“Hei Aikawa, sibukkah kau hari ini?”
“Aku sebebas burung hari ini, apa yang bisa kubantu?”
“Hm… bagaimana ya? Aku ingin memintamu untuk sebuah tugas khusus.”
“Ah? Boleh saja, seperti anda tidak pernah minta sesuatu saja padaku.”
“Ya ya…”
“Lho, anda koq aneh, seperti ada sesuatu… nah ya… ooo saya tahu…”
“Apaan kau!” wajah Riki memerah.
“Sudah kuduga, baiklah aku tidak akan bertanya-tanya lagi, ayo kita pergi.”
Riki dan Aikawa berkuda menembus hutan, menyusuri jalan setapak yang gelap dan rimbun.
“Kita tidak akan menelusuri sungai, kita akan masuk ke bagian hutan yang paling gelap.” ucap Riki.
Mereka berdua menembus hutan yang semakin gelap karena pepohonannya semakin rimbun menutupi langit, hingga mereka melihat seberkas cahaya dari semak-semak tebal yang menutupi jalan. Mereka berdua menembusnya, rupanya mereka sampai di sebuah padang rumput yang sangat luas.
Ternyata di dalam hutan tersebut ada sehamparan luas padang rumput dan ditengahnya ada sebuah kota berbentuk benteng.
“Ya Tuhan, tempat apa itu?”
Riki dan Aikawa mendekati gerbang kota tersebut.
Di depan gerbang, dua orang berkuda itu langsung dihadapkan dengan moncong-moncong besi berisi peledak yang ditodongkan oleh penjaga di menara pengawas.
“Tuan, apa yang harus kita lakukan…?” tanya Aikawa panik.
“Tenang saja, Aikawa.” Riki mencoba menyeru kepada para pengawas di menara itu. “HEI!! KAMI DATANG DENGAN DAMAI. AKU AKAN MELETAKKAN SENJATAKU!!”
“HIIEEYAAA!!” tiba-tiba seorang pendekar berpedang ganda melompat ke depan Riki. “MAU APA LAGI KAU KE SINI SAMURAI!?” teriak pendekar tersebut.
“Aku datang dengan damai, aku hanya ingin…”
“HIEEYYYAAAA..!!!”
Belum sempat Riki menyelesaikan kalimatnya, pendekar bernama Higashi itu mencabut pedangnya dan mengarahkannya kepada Riki. Spontan Riki sigap dan menangkis serangan tersebut.
TRANGGG…!!! Suara besi pedang berdenting keras saling beradu.
“BAGUS!! CABUT PEDANGMU DAN TUNJUKKAN NYALIMU KEPADAKU!” teriak Higashi.
“Tunggu… tuan…” sahut Riki yang berusaha menahan Higashi.
“UGHYAAA!!!” Higashi menerjang.
Tiba-tiba Riki dan Higashi pun sudah terlibat adu pedang. Suara besi-besi itu keras berdenting saling mengadu satu sama lain.
“Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak ingin bertarung!” ucap Riki.
“Lalu apa yang hendak kau perbuat di sini?”
“HENTIKAN PERTARUNGAN INI!!” suara seorang wanita yang begitu merdu namun lantang memecah dentingan pedang kedua pendekar yang sedang beradu kejantanan itu.
Wanita berpakaian kimono panjang berkilau muncul dari balik cahaya sore yang hangat, dia adalah Miyu sang pendiri Takamanomon.
“Itu dia…” kata Riki pelan.
Wanita itu mengisyaratkan sebuah tanda kepada pasukannya dan mereka pun menurunkan senjata mereka.
“Tuan Higashi, ada apa ini? kenapa tidak kau bukakan pintu gerbang kita, tamu kita telah datang dengan damai, sambutlah tamu kita dengan hormat.” ucap wanita itu.
“Ah… tapi… Tuan Putri, tetapi kau tidak tahu siapa tau ada maksud jahat dibalik kedatangan pemuda ini, dia adalah musuh kita, dia seorang Samurai dari Geisaku, dia adalah anak buah Taiki! Aku harus melindungimu!” seru Higashi.
“Tuan Higashi, seorang Samurai sejati tidak akan menyimpan kejahatan di dalam hatinya, apakah kau sudah lupa etika seorang ksatria Bushido?” balas wanita itu dengan suara yang sangat lembut.
Kekejaman pemerintah feodal telah membuat kepercayaan banyak orang menjadi luntur terhadap nilai-nilai Bushido yang selama ini mereka pelajari. Para ksatria yang bekerja pada pemerintah hanya bekerja untuk mengikuti perintah, kultur sejati Bushido hanya seakan menjadi omong kosong. Namun akhirnya Higashi pun mengalah dan menurunkan pedangnya, ia pun menyuruh anak buahnya untuk membuka gerbang.
“Maafkan atas ketidaksopanan kami, masuklah dan selamat datang di Takamanomon.” sambut Miyu.
[**の* Dalam arti harfiahnya, Gerbang Takama. Namanya terinspirasi dari kisah Mitologi Jepang, Takamanohara dikisahkan sebagai tempat tinggal para Dewa.]
Riki membeku seribu bahasa, matanya terkunci pada paras cantik bercahaya di wajah wanita itu, suaranya begitu lembut merdu menggetarkan hati, namun juga terdengar begitu tegas dan berwibawa saat memerintah anak buahnya.
Setelah memasuki Takamanomon kekaguman itu semakin bertambah, Riki dan Aikawa begitu takjub, di balik benteng besar itu ada suasana sebuah kota kecil, di mana orang-orang di dalamnya melakukan aktifitas harian seperti halnya di kota-kota lainnya. Tidak ada hal buruk yang serupa diceritakan oleh gosip-gosip yang didengarnya di luar sana.
“Mohon tunggu sebentar.” Kata Higashi.
Mereka berdua menunggu sejenak dan kemudian Miyu turun dari menara pengawas dan menyambut mereka secara langsung.
“Oh, maaf, perkenalkan saya Kokunosaki Rikiguro dari Geisaku, dan ini ajudan saya, prajurit Aikawa Sakurai.” Riki membungkuk sambil memperkenalkan diri. Aikawa turut membungkuk di sebelahnya.
“Oh, saya pernah mendengar tentang Daimyo itu, saya Takamanohara Miyuki, anda panggil saja saya Miyu. Dan ini Tuan Higashi, asisten saya.”
“Maafkan saya, sepertinya perkenalan kita pertama tidak begitu baik, saya Higashi.”
“Maafkan saya juga, tetapi ilmu berpedang anda sangat luar biasa, anda seperti seorang Samurai.” balas Riki.
“Saya… Saya sudah bukan lagi seorang Samurai, saya adalah seorang Ronin.”
[Ronin adalah sebutan untuk Samurai yang tidak lagi bertuan (tidak memiliki clan lagi dan tidak punya atasan atau pemimpin). Singkatnya orang tersebut adalah prajurit yang sudah bukan berstatus sebagai seorang Samurai lagi.]
“Oh.” Riki terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
“Tetapi ilmu berpedang anda sangat bagus, sepertinya aku mengenal aliran pedang anda… Oh… yaa… nama keluargamu, Kokunosaki, apakah kau adalah putra tunggal Kokunosaki Kei.” balas Higashi.
“Anda mengenal ayahku??” tanya Riki kaget.
“Tidak juga, tetapi ia adalah seorang Samurai yang sangat terkenal.” ucap Higashi. “Omong-omong luar biasa anak muda sepertimu sudah menguasai ‘battojutsu’.” lanjut Higashi lagi.
[Battojutsu = Ilmu berpedang dengan teknik membunuh yang sangat efisien.]
“Ah, ini semua karena ayahku melatihku dengan begitu keras.” balas Riki.
“Senang sekali hari ini, kami sudah lama tidak menerima tamu.” lanjut Miyu.
“Kami yang berterima kasih sudah disambut dan dipersilahkan masuk ke tempatmu yang sangat indah ini, Tuan Putri Miyu.” balas Riki.
“Ooh, bukan, saya bukan tuan putri di sini, panggil saja saya Miyu.” balas Miyu.
“Baiklah, nona Miyu.”
* * *
Our Weapons“Hm, baiklah, karena kalian tamu kami, mari kuajak melihat-lihat. Inilah kota kecilku, ‘Takamanomon’. Di tempat kecil ini kami hanya ingin hidup dengan damai, semua orang di sini bekerja seperti halnya dan sewajarnya orang-orang di kota-kota kalian.” cerita Miyu.
“Aku mendengar tentang pelontar api yang melubangi d**a manusia dan membusukkan dagingnya.” Kata Aikawa.
“Oh, itu… Ishibiya.” balas Miyu.
[(***, いしびや)Ishibiya = Istilah dalam bahasa Jepang untuk Senjata api tradisional, bedil / senapan, meriam dengan peluru mesiu.]
“Apa itu?” tanya Aikawa.
“Baiklah mari kuperlihatkan sesuatu.” Miyu membawa mereka melihat sebuah pabrik kecil tempat merakit senjata api. Tungku peleburan digerakkan oleh mesin uap raksasa. “Ini dinamakan senjata api, atau bedil, ini adalah senjata yang mampu melontarkan peluru dari jarak jauh dan menggunakannya sangat mudah. Hanya perlu menarik pelatuknya seperti ini, mari kutunjukkan.”
Miyu membawa mereka ke sebuah lapangan tempat rakyat Takamanomon berlatih senjata, ada beberapa model senapan dan pistol yang berderet di atas meja. Miyu mengambil sebuah bedil dan mendemonstrasikan tembakannya. “DORR”. Terdengar letusan saat pelatuk menerbangkan peluru melalui moncong besi, peluru bedil tersebut menembus besi yang menjadi bahan armor baju pelindung Samurai. Sesaat setelah letusan terdengar, mereka melihat lubang di bahan besi tersebut.
Riki dan Aikawa terpana melihat betapa mengerikannya kerusakan yang mampu dilakukan oleh sebuah senjata api.
“Tak hanya itu saja, berkat mesin uap ini kami juga bisa memproduksi listrik dan menggerakkan mesin-mesin penggiling gandum dan beras dan lain-lain. Kami menjual tepung ke kota, berkat itu lah juga kami hidup.”
“Tempat ini sungguh luar biasa.” Riki terpesona dalam hati.
“Baiklah mari kuajak makan malam di tempatku.”
“A—apa?? Maaf, kami tidak ingin merepotkan…”
“Kenapa? Kau menolak undangan kenegaraan? Hehehehe… Tidak seformal undangan makan malam para kepala Daimyo itu, ini hanya undangan semiformal, anggap saja perkenalan dan sambutan untukmu selaku perwakilan Geisaku dari diriku perwakilan Takamanomon.”
“Wah, saya jadi merepotkan anda, belum tentu saya bisa membalas undangan dan maksud baik anda ini.”
Miyu tersenyum kepada Riki dan mengajaknya berjalan ke arah pondok pribadinya.
Aikawa hendak mengikutinya, namun Higashi menahannya dan berkata, “Makan malam prajurit sebelah sini, silahkan Tuan.”
“A—apa? Ah, baiklah jika demikian.” Aikawa terheran-heran dan berteriak memanggil Riki. “HEEII TUAN!! BAGAIMANA INI??”
Riki hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan dengan Miyu.
“Silahkan tuan Aikawa.” Higashi mengantarnya ke sebuah ruangan khusus di barak prajurit.
Di sana para prajurit sedang makan bersama, seisi ruangan itu hanyalah pria saja dan mereka semua terkejut melihat kehadiran Aikawa.
“Wah, dari mana kau mendapatkan nona manis ini tuan Higashi? Sini anak manis… Duduk sebelah sini saja…”
“Heii… aku laki-laki, aku bukan anak perempuan!!” seru Aikawa.
Tetapi sepertinya para prajurit di barak itu tidak memperhatikan kata-katanya.
“Sebelah sini saja, aduh kamu lucu sekali…”
Aikawa spontan merasa firasat buruk dan tidak nyaman, “SIIAALLL KAU TUAN RIKI!!!”
* * *
Private Dinner“Silahkan menunggu di sini, biar saya siapkan makan malam untuk kita. Santai saja tuan Riki, kalau kau membutuhkan sesuatu katakan saja kepada tuan Higashi.”
Riki menunggu di ruang tamu kediaman Miyu, sebuah tempat yang artistik dengan hiasan lukisan-lukisan dan puisi kuno. Di pojok ruangan ada meja dan peralatan tulis, beberapa lembar kertas dengan coretan-coretan sepertinya sebuah cerita.
“Maaf sudah menunggu, silahkan mari kita nikmati hidangan ini.”
Para pelayan membawakan makanan dan menyajikannya di atas meja yang tertata rapih untuk mereka berdua.
“Wah, sungguh tempat ini sangat luar biasa, aku seperti merasakan sesuatu yang lain di tempat ini. Sepertinya Takamanomon membawa aura tersendiri, entah apa, tetapi sangat nyaman dan damai.”
Miyu tersenyum, dia mengambilkan makanan untuk Riki.
“Ah—anda tidak perlu berbuat demikian, maafkan saya.”
“Tidak apa, kau kan tamu, nikmatilah hidangan ini.”
“Ngomong-ngomong mengapa bisa ada tempat ini? Dan siapakah orang-orang ini? Dari mana mereka berasal?”
“Hahaha… Mereka tidak dari mana-mana, mereka berasal dari tempat di mana mereka tidak pernah terlihat.”
“Maksud anda?”
“Mereka adalah kaum-kaum masyarakat kelas bawah, yang tertindas di bawah tirani pemerintahan feodal. Takamanomon ini kubuat bersama mereka dengan semangat bahwa kami ingin merdeka dari pemerintahan yang feodal ini. Mereka juga manusia, butuh kehidupan. Di sini ada berbagai macam orang dengan keahliannya mereka masing-masing, ada tukang kayu dia membuat desain bangunan di sini, juga pandai besi membantu merancang peralatan dan keperluan, pedagang, ilmuwan, rahib, semua berkumpul di sini dan membangun Takamanomon.”
“Hebat sekali, luar biasa kau bisa membuat tempat seperti ini.” ucap Riki.
“Biasa saja koq, kenapa hebat? Apa karena aku ini wanita?”
“A—ah… tidak bukan seperti itu, aku tidak pernah bermaksud… Ah… Maksudku…” entah kenapa Riki begitu gelagapan.
Miyu jadi tertawa kecil, “Ya… Awalnya memang tidak mudah, kami harus menaklukkan hutan yang dihuni oleh hewan-hewan buas, kami menggunakan bedil untuk berburu dan melindungi diri. Hingga akhirnya, kami perlahan berhasil membangun Takamanomon dan hutan ini sebagai tempat pelindung kami.”
Riki terdiam menyimak cerita Miyu, dia juga tidak dapat berhenti melihat parasnya yang bercahaya dan bola matanya yang berkilau.
“Bagaimana denganmu? Kudengar kau adalah seorang putra dari Samurai terkenal. Kau mengabdi pada Daimyo Taiki Yoshikuni ya?”
“Benar, dari mana anda mendengar tentang saya?”
“Pengawalku tuan Higashi mengetahui sedikit hal tentang Geisaku, dahulu dia seorang Samurai, namun sekarang dia menjadi Ronin. Kampungnya dan keluarganya menjadi korban p*********n dengan dalih titah dewa Matahari, akhirnya dia tidak percaya lagi dengan pemerintahnya dan memilih untuk membelot dan melepas status Samurainya.”
Riki termenung mendengar cerita Miyu, kenapa pemerintahannya malah menjadi tirani bagi rakyatnya sendiri, bukankah seharusnya para Ksatria Bushido adalah ksatria yang disumpah untuk melindungi negara, dan bukankah negara dibangun atas kepercayaan terhadap Amaterasu, dan bukankah perintah Amaterasu adalah membawa kemakmuran dan perdamaian bagi negeri? Semua pertanyaan ini begitu berat di benak Riki
Tidak terasa waktu pun berlalu seiring obrolan di selang makan malam mereka.
“Terima kasih untuk makan malam yang luar biasa ini.” ucap Riki.
“Maukah kau ikut denganku sebentar? Aku akan tunjukkan sesuatu kepadamu.” ucap Miyu.
Selesai makan malam, Miyu membawa Riki berjalan menuju sebuah bukit di belakang pondoknya, bukit berbatu itu sangat tinggi, seluruh isi Takamanomon terlihat dari atas sana. Hutan rimba lebat seperti karpet hijau mengelilingi Takamanomon pun terlihat menghampar.
Setelah matahari terbenam, bulan menyapa mereka dengan cahayanya yang temaram. Dari atas bukit yang sejuk itu, terlihat hamparan langit biru gelap penuh bintang, seakan hendak jatuh dari langit.
Riki berdiri dan menghirup dalam-dalam udara sejuk yang berhembus di bukit tersebut, udara segar segera mengisi paru-parunya.
Sejenak mereka berdua hanya duduk memandangi langit dan kerlap kerlip cahaya obor dari rumah penduduk Takamanomon.
Riki memandangi sosok wajah cantik nan elok yang duduk di sampingnya, lirikan bola mata indahnya nampak begitu teduh disinari cahaya bulan, membuat Riki gemetar dan jantungnya berdegup begitu kencang.
“Aku ingin sekali mengenalmu lebih jauh, anda adalah orang yang sangat menarik.” ucap Riki membuka kembali pembicaraan.
“Mengenal diriku? Kenapa? Aku hanyalah orang biasa.” ucapnya sambil tersenyum. “Orang biasa yang hanya ingin hidup damai dan melupakan masa lalu.” lanjutnya lagi. Kemudian ia pun berdiri dan berjalan selangkah. Angin malam meniup kain kimononya.
“Masa lalu adalah sejarah, untuk kita pelajari dan ambil hikmahnya secara terbuka dengan pikiran yang positif.” balas Riki yang turut berdiri menyusulnya.
Miyu membalikkan badannya dan menatap Riki.
“Tuan, anda adalah orang yang sangat baik, jiwamu sungguh ksatria, intuisimu setajam pedangmu, hatimu sehalus hakamamu. Aku percaya dirimu tidak akan menyakiti yang lemah. Kau mengabdi dan melindungi laki-laki itu karena tanggung jawabmu sebagai seorang Samurai kepada tuanmu.”
“Nona, tempat ini sangat indah dan nyaman, seandainya aku bisa tinggal di sini bersamamu dan menikmati kehangatannya.”
“Apa katamu?” Miyu terkejut mendengar apa yang baru saja disampaikan pemuda itu.
“Aku menyukaimu tuan Putri.”
Miyu semakin terkejut mendengar kata-kata sang prajurit yang diucapkan dengan apa adanya tanpa keraguan. Dadanya berdegup sangat kencang hingga jantungnya serasa mau copot
“Apa yang terjadi padaku mengapa ketika mendengar kata-katanya, aku jadi berdebar begini.” ucapnya dalam hati. “Belum pernah ada laki-laki yang membuatku seperti ini.”
Dia lantas menghadap membelakangi Riki dan menyembunyikan senyumnya dan wajahnya yang memerah.
Tiba-tiba saja tanpa berucap sepatah kata pun Riki nekat merangkulnya dari belakang.
“A—A… Tuan…!!” Miyu terperanjat kaget namun juga perasaannya campur aduk. Belum pernah ada seorang lelaki mana pun juga seumur hidupnya yang berani nekat menyentuh dirinya sampai sedekat ini.
“Maaf... Kalau kau tidak nyaman, tusuk saja aku dengan pisau ini.” ucap Riki sambil menggenggam tangan Miyu untuk mencabut Tanto milik Miyu yang tersembunyi di balik kain Obi dan mengarahkan mata pisau tersebut ke arah perut Riki sendiri.
[Tanto = Sebuah Pisau yang digunakan sebagai senjata, dengan panjang kurang lebih 25 cm. Di jaman Jepang dulu, selain Samurai, Tanto juga banyak dimiliki dan dibawa oleh para wanita, terutama wanita dari kalangan bangsawan. Mereka menyembunyikannya dibalik obi (ikat pinggang kimono) sebagai senjata untuk perlindungan.]
Namun entah kenapa Miyu tidak ada rasa ingin melawan sedikit pun. Malah jantungnya berdebar kencang, ada sebuah perasaan yang membuatnya begitu nyaman yang belum pernah dirasakannya seumur hidup. Baru kali itu ada orang yang membawakan perasaan hangat itu memasuki dirinya.
Miyu membiarkannya dirinya dipeluk demikian erat yang membuatnya semakin pasrah dan merebahkan tubuhnya dalam dekapan Riki, menikmati kehangatannya di bawah cahaya bulan dan hembusan angin malam di antara pepohonan cemara.
Walaupun pelukan itu begitu hangat, herannya tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan, membuatnya jadi menggenggam erat tangan Riki di pelukannya seakan tidak mau melepaskannya.
Miyu tidak mampu menahan gejolak perasaannya, dalam hatinya dia pun menyukai pemuda itu. Kemudian dia membalik badannya dan melingkarkan tangannya merangkul pundak sang Samurai, mereka berpelukan erat meluapkan getaran batin satu sama lain.
Tiba-tiba tanpa berkata apapun Riki menarik wajah Miyu dan mendekati wajahnya, entah kenapa Miyu hanya bisa terdiam membeku. Dalam hitungan detik Riki semakin mendekatkan wajahnya, dan seketika waktu serasa berhenti.
Riki nekat untuk mencium sang putri Takama itu di bibirnya.
Miyu membeku untuk beberapa saat, namun perlahan matanya mulai terasa begitu berat hingga terpejam dengan sendirinya. Tak sadar ia mulai membalas ciuman Riki yang semakin mesra dan hangat, bukan hanya mengecup tetapi sudah memagut. Hingga akhirnya mereka berdua berbalas berciuman untuk beberapa saat seakan lupa daratan.
“Aku mencintaimu.” ucap Riki.
“A—Apa…??” Miyu masih tergagap dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
Riki kembali menciumnya.
Malam itu, nampak Ruh hutan di pepohonan berseri-seri, sinar rembulan menjadi saksi tumbuhnya cinta di antara kedua pasangan itu.
Tak sadar mereka berciuman hingga Kimono Miyu tersingkap dan ikat rambutnya terlepas dan Riki menyadarinya.
“Akh, maafkan saya.” Riki melepaskan ciumannya dan sedikit menjauh. “Sungguh saya tidak bermaksud…”
“Tidak apa.” Kata Miyu sambil tersenyum kemudian merapihkan pakaiannya dan ikat rambutnya.
“Saya… Sungguh-sungguh menyukai anda…” ucap Riki.
“Aku pun juga menyukai Tuan Riki.”
“Biarkan aku tinggal di sini.” ucap Riki.
“Tidak… tidak bisa… kamu adalah seorang Samurai, akan sangat memalukan bagi keluargamu kalau kamu ikut memberontak. Negara sedang krisis, militer sangat mengerikan, kalau kau menjadi Ronin kau pun akan dianggap pemberontak seperti kami.”
Riki hanya terdiam saat itu.
Miyu mengangkat wajahnya, menatap Riki dan membelai pemuda itu. “Aku tidak bisa memaksamu untuk tinggal di sini dan membuatmu kehilangan status Samuraimu. Kau mempunyai tanggung jawab yang sangat bersar yang kau pikul di bahumu ini, kau memimpin pasukan yang sangat banyak dan kuat mereka semua tunduk di bawah pengaruhmu. Selesaikanlah tanggung jawab itu. Tuan Riki, pulanglah, Tuan mu pasti menunggumu.”
“Tapi…”
“Pulanglah, hari sudah malam. Tuan mu pasti akan mencarimu, apa jadinya kalau dia menemukanmu berada di tempat ini.”
“Baiklah… Aku mengerti.”
Mereka berdua menuruni tangga batu dan kembali ke pusat kota Takamanomon, di bawah sana Higashi menunggu. Dia terkejut melihat mereka berdua dan Miyu menggandeng lengan Riki begitu erat, baru kali itu dia melihat wajah tuan Putrinya yang begitu bahagia. Dia menggoda mereka berdua dengan senyuman meledek, dan Miyu hanya bisa diam dengan wajah yang memerah.
“Tuan Higashi!! Bukankah engkau seharusnya mengurus tamu kita yang satu lagi? Di mana dia?” seru Miyu.
“Oh, maaf nona, silahkan, dia berada di barak, baru saja selesai makan malam bersama-sama prajurit yang lain.”
Mereka pun menuju barak tersebut dan mendapati Aikawa sedang menjadi bahan olok-olok oleh para prajurit di sana. Ternyata para lelaki suka bermain dengan Aikawa, mereka sedang menggoda dan mengangkat-angkat tubuh Aikawa yang kecil dan ringan itu. Dan mereka pun terkejut ketika melihat Tuan Higashi, Miyu dan Tuan Riki di depan pintu.
“A—apa yang mereka lakukan?” tanya Riki.
“Tuan Higashi, tolong suruh mereka turunkan anak itu.”
Lantas mereka menurunkan anak malang itu yang langsung berlari keluar.
“Ohh, terima kasih sudah saatnya pulang…”
Miyu mengantar mereka keluar Takamanomon. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekeliling mereka, Miyu dan Riki berpelukan sebelum Riki menaiki kudanya meninggalkan Takamanomon bersama Aikawa.
“Maafkan untuk ketidak nyamanan ini.” ucap Miyu.
Riki tersenyum dan membalas, ”Maksud anda untuk semua kehangatan yang telah anda berikan kepadaku malam ini?”
Lagi-lagi, Miyu tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah dan senyumnya.
Riki menundukkan kepalanya dan terdiam sejenak, kakinya sungguh berat ingin meninggalkan sang putri pujaannya itu.
“Teganya kau.” bisik Miyu.
“Kenapa aku?”
“Kau telah merebut hatiku.”
“Maafkan aku.”
“Tidak ada yang pernah melakukan hal ini padaku sebelumnya.”
“Kalau kau tidak nyaman denganku akan kukembalikan walau dengan berat hati.”
“Tidak kupercaya hari ini aku mengatakan hal ini, tetapi, hatiku sekarang milikmu.” Miyu menggenggam tangan Riki dengan kedua tangannya dan menciumnya.
Riki merangkulnya dan mengatakan, “Sayangku, aku akan menuntaskan tanggung jawabku dan menyelesaikan masalah-masalah dengan jalan yang baik. Aku yakin pasti ada cara bagi kita untuk bersatu.”
Miyu sangat senang mendengarnya, dia mencium sang Samurai untuk perpisahan mereka malam itu. Riki menaiki kudanya dan bersiap hendak pulang bersama Aikawa.
“Tuan berhati-hatilah, hutan ini sangat gelap dan banyak binatang buas, bawalah ini bersamamu.” Miyu menyerahkan pistolnya kepada Riki.
Riki menerima sebuah pistol revolver berwarna emas, dengan ukiran yang sangat unik di gagangnya. Pistol itu sudah terisi penuh dengan enam peluru di selongsong revolvernya.
Segera kedua pendekar itu memacu kuda mereka berlari menembus hutan yang gelap dan dingin itu.
Miyu masih tersenyum sendiri mengingat ksatria pujaannya itu. Higashi sedari tadi menunggunya karena Miyu terdiam lama di depan gerbang.
“Astaga… sang perawan baru merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.” ledek Higashi.
“Huh, diamlah kau!”
* * *
Aikawa dan Riki dalam perjalanan pulang ke Geisaku, mereka menembus hutan yang gelap, memacu kuda mereka dengan kecepatan penuh.
“Hei apa yang kau lakukan tadi??” Aikawa berseru di atas kuda yang berlari.
“Apa maksudmu?”
“Apa yang kau lakukan dengan wanita itu?”
“Ah, itu bukan urusanmu, anak kecil?”
“Apa???”
“Hei, curang! Kau berpacaran dengan wanita itu dan aku hampir menjadi ‘santap malam’ para prajurit itu!”
“Hahaha… Biasakanlah hal itu, namanya juga magang menjadi asisten Samurai.” Riki berguyon meledek Aikawa.
Mereka memacu kuda mereka lebih cepat saat mendekati gerbang Geisaku.