The Young Samurai Journey

1505 Words
Hari itu, Riki menghadap Taiki untuk menjalankan tugas pertamanya. “Hei, Rikiguro, aku ingin kau ikut denganku, kita akan berkuda ke ibu kota.” perintah Taiki. “Baiklah.” Riki mengikuti langkah laki-laki tua itu dengan ekspresi dingin. “Di kota akan diadakan rapat besar mengenai sistem pemerintahan dan berbagai peraturan, dan bla bla—apalah. Kau tahu? Ini sungguh pekerjaan yang membosankan, yah yang penting dengarkan saja mereka berbicara, bicara dan bicara. Tapi, kau tahu Rikiguro? Kau tak akan pernah tahu apa yang akan kau temui jika berkunjung ke kota besar. Hehehehe…” Sepanjang jalan menuju istal, Taiki dikelilingi oleh para gadis-gadis muda. Mereka bermanja dan berkolok-kolokan dengan laki-laki tua itu seperti kucing-kucing kelaparan yang memohon-mohon untuk diberi makan. Tiba-tiba dua orang dari mereka menggoda Riki, tanpa basa-basi mereka merangkul lengan Riki di kanan dan kirinya. Riki merasa risih dengan hal tersebut. “Hei… Rikiguro, lihat, ini anak-anakku, mereka anak gadis yang baik ya. Wahahahaha…” ucap Taiki. “Ah~~ tuan, tuanlah orang yang sangat baik hati, tuan telah menyelamatkan kami dan memberi kami perlindungan, anda adalah seorang pahlawan. Tentu saja dengan senang hatilah kami akan menyerahkan segala-galanya bagi anda…” balas para gadis itu dengan nada yang sangat manja. “Oo~~ aku juga sangat menyayangi kalian semua, seperti janjiku. Aku akan melindungi dan merawat kalian semua. Sayang-sayangku…” balas Taiki dengan nada-nada genitnya. “Oo~~ kya~~” para gadis-gadis itu terlena dengan kata-kata rayuan Taiki. “Cih… gombal…” ucap Riki dalam hatinya. Entah mengapa dia dongkol melihat pemandangan itu. “Beginikah kehidupan para pejabat negara?” pikirnya lagi dalam hati. “Ah—buat apa kupikirkan, aku hanya akan menjalankan tugasku.” Namun Riki masih merasa risih dengan dua gadis genit yang terus menggelayuti dirinya. “Maaf, nona kecil, bisakah bebaskan tangan saya?” “Ah, kenapa tuan?” “Saya sedang menjalankan tugas, persilahkan saya berjalan dengan sopan.” “Apa maksudmu! Ah, orang yang sombong! Pria macam apa dirimu. Sudah tinggalkan dia!” rupanya kedua gadis itu merasa terhina dan meninggalkan Riki. * * * [Pasar Malam] Riki, Taiki dan beberapa orang pengawal istana berkuda menuju ibukota. Perjalanan cukup lama dan melelahkan. Ketika sampai di ibukota, salah seorang pengawal disuruh mempersiapkan penginapan untuk rombongan mereka. Taiki memutuskan untuk beristirahat dahulu. Pria tua itu kelelahan dan terkapar tak sadarkan diri hanyut dalam mimpi basah di atas ranjangnya. Namun Riki yang muda, tidak tahan untuk berdiam diri di kamar dan mengambil kesempatan itu untuk berjalan-jalan keluar. Rupanya menyambut rapat besar itu alun-alun kota ramai, banyak orang bersuka ria di sana dan menggelar pasar kaget. Event seperti ini sungguh langka, di era pemerintahan feodal ini kita masih punya momen untuk bersuka cita, wajar lah jika masyarakat begitu menikmati saat-saat ini. Rombongan-rombongan berkuda dan pengawal-pengawal berpakaian resmi berdatangan dan melewati alun-alun kota. Bagi masyarakat, menonton rombongan-rombongan itu seperti menonton sebuah parade. Di tengah keramaian pasar kaget, berbagai jajanan ditawarkan, Riki hanya berjalan sendiri dan menonton kerumunan itu. Dia seperti anak kecil yang tersesat, hanya menikmati keindahan parade ini seorang diri. Riki membeli Dango dan menikmatinya sendiri. “Aku ingat ibuku sering membuatkan aku makanan ini… Andai saja aku dapat menikmati saat-saat ini ketika masih ada beliau…” ucapnya dalam hati. Matahari sore semakin hangat dan angin semakin sejuk bertiup, senja telah datang langit begitu indahnya dengan warna kemerahan. Tiba-tiba mata Riki terarah ke sebuah sosok seorang wanita dengan kimono yang sangat cantik. Tidak ada orang lain yang terlihat bersamanya, tampaknya wanita itu juga berdiri seorang diri menonton keramaian pasar malam seperti dirinya. Sinar matahari sore yang lembut menyinari paras wanita itu sehingga terlihat jelaslah wajahnya. [Dango = Makanan jajanan khas Jepang yang terbuat dari ketan dengan gula.] [Kimono adalah pakaian adat Jepang, biasanya hanya para bangsawan saja yang memakai Kimono, karena kimono adalah pakaian yang sangat mewah.] Tiba-tiba entah kenapa ada perasaan aneh dalam diri Riki, ingin rasanya dirinya mendekati wanita itu dan menegurnya, tetapi Riki hanya bisa berdiri kaku dan memperhatikan sosok wanita itu. Kimononya sungguh anggun dan wajahnya sangat cantik walau dengan riasan sederhana. Parasnya memancarkan sebuah kehangatan, tatapan matanya lembut namun tajam, bahkan mungkin tatapan itu mampu menidurkan seekor macan. Sesaat Riki membeku dan waktu terasa berhenti. Ada sesuatu yang aneh yang mendadak membuat jantungnya berdebar kencang, namun di satu sisi membuat perasaannya terasa begitu hangat. Perlahan Riki berjalan mendekati wanita misterius itu, namun tiba-tiba seorang prajurit yang membawa pedang kembar bersama beberapa orang yang tampak seperti prajurit genin datang menghampiri wanita itu. Rupanya mereka satu rombongan dan mereka meninggalkan pasar. [Genin = Masyarakat kelas bawah dalam pembagian klasifikasi pada zaman Jepang Feodal.] Sesaat sebelum beranjak pergi, wanita itu tiba-tiba saja menoleh ke arah Riki, sepertinya dia menyadari kalau dilihat dari jauh sejak tadi. Riki spontan salah tingkah dan sejenak mereka hanya bertatapan dari jarak pandang satu sama lain. Namun wanita itu dan rombongannya tidak berdiri lama, wanita itu memakai topi jeraminya, mengenakan mantelnya dan bergegas meninggalkan pasar. “Sungguh cantik wanita itu, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lain ketika melihatnya… Siapakah gerangan dirinya…” tanya Riki dalam hatinya. Riki teringat bahwa jam istirahatnya hampir berakhir, dia bergegas kembali ke penginapan. Dalam perjalanannya dia kembali terbayang-bayang sosok wanita misterius yang ditemuinya tadi. “Ah, ada apa denganku ini, mengapa aku terus membayangkan tentang wanita tadi?” Riki berlari memasuki penginapan, menuju kamar tuannya. Rupanya Taiki sudah bangun. “Hei, Rikiguro dari mana saja kau? Ha?? Melihat-lihat kota, yahahaha—memang meskipun kau Putra Samurai terkenal, tetap saja kau belum pernah jalan-jalan di kota besar ya… Hahahaha…” Taiki mengajaknya duduk dan pelayan menyajikan minuman untuk mereka berdua. “Hei, Rikiguro, hari ini aku ada pesta dengan beberapa pejabat besar. Kau, ikutlah mengawalku, biar mereka melihat Putra Samurai Kokunosaki. Sekarang cepat ganti bajumu dengan pakaian formal!” * * * [Perjamuan Makan] Sebuah jamuan elite diadakan di restoran termewah di ibukota, pejabat-pejabat penting, tuan tanah semua hadir, minum dan mabuk ditemani wanita-wanita penghibur. “Heii—Kau tahu rumor terbaru? Yoshikuni?” “Ahh—kalian semua hanya bergosip saja, seperti wanita.” “Hei!! Yoshikuni, ini penting, kau tahu sudah banyak pemukiman-pemukiman pemberontak yang kami bereskan? Ini ada satu pemukiman, letaknya di dalam hutan yang penuh dengan makhluk-makhluk raksasa yang buas.” “Hei!!! Kaze, bagaimana orang bisa hidup kalau hutannya saja penuh binatang buas? Kau ini bicara tidak masuk di akal…” balas Taiki. “Yoshikuni, justru itu masalahnya, kau ingat pemberontakan buruh besar-besaran beberapa waktu yang lalu?” “Ya…” “Mereka, para buruh itu juga para wanita dan anak-anak semua melarikan diri ke dalam hutan itu dan mendirikan rumah di sana.” “Aah—biarkan saja, para p*****r dan anak gadis mereka juga b***k-b***k itu. Mungkin mereka sudah lama mati dilahap para mononoke itu.” [Mononoke dalam harfiah: Arwah yang menjaga sebuah tempat (penunggu); hal gaib; dewa. Dalam hal ini, mononoke yang dimaksud adalah para binatang buas yang menjadi penunggu hutan. Istilah “Mononoke” (* の *) atau もののけ menunjuk kepada arti kata Jepang untuk roh atau monster: makhluk gaib, makhluk yang berubah bentuk. Mononoke hanya ada dalam kisah mitologi zaman dahulu.] “Tidak! Kau salah! Mereka hidup bahkan mendirikan benteng di sana. Kau tahu mereka dipimpin oleh seorang wanita penyihir yang mampu mengeluarkan api dari tangannya dan membusukkan daging!” “Ah, ceritamu itu, seperti dongeng saja, apa buktinya!” “Aku punya pasukan mata-mata, mereka penyamar dan pencari jejak terbaik, mereka menembus hutan dan mendapati wanita itu dan pasukannya menumbangkan seekor banteng raksasa dengan bola-bola api.” “Hii!!! Wanita macam apa itu, ah mungkin dia itu memang penyihir.” Riki yang sejak tadi duduk sebelah Taiki hanya diam mendengarkan obrolan para pejabat-pejabat itu. “Ah—kau ini Kaze, sama wanita saja takut, kalau aku bertemu dengannya, mungkin sudah kutiduri dia!” balas Taiki. “HAHAHAHA” terdengar tawa riuh diantara mereka. “YA, TIDURI SAMPAI DIA MEMOHON-MOHON MINTA AMPUN.” “Kemudian dia akan minta tambah.” “YAAHAHAHAHA…” Para pria di ruangan itu semakin tertawa terbahak-bahak, mereka memanggil pelayan dan menambah minuman Sake. [Sake = Minuman beralkohol hasil dari fermentasi beras.] “Mereka dan otak kotor mereka…” ucap Riki dalam hati. “Omong-omong, ini ya Putra mendiang Kokunosaki Kei. Mendiang ayahmu itu orang yang sangat hebat, dan kau pasti akan menjadi Samurai yang hebat seperti dirinya.” ucap Kaze. “Ah—aku ingat Kei itu, dia menolak ketika hendak diangkat menjadi pejabat pemerintahan. Padahal itu puncak kariernya, dia tetap memilih kehidupan militer sebagai kariernya.” sambungnya lagi. “Dia itu, untuk diundang pesta saja malas, bermain dengan gadis-gadis juga gengsi. Dasar, hanya perang saja yang ada di pikirannya…” sambung Taiki. “Kau, hanya wanita saja yang ada di pikiranmu…” balas Kaze. “Itulah hidup, teman. Hahahahaha…” balas Taiki. Suasana malam itu dihabiskan dengan minum-minum Sake di restoran mewah tersebut, dan beberapa orang termasuk Taiki sendiri yang akhirnya mabuk berat hingga penghujung malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD