Ladies Man

1921 Words
Pagi yang cerah, Riki berolah raga melatih ilmu pedangnya di halaman penginapan. Hingga suara parau seorang lelaki tua menyapanya, tampang lelaki tua itu terlihat kusut setelah mabuk semalaman. “Hei Rikiguro! Mengapa kau tidak bangunkan aku?” “Maaf, anda mabuk berat semalam, saya lihat anda tidur lelap sekali.” “Aah… kau ini, wah, pagi yang cerah, ayo kita berjalan-jalan sebelum pulang ke Geisaku.” “Baiklah.” kata Riki sambil mengambil pakaiannya. “Hei! Sudah, tinggalkan saja pedangmu dulu, aku pun tidak membawa pedangku, kita berjalan sebagai warga yang menikmati indahnya pagi hari di ibukota.” “Tapi tuan, tidak baik bagi seorang Samurai keluar dengan meninggalkan pedangnya.” balas Riki. “Heeh, kau ini, di sini tidak apa-apa, menurutku kita akan baik-baik saja lah.” balas lelaki tua itu. Akhirnya pagi itu Riki kembali mengawal Taiki berjalan-jalan di Kota. Rupanya Taiki berbelanja banyak barang dan oleh-oleh untuk anak-anak gadis peliharaannya. Ketika sampai di sebuah toko, seorang pria sedang memukuli seorang anak gadis. Rupanya lelaki itu adalah majikan sang gadis tersebut. Taiki dan Riki melihat hal tersebut, saat Riki hendak maju menolong, Taiki mendahuluinya. “HEI!!! KAU!!! LEPASKAN ANAK GADIS ITU!!! BERANINYA SAMA PEREMPUAN!!” bentak Taiki. “HEI SIAPA ANDA, IKUT CAMPUR SAJA!! AKU MAJIKAN WANITA INI!!” balas lelaki bertubuh besar itu. “HEE… KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU!!!” balas Taiki. “SIAPA ANDA KEK’ MASA BODOH!! INI DAERAH KEKUASAANKU!!” “OO… MINTA DI HAJAR RUPANYA, BAIKLAH.” “KAU MENANTANGKU BERKELAHI!? BAIK, DENGAN SENANG HATI!!” “MAJU KAU SINI!!!” tantang Taiki. Lelaki itu maju mendekati Taiki, dan Taiki mundur mendekati Riki. “Hei, Rikiguro, mengapa kau diam saja, aku tidak mengajakmu untuk diam mematung seperti itu, hayo!! Lekas laksanakan tugasmu!!” Riki geleng-geleng kepala memandang tuannya itu. Lelaki itu semakin mendekat dan mengepalkan tinjunya. Riki memotong jalannya dan menatapnya. “APA KAU IKUT CAMPUR!?” “Tuan, pergilah dengan damai dan tinggalkan anak perempuan itu.” “Apa maksudmu?” “Anda kurang paham dengan ucapanku?” “DIAAMM!! KAU PUN AKAN KUHAJAR KARENA IKUT CAMPUR URUSANKU!!” Sebuah tinju dengan kepalan besar melayang, Riki menghindarinya dengan lincah dan memelintir tangan orang itu dan membantingnya hingga tubuh raksasa itu terkapar. Sekali lagi lelaki raksasa itu bangkit dan menantang Riki, hendak melayangkan tinjunya, namun Riki lebih cepat kembali melepar tubuh orang tersebut hingga terguling-guling di tanah. Orang itu semakin kesal dan mendengus seperti banteng dan menerjang Riki dengan seluruh amarah yang terkumpul. Riki memasang kuda-kuda, dengan gerakan yang cekatan, orang tersebut terpelanting dan menabrak tembok hingga retak dan menyebabkan dirinya tak sadarkan diri. Pertarungan selesai, Riki menoleh mencari tuannya, rupanya tuannya sedang memeluk anak gadis yang tadi dipukuli oleh majikannya. “Oo… sudah tidak apa-apa koq sayang, aku sudah menghajar majikan jahatmu itu, sekarang kamu aman