Pasukan Samurai Tuan Kosaku menembakkan anak panah mereka serempak, dalam sekejap langit dipenuhi hujan anak panah.
“MAJUU!!”
Beramai-ramai para Samurai menyerbu gerbang Takamanomon.
Hujan anak panah menahan para penembak di dalam menara penjaga, hujan anak panah menancap di mana-mana di seluruh atap pos menara penjaga.
Sementara para Samurai semakin mendekat, penjaga yang bersembunyi keluar dari pos dan menyambut serbuan para Samurai dengan tembakan api dari senapan bedil mereka.
Para Samurai berjatuhan, baju pelindung mereka hancur dengan daging terkoyak dalam keadaan terbakar. Terdengar jeritan-jeritan yang memilukan hati, sungguh rasa sakit luar biasa yang melebihi irisan pedang tertajam sekalipun.
Tembakan demi tembakan bersambut dengan hujan anak panah, beberapa penembak di menara Takamanomon turut berjatuhan terluka. Anak panah bersarang di tubuh mereka yang memakai pelindung seadanya. Namun perjuangan mereka melindungi tempat tinggal mereka tak gentar, tembakan-tembakan api terus berbalas menyerang puluhan Samurai yang dipimpin oleh Kosaku Hinoshi.
“Berapa buah bedil model baru itu yang sudah jadi?” Miyu hadir di medan perang, namun tetap berlindung di bawah pos pengaman.
“Hanya sepuluh buah.” Balas Higashi.
“Panggil nama-nama ini, mereka adalah penembak jitu terbaik.”
“Ah, anda mau menyerahkan bedil itu kepada mereka? Mereka ini masih sangat muda.”
“Ya, tetapi aku sudah melihat akurasi mereka, dan mereka adalah harapan kita, aku ada rencana. Cepat bawa mereka kemari.”
“Baiklah kalau begitu.”
Higashi membawa beberapa pemuda pemudi ke dalam pos pelindung tempat Miyu berada.
“Dengarkan kalian semua, ini adalah bedil model terbaru, power senjata ini tidak sebesar yang model lama, tetapi akurasi senjata ini jauh lebih baik daripada yang pertama. Kalian adalah penembak jitu, aku minta kalian gunakan ini untuk menembak para pemanah yang berada di kejauhan. Kalian tembak dari pos-pos di sayap. Di sana temboknya lebih tinggi dan kemungkinan kalian tertembak panah akan lebih kecil. Dengarlah, kalian tidak perlu melakukan ini jika merasa terpaksa… Aku mengerti kalian masih sangat muda dan…”
“Nona Miyu, apa anda bercanda? Tentu saja kami akan melakukannya, demi melindungi tempat tinggal kami yang indah ini. Tidak akan ada seorang pun yang boleh mengambilnya.”
“PASUKAN MENARA!! LINDUNGI KAMI!!” teriak Higashi.
Miyu dan Higashi menuju menara sayap kanan dan kiri, mereka membagi dua tim.
“Tembak pasukan pemanah itu!!” perintah Miyu.
Pasukan penembak bedil berbaris dan,
DOR DOR DOR DOR DOR
Suara peluru dari bedil model terbaru mendesing memburu pasukan lawan, satu per satu dari mereka pun tumbang dengan tubuh berlubang. Sebagian dari mereka hanya berteriak meringis kesakitan meregang nyawa.
Timah panas yang menusuk daging mereka bersarang dan membakar tubuh mereka membusukkan luka-luka mereka, yang tersisa hanya sakit yang tak tertahan.
“SIAPKAN KETAPEL!!” perintah Kosaku.
Sebuah kereta kayu membawa senjata model ketapel raksasa, beberapa prajurit menyiapkan alat itu dan siap menembak.
“TEMBAAAKKKK!!!” teriak Kosaku.
Sebuah bola raksasa berbalut api melayang di langit dan jatuh di menara penjaga menjatuhkan penembak-penembak Takamanomon.
“TEMBAK KETAPEL ITU!!” perintah Miyu.
Pasukan penembak jitu menembak prajurit yang mengoperasikan ketapel.
“TEMBAK MENARA PENGAWASNYA!!” perintah Kosaku.
Prajurit yang tersisa menembakkan peluru ketapel raksasa ke menara sayap kanan tempat Miyu berada.
“MUNDUURR!!!” teriak Miyu.
Mereka berlari, melompat keluar dari menara tersebut, bola api raksasa itu menghujam menara dan merubuhkannya.
Menara tumbang, beberapa orang nampak terluka di antara reruntuhan menara tersebut.
“NONA MIYUU!!!” teriak Higashi.
Miyu terjatuh tak sadarkan diri, pasukan penembaknya berduyun-duyun mengangkatnya, mengeluarkannya dari reruntuhan dan menjauhkannya dari medan perang. Ikat rambutnya lepas, dari keningnya mengalir darah.
“Dia tidak apa-apa?”
“Entahlah, sepertinya dia gegar otak.”
“Ya Tuhan…”
Higashi berlari menghampiri tenda pertolongan, “Bagaimana keadaannya?”
“Tenang tuan, dia pingsan, tapi dia akan baik-baik saja.”
“Sial…”
Higashi berlari menuju gerbang, “SEMUA JAGO PEDANG, HARAP MAJU KEMARI !!!” panggilnya.
Orang-orang yang merasa terpanggil meninggalkan pos mereka dan segera digantikan oleh yang lain.
“Ada apa tuan Higashi?”
“Kita harus mengusir mereka. Kita akan keluar dan melakukan serangan frontal.”
“Baik tuan, tapi jumlah kita tidak banyak, hanya anda dan kami yang dapat menggunakan Katana.”
“Tidak, lihat, keadaan mereka sudah melemah walau punya banyak pasukan, kita punya cukup tenaga untuk memukul mundur mereka, setidaknya untuk saat ini.”
“Baik tuan.”
“Pakai baju perang kalian, dan siapkan kuda!”
“Tuan Higashi ijinkan kami ikut!”
“Baiklah kalau begitu, pakai baju perang kalian semua.”
Akhirnya semua prajurit yang disiapkan Higashi berkumpul di depan gerbang.
[Katana = Salah satu jenis pedang yang dipakai Samurai.]
“PASUKAN TAKAMA!! MAJUUU!!! BUKA GERBANGNYA!!!”
Beberapa orang membukakan gerbang dan menjaganya supaya dapat menutupnya kembali dengan cepat.
Deru kaki kuda bergemuruh menyerbu pasukan Samurai Kosaku di depan gerbang Takamanomon.
“LINDUNGI PASUKAN BERPEDANG!! JATUHKAN PENEMBAK PANAH MEREKA!!!”
Pasukan penembak jitu yang tersisa menghabisi penembak panah milik Kosaku.
“HEII!!! MAJU DI BELAKANG MEREKA!! KITA CURI KETAPELNYA!!!” teriak pasukan di gerbang.
Beberapa yang menunggu di depan gerbang beramai-ramai mengambil bedil mereka dan menyerbu di belakang pasukan Higashi yang menahan para Samurai Kosaku. Mereka menyerbu ketapel raksasa milik Kosaku, pasukan yang menjaga ketapel raksasa tersebut berlarian ketakutan, pasukan Takama menarik ketapel raksasa itu masuk ke Takamanomon.
“HOREEE!!!” teriak mereka.
“Ini dia kesempatan kita, MUNDUUUR!! MUNDUURR!!!” teriak Higashi.
Seluruh pasukan Higashi mundur kembali ke Takama dan dengan cepat gerbang ditutup.
“TEMBAAKK!!! TEMBAAAKK!!”
Pasukan Menara memberondong tembakan, mengosongkan seluruh selongsong mesiu mereka ke arah lawan. Pasukan Samurai Kosaku yang tersisa berlarian di bawah hujan besi panas yang berdesing.
Pasukan milik Kosaku bubar dalam sekejap. Yang tersisa hanyalah lautan manusia yang terluka, meraung dan menjerit kesakitan. Beberapa prajurit masih menyeret anggota mereka yang terluka dan akhirnya semua berlarian mundur meninggalkan Takamanomon.
Kosaku memandang tajam ke arah Higashi yang berdiri di atas menara pengawas.
* * *
“Apakah nona Miyu baik-baik saja?” ucap seorang prajuritnya.
“Tidak apa-apa, dia wanita yang kuat.” balas Higashi.
“Luar biasa hari ini, lihat apa yang kita dapatkan, sebuah ketapel raksasa.”
“Ah, nona Miyu anda sudah sadar.” sahut Higashi.
“Ah, di mana aku? Apa yang terjadi, kepalaku sakit sekali.” ucap Miyu yang baru membuka matanya.
“Nona, istirahatlah, para Samurai sudah pergi.” balas Higashi.
Hari itu mereka merawat yang terluka dan menguburkan yang meninggal.
“Kapan ini semua akan berakhir.” ucap Miyu dalam hati.