Sebuah Pertemuan

1183 Words
Riki memimpin para Kurogasaren mengawal petugas dari istana untuk mencari Tuan putri Asuka yang telah menghilang, namun penyusuran hutan tidaklah hal yang mudah bagi mereka. Ketakutan akan Mononoke buas yang akan menyerang mereka, dan tersesat dalam kegelapan rimbun hutan menjadi tantangan dalam pencarian ini. “Aku tidak begitu mengenal hutan ini, ayah tidak pernah mengajakku menjelajahi hutan ini dahulu.” ucap Riki dalam hati. Saat sedang menyisir hutan, tiba-tiba rombongan Riki berpapasan dengan rombongan Lady Miyu yang kebetulan melintas sambil membawa perbekalan. Spontan saja kedua rombongan itu terkejut dan saling menodongkan senjata dan berteriak satu sama lain. “JANGAN BERGERAK!!” “TURUNKAN SENJATA KALIAN!!” “Tuan Riki, i—itu adalah wanita yang mereka ceritakan, penyihir yang membusukkan daging dengan api dari tangannya. Apa yang sebaiknya kita lakukan?” kata seorang petugas dari istana. “Tenanglah, biarkan aku maju menghadapnya.” Dengan tenang, Riki melangkah perlahan maju di depan barisan tentaranya yang besiaga dengan panah. “Katakan apa yang sedang kalian lakukan di sini, saya tidak akan menyerang kalian?” Seorang wanita dengan kimono berwarna cerah diterpa cahaya matahari dari sela-sela pepohonan menampakkan wujudnya, tiba-tiba saja Riki terpana melihat rupa wanita itu. Dialah wanita yang dilihatnya ketika sedang berada di kota tempo hari. Riki tidak dapat melupakan sorot matanya yang sungguh bercahaya, aura yang hangat terpancar dari wajahnya, bibirnya merah dengan balutan sempurna gincu yang berkilau. Riki terdiam untuk beberapa saat memandangnya, wanita itu membalas pandangannya dengan senyuman kecil. Wanita itu turut maju mendepani barisan pasukannya. “Nona Miyu, anda sebaiknya jangan…” seorang berpedang ganda di sebelahnya adalah pengawal pribadinya bernama Higashi mencoba memperingatkannya, namun Miyu memotong kata-katanya. “Tidak apa tuan Higashi, percayalah padaku.” Miyu melangkah dan mendekati Riki yang berdiri di hadapan para tentara Kurogasaren. “Maaf tuan, kami hanya ingin lewat. Apakah tuan sedang menjalankan tugas dari pimpinan anda?” Namun Riki hanya terdiam membeku, menatap Miyu tanpa berkedip sedikit pun. “A—anda… anda… sungguh cantik…” ucap Riki pelan. Spontan Miyu terkejut mendengar kata-kata panglima perang itu, tanpa sadar dia melangkah mundur, ia begitu terperanjat hingga wajahnya memerah bukan main sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Riki tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, sekejap ia gelagapan dan mereka pun salah tingkah. “HEEEII!! SAMURAI b******n!! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP TUAN PUTRIKU!!” teriak Higashi geram sambil mengeluarkan pedangnya. Spontan hal itu membuat pasukan Kurogasaren turut mencabut pedang mereka dan memasang formasi siap bertempur. “TENANG SEMUA!! JANGAN ADA YANG BERTINDAK GEGABAH!! TURUNKAN SENJATA KALIAN!!” Riki yang menyadari hal itu segera berteriak memerintahkan anak buahnya. Begitu pula dengan Miyu, yang turut menahan Higashi dan pasukannya. “TUAN HIGASHI!! Kumohon tenanglah, tidak perlu ada pertumpahan darah di sini!!” Hampir saja terjadi baku hantam, akhirnya kedua pasukan itu mereda. Riki mundur secara perlahan dan mengkomando pasukannya untuk menurunkan senjata dan membawa mereka pergi dari sana. Miyu langsung duduk lemas dan terdiam kaku dengan wajah yang masih memerah karena ada perasaan yang aneh yang baru kali itu dirasakannya. “Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdegup begitu kencang saat dia mengatakan hal itu, perasaan aneh seperti ini baru kali ini kurasakan…” katanya berbisik dalam hati. Miyu gelagapan sendiri sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia dikuasai emosi, antara rasa ingin menangis atau tertawa bercampur aduk dalam dirinya, ia benar-benar heran karena tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Baru kali itu dirinya merasakan berdebar-debar dengan perasaan aneh seperti itu. “Nona Miyu, anda baik-baik saja?” “Ya, tuan Higashi, mari kita segera pergi dari tempat ini.” Miyu kembali mengenakan topi jeraminya sambil menutup sebagian wajahnya, lalu ia pun bersama rombongannya melanjutkan perjalanan. * * * Riki juga sedang dalam perjalanan kembali ke Geisaku bersama pasukannya, dalam perjalanannya dia juga sedang merasakan sesuatu dalam dirinya yang sangat aneh. “Ada apa denganku, mengapa ketika melihatnya tiba-tiba saja aku…” bisik Riki dalam hatinya. Ketika sampai di Geisaku, sedang terjadi kehebohan di tengah kota, rupanya ada seorang pemuda sedang menjadi bulan-bulanan beberapa penjaga di sana. Riki segera berlari ke sana dan menghentikannya. “HEI!!! APA YANG TERJADI??” serunya. “Ah, tuan Riki, ini orang yang menculik tuan putri Asuka.” ucap seorang penjaga yang mengawasi pengeroyokan itu. “LANTAS, APA YANG KALIAN LAKUKAN TERHADAPNYA!? MAU MEMUKULINYA HINGGA MATI!? KALAU MEMANG DEMIKIAN MENGAPA TIDAK HUKUM GANTUNG SAJA ORANG INI, HAL TERSEBUT LEBIH MANUSIAWI DARIPADA MENYIKSANYA LAYAKNYA BINATANG SAJA KALIAN. APAKAH TUAN TAIKI YANG MEMERINTAHKAN KALIAN?” Riki membentak para prajurit yang sedari tadi menikmati memberikan bulan-bulanan kepada pria malang itu. Para prajurit itu hanya diam saja mendengar kata-kata Riki dan hanya menunduk menatap satu sama lain. “Lepaskan dia!” perintah Riki. “Tapi tuan Riki, nanti tuan Taiki…” “Kau masih mau hidup bersama kedua tanganmu? Lakukan perintahku!” seru Riki memotong kata-kata si pemimpin prajurit. Pemimpin prajurit yang ketakutan melihat Riki memegang pedangnya langsung memerintahkan pasukannya untuk melepaskan pemuda malang itu. Para pasukan itu melepaskan ikatan pemuda malang itu, rupa wajahnya sudah tidak berbentuk, merah gelap tertutupi darah. Tubuhnya penuh luka biru lebam turut bercampur keringat dan darah. Bagaimana tidak, pemuda malang itu dipukuli habis-habisan dalam keadaan terikat. Riki melepaskan ikatannya dan membopong tubuh pemuda itu, “Sekarang ini menjadi urusan Kurogasaren, kalian pergilah dan tidak usah katakan apapun kepada tuan Taiki.” Para pasukan itu menurut dan bubar, warga yang menonton pun turut meninggalkan tempat itu. “Hei, apakah kau baik-baik saja? Bisa katakan siapa dirimu?” Pemuda itu meludahi darah berwarna merah gelap dari mulutnya dan terbatuk-batuk, “A—Aku hanya ingin mengantarnya pulang…” ucapnya dengan suara serak. “Di mana kau tinggal, apa yang terjadi dengan tuan putri Asuka?” “Aku…” pemuda itu lantas pingsan tak sadarkan diri. * * * Riki menyuruh Aikawa merawat pemuda itu, ketika tersadar pemuda itu berada di pondok tempat istirahat Riki yang tadinya milik ayah Riki. “Di mana aku?” “Oh sudah sadar, istirahatlah, kau tadi pingsan.” Sahut Aikawa. “Hei, kau sudah sadar rupanya, santai lah, ini rumahku.” Riki masuk dan menyapa pemuda itu. “Oh, terima kasih sudah menolongku tuan, sekarang biarkanlah aku pergi.” “Tunggu dulu, tolong ceritakan kejadian yang sesungguhnya, ada apa antara kau dengan tuan putriku.” “Apakah itu penting? Apakah tuan mempercayai saya?” “Aku percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Ayahku mengajariku untuk melihat semua hal dengan mata dan pikiran yang jernih.” “Tidak ada tuan, aku hanya seorang petani yang menyelamatkan anak itu, hanya itu saja. Tolong biarkan aku pergi dan kalian tidak perlu lagi melihatku.” “Tapi hari sudah malam, hutan sangat gelap dan banyak binatang buas, setidaknya istirahatlah untuk malam ini.” “Tidak perlu tuan, biarkan saja saya pergi, hutan itu adalah hutan saya, berjalan di malam hari pun dapat kulakukan walau dengan mata tertutup.” Mendengar kata-kata pemuda itu, Riki tak dapat memaksa. Riki memberikannya seekor kuda dan mengawalnya keluar Geisaku bersama dua anggota Kurogasaren. Pemuda itu hanya minta dikawal sampai di mulut hutan, setelah itu Riki dan dua tentaranya hanya bisa melihatnya menghilang dalam kegelapan hutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD