Riki bermimpi melihat seorang wanita menangis, perlahan dia menghampiri wanita itu dan ketika menepuk bahunya wanita itu menoleh. Ternyata wajahnya tidak asing lagi, dia mengenal wanita itu, namun perlahan wajah wanita itu berubah menjadi wajah wanita yang pernah dilihatnya di kota. Spontan Riki tersentak kaget, wajah wanita itu tetap menampakkan kesedihan. Namun setelah diperhatikan, wajahnya sedikit berbeda, wanita itu tampak lebih tua, dan hanya ekspresi kesedihan yang tampak dari wajahnya.
Perlahan bayangan wanita itu semakin pudar dan hilang bagaikan asap. Seluruh tempat menjadi gelap gulita dan sekejap kemudian berubah menjadi medan perang yang berkecamuk luar biasa, rusuh, suara ledakan di mana-mana, orang-orang berlarian dengan tubuh terbakar, begitu mengerikannya pemandangan itu sampai membuat Riki ketakutan. Dia belum pernah melihat orang dengan tubuh terbakar berjalan-jalan bagai mayat hidup.
Tiba-tiba semua berhenti dan diam di tempat, sosok seperti sebuah bayangan hitam besar menampakkan wujudnya, benak Riki mengatakan bayangan itu mirip sesosok iblis yang mengamuk. Bayangan hitam tersebut membuat langit gelap pekat. Iblis itu menghancurkan semua yang di tanah dengan tangannya, Riki berusaha lari, namun iblis itu lebih cepat dan sesaat dia hampir akan menghajar Riki.
* * *
“HEI BANGUN TUAN!! BANGUN!! TUAN, ANDA TIDAK APA-APA?”
Riki membuka matanya dengan terbelalak, ternyata Aikawa membangunkannya dari mimpi buruknya.
“Tuan, anda tidak apa-apa?”
“Ah, sial, sepertinya aku baru saja bermimpi buruk. Ada apa Aikawa.”
“Tuan Taiki menunggu anda di ruangannya.”
“Ah, baiklah, aku akan segera ke sana.”
* * *
“Permisi…”
“Ah, Rikiguro, masuklah. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Aku akan menunjukkan tugas barumu, aku menilai kalau kau adalah orang terbaik untuk melaksanakan pekerjaan ini. Ikutlah denganku.”
Mereka berjalan ke tangga menuju bawah tanah kastil, sebelumnya Riki belum pernah masuk ke sana, dia mengira kalau di sana hanya sebuah gudang. Ternyata…
Sebuah ruangan megah, aula rahasia para ksatria yang mengabdi pada Geisaku. Berjejer potret para Samurai dan prajurit-prajurit terbaik, ada juga potret Taiki dan Ayahnya Riki. Riki berhenti sejenak memperhatikan potret tersebut.
“Aku dan ayahmu adalah teman baik, dulu kita sama-sama berperang dan mengabdi kepada Kaisar.”
Mereka masuk lebih dalam dan menemukan aula yang sangat besar, tempat berkumpul. Riki melihat di sana sudah hadir para prajurit-prajurit yang belum dikenalnya.
“Nah, Riki, perkenalkan, mereka adalah prajurit-prajurit Samurai terbaik, jago pedang terbaik dari yang terbaik, pemanah-pemanah terbaik, semua nomor satu. Aku ingin memperkenalkan kalian sebagai, KUROGASAREN. Ya, kalian mulai sekarang adalah pasukan elite kerajaan milik Geisaku. Dan, aku mengangkat Kokunosaki Rikiguro sebagai pemimpin pasukan khusus ini. Bagi yang berkeberatan kita diskusikan sekarang.”
Hadirin rupanya menyambut dengan antusias dan mereka tidak menunjukkan tanda berkeberatan sama sekali. Salah seorang dari mereka mewakili untuk angkat bicara,
“Tuan Kokunosaki adalah orang hebat, kami percaya Putra tunggalnya dapat memimpin kami layaknya beliau apabila masih hidup.”
“Baiklah kalau begitu, mulai sekarang, tempat ini adalah markas kalian, kita akan adakan aktifitas rapat dan segalanya di sini. Sekarang, silahkan kalian rapatkan organisasi kalian.”
Taiki hendak meninggalkan ruangan, Riki menyusulnya.
“Tuan, aku sangat terhormat menerima tugas ini, tetapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apa ini ‘Kurogasaren’? Apa bedanya dengan pasukan lainnya?”
“Rikiguro, Kurogasaren adalah orang-orang pilihan, mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik, ini adalah proyek rahasiaku untuk menjadikan Geisaku sebagai yang terbaik. Kita akan menjalankan perintah Kaisar untuk mentertibkan para pemberontak dan kita akan melakukannya dan menjadi yang terbaik.”