajuan negara. Kami tidak menginginkan peperangan, kami hanya ingin hidup damai.”
“Kemudian tuan Taiki mengadopsimu.”
“Ya, tadinya kupikir dia bermaksud baik menolongku di tengah-tengah keadaanku yang saat itu tidak tahu harus bagaimana. Tapi ternyata belakangan aku baru tahu kalau dia bukan orang yang baik.”
“Ah, begitulah, aku pun heran bagaimana ayah bisa berteman dengan orang seperti itu.”