bersamaku.” “Terima kasih tuan.” balas gadis polos itu sambil menangis dalam pelukan Taiki. “Tidak apa-apa, tenang ya…” “Tapi tuan, aku tidak tahu harus ke mana sekarang, aku tidak mungkin bisa bekerja lagi dengan orang itu.” “Oh, kau bisa ikut denganku, anak manis. Aku akan mengajakmu tinggal di istanaku. Mau?” “Wah, tuan tinggal di istana?” “Iya, aku akan mengangkatmu menjadi anakku.” “Asyik, aku mau tuan, aku akan ikut kemana pun tuan pergi.” “Cih…” ucap Riki dalam hati kesal melihat tingkah tuannya. Mereka mampir ke sebuah kedai minum, Taiki membawa anak gadis tadi bersamanya. Taiki terus merayu anak gadis itu dengan kata-kata gombalnya. Ketika bersantai di kedai minum, tiba-tiba serombongan lelaki bertubuh besar datang, mereka sekitar lima orang membawa parang dan pentungan kayu. “HEI!!! TUA BANGKA!!! KALI INI KAU MENCARI PENYAKIT DAN KAU AKAN MENDAPATKANNYA!!” “Ah… apa kalian ini, beramai-ramai datang mau memukuliku?” “Kami akan meremukkan setiap sendi-sendi tulangmu!!” “Oh oh oh… Kalian rupanya belum tahu juga siapa diriku, HAH!?” “HEI!! PAK TUA, INI WILAYAH KAMI, SIAPAPUN DIRIMU KAMI TAK PEDULI!!! AYO KELUAR DAN LAWAN KAMI!!” “Oh… kalian mau berkelahi? Baiklah! Akan kulayani, kemarilah kalian semua kalau berani! Aku tidak akan beranjak dari tempat dudukku!” “BAIKLAH, KAU AKAN KAMI HAJAR DI SINI!!!” Beramai-ramai mereka mendekati Taiki, pemilik kedai menyadari hal itu. “Tuan, ini pagi yang cerah, tolong jangan membuat keributan di tempat saya.” pemilik kedai mencoba melerai perkelahian. Namun, rombongan pria bertubuh besar itu melempar sang pemilik kedai itu hingga terkapar dan membuat sebuah meja patah. “Aduh, tuan bagaimana ini? Aku takut…” kata anak gadis itu sambil merangkul Taiki. “Tenang, sayang, aku akan mengatasi masalah ini.” Taiki menoleh dan memberi isyarat, “RIKI!” serunya. Riki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rombongan pria itu semakin dekat dan hampir menyerang meja Taiki, namun Riki dengan sigap menahan dan melempar mereka dengan gelas. Riki menjatuhkan salah seorang yang membawa pentungan dan melumpuhkannya. Menyusul beberapa orang dihajarnya hingga berjatuhan, namun salah seorang yang membawa parang mematahkan pentungannya. Riki dalam posisi terjebak, orang itu sangat marah dan bersiap menghujamkan parangnya ke arah Riki. Namun Riki cekatan menghindar dan mendapati sebuah bokken terpajang di dinding, Riki mengambilnya. [bokken (**) = Pedang kayu, mirip katana.] Riki menjatuhkan lelaki berparang itu dengan ilmu pedangnya, walau hanya menggunakan bokken. “KURANG AJAR KAU ANAK KECIL SOK, AKU AKAN MENGHAJARMU !!” ucap seorang lelaki yang tadi dijatuhkan Riki hingga membentur dinding. Riki memancing mereka keluar dari kedai sebelum kedai tersebut hancur karena perkelahian mereka. Para kuli pasar itu menyusulnya. Lelaki yang tadi dijatuhkan Riki terlihat paling marah, lelaki tersebut mengambil parang dan menerjang Riki, namun ilmu pedang seorang Samurai terlatih bukanlah tandingan kuli-kuli pasar itu. Riki menghajar mereka semua dengan bokken hingga babak belur. Tangan terlatih seorang Samurai, walau dengan bokken mampu menyerang hingga mematahkan tulang. Namun Riki hanya menggunakan sedikit kemampuannya dan hanya membiarkan mereka sedikit lebam dan merasakan nyeri. “AWAS KAU ANAK KECIL !!!” teriak preman yang tadi menubruk dinding dan sekarang kepalanya dan hidungnya bocor mengalirkan darah segar. Rupanya, puas dihajar oleh Riki mereka ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu. “Itu akan berbekas di esok hari.” sahut Riki, puas menghajar mereka semua. Riki kembali ke dalam kedai, kembali terlihat pemandangan memuakkan. “Oh… tuan terima kasih sudah menyelamatkanku, lagi-lagi anda adalah pahlawan…” ucap anak gadis itu kepada Taiki. “Oh, kan sudah kubilang, sayang, aku akan melindungimu.” balas Taiki. “Aku akan menyerahkan hidupku kepada anda tuan.” anak gadis itu merebahkan tubuhnya dalam pelukan Taiki. “Ohohohoho…” Taiki tertawa genit. Riki kembali duduk dan memesan minuman, sementara pemilik kedai dan para pembantunya sibuk membereskan kedai mereka yang berantakan setelah perkelahian tadi. “Maaf tuan dan nyonya, kedai anda jadi berantakan.” ucap Riki. “Ah, anak muda, apa boleh buat, hehehe, terima kasih anda sudah mengusir perusuh tadi, ini minumlah.” “Ah, terima kasih.” “Aku tidak menyangka, hari terakhir kunjunganku di ibukota ini akan berakhir dengan perkelahian konyol untuk membela laki-laki sukebe itu.” ucap Riki dalam hati. [Sukebe secara harfiah artinya mata keranjang. Yang disebut dengan ekspresi Sukebe adalah ekspresi di mana mata membentuk huruf “U” terbalik, dan mulut nyengir-nyengir sambal liur sedikit ngeces, biasanya disertai tawa-tawa jalang. Ekspresi ini sangat terkenal di berbagai komik-komik dan cerita dan cukup ikonik.] “Hei Riki, siapkan kuda dan suruh semua orang membereskan barang, kita pulang sore ini.” Mereka meninggalkan kedai minum kembali ke penginapan. * * * Dalam perjalanannya kembali ke penginapan, Riki melewati pasar dan kembali melihat sosok wanita yang tak asing di matanya. Wanita itu adalah wanita yang dilihatnya kemarin saat pesta perayaan. Sejenak dia menghentikan langkahnya menatap sosok wanita yang sedang berdiri di depan sebuah kios, wanita itu terlihat sedang melihat-lihat benda hasil pengrajin kayu. Ketika wanita itu beranjak dari toko tersebut, mereka saling menatap satu sama lain dari jarak pandang masing-masing. Riki tersentak kaget karena ketahuan. Wanita itu hanya melayangkan senyuman kepadanya dan beranjak menuju toko yang lain. Riki terdiam kaku hendak membalas senyumannya namun wanita itu sudah berlalu dari pandangannya. “Ah, sial, apa yang telah kulakukan…? Bodohnya aku…” pikirnya dalam hati. Riki berlari-lari di sekitar pasar mencari wanita itu namun dia tidak menemukannya lagi. * * * Miyu menghampiri Higashi dan kawanan prajuritnya yang berada di kedai terdekat. Tentu saja, agar tidak terlihat mencolok mereka semua menyamar sebagai rakyat biasa dan senjata-senjata dibungkus kain di kuda masing-masing. “Apa nona sudah mendapatkan apa yang anda cari?” tanya salah satu prajuritnya. “Tidak, dia sesungguhnya tidak mencari apapun, tetapi iseng siapa tahu masih bisa melihat tuan Samurai pujaannya.” sela Higashi. “Ohh~~ tuan putri jatuh cinta pada pandangan pertama…” Tanpa basa-basi sebuah sendal kembali melayang dan bersarang di wajah Higashi. “Ayo kita pulang!” Miyu melangkah dengan ekspresi cemberut. “Anda seperti anak kecil saja kalau ekspresinya seperti itu.” sahut Higashi. Mereka semua berkuda meninggalkan kota. * * * Begitu pula dengan rombongan Taiki yang juga kembali ke Geisaku. Di atas kudanya Riki terpikir kembali dengan wanita itu, dia teringat-ingat sesuatu ketika melihat wajahnya. Wajah itu seperti wajah yang tak asing baginya. “Aku pernah melihatnya, dekat sekali, di mana ya?” pikirnya dalam hati. Dalam perjalanannya Riki melihat pemandangan menjijikan persis depan matanya, Tuan Shogunnya berkuda dengan memangku ‘hadiah’ nya dari ibukota sambil berkolok-kolokan seperti anak kecil. * * * Rombongan Taiki akhirnya telah sampai kembali di Geisaku. “Hei Rikiguro, kau beristirahatlah di pondok sebelah, biarkan aku sendiri dulu, aku butuh istirahat.” Ucap Taiki sambil melirik nakal menggoda anak gadis bawaannya itu. “Wah, istana tuan indah sekali~~ apakah tuan benar-benar mengajak aku tinggal di sini?” “Tentu saja sayang, kamu akan tinggal denganku dan anak-anakku yang lain. Dan sesuai janjiku, aku akan merawatmu.” “Ah, tuan aku senang sekali, aku tidak pernah bermimpi akan tinggal di istana besar seperti ini, mungkin kalaupun aku bermimpi aku hanya akan menjadi pembantu di tempat seperti ini.” “Ya, ampun sayang, kamu tidak akan pernah menjadi pembantu di sini, kamu adalah anakku dan kamu justru jadi putri di sini. Kamu bebas berbuat apa saja.” “Oh~ terima kasih tuan…” anak gadis itu bermanja kepada Taiki. “Hih! Dasar laki-laki tua mata keranjang! Dan ini bukan istana! Ini hanya KASTIL!!!” teriak Riki dalam hatinya. Riki masuk ke pondokan elite yang diperuntukkan bagi para Samurai, di pondokan tersebut ada kamar bekas ayahnya. Riki memasukinya dan mendapati seorang pemuda sedang merapihkan kamar tersebut. “Ah, kamu.” Riki mengenal pemuda itu. “Ah, tuan Kokunosaki, silahkan aku hanya sedang merapihkan tempat ini.” “Aikawa, terima kasih, tidak usah repot-repot.” “Lho koq tidak usah repot-repot, memang sudah tugasku koq.” “Hebat sekali dirimu.” “Hebat bagaimana tuan?” “Kau masih bisa sabar menjalani tugasmu yang sekarang setelah mengetahui kenyataannya dirimu…” “Aku tahu~ aku tahu~ tadinya tuan Taiki mengira aku adalah wanita kan? Sudahlah, hal itu bukan yang pertama kalinya kudengar. Yang penting yang dapat kusyukuri sekarang adalah aku masih bisa tinggal di sini walau menjalani kehidupan sebagai pelayan. Ah—kamar anda sudah selesai tuan, selamat beristirahat, kalau perlu sesuatu panggil saja aku. Atau mungkin tuan lapar? Akan kubawakan makanan.” “Hei kau mau ke mana?” “Ya kembali ke tempatku di pondokan pelayan.” “Aku ikut.” “He???” “Kau benar, aku lapar, ayo cepat kita jalan.” “Eeh, baiklah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD