Challenge

1725 Words
Sang petani datang sesuai janji yang telah ditetapkan. Di depan gerbang dia ditahan oleh penjaga, tetapi seorang anggota Kurogasaren telah berjaga dan mengawasi kedatangannya menyuruh penjaga gerbang melepaskan Takeshi dan mengantar Takeshi menemui Riki. “Kau yakin sudah siap?” “Apa yang akan terjadi hari ini biarlah terjadi tuan. Wanita itu mencintaiku, apabila aku tak bisa memiliki cintanya, apalah arti hidupku.” “Baiklah.” Riki mengawal Takeshi hingga ke aula utama Taiki, dan terkejutlah Taiki hingga bangkit dari singgasananya. “HEI RIKIGURO!!! APAAN LAGI KAU BAWA INI…?? KAU INI SELALU SAJA MEMBAWA KEKACAUAN DALAM RUANGAN INI!!!” “SURUH PEJABAT KOTA DAN PEGAWAI PENTING HADIR UNTUK MENJADI SAKSI HARI INI!!!” perintah Riki, yang segera dijalankan oleh anggota Kurogasaren. Ruangan itu dipenuhi oleh pejabat dan pegawai penting di Geisaku yang berkasak-kusuk mengenai perihal apa mereka dipanggil kemari. Kemudian, dua orang Kurogasaren mengawal tuan putri Asuka turut masuk ke aula itu. Takeshi melihatnya, dia menatap wanita pujaannya itu dari jauh dan hendak menuju ke arahnya, namun Riki menahannya sehingga mereka berdua hanya bisa saling bertatapan saat itu. “Tuan Taiki, persilahkan orang ini menyampaikan sesuatu kepada anda, dia tidak berbahaya, hanya seorang petani. Anda tidak mungkin takut hanya kepada seorang petani tanpa senjata kan?” ucap Riki. “Huuh—baiklah, apa mau mu hah?” tanya Taiki. “Tuan, persilahkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Kawaguchi Takeshi, saya seorang petani. Kedatangan saya kemari adalah untuk mempersunting putri anda.” Hadirin gempar dan berkasak-kusuk satu sama lain. “HARAP TENANG!!!” Seru Riki. “Hehehe… apa yang ada dalam pikiranmu, petani? Mengapa kau pikir aku akan mengijinkanmu menikahi anakku ini?” “Kami saling mencintai dan dengarlah apa kata hatinya! Dia adalah putrimu sendiri, tetapi kau begitu memalukan sebagai seorang Ayah dan abdi negara.” “APA YANG KAU BICARAKAN PETANI!!! KAU BERANI MENGHINA SHOGUN, KAU PANTAS DIHUKUM MATI!!!” “Aku tak takut dengan kematian, aku tahu sebagai seorang bushi anda lebih paham soal kematian daripada aku. Tetapi yang terpenting bagiku sekarang adalah memenangkan tujuanku, dan kematian bukanlah pilihan bagiku.” “RIKI!! HUKUM MATI ORANG INI!!” perintah Taiki. “Tunggu!!!” sahut Takeshi. “Tuan Taiki, anda adalah seorang Bushido, mari kita selesaikan ini dengan cara layaknya seorang ksatria!” “Huh… apa maksudmu petani? Apa yang kau ketahui tentang Bushido?” “Tak sebanyak yang mungkin kau ketahui, tetapi selayaknya kita selesaikan hal ini secara terang-terangan. Saya menantang anda untuk berduel. Apabila saya memenangkannya, biarkan saya berjalan keluar dari kastil ini, tetapi kalau anda yang menang, saya akan melakukan seppuku di hadapan semua orang hari ini!” Hadirin kian gemuruh kasak-kusuk. “Hm…” Taiki tampak terkejut, sejenak Taiki terlihat berpikir. “Tuan, jawablah tantangannya, apakah jago pedang seperti anda takut dengan seorang petani?” tantang Riki. “APA!? Bahkan aku dapat menumbangkannya hanya dengan katana sakabatou!” ucap Taiki dengan ekspresi sombongnya. “Baiklah kalau begitu. AMBILKAN KATANA SAKABATOU!!” teriak Riki. Pertarungan langsung diadakan di aula tersebut dengan hadirin sebagai saksi. Takeshi tidak mengerti cara menggunakan pedang, dia memilih untuk menggunakan parangnya saja. “HEI!! Mengapa dia menggunakan senjata tajam?” tanya Taiki. “Tuan! Anda tidak mungkin takut melawan sebuah parang kecil yang dipegang oleh orang yang tidak mempunyai ilmu berpedang kan? Anda katakan anda dapat merubuhkan dirinya walau hanya dengan Sakabatou.” balas Riki. “HUUH… Baiklah, siapa takut. AYO MAJU KAU PETANI!” Arena telah disiapkan, empat anggota Kurogasaren berdiri di sudut arena untuk berjaga. Riki bertindak sebagai wasit dan memberi aba-aba untuk memulai pertarungan. Aturan duel ini sederhana, pemenangnya adalah siapa yang mampu menumbangkan lawannya dan tidak membuatnya tidak mampu berdiri atau membuatnya mengaku kalah. Dan dengan itu menandakan pertarungan selesai.  [Sakabatou = Katana dengan mata pisau tajam terbalik. Katana Sakabato adalah pedang bersejarah yang digunakan oleh Kenshin Himura, pedang tersebut tidak dirancang untuk membunuh karena mata pisau tajamnya berada di bagian atas Katana, sedangkan bagian bawah yang digunakan untuk menyerang lawan adalah bagian yang tumpul.] Pertarungan dimulai… “Sakabatou itu walaupun tidak melukai karena mata pisaunya terbalik, tetapi di tangan seorang Samurai terlatih dia dapat meremukkan bahkan mematahkan tulang. Bisa membuat lumpuh lawannya.” Riki berbisik kepada Aikawa. “Ya ampun, bagaimana nasib si petani itu…” ucap Aikawa cemas. * * * Takeshi dihajar habis-habisan di arena. Serangan Taiki bertubi-tubi menghajar setiap bagian tubuh Takeshi. Ayunan sakabatou Taiki berdenting mengadu parang Takeshi. “AARRGHH…” Takeshi menjerit saat sabetan Sakabatou itu memukul rusuknya hingga ia terkapar di arena. Takeshi batuk darah dan menyadari mungkin rusuknya retak. “Ah, ilmu pedang tuan Taiki semakin lambat dan melemah, dia tidak pernah berlatih pedang, ayunannya buruk dan kerjaan hanya bermain dengan anak-anak gadis saja. Lihatlah dirinya…” ucap Riki membangun harapan. “Tetapi dari yang kulihat, sepertinya sang petani itu sedang berada dalam kesulitan, lihatlah dirinya sudah babak belur sempoyongan gitu.” ucap Aikawa polos. Asuka berteriak, menjerit dan menangis memohon pertarungan dihentikan. “CUKUUUPP!!! hentikan ayah!! Aku tidak akan pergi dari sini tetapi lepaskanlah pria itu!!” Asuka menjerit-jerit dan menangis melihat kekasihnya yang sudah babak belur tidak keruan. Taiki melihat hal itu, “Hei, petani, menyerahlah, dan akan kubiarkan kau keluar dari tempatku ini. Tetapi jangan pernah temui putriku selamanya.” Sembari batuk darah, Takeshi yang sudah babak belur kepayahan dan sempoyongan tetap berusaha bangkit untuk melanjutkan pertarungan. “Tidak!! Aku bukan datang untuk kalah, mati pun akan kulayani pertarungan ini!!” ucapnya sambil meludah darah dari mulutnya yang terus mengalir darah segar. “BODOH!!!” bentak Taiki. Taiki mengayunkan sakabatounya menerjang Takeshi yang menahannya dengan parangnya. Sabetan tersebut membuat parangnya patah, Takeshi terkejut. Taiki melanjutkan serangannya dan menjatuhkan parang Takeshi dan menghajar bertubi-tubi tubuh kurus Takeshi dengan ayunan sakabatounya. “AAARRGHHH… AAARRGHHH… AAARRGHHH… AAARRGHHH…” jerit Takeshi yang tiada henti dipukul ayunan Sakabato Taiki. Kembali Takeshi terpental jatuh dan meringis merasakan nyeri luar biasa dihajar Taiki. “AYAAAAHHH DEMI TUHAAANNN!!! HENTIKAAANN!!” Asuka menjerit berderai air mata sejadi-jadinya melihat Takeshi yang disiksa habis-habisan di arena pertarungan. Dalam posisinya yang meringis di lantai arena, Taiki menginjaknya dan mengarahkan sisi bagian tajam sakabatou ke leher pemuda itu. “Katakan, MENYERAH!! Akan kubiarkan kau hidup dan pergi dari tempat ini.” Dengan wajah penuh darah, tubuh yang dipenuhi rasa sakit, Takeshi menatap tajam Taiki. “EH!! APA KAU, MELIHATKU SEPERTI ITU!?” bentak Taiki. Tiba-tiba Takeshi bangkit, dia menangkap kaki Taiki yang menginjaknya dan sekuat tenaganya dia mengangkatnya hingga tubuh Taiki kehilangan keseimbangan dan terjungkal. Takeshi menendang pedang Sakabato yang dipegang Taiki dan mengangkat tubuh Taiki tinggi-tinggi. Dalam keadaan diangkat seperti itu, Taiki meronta-ronta dan berteriak seperti anak kecil, kedua kakinya melayang-layang di udara seakan mencari pijakan, “TURUNKAN AKU!! TURUNKAN AKU!!” teriaknya. Takeshi memutar-mutar tubuh kurus Taiki dan melempar tubuh kering lelaki tua b***t itu hingga jatuh terhempas berguling-guling di lantai batu. Taiki yang langsung sempoyongan berusaha bangkit dan meraih pedangnya kembali, tetapi Takeshi keburu menarik kakinya, mengangkat kembali tubuhnya dan meninjunya bertubi-tubi. Taiki tak sanggup melawan tanpa pedangnya. Pertarungan tangan kosong didominasi oleh Takeshi. Pukulan bertubi-tubi menghajar wajah Taiki hingga bonyok bengap-bengap. Saat melihat Taiki sudah kepayahan, Takeshi melayangkan pukulan sekuat tenaganya. Sebuah tinju mendarat di wajah Taiki, dalam sekejap Taiki merasakan seklilingnya terasa berputar-putar dan perlahan pandangannya gelap, tubuhnya terasa ringan melayang-layang hingga tanah tak terasa. Dan bunyi berdebum terdengar di ruangan yang sunyi karena hadirinnya baru saja melihat pimpinan mereka tumbang berguling-guling di lantai. Riki tersenyum sementara Aikawa terperanjat melihat kejadian itu. Sang pemenang meneriakkan kemenangannya dengan tubuh penuh luka lebam dan wajah penuh darah. Takeshi berjalan sempoyongan menuju tempat Asuka berdiri, Asuka melepaskan dirinya dari dua penjaga yang menahannya dan berlari menuju Takeshi yang kemudian terjatuh dalam pelukannya. Hadirin riuh dan mulai berdiri berteriak rusuh melihat pemandangan itu. Namun Riki segera berseru mendiamkan keadaan. Takeshi berdiri melangkah sempoyongan dengan Asuka di sampingnya, dia berjalan mendekati Riki. “Terima kasih tuan…” ucapnya lemah. Riki memberi isyarat, pasukan Kurogasaren berbaris sepanjang jalan menuju pintu keluar kastil. Takeshi melangkah lemah dituntun Asuka menuju pintu keluar kastil. “TUNGGU!!!” Taiki bangkit dengan kondisi lemah. Wajahnya sembab dan berantakan. “BUNUH LAKI-LAKI ITU!!! PENGGAL KEPALANYA SEKARANG JUGA!!!” teriak Taiki. Beberapa penjaga maju hendak menangkap Takeshi, namun Riki dengan sigap menahan mereka. Tak satupun penjaga berani melangkah saat Riki maju menghalangi mereka. Riki lalu menghampiri Taiki, “Tuan, jadilah seorang Bushido hari ini, jangan permalukan diri anda lagi.” ucapnya kepada Taiki. “LELAKI b*****t ITU!! Dia sudah mempermalukan dan mengotori kehormatan tanah Geisaku, Rikiguro!!!” teriak Taiki. “DAN KALAU RASA MALU ANDA SEDEMIKIAN BESAR MAKA AKU PERSEMBAHKAN KATANAKU INI UNTUKMU TUAN!!!” Riki balas membentak sambil menyodorkan Katana miliknya. Taiki mengerti maksud Riki menyodorkan katananya untuknya. Riki menawarkan Taiki untuk melakukan Seppuku agar menutupi rasa malunya. [‘Seppuku’ alias bunuh diri potong perut. Bunuh diri adalah tradisi dalam keluarga Samurai untuk menutupi rasa malu apabila gagal dalam menyelesaikan tugasnya.] “HUUH!!! HAAAHHH!!! SIAALLL!!! PERGILAH KAU, PERGILAH KALIAN DAN JANGAN PERNAH KEMBALI KE SINI, MEMBUSUKLAH KALIAN BERDUA DI TENGAH HUTAN!!!” Riki memberi isyarat kepada beberapa orang pasukan Kurogasaren untuk mengawal Takeshi dan Asuka keluar. Mereka semua tidak menghiraukan Taiki yang berteriak-teriak sumpah serapah. “Terima kasih tuan, aku tidak akan pernah melupakan anda, anda adalah orang pertama yang sebenar-benarnya teman bagiku, semoga kita dapat berjumpa kembali.” ucap Asuka. “Berbahagialah kalian…” ucap Riki pelan. Asuka menatap Riki, air mata meleleh di pipinya, Asuka tidak dapat menahan perasaannya dan akhirnya berlari memeluk Riki. “Tuan Riki, terima kasih untuk semua kebaikanmu kepadaku. Kini hanya kau lah satu-satunya keluarga yang kumiliki.” ucap Asuka sambil menangis di pelukan Riki. “Kami semua keluargamu, tidak ada yang akan meninggalkanmu, sekarang pergilah, jalani kehidupan barumu, bangunlah keluarga baru dengan lelaki yang berdiri menunggumu di sana.” balas Riki. “Tuan Kokunosaki Rikiguro, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan anda, suatu saat aku akan membalasnya, apa pun yang kau minta, katakan saja kepadaku.” ucap Takeshi. “Aku hanya ingin kalian bahagia, jagalah dia baik-baik.” ucap Riki. “Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati dan nyawaku.” balas Takeshi. Mereka berdua memberikan penghormatan terakhir sebelum meninggalkan Geisaku. Setelah itu kedua pasangan itu menghilang dalam kegelapan hutan setelah pintu gerbang ditutup. “Biarkan mereka melangkah, menapaki hidup mereka, menuju kedamaian yang mereka cita-citakan.” ucap Riki pelan. Aikawa mendengar hal tersebut terdiam menatap tuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD