Setelah kejadian itu, Asuka dikurung di sebuah menara yang sangat tinggi. Riki mendatanginya, pintu menara itu dikawal oleh dua penjaga.
“Buka!” perintah Riki.
“Tapi kata tuan Taiki…”
Riki menatap nanar mata penjaga itu, tentu saja para prajurit istana sangat menakuti dan menyegani para Kurogasaren terutama Riki, walaupun perintah tuan Taiki seharusnya lebih kuat namun penjaga itu akhirnya membukakan pintu untuk Riki.
Riki menaiki tangga yang sangat tinggi, dan akhirnya sampai di depan pintu kamar tempat Asuka ditahan. Di depan pintu kamar itu ada seorang penjaga yang selalu bersiap-siap jikalau Asuka membutuhkan sesuatu, dan penjaga itulah yang memegang kunci pintu kamar tersebut.
“Tolong bukakan pintu ini.”
Penjaga itu melihat lambang Kurogasaren pada jubah hakama Riki dan segera membukakan pintu tanpa berkata apapun.
Riki memasuki ruangan itu.
Asuka melihatnya dan menyadari bahwa itu adalah Riki, “Tuan Rikiii…” Asuka berteriak dan segera saja dia berlari dan memeluknya erat-erat kemudian menangis sejadi-jadinya. “Aku muak dengan orang itu… Aku benci, ingin rasanya aku bunuh, aku ingin pergi dari tempat ini…”
“Tuan putri Asuka, saya…” Riki merasa kaget dan canggung tiba-tiba Asuka merajuk ke pelukannya.
“Tuan Riki, jangan engkau merendahkan dirimu di hadapanku, kau adalah teman bagiku.”
“Tapi…”
“Tuan Riki aku butuh bantuanmu…”
“Aku mengerti perasaanmu, memiliki ayah seperti itu, tetapi…”
Untuk beberapa waktu Asuka menangis terisak-isak di d**a Riki sambil mencengkram kerah Hakamanya. Riki mengelus punggung gadis itu, mengangkat tubuhnya dari pelukannya dan menatap wajahnya.
“Sekarang katakan kepadaku apa yang dapat kulakukan.”
“Tuan Riki, aku mencintai pria itu, dia telah menolongku dan merawatku. Aku ingin kembali kepadanya dan hidup bersamanya, biarlah aku tinggalkan semua ini. Pantaslah kalau ibuku tidak tahan hidup dengan ayah, aku pun juga tidak tahan hidup di sini.”
“Nona Asuka, apa yang dapat kulakukan?”
“Tuan, tolong temukan pria itu, dia bernama Kawaguchi Takeshi, dia adalah seorang petani, dia tinggal di tengah hutan, untuk menemukannya kau harus ikuti arus sungai, karena dia bertani di pinggir sungai.”
* * *
Riki meninggalkan kamar Asuka dan mencari informasi tentang pemuda itu, dia hanya mengajak Aikawa untuk menembus hutan dan mencari pemuda itu.
Saat menembus hutan dengan berkuda, Riki teringat-ingat wajah tuan putrinya mirip dengan wajah seseorang yang dia kenal. Ketika melewati Takamanomon dia teringat wajah Lady Miyu, yang menghanyutkannya dalam lamunan.
“Oh, mereka sungguh mirip… bagaikan sepasang saudari…” tiba-tiba Riki menyadari kemiripan wajah mereka berdua.
“Hei apa yang sedang kau pikirkan!?” tiba-tiba suara Aikawa membuyarkan lamunannya.
“Ah, tidak…”
Sungai terlihat di hadapan mereka, lantas mereka berjalan di pinggirnya mengikuti aliran sungai itu ke arah yang ditujukan oleh Asuka dengan petunjuk-petunjuknya.
Akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk dan pemuda yang wajahnya tidak asing lagi dalam ingatan Riki duduk di muka rumahnya sambil menghisap lintingan tembakau.
Pemuda itu menyadari kedatangan Riki dan Aikawa, menyambut mereka seadanya.
“Ah, anda tuan, ada angin apa anda datang kemari? Bagaimana anda bisa menemukan diriku?”
“Tuan Kawaguchi bukan? Kita belum sempat berkenalan kemarin, perkenalkan saya Kokunosaki Rikiguro dan ini ajudan saya Aikawa Sakurai.”
“Oh, maaf untuk ketidaknyamanan ini, silahkan duduk dan anggap rumah sendiri.” Takeshi mengambilkan minum untuk mereka.
“Omong-omong terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin, apa yang dapat kulakukan untuk membalas budi anda?” Takeshi menuangkan minum untuk Riki dan Aikawa.
Tanpa basa-basi, Riki langsung berbicara, “Tuan, aku sudah mendengar semuanya dari tuan putri Asuka. Aku akan membantu kalian semampuku.”
Takeshi tertunduk, eksrpresi wajahnya berubah.
“Aku mencintai wanita itu, aku ingin hidup bersamanya, ketika dia tidak sengaja kutemukan saat hanyut aku menolongnya, aku berpikir dia adalah bidadari dari langit. Aku tidak tahu mengapa hal ini harus terjadi, aku dan dia saling jatuh cinta, mengapa hari itu harus kutemukan dirinya dan cinta ini tumbuh. Sekarang, apa yang dapat kulakukan, aku hanya seorang petani dan dia…”
“Tuan!! Anda tidak boleh menyerah, aku akan membantu anda. Anda mau menghadap tuan Taiki dan merebut kembali wanita pujaanmu?”
Takeshi menatap serius wajah Riki, “Jika itu hal terakhir yang mungkin kulakukan untuk mendapatkannya, baiklah, bagaimana aku dapat melakukannya?”
“Tuan, tiga malam lagi datanglah ke Geisaku dan akan kupertemukan dirimu dengan tuan Taiki dan tuan putri Asuka akan berada di sana juga. Setelah itu, bagaimana anda melakukannya semuanya terserah anda.”
“Baiklah.” jawab Takeshi tegas.
Setelah itu Riki dan Aikawa pamit meninggalkan kediaman Takeshi.