Nun jauh di tengah hutan, menembus pepohonan lebat dan rindang dengan iringan nyanyian hewan-hewan. Cahaya matahari bersinar hangat dari sela-sela rimbunnya pepohonan. Sebuah rombongan kecil berkuda dengan membawa kereta perbekalan dalam perjalanan menuju tempat tinggal mereka.
Rombongan itu terdiri dari seorang wanita, pria setengah baya dengan pedang kembarnya, dan beberapa prajurit membawa tombak dan senjata api (bedil).
“Nona Miyu, anda baik-baik saja?” tanya pria yang membawa pedang kembar.
“Ah, ya… Tuan Higashi, andai kita semua bisa lebih lama menikmati keramaian kota tadi. Kalau saja semua warga Takamanomon berada di sana dan menikmatinya juga pastilah mereka senang.” ucap wanita bernama Miyu itu.
“Memang, kebetulan sekali, hari ini ada parade di alun-alun kota. Untung saja, milisi tidak mengadakan razia, berbahaya sekali kalau kita tertangkap tadi.” balas pria bernama Higashi itu.
“Aku melihat seseorang tadi di sana.” ucap Miyu.
“Ah, ya? Siapa gerangan? Apakah anda mengenalnya?” balas Higashi.
“Tidak, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh saat melihatnya…”
“Apa yang anda rasakan?”
“Entahlah, sepertinya aku hanya bisa berdiri terdiam dan menatap matanya… Dan aku merasakan ada sesuatu dalam diriku… Entah mengapa, wajahnya pun masih terbayang-bayang dalam pikiranku sekarang.”
“Wah… hahahaha nampaknya anda jatuh cinta pada pandangan pertama…”
Miyu menoleh tajam kepada Higashi.
“Oh ya!?”
“Tidak perlu malu-malu, wajar lah bagi wanita muda seperti anda menyukai seorang pria tampan, dan sepertinya dia seorang Samurai.”
“Huh! Lagipula darimana kau tahu, asal tebak saja, dasar laki-laki tua…”
“Nona, saya ini sudah pernah menikah dan berkeluarga, bagaimana saya tidak tahu pandangan mata seorang anak perempuan saat dirinya jatuh cinta.”
“Huh dasar kau!” Miyu memalingkan wajahnya dan bibirnya cemberut seperti anak kecil.
“Hei, hari ini kita dapat begitu banyak makanan dan minuman, bagaimana kalau kita adakan pesta di Takamanomon?”
“Pesta apaan lagi kau ini?”
“Ya… acara hajatan, mungkin, perayaan sesuatu, ya berkah atas makanan-makanan dan dagangan kita. Berkah untuk warga, macam-macam lah. Atau mungkin pesta perayaan untuk anda yang baru saja menemukan pria pujaan di Kota.”
“Ooowww…” para prajurit meledek tuan putri mereka.
Tidak ada basa-basi, Lady Miyu bejalan paling depan di atas kudanya, sementara sebuah Geta bersarang di wajah Higashi.
[Geta = Sandal Jepang yang terbuat dari kayu.]
Namun malam itu mereka benar-benar mengadakan perayaan, untuk menghibur semua rakyat dan sebuah syukuran kepada dewa untuk panjang umurnya Takamanomon. Pada malam hari itu, langit bagaikan bentangan karpet hitam penuh hiasan gemerlap, angin malam bertiup lembut begitu menyejukkan. Orang-orang bersuka cita di balai kota Takamanomon, mereka menari dan bernyanyi dengan sajian makanan mewah dan minuman dari fermentasi beras.
Merasa kelelahan, Lady Miyu hendak berjalan kembali ke pondok pribadinya.
“Ah, tuan Higashi, aku lelah, aku rasa aku akan beristirahat saja.”
“Baiklah akan saya antarkan.”
“Tidak perlu, kau di sini sajalah, bersantailah dengan yang lainnya, biarkan mereka bersuka cita melewati malam ini. Mereka sudah bekerja keras selama ini kan.”
“Ah, baiklah kalau begitu.”
Miyu berjalan sendiri menuju pondok pribadinya yang terletak di bagian paling belakang wilayah Takamanomon.
Rumah dengan kebun kecil dan tanaman bambu, dibelakangnya ada tangga menuju ke puncak tebing, dari sana seluruh Takamanomon dan hutan di sekitarnya terlihat jelas.
Entah mengapa malam itu Miyu tidak dapat tidur, dalam pikirannya terus terbayang wajah pria yang dilihatnya di pasar kaget di Kota sore hari tadi.
Ketika memejamkan matanya, langsung tergambar begitu saja di alam pikirannya, memori bayang-bayang akan rupa pria yang tidak dikenalnya itu.
Miyu tersadar dan berusaha melupakannya,
“Ah, biarlah berlalu, lagipula aku tak mengenalnya…” ucapnya dalam hati sembari kembali memejamkan matanya dan berusaha tidur.
Tetapi sialnya, sosok pria berhakama biru dengan pedang Katana disandingkan dipinggangnya itu kembali menghantui alam mimpinya. Miyu masih teringat jelas dengan bayang wajah polos dari pemuda gagah yang nampak rupawan itu